Lelaki Kusut Pengunjung Stasiun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 August 2016

Entah apa yang membuatku terpikat dengan seorang lelaki yang duduk di dekat stasiun kereta api itu. Lelaki berambut acak-acakan itu duduk dengan kaos kusutnya yang dilapisi dengan kemeja merah yang kusut juga, menyandang tas ransel, memakai celana jeans panjang sambil asyik memainkan kameranya. Sebentar-sebentar ia memandang jalanan ramai kota metropolitan ini.

Setiap sore aku pulang kuliah pasti aku melihat lelaki kusut itu. Mungkin duduk di bangku tua itu sambil memainkan kamera miliknya, sudah menjadi rutinitas bagi hidupnya. Hati kecilku seperti menyuruh untuk menghampiri dan berkenalan dengan lelaki kusut itu. Tapi aku tahu ini bukanlah sebuah kisah drama ataupun FTV yang selalu happy ending. Aku ingin mengenal lelaki kusut itu, mengetahui namanya dan juga kisah hidupnya. Ya, mungkin bagiku ini adalah kisah terindah jika aku berkenalan dan mendapat teman baru di kota metropolitan ini. Karena aku tinggal di kota Jakarta ini baru beberapa bulan, untuk melanjutkan kuliahku. Apalagi sebelumnya aku belum pernah bertemu dan mengenal orang unik selerti lelaki kusut itu. Dan, aku tahu dia selalu berpakaian kusut, tapi seperti ada kharisma di dalam dirinya yang membuatku terpikat. Mungkin juga bagi kebanyakan wanita lain juga tertarik dengan lelaki itu. Atau mungkin hanya aku yang memandangnya sebagai sesosok yang sempurna?

Setiap malam aku selalu menuliskan tentang lelaki kusut itu di buku diaryku, meski aku tak tahu siapa namanya. Dia adalah satu-satunya orang yang spesial yang pernah kutemui di dunia ini. Tapi, sungguh aku menganggap diriku aneh. Mengapa aku bisa tertarik dengan lelaki kusut yang duduk di dekat stasiun itu, sambil memainkan kameranya? Mengapa? Aku tahu kebanyakan gadis seusiaku pasti lebih menyukai lelaki yang rapi dan fashionable. Sungguh ini sangat aneh bagiku. Aku berharap agar dia menyapaku dan tertarik untuk mengenalku.

Suatu saat aku masuk ke salah satu club olahraga. Disana ada bermacam-macam olahraga, mulai dari futsal, basket, badminton, bahkan bela diri. Aku mencoba bergabung dengan anak-anak karate disana. Memang saat SMA aku juga udah mempelajari karate di kota asalku, jadi lumayan jago untuk itu. Sungguh ini seperti sebuah mimpi atau kisah drama. Dari ujung sana aku melihat seorang lelaki tinggi yang berjalan membawa tas ransel menuju tempat perkumpulan murid karate. Ya, dia adalah lelaki kusut yang biasa duduk di stasiun. Dia sangat gagah dan tampan. Meskipun selama ini aku hanya mengenalnya lewat pakaian kusut yang biasa dipakainya.

“Murid baru ya” Sapa lelaki itu kepadaku sambil menurunkan ranselnya. Mata lelaki itu penuh pesona, membuatku kaku.
“Bukan sensei, dia orang baru di kota ini, dia cuma lihat-lihat aja, dan dia juga udah jago karate kok”. Salah seorang murid disana langsung menjawab.
“Ooo jadi gitu, kamu mau jadi asisten saya?”
“Bbollehh sensei”

Hari sudah sore, aku pulang bersama lelaki kusut yang belum kuketahui namanya itu. Kami berjalan dan memulai percakapan
“Maaf sensei, kalau boleh tahu nama sensei siapa?”
“Nama saya Kevin, kamu siapa?”
“Saya Fila sensei, oh ya sensei maaf sebelumnya, saya mau tanya kenapa setiap sore sensei sering kali saya lihat duduk di dekat stasiun kereta api itu?”
“Oh, soal stasiun, itu penuh kenangan. Sebenarnya saya gak sanggup nyeritain ini ke kamu. Stasiun itu mengingatkan saya tentang seorang gadis, gadis yang sangat polos, apa adanya, dan tak seperti kebanyakan perempuan sekarang. Tania namanya. Kekasih yang telah lama pergi. Dia sudah meninggal sejak 1 tahun yang lalu, dan kini saya hanya mampu mengenangnya di bangku tua stasiun itu. Karena disitu dia pernah menolong saya saat saya bertengkar dengan remaja-remaja di stasiun itu. Dan disitu kami mulai berteman baik, dan lebih dari sekedar teman.”
“Dan kamu Fila, sebaiknya gak usah panggil saya sensei, panggil saya kak Kevin”.
“Bukan gitu sensei, nanti gak sopan, soalnya usia saya baru 18 tahun.”
“Usia saya juga 24 tahun, dan saya kira juga gak beda jauh”
“Uhhmm, iya, saya pamit dulu sensei soalnya saya tinggal di kos-an dekat persimpangan sana”
“Hati-hati.”

Hubunganku dengan lelaki kusut itu semakin dekat dan lantunan bicaranya sangat sopan. Kami saling bertukar cerita tentang kehidupan kami. Dan dia bertanya tentang kota asalku. Dan kini aku sangat bersyukur telah mengetahui nama lelaki kusut itu. Dan kutulis di buku harianku setiap pertemuanku dengannya. Kevin, mungkin salah satu nama yang menjadi tokoh utama dalam buku harianku.

Suatu sore kami bertemu di bangku tua stasiun kereta api itu.
“Fila, saat kamu duduk di samping saya ini, saya merasa kalau Tania ada di dalam diri kamu, Fila. Karakter kalian juga gak beda jauh. Maaf kalau kamu gak suka saya samain dengan Tania. Tapi saat ini saya hanya butuh teman yang tulus. Setulus Tania. Dan, saya harap semua pembicaraan kita hari ini, kamu ungkapkan dengan tulus dan jujur dari isi hatimu.”
“Sebenarnya, saya sudah lama mengenal kak Kevin, sebagai seorang lelaki unik yang sering duduk di bangku stasiun ini, sambil memainkan kameranya dan jujur, ini adalah kisah unik yang tak pernah kurasakan sebelumnya dan ini adalah pengalaman manis Fila di kota metropolitan yang baru Fila kenali ini.”
“Mungkin Fila, Tuhan mempunyai maksud untuk apa kita dipertemukan.”
“Dan, satu hal yang Fila mau katakan, kemeja kusut kak Kevin lah yang membuat saya terpikat dan memandang kak Kevin sebagai lelaki yang apa adanya.”

Keesokan sorenya saya bertemu dengan Kevin, lelaki spesial itu. Aku memakai kaos kusut yang dilapisi kemeja, dan hal itu kulakukan bukan semata-mata untuk mengikuti gaya kak Kevin, tapi karena memang sudah menjadi life style aku hampir setiap hari.
“You’re the perfect woman, Fila” ujar Kak Kevin sambil meraih tanganku.

Cerpen Karangan: Anggita Mardika
Facebook: anggita mardika
Instagram : anggita_mardika

Cerpen Lelaki Kusut Pengunjung Stasiun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Jadi Benci

Oleh:
Liburan lebaran tahun ini aku hanya berlibur di rumah. Menghabiskan waktu bersama adik-adikku. Entah kenapa hari ini rasanya ingin sekali aku membuka facebook ku. Lekas ku ambil laptop dan

Do You Know My Name

Oleh:
Aku Arga Liana, aku biasa dipanggil Arga, tapi sahabatku memanggilku Lana. Umurku 13 tahun, lahir di Jakarta 28 Maret. Memang terlalu muda untuk menuliskan cerita ini, tapi ya sudahlah.

Cinta? Belum Tentu

Oleh:
Aku menatap kawanan itu dari jauh penuh kebencian, pupilku berkonsentrasi menatap salah satu di antara mereka, yang kini tengah tertawa lepas bersama lainnya. Suatu rencana terlintas di otakku, aku

Berperilaku Sopan Hidup pun Tentram

Oleh:
Di suatu sekolah yaitu “SMP N INSAN CENDEKIA”, terdapat 3 orang sahabat yang bernama Robin, Rozi dan Farhan mereka sekarang duduk di kelas 9 yaitu, kelas 9I. Masing masing

Belajar Ikhlas

Oleh:
“Aku ingatkan padamu, jangan pernah mendekatinya.. dia anak orang kaya yang hanya bisa menyiksa orang lain” “Apa? mana mungkin dia seperti itu?” “Kau hanya siswi baru di sini, jika

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *