LKBB Di Pulau Coklat (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 May 2018

Priiittt! Priiittt! Priiittt! Priiittt! Priiittt! Priiittt!
Seorang gadis berseragam pramuka lengkap dengan sebuah kayu bertengger di tangan kanannya, dan di atasnya terdapat bendera kecil yang bergambar bunga sakura. Dapat dipastikan gadis itu adalah ketua regu. Kini ia berdiri di tengah
lapangan dengan sebuah peluit di mulutnya, ia sudah meniupnya berulang kali. akan tetapi, baru sekitar 6 orang anggotanya yang berkumpul. 3 orangnya entah ke mana belum juga menampakkan batang hidungnya.

Priiittt! Priiittt! priiittt!
Bunyi peluit itu terdengar lagi. Tidak menghabiskan waktu terlalu lama, ada 3 orang lari tergopoh-gopoh menuju ke tengah lapangan. Sekarang jumlah anggota regunya sudah lengkap. Gadis itu melepaskan peluit yang ada di mulutnya, lalu menghela nafas lega karena telah berhasil mengumpulkan anggota regunya.

“seperti biasa, atur barisan,” tegas gadis itu kepada seluruh anggota regunya.
“siap, laksanakan.” jawab seluruh anggota regunya dengan lantang. Lalu, mereka pun mengambil posisi yang biasa mereka tempati saat latihan terdahulu. Setelahnya, sebagian dari mereka menunduk. Tetapi, sebagian lagi menatap lurus ke depan. karena mereka sadar hari ini mereka kurang disiplin.

Gadis itu menghela nafas panjang. Lalu berucap, “teman-temanku kalian ingat kan, ini hari terakhir kita latihan? Atau ada yang lupa?” Ucapan gadis itu terdengar sedikit kecewa.
“tentu saja kami masih ingat vivi, maafkan kami.” Celetuk salah satu anggota bernama Vani dengan nada menyesal.
Vivi antika itulah nama panjang gadis itu. Ketua regu dari bunga sakura. sudah lumayan banyak prestasi yang ia torehkan bersama regu yang dipimpinnya.

Vivi mengangguk dengan seulas senyum tipis. “Baiklah, aku maafkan.”
“Terima kasih, ketua,” kata mereka serempak.
“Baiklah, sekarang waktunya kita latihan, waktu kita tinggal hari ini saja, besok kita berangkat.” Ujar vivi sambil membaca catatan kecilnya yang berisi berbagai macam aba-aba. Selesai membaca sekilas, vivi lalu menutupnya dan mulai mempraktekkannya.

“Siap, gerak!” Perintah vivi lantang.
“Balik kanan, gerak!”
“Istirahat ditempat, gerak!”
“Hadap kanan, gerak!”
“Hadap kiri, gerak!”
“Langkah tegak maju, jalan!”
“Jalan di tempat, gerak!”
“Periksa kerapian” perintah vivi setengah berteriak.
“Siaaaappp,” sahut seluruh anggota serentak.
“Mulaaaiiii,” perintah vivi lagi.
“1… 1… 2… 2… 3… 3… 4… 4… 5… 5… 6… 6… 7… 7… 8… 8… 9… 9… 10… 10… , selesai,”

vivi tersenyum. Lalu berkata, “Cukup sekian kita latihan hari ini. Kalian semua sudah pandai menjaga kekompakan.”

Tepuk tangan menjadi ungkapan kebanggaan pada diri sendiri.
Semua orang bahagia telah mencapai puncaknya. Besok adalah hari dimana harga diri regu mereka dipertaruhkan.

“Sekarang kita pulang. Besok berkumpul disini jam 6 pagi tak ada yang boleh telat!,” Ucap vivi dengan pelan namun tidak menghilangkan ketegasannya.
“Siap, laksanakan,”
“Bubar, jalan!” Titah vivi tanpa basa-basi.

Hari yang ditunggu pun telah tiba. Hari ini regu sakura akan berangkat ke pulau coklat. Pulau itu dipenuhi pohon coklat. Sebab itu, diberi nama pulau coklat. Saat ini, anggota regu sakura sedang berkumpul di lapangan sekolah. Mereka sedang menunggu jemputan yang akan mengantarkan mereka ke pulau coklat.

Vivi berdehem mencari perhatian, lalu berkata, “ada yang belum datang?” Tanyanya kepada anggotanya. Para anggotanya pun celingak-celinguk memastikan teman mereka sudah ada atau belum.
“Vani belum datang, Vi,” celetuk salah satu anggota bernama Vina
Vivi sejenak terdiam sebelum berkata, “Ohh.. baiklah. Sekarang kalian siap kan barang kalian. Letakkan dengan benar jangan sampai ada yang jatuh di perjalanan atau ada yang ketinggalan. Jemputan kita sudah terlihat,” ucapnya dengan menunjuk mobil pick up yang mendekat.
“Siap,”

Mereka segera menjalankan apa yang di suruh vivi. Mereka tak akan menyia-nyiakan kesempatan mereka hari ini. Maka dari itu, tak ada yang membantah ucapan vivi. Mereka tau vivi ketua regu yang bijaksana dan tanggap terhadap masalah yang menimpa mereka.
Mereka sepenuhnya percaya kepada vivi apa yang ia suruh adalah kebaikan untuk semua.

“Maaf teman-teman aku terlambat,” ucap vani dengan napas yang ngos-ngosan. Anggota yang lain hanya mengangguk mengiyakan. Lain halnya dengan sang ketua yang taat aturan.
Vivi menatap vani datar, “kenapa kau bisa terlambat?” Tanya Vivi.
“Aku tadi nolongin ibu-ibu yang ketabrak motor, Vi. Aku bantu mengobati lukanya sedikit. Lalu, memanggil warga untuk membawanya ke rumah sakit. Setelah itu, baru aku berangkat.” terang Vani.

Vivi menghela napas lalu menepuk pundak Vani dengan seulas senyum, “aku bangga padamu, kau menolong orang yang dalam kesusahan. Itulah yang memang harus kita lakukan sebagai anak pramuka sejati. Jika aku di posisimu, aku juga akan begitu. Tenang saja aku tak akan marah,” Ucap Vivi dengan kekehan kecil yang membuat para anggotanya takjub melihat pemandangan yang langka bagi mereka.

Vani tersenyum, “Terima kasih telah memaafkan keterlambatanku. Jadi, bolehkah aku bergabung dengan mereka?”
“Tentu saja, kami tadi hanya menunggumu” jawab Vivi.

Mereka pun berangkat ke pulau coklat. Selama di perjalanan mereka menyanyi kan yel-yel regu mereka. Karena mereka akan pergi ke pulau maka mereka harus naik perahu Fery. Setelah setengah jam berlalu peri pun mendarat di pulau coklat. Mereka pun segera pergi ke tempat yang menyelenggarakan lomba LKBB.

“Kepada seluruh peserta diharapkan berkumpul di lapangan. Dan untuk masing-masing ketua regu, diharapkan segera pergi ke tribun untuk mengambil nomor urutan lomba. Sekian info dari saya. Terima kasih.” Ucap salah satu panitia penyelenggara.

Para peserta pun segera berkumpul di lapangan. Beda hal nya dengan ketua regu. Mereka berkumpul di depan tribun untuk mengambil nomor urut mereka. Para peserta sudah berdiri dengan rapi di lapangan. Tak lama seorang tentara berdiri di tengah-tengah lapangan.

“Perhatian sebentar, sambil menunggu ketua regu kalian mengambil nomor. Kita akan menyanyi kan yel-yel dan tepuk pramuka, bagaimana? Kalian mau?” Tantang si tentara dengan menaik turunkan alisnya.
“Siaapp, Mau,” sahut seluruh peserta dengan semangat.
“Tepuk pramuka!”
“Prokkkkk prookkk prookkk prookk,”

Tanpa disadari oleh tentara itu tiba-tiba ada yang memegang pundaknya. Sontak saja tentara itu kaget dan membalikkan badannya menghadap ke orang yang memegangnya. “ada apa?” Tanya nya heran. “Pembagian no sudah selesai, tolong suruh mereka istirahat dulu sebelum bertanding. Jangan disuruh nyanyi,” jelasnya dengan diakhiri kekehan. Tentara itu mendengus kesal karena di ejek secara halus, “baiklah,” balasnya.

Tentara itu mengambil nafas panjang lalu menghembuskan nya, “Perhatian! Kita sudahi dulu permainan kita. Ketua regu masing-masing regu sudah mengambil nomor urut. Jadi, istirahat lah sebelum bertanding,” jelasnya dengan sedikit guratan kecewa karena tak berhasil mengajak mereka bernyanyi bersama.
“Siap!”

Masing-masing ketua regu berlari menuju ke regu masing- masing setelah mendapatkan nomor urut. Raut wajah mereka berbeda-beda. Ada yang bahagia ada juga yang kecewa. Salah satu ketua regu yang kecewa adalah Vivi, ketua regu sakura. Mereka mendapat nomor urut terakhir. Nomor ke-33.

Vivi menghembuskan napas gusar, “Teman-teman maaf ya, kita dapat nomor urut terakhir.” Ucap Vivi dengan mengacak rambutnya setengah frustasi.

Mereka semua tersenyum. Inilah ketua regu mereka. Jika men dapat nomor urut terakhir dia bisa sangat kesal. Jika ketua regu lain kecewa mendapat nomor urut pertama. lain halnya dengan Vivi.

“Gak papa. Malahan bagus, kita bisa lihat penampilan mereka duluan dan menjadi penutup di acara nanti yang mana penutup biasanya lebih bersinar,” balas Rani si cewek pendiam sehingga membuat teman-temannya memandang takjub kepadanya.
“Ran, ini kalimat terpanjang kedua lo yang gue dengar,” ucap Vani takjub dan dibalas senyum an tipis Rani.

Vivi menghela napas pelan, “sebaiknya kita istirahat dulu, ayo kita duduk di bawah sana,” ucap Vivi seraya menunjuk pohon kelapa yang menjulang tinggi. Mereka semua mengangguk menerima perintah Vivi.

Bersambung

Cerpen Karangan: Resti Nurwahyuni
Facebook: Resti Nurwahyuni
Saya penulis amatir yang masih perlu kritikan..
kalau mau baca cerita cerita aku yang lain nya.. baca di wattpad aku.. nama restynw

Cerpen LKBB Di Pulau Coklat (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sempurnalah Lukaku

Oleh:
Pelajaran Bahasa Inggris hari ini berakhir seiring berderingnya bel istirahat. Penghuni kelas berhamburan ke luar tidak sabar, khawatir akan antrean panjang di kantin. “Van, lo sakit?” Vanka terenyak dari

Aku Bukan Pilihan

Oleh:
Tak ada lagi yang mampu menjadikan kau alasan untuk aku kembali kepadamu, ingatkah engkau atas semua luka yang pernah kau beri kepadaku, walau kini aku bukanlah kekasihmu, lantas apa,

Dan Hanya Bebas

Oleh:
Atas perintah Mamanya, di pagi yang cerah, seorang gadis cantik nan baik hati bernama Nury pergi ke pasar untuk belanja sayur-mayur dan beberapa keperluan lainnya. Tubuhnya yang mungil begitu

Bersamamu Lagi Sahabatku (Part 2)

Oleh:
Sudah 10 hari aku ditinggal oleh Iqbaal. Aku lebih banyak menghabiskan waktu-ku di perpustakaan sekolah saat istirahat tiba. Begitu pun dengan Aldi yang kini tidak menjadi manusia hantu lagi.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *