Love In Apple

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 March 2016

Dua buah apel yang ada di atas meja baru saja terbang ke dalam tas sekolahku. Lima buku yang tersampul rapi dan beberapa peralatan sekolah menjadi penghuni tas yang masih berlabel itu. Bau kertas baru yang memenuhi indera penciumanku membuatku gembira. Sadar ini sudah waktunya untuk berangkat. Semua sudah siap. Juli tanggal muda. Sekolah baru saja memasuki musim tahun ajaran baru. Dan sekarang aku baru saja resmi menjadi salah satu murid SMA. Selamat tinggal biru putih dan selamat datang putih abu-abu. Sekarang kalian akan jadi milikku.

“Yang bener dong pake sepatunya Li,” suara serak bergema di telingaku.
“Udah bener nih Kak!” jawabku dengan lantang.
“Bener apaan. Yang satu itu sepatu siapa?” teriaknya.

Aku menatap sepatu yang sedang ku pakai. Sekarang terlihat jelas jika sepatu kananku ganjil. Benar juga apa yang dikatakan kakakku. Aku salah pakai sepatu. Dan sekarang tatapan sinis tertangkap kedua mataku. Menyebarkan rasa ngeri di udara. Aku melepaskan sepatunya. Tiba-tiba cowok jangkung itu berdiri di depanku. Sekarang aku bagaikan seekor semut yang tertelan oleh tingginya pohon. Sumpah deh. Kenapa kakak tinggi banget ya? Gender masa? Turunan dari ayah? Tapi kok aku tetep aja bontot sih?

“Nanti pas MOS jangan aneh-aneh ya Li. Kakaknya galak-galak soalnya,” sebuah nasihat meluncur.
“MOS-nya masih lima hari lagi kali Kak. Masih lama,” jawabku sekenanya.
“Cuma ngingetin,” sahutnya lalu melangkah melewati pintu.

Sepasang kaki ini melangkah menuju perpustakaan. Arah yang paling sepi saat jam istirahat. Semua perhatian dan kerumunan pastinya berpusat ke arah kantin besar yang ada di bagian selatan. Earphone yang menghiasi telingaku mendengungkan lagu-lagu yang ku suka. Dan aku sangat menikmatinya. Rasanya seperti banyak energi baru yang masuk mengisi jiwa lelahku. Tanpa sadar aku memejamkan mataku dan berjalan pelan. Menyusuri lorong itu.

Langkah kelimaku sesosok tubuh menghalangi jalanku. Aku pun membuka mataku. Dua mata cokelat menatapku tajam. Mengisyaratkan tatapan tidak suka. Rambutku yang tergerai bebas tertiup sepoi angin. Suasana membeku sejenak. Aku tidak mampu bergeming dari tempatku semula. Warna nama yang terjahit dengan rapi sudah berbeda dari yang melekat di bajuku. Warna kuning menyala yang membuatku sedikit kaget. Suara musik masih terputar di telingaku. Tapi tidak ada yang aku dengar sama sekali. Rasanya hanya kosong.

“Maaf Kak,” kataku berusaha berlalu. Bukannya meninggalkan aku yang mematung. Kakak kelas dua itu hanya diam tanpa kata. Cowok itu hanya tetap menatapku aneh. Rasanya seperti ada ribuan tusukan jarum yang menyerangku langsung mengarah ke mataku. Ku ambil inisiatif langkah pertama menghindarinya. Namun bukannya berlalu dia justru menghadangku. Rasanya aku sudah di ujung tanduk sekarang. Dia semakin menekanku dengan tatapan kurang bersahabat itu. Membuatku mati kutu di depannya. “Permisi Kak,” ucapku sekali lagi.

Aku mundur satu langkah. Cowok itu tiba-tiba maju satu langkah tepat di depanku. Tangannya terangkat tepat di samping tubuhnya. Lalu dengan tiba-tiba melepas earphone di telingaku dengan sedikit paksaan. Aku terkesima. Dia sepertinya sangat marah padaku. “Kalau jalan itu pasang mata. Pasang telinga,” ungkapnya. Tubuh jangkung berbalut kulit kuning langsat itu menghilang di persimpangan area kelas dua. Mataku hanya mengikutinya sampai menghilang. Entahlah sejak kapan aku hanya terbengong bodoh menatap punggungnya. Rasanya serentetan sihir baru saja melewatiku. “Sean? Temennya Kak Elyo!” ucapku lirih.

Apel bertengger manis di atas meja. Apel merah buah kesukaanku. Entah siapa yang meletakkannya. Di bawahnya ada sebuah note kecil. Tulisan rapi yang merangkai beberapa kata-kata manis. Ya begitulah kelihatannya. Tertulis dengan manis. “Cie.. dari siapa Li?” tanya Riza padaku.
“Nggak tahu,” dengan cepat aku bergeleng. Tidak ada satu orang pun yang terlintas di benakku. Nggak tahu harus mikirin siapa. Siapa yang bakalan aku tuduh buat kejadian ini. Melihat hal ganjil di sana. Yang sebenarnya juga bisa dilihat orang bodoh sekali pun. Aku mulai sadar akan sesuatu.

“R? Siapa R?” gumamku.
“R?” tanya Elma.

“Iya, coba deh lihat ini. Banyak kata R-nya yang ada dalam kotak,” terangku.
“Aduh.. jangan bilang Rengga,” tebaknya.
“Siapa Rengga, El?” tanyaku.
“Rengga anak kelas sebelah si kutu buku itu. Dia suka makan apel sama kayak kamu juga,” ungkapnya.
“Hah?” mulutku terbuka. Rengga yang suka makan apel? Rengga suka baca buku? Rengga yang pakai kacamata minus tebal itu? Rengga yang tinggi banget itu? Rengga yang… Rengga? Masa sih? Mana mungkin? Masa iya? “Nggak mungkin deh!” lanjutku dengan cepat.
“Semoga aja bukan. Bukan dia,” sambungnya.

MOS hari pertama sudah berakhir. Kiriman-kiriman apel datang setiap pagi. Di jam yang sama dan selalu tepat waktu. Tapi sayangnya aku nggak pernah tahu siapa pengirimnya. Apel yang rasanya asem-asem manis itu seperti buah racun. Meracuniku untuk bertanya. Siapa sih yang ngirim? Handphone-ku bergetar dengan hebatnya. Satu SMS kosong diterima. SMS dengan nomor asing tak bernama yang menyambangi kotak masuk. Bukan hanya satu. Tapi di susul SMS dari nomor yang sama tanpa tulisan yang berarti. Lebih dari dua puluh. Rasa jengkel menyambangiku. Siapa sih yang iseng ini! Akhirnya ku tekan call untuk nomor itu. Aku sangat penasaran siapa pelaku di balik semua hal ini. Satu kali, hubungan telepon itu tidak tersambung. Dua kali, sambungan telepon terputus. Ketiga kali.. dan akhirnya yang ke sepuluh tersambung dan diangkat juga. Suara serak menyambut di ujung sana.

“Halo?” sapaku.
“Halo,” suara cowok menjawab.
“Siapa ini ya?” tanyaku.
“Lah.. bukannya situ yang nelepon ya?” tanyanya padaku.
“Loh.. bukannya Mas yang ngirimin lebih dari sepuluh SMS kosong ya?” ucapku.
“Nggak kok. Ini aja baru mandi!” jawabnya.
Tut..tut.. tut.. Sambungan terputus. Pulsaku habis. Benar-benar sial. Orang ini nyebelin banget. Jelas-jelas ini dari nomor yang sama. Kok pake nggak ngaku segala sih! Bikin sensi aja!

Hari terakhir penutupan MOS. Akhirnya hari ini selesai juga. Rasanya sebentar lagi upik abu ini akan bebas. Duh.. senangnya. Akhirnya akan jadi siswa yang beneran. Nggak ada peraturan kakak kelas. Nggak ada ruwet dan ribet lagi. Akhirnya semua selesai. Tapi nanti jarang ketemu kakak itu lagi!

“Nah.. berhubung semua udah selesai. Kadonya dikasih ke kakak OSIS ya,” ucap seorang OSIS.
“Kak, boleh kasih ke kakak yang kita suka kan?” celetuk Figo.
“Terserah aja. Pokonya kadonya nggak boleh di bawa pulang sendiri,” jawabnya lagi. Akhirnya kadoku berakhir di tangan seorang OSIS. Aku tidak peduli akan bersama siapa kado itu nanti. Yang aku pikirkan sekarang adalah aku bebas. Sekarang waktunya untuk istirahat raga dari aktivitas tiga hari yang melelahkan. Yang kadang bikin stres itu.

Gubrakk!!

Tiba-tiba pintu terbanting dengan kerasnya. Semua penghuni kelas terkejut. Ada Penegak Disiplin! Aku ditarik salah satu dari mereka untuk maju. Wajahku berubah. Tanganku mendingin. Aku sedikit bingung dan panik. Apa yang ku lakukan? Apa salahku? “Kamu tahu nggak salah kamu?” tanyanya.
“Nggak Kak. Apa salah saya Kak?” jawabku.

Seorang cowok masuk tanpa permisi langsung menghadapku. Kemudian menatapku. Kakak yang kemaren itu. SEAN. Kakak yang itu. RASEAN!! Nama itu? R? Sean? RASEAN!!
“Elyo. Kok Adik nggak dikasih tahu sih?” panggilnya pada seorang cowok.
“Sengaja Se, biar kaget gitu,” terangnya.
“Aduh.. dasar Kakak durhaka ya. Lihat tuh, dia takut banget tahu,” jari telunjuknya menunjukku.
“Kasih apel aja biar tenang,” sarannya.
“Bener juga. Ken, ambilin apel!” teriaknya.
Ternyata kakak yang biasanya aku isengin itu balas dendam. Awas ya Elyo! Tamat nanti di rumah! Aku akan membuatmu membayar semua ini. Tunggu pembalasanku. Tunggu aja nanti! Bakalan lebih!

“Aliya, ini buat kamu adek manis. Tanda sayang kakak ke kamu,” tangannya menyerahkan apel padaku.
Aku termenenung. Aku berdiri mematung bingung. Sebenarnya tujuannya apa sih? maluin aku? Atau gimana? Iya sih aku suka sama dia. Tapi kok?
“Terima dong,” perintahnya.
“Jawab! Jawab! Jawab!” teriakan menggila di dalam kelas.
“Me too!” jawabku tanpa pikir panjang.
“Apa?” tanyanya.
“Au ah!” teriakku lagi.
Tawa pun pecah di dalam kelas. Riuh tepuk tangan membanjiri kami. Kejadian konyol ini membuatku ingin terbahak. Ya itulah.. konyol bin ngeselin!!! (Li)

Cerpen Karangan: Nurillaiyah
Blog: xiodeo.blogspot.com

Cerpen Love In Apple merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Contekan Berjalan

Oleh:
Setelah hari liburan sekolah Anton, Samsul dan Ucup kembali untuk meneruskan sekolahnya dimana mereka berlibur bersama ke kota tua. Kami di sana berjalan-jalan menelusuri kota yang penuh dengan suasana

(Bukan) Kisah 1001 Malam

Oleh:
Dedaunan kering beterbangan mengiringi langkahku. Tampaknya Sang Mentari sedang malas memunculkan cahaya hangatnya atau karena kumpulan mendung yang seolah arisan, menutupinya. Semilir angin tak begitu dingin, tapi cukup membekukan

Kertas Rahasia Untukmu

Oleh:
Tak seorang pun mau dekat-dekat dengannya karena ia dianggap aneh, si culun yang pendiam devina anida. banyak teman yang menjauhinya, hanya beberapa orang saja yang mau berkomunikasi dengannya, itu

Geeky Gamers

Oleh:
Di kelas, hampir semua siswa keluar kelas ke kantin, kecuali aku. Aku merasa seperti tak dianggap di kelasku ini. Aku merasa sendirian di tengah keramaian kelas ini. Aku tak

Kini Dia Bukan AKu

Oleh:
20 JANUARI 2013 Semuanya berakhir hari ini! tak pernah terfikir di pikiran ku jika kau akan menggucap “SELAMAT TINGGAL” pada ku. Kata “MAAF” mu tak bisa membuat sakit hati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *