Lucky When Come Late To School

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 November 2015

Pagi itu mentari pagi mulai menampakkan dirinya, perlahan-lahan naik dan menyinari bumi dengan cahaya sinarnya, Angel terbangun dari tidurnya karena terpaan cahaya dari celah jendela yang menyilaukan matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha membiasakan matanya untuk menerima cahaya, sambil menormalkan penglihatanya, ia menyibak selimutnya, dengan malas duduk di pinggir ranjang berusaha mengumpulkan nyawa, secara perlahan ia pun mengamati keadaan sekitarnya. Namun, ia langsung terpaku pada jam dinding yang tergantung di atas meja belajarnya dan langsung terlonjak kaget karena melihat waktu sudah menunjukkan pukul 06.35 pagi, dengan cepat ia pun bergegas bangun dan berlari menuju kamar mandi.

Sesampainya di sekolah, bahu Angel terkulai lesu melihat gerbang sekolah sudah ditutup. Tidak kehilangan akal ia pun dengan cepat bergegas berlari menuju gerbang belakang sekolah, namun langkahnya terhenti karena teriakan seseorang.
“Hei berhenti!” teriak seseorang dari arah belakang Angel.
“Kau memanggilku?” tanya Angel berusaha meyakinkan. Ia melihat seorang anak lelaki seumuran dengannya. Memakai seragam sekolah yang sama dengannya. Ia memiliki rambut berwarna hitam gelap yang sangat kontras dengan kulitnya yang berwarna putih pucat. Ia berdiri sambil menenggelamkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, raut wajahnya terkesan dingin. Ia berjalan mendekati Angel.

“Tentu saja, tidak mungkin aku memanggil boneka yang kau jadikan ikat rambut itu. Kau terlambat kan? Aku hanya ingin membantumu saja, kalau kau ingin masuk, ikut aku memanjati dinding pembatas di sebelah sana.” tunjuk lelaki itu pada dinding pembatas di samping sekolah.
“A-a-apa? Kau menyuruhku memanjati dinding itu? Kau bisa lihat sendiri kan aku memakai rok. Apa tidak ada cara lain?” jawab Angel ragu.
“Kalau kau tidak mau ya sudah, aku tidak memaksamu. Kalau begitu selamat terkurung di luar.” putus anak lelaki itu sambil berjalan berlalu melewati Angel.
“E-eh b-baiklah, daripada terkurung di luar aku ikut denganmu saja.” kata Angel cepat. ‘Dasar laki-laki menyebalkan!’ rutuk Angel dalam hati.

Mereka pun sepakat untuk memanjati dinding itu. Dinding sebagai pembatas sekolah dengan jalan itu bercat biru pudar, dinding itu tidak terlalu tinggi, namun juga tidak terlalu rendah. Sesampainya mereka di sana.
“Kau saja yang lebih dulu memanjat…” Ucap Angel terputus
“Kau bisa memanggilku Rian. Hmm, baiklah aku yang lebih dulu memanjat. Istilah ‘Ladies First’ sepertinya tidak cocok untuk perempuan pemalas yang bangun kesiangan sepertimu.” jawab Rian diiringi senyuman mengejeknya.
“Apa?!! Kau tidak dalam posisi bisa mengejekku! Kau kan juga terlambat! Bilang saja kau memang tidak mau mengalah! Lagi pula kenapa kau bisa mengatakan hal itu pada orang yang baru kau kenal!” jawab Angel emosi.
“Hei, kau tidak perlu emosi. Selain pemalas ternyata kau juga gampang marah.” balas Rian tenang yang berhasil memancing emosi Angel kembali.
“Hei, berhenti mengejekku! Kau cepat memanjat saja! Kau membuatku sangat ingin menendang wajahmu!” balas Angel.

Mereka pun akhirnya berhasil memanjati dinding itu. Berbeda dengan Rian yang dengan mudah memanjatinya, Angel terlihat sedikit kesulitan memanjatnya karena ia memakai rok. Namun, karena Rian yang terus mengejeknya di bawah sana-dan tidak ada niat membantunya sama sekali -Angel terpaksa sedikit berjuang agar Rian berhenti mengejeknya.
“Huh, akhirnya aku bisa melewati dinding ini!” ucap Angel kesal sambil menghela napas.

“Baru memanjati dinding ini saja kau sudah mengeluh, dasar perempuan!” balas Rian.
“Hei, kau mengatai perempuan sama saja kau mengatai Ibumu sendiri, ya sudahlah aku malas berdebat denganmu kalau begitu pertemuan kita sampaii di sini saja, aku ingin ke kelasku. Semoga kita tidak bertemu lagi. Bye!” ucap Angel sambil berlari menuju kelasnya.
“Sayangnya Ibuku bukan perempuan pemalas, cepat marah dan sadis sepertimu yang ingin menendang wajahku, dan apa itu, kenapa dia tidak berterima kasih sedikit pun dan kata-kata terakhirnya itu membuatku kesal saja.” ucap Rian sambil memandangi Angel yang berlari menjauh menuju kelasnya.

Bel tanda istirahat pun berbunyi. Siswa-siswa SMA 1 dengan wajah yang berseri menutup buku pelajaran dan berjalan ke luar kelas menuju kantin. Angel yang sedang berbincang-bincang bersama temannya pun ikut berjalan menuju kantin sekolah untuk mengisi perut mereka, mereka duduk di pojok sebelah kanan kantin tempat mereka biasa berkumpul. Setelah makanan mereka datang dan sudah dihidangkan di atas meja, tiba-tiba Dika yang notabena ketua kelas di kelas Angel datang.

“Hah, Angel ternyata kau ada di sini, aku mencarimu dari tadi. Kau dipanggil ke ruangan guru piket sekarang.” kata Dika dengan sedikit terengah.
“Sekarang? Kenapa aku dipanggil?” tanya Angel.
“Aku juga tidak tahu. Lebih baik kau langsung saja kesana untuk mencari tahu.” jawab Dika.
“Baiklah aku akan segera ke sana. Huh, bahkan aku belum menyentuh makananku sedikit pun. Kenapa hari ini aku sial sekali.” ucap Angel sambil berdiri dan langsung berjalan menuju ruangan guru piket.

Sesampainya di sana, Angel mengetuk pintu dan berjalan masuk ke ruangan guru piket. Ia sedikit terkejut karena ia melihat Rian juga berada di sana, ia pun duduk di kursi di samping Rian dengan sedikit menggeser kursinya menjauh, Rian pun hanya mendengus melihatnya. Di depan mereka sudah ada Bu Nova yang berdiri menunggu. Tiba-tiba mereka berdua dikagetkan dengan TV menyala yang dihidupkan Bu Nova. Dan mereka dibuat jantungan lagi karena TV itu menayangkan mereka saat memanjati dinding sekolah tadi pagi. ‘Tamatlah riwayatku’ batin masing-masing mereka. Setelah diceramahi berjam-jam dan diberi nasihat dengan kata-kata bijak. Akhirnya mereka diberi hukuman membersihkan gudang di belakang sekolah.

Angel tampak sibuk menyusun barang-barang yang ada di gudang tersebut, bertolak belakang dengan Rian yang hanya duduk bersandar di dinding sambil menatap Angel. Mungkin menurutnya melihat Angel membersihkan gudang merupakan kegiatan menarik.
“Hei, berhenti melihatku saja! Lebih baik kau ikut membantuku membersihkan gudang ini.” teriak Angel mulai kesal.
“Berhenti berteriak. Telingaku alergi mendengar suaramu. Lagi pula bersih-bersih merupakan tugas perempuan. Aku tidak akan pernah mau melakukan tugas perempuan.” balas Rian tenang.

“Kalau begitu sebaiknya kau membantuku mengangkat barang-barang ini!” ucap Angel tanpa menurunkan volume suaranya.
“Kalau aku mengangkat barang-barang ini bajuku bisa kotor. Aku tidak ingin melakukan hal-hal yang bisa menurunkan pesonaku.” balasnya dengan wajah datar.
“Lalu apa yang ingin kau lakukan??!!” teriak Angel kesal.
“Sudah ku bilang berhenti berteriak. Kau membuatku kesal dan tidak bernafsu membersihkan gudang ini! Huh, Lebih baik aku membeli makan dulu untuk mengembalikkan mood-ku.” ucap Rian santai sambil berjalan ke luar gudang.
“Hah? Astaga! Dasar laki-laki licik! Dia bahkan belum melakukan apapun!” kesal Angel. Lalu melanjutkan pekerjaannya sambil menggerutu tidak jelas.

Rian yang belum jauh dari gudang itu hanya tersenyum mendengar umpatan Angel untuknya. Ia sebenarnya tidak tega membiarkan Angel membersihkan gudang itu sendirian, tapi dia tidak mungkin berpura-pura baik dan dengan kerendahan hatinya menawarkan diri untuk membantu. Itu bukan gayanya sama sekali. Sekembalinya Rian dari kantin, ia berjalan sambil bersiul kecil menuju gudang. Ada sedikit perasaan bersalah dalam hatinya pada Angel. Oleh karena itu, ia sedikit menurunkan gengsinya dengan membawakan Angel makanan dan minuman dari kantin.

Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Angel yang sedang tertawa, bercanda ria dengan seorang laki-laki yang ia kenal sebagai seniornya. Entah mengapa pemandangan itu membuatnya merasa sedikit marah dan tidak suka. Entahlah, ia merasa tidak rela Angel dapat tersenyum dan tertawa dengan seniornya, sedangkan ketika bersamanya yang dilakukan Angel padanya hanya berteriak marah. Dengan perasaan kesal ia pun meninggalkan gudang itu dan membuang makanan yang telah dibelinya ke tempat sampah.

Seminggu ini Angel tidak melihat Rian di sekolah. Sejak Rian meninggalkannya membersihkan gudang sendirian, keesokan harinya ia jarang bertemu Rian. Bukan karena Rian tidak datang ke sekolah, tetapi karena Rian yang tampak menghindarinya seminggu ini. Hal itu membuatnya merasa bersalah. Mungkin Rian marah padanya karena ia yang kelewatan memarahinya. Tetapi, seharusnya ia juga marah terhadap Rian karena meninggalkan tugasnya membersihkan gudang begitu saja. Entahlah, ia tidak mau memikkirkannya sekarang.
Karena terlarut dalam pemikirannya, ia tidak sadar hujan mulai turun. Ia tersadar ketika suara petir menyambar mengagetkannya. Wajahnya memucat seketika dan keringat dingin mulai ke luar dari pelipisnya. Ia memiliki phobia terhadap petir sejak kecil, dan ia merasa sangat ketakutan sekarang.

Rian yang baru pulang sekolah melihat Angel dengan wajah pucat berdiri menegang di koridor sekolah. Melihat wajah Angel yang pucat pasi membuatnya sedikit khawatir. Tanpa berpikir panjang ia pun berlari mendekati Angel. Tiba-tiba, ia melihat Angel terduduk di lantai sambil memeluk lututnya ketika suara petir menyambar dan sekarang Rian baru menyadari bahwa Angel sangat takut terhadap petir. Setelah berhasil menenangkan Angel, Rian segera membawa Angel ke UKS. Angel tampak sudah mulai bisa mengendalikan ketakutannya karena Rian yang memasangkan headset pada telinganya agar dia tidak bisa mendengar suara petir.

“Terima kasih banyak sudah menolongku dan maaf karena aku sudah kelewatan memarahimu di gudang waktu itu.” ucap Angel memulai percakapan.
“Sama-sama. Dan soal di gudang itu aku tidak marah sama sekali. Se-sebenarnya aku sedikit kesal padamu, waktu itu saat aku kembali dari kantin aku melihatmu sedang tertawa dengan senior kita. Sedangkan denganku kau tidak pernah tertawa, bahkan tersenyum pun tidak.” jawab Rian.
“A-a-pa? Senior? Oh, iya! Dia adalah Kakak sepupuku. Waktu itu dia datang dan membantuku. Aku memang sangat dekat dengannya. Kau tidak sedang cemburu kan? Hahaha.” balas Angel sambil tertawa.

“Jadi dia adalah Kakak sepupumu? Baguslah. Karena, ku rasa aku memang cemburu. Hmm, Angel, ku rasa aku menyukaimu.” jawab Rian serius.
Angel yang mendengarnya sangat terkejut. Tetapi, entah mengapa hatinya merasa senang saat mendengar pengakuan Rian. Mungkin tanpa disadarinya ia juga mulai menyimpan perasaan yang sama dengan Rian.
“Hmm, Rian, ku rasa aku juga menyukaimu.” balas Angel. Keduanya lalu tersenyum bersama dan mungkin hari ini menjadi hari yang spesial bagi mereka berdua.

Cerpen Karangan: Ulfa Anjelita

Cerpen Lucky When Come Late To School merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Drama Queen (Part 1)

Oleh:
Cinta itu indah, cinta itu kadang buta, cinta juga kadang menjadi misteri dan cinta pasti mempunyai akhir. Mungkin ada kalanya akan menjadi manis atau pahit. Tapi cinta itu ibarat

Salah Paham

Oleh:
“Inan! Inan! Bangun nak, sudah pagi..” terdengar samar-samar suara ibu, membangunkanku. Aku lalu bangun, dengan mata sedikit masih mengantuk. Wah! Ternyata masih jam 4! Kenapa ibu membangunkanku sepagi ini?

Aku Harap Cinta Itu Tidak Pernah Ada

Oleh:
Siapa yang tidak kenal cinta? Semua orang pasti sudah pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta! Tanpa terkecuali! Tuhan menciptakan perasaan cinta di hati semua makhluknya. Tapi… Siapa yang bisa

Menunggu Hingga Hujan

Oleh:
Hari ini, hujan turun lagi.. Akhir-akhir ini memang sedang terjadi musim penghujan di kota Semarang. Hampir setiap hari, kota Semarang selalu basah karena hujan yang bisa tiba-tiba saja turun

Secret Admirer

Oleh:
Tok… Tok… “Rara bangun sayang, solat subuh dulu yuk” suara lembut itu membangunkan mimpi indah Rara. “iya bundaa, Rara ambil wudhu dulu yaa” Pagi ini adalah hari pertama Rara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *