Lupa Bertanya Namanya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 September 2019

Cuaca siang ini sangat mendukung, atau bahkan terlalu mendukung menurutku. Karena teriknya sinar matahari yang semakin lama terasa membakar kulit membuat siapa saja enggan berlama-lama berada di luar, tak terkecuali juga dengan diriku. Keringat yang bercucuran mulai memancing indra perabaku untuk merasakan yang namanya rasa gatal.

Kulihat arlojiku menunjukkan pukul 12.30 tepat, kemudian aku memasuki sebuah gedung perpustakaan yang berada diantara gedung-gedung para penuntut ilmu. Keadaan kulitku terasa mulai membaik setelah memasuki ruangan ber-AC ini, keringat sebesar biji jagung yang membuatku kegatalan tadipun terasa menguap entah kemana.

Kususuri lorong-lorong dari deretan lemari-lemari tinggi yang penuh dengan buku, menyelinap diantara mereka sungguh menyenangkan. Jadi, inilah yang sering kulakukan saat sedang tidak disibukkan dengan tugas-tugas sekolah. Aku bisa menghabiskan waktu hingga 2 sampai 3 jam lamanya di perpustakaan ini hingga aku merasa telah kenyang melahap semua buku-buku, terlebih pada novel yang selalu membuatku lapar dan ketagihan untuk membacanya.

Aku duduk dan mulai menikmati isi lembar demi lembar yang kubaca, entah mengapa kali ini aku merasa jenuh dengan buku-buku ini. Kupandangi setumpuk buku dan novel di depanku. Teringatlah aku akan sosok laki-laki itu, dengan sebuah untaian pertemuan singkat. Wajahnyapun mulai lenyap di ingatanku akibat uluran waktu. Dan setelah hari itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, dan itu sudah berlalu hampir satu tahun lamanya. Terbanglah aku kembali ke saat itu. Saat dimana sebuah awal dimulai.

Flashback on…
Tahun ini aku mendaftar menjadi peserta didik baru di salah satu SMK Negeri di kotaku, seminggu kemudian aku mengikuti tes fisik setelah aku lolos pada seleksi berkas minggu lalu. Panas sekali rasanya berdesakan dengan peserta lain di ambang pintu ruangan tes, menunggu giliran nama kami dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan. “Zayya Hafisa dari SMP KOTA CANTIK” panggil suara bernada mikrophon tersebut.
“Ada..” sahutku sambil mengacungkan jari dan berusaha menyelip untuk masuk ke dalam ruangan, dengan susah payah karena banyak peserta yang berdesakan di depanku, akhirnya aku berhasil masuk.

Aku melewati berbagai macam tes fisik, mulai dari tinggi badan, berat badan sampai tes warna. Sesudahnya aku diminta oleh seorang Ibu guru berwajah masam nan terlihat garang untuk mengisi sebuah lembar formulir di bangku yang sudah disediakan di ruangan ini.
Kulihat tidak ada satupun bangku yang tersisa untukku, jadi aku memutuskan dengan berjalan ke bagian belakang ruangan untuk mengisi formulirku di atas meja tanpa kursi, owch.. kasihannya. Kulihat sebuah bangku di pojok sana sedang tak berpenghuni, setelah sekian lama akhirnya aku dapat merasakan lagi betapa nikmatnya itu duduk.

Mulailah kulanjutkan mengisi formulirku dengan senang hati, tiba-tiba seorang laki-laki yang berada di depan bangkuku menoleh ke belakang, aku yang merasakan adanya hal itupun langsung mengangkat kepalaku. “yang ini, apa maksudnya ya?” tanyanya tanpa basa basi terlebih dahulu sembari menunjuk sebuah pertanyaan yang tertulis di atas lembar kertas formulir milikku. Dan aku menjawabnya dengan sepengatahuanku tentang pertanyaan tersebut. Kemudian dia kembali menghadap ke depan pada tempatnya semula.

Kemudian saat aku hampir menyelesaikan formulirku, ada bagian yang harusa kuisi, namun aku tidak begitu paham. Dengan ragu aku menggoyang-goyangkan bangku leki-laki yang tadi bertanya kepadaku. Dia pun menoleh ke belakang.
“boleh nanya gak, yang bagian ini maksudnya apa?” tanyaku ragu.
Kemudian laki-laki itu menjelaskannya kepadaku. Saat dia menjelaskan apa yang kutanya, suasana terasa agak cair karena cara bicaranya yang menyenangkan. Setelah ia selesai menjelaskannya kepadaku, kami pun mulai berbincang-bincang. Setelah formulir terisi kami mengumpulkannya bersama dan kami diizinkan untuk keluar dari ruangan dan menunggu hasil seleksi tes fisik yang akan diumumkan pada keesokan harinya.

Aku merapikan alat-alat tulisku untuk segera keluar dari ruangan padat makhluk yang sedari tadi membuatku gerah dan gatal-gatal. Mataku mencari laki-laki tadi dan kutemukan dia sedang berbincang dengan seorang gadis manis dengan rambut panjang yang tergerai sampai tulang rusuknya.
Sebelum pulang aku ingin mengucapkan terima kasih padanya karena telah membantuku mengisi formulir dan berpamitan untuk pulang deluan. Namun, nampaknya perbincangan mereka sangat serius dan aku tidak mau mengganggu mereka. Akhirnya kuputuskan untuk pulang tanpa berpamitan kepadanya. Dalam hatiku aku berharap minggu depan saat tes tertulis nanti aku bisa bertemu dengannya lagi.

Keesokan hrinya aku kembali ke sekolah itu untuk melihat ada atau tidakkah namaku di papan pengumuman seleksi tes fisik. Ternyata namaku ada dan itu berarti minggu depan aku akan mengikuti tes tertulis. Setelah menemukan namaku di papan pengumumn, ayah mengajakku pulang. Sayangnya aku tidak melihat batang hidung lelaki itu dan parahnya lagi sepanjang perbincangan kami kemarin aku lupa unuk menanyakan siapa namanya.

Semiggu berlalu, kuharap dapat bertemu dengannya lagi. Setelah menemukan ruang tesku dan bangku dimana namaku tertempel di atasnya, akupun duduk manis sembari melihat dan memperhatikan wajah-wajah yang baru bagi mataku, dan… TAP! Laki-laki itu, akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi dan ternyata dia duduk di dua bangku dari sebelah kanan bangkuku. Betapa seangnya aku, setidaknya hari ini aku memiliki peluang untuk berbincang dan menanyakan namanya, nanti.

Tik.. Tik.. Tik… suara detik jam terdengar begiu jelasnya di ruang tes yang terasa hampa karena semua peserta benar-benar fokus pada soal-soal di depan mereka. Waktu mengerjaknpun habis. Seorang Ibu guru berbibir merah merona dengan rambut bergelombang sebahu mwnyuruh kami untuk mengumpulkan lembar soal beserta jawaban kepadanya. Aku pun berdiri untuk mengumpulkannya, berjalan menuju meja guru melewati tempat duduk laki-laki itu tanpa menoleh ke arahnya, namun terlhat jelas dari sudut mataku dia melihat ke arahku sambil mengubar senyum manis yang merekah. Ingin aku menoleh namun aku ragu lebih tepatnya aku tidak kuat. Dan saat aku melewatinya untuk kembali ke bangkuku, aku melihat ke arahnya hanya untuk melempar senyum. Namun sayangnya, dia menunduk melihat lembar soal di atas mejanya. Setelah itu, kami dipersilahkan untuk meninggalkan ruangan dan menunggu hasil seleksi ujian tertulis yang akan diumumkan dua hari mendatang.

Aku terus saja memperhatikan laki-laki itu, menunggunya beranjak dari sana dan berjalan keluar dari ruangan ini. Bebrapa menit kemuadian dia beranjak dari bangkunya menuju pintu, aku pun bergegas mengikuti langkah kakinya. Sesampainya di luar ruangan aku sedikit terkejut dengan keberadaan dua temannya yang langsung berjalan di sisi-sisi lelaki itu berjalan. Aku pun mempercepat langkah kakiku di belakangnya, hati ini seakan ingin memanggilnya agar dia berhenti, namun lisanku tak kuasa untuk mngeluarkan kata apapun. Aku semakin mempercepat lagi langkah kakiku dan dia berjalan semakin jauh, aku sedikit berlari hingga sepertinya aku benar-benar berlari di koridor itu.
Kuharap dia berhenti sejenak. Aku lelah, sungguh aku tidak kuat lagi untuk berlari dan aku memilih untuk tidak melanjutkanya. Sekejap aku terpaku menatap punggungnya yang semakin hilang di ujung sana. Kutarik nafas panjang dan berbalik arah, berjalan dengan lamat menuju tangga dimana seharusnya aku turun. Dan aku masih berharap agar esok bisa bertemu dengannya lagi.

Keesokan harinya..
Aku merasa sedikit kecewa atau bahkan menyesali diriku sendiri karena aku tidak menoleh ke arahnya saat dia tersenyum kepadaku atau karena aku tidak berhasil mengucapkan terima kasih dan bertanya namanya. Dan perihnya lagi aku tidak lolos pada tes tertulis kemarin. Ohh aku tidak tahu bagaimana dengan keberuntungan lelaki itu.. dan..

Flashback off..

Apa kabarnya lelaki itu sekarang?
BRUUAAKKK!!!
Suara buku-buku yang jatuh dari rak buku itu membuatku tersadar dari lamunanku. Kuhampiri lelaki di sana yang sudah pasti dialah orang yang menjatuhkan buku-buku itu hingga aku terkejut disko dibuatnya.
“sini biar aku bantu” ucapku sembari mengambil satu demi satu buku yang berserakan itu.
“terima kasih, sepertinya aku memang membutuhkan bantuanmu” sembari mengangkat wajahnya.

1 detik, 2 detik, 3 detik, tik tok tik tok… bola mata kami berada pada satu garis lurus, menyelam dengan tenang dan begitu dalam. Apa aku mati? Dimana detak jantungku dan saraf-saraf ototku? Apakah aku masih berada dalam lamunan? Tolong!! Seseorang, siapa saja cubit aku?

“aauu..”
“tolong jangan berteriak di dalam perpustakaan!” tegur seorang petugas di sudut sana.
“Ssssstttt… jangan teriak” dengan jari telunjuk yang bertengger manis di bibirku. “maaf, sakit benget ya?” tanyanya. Mataku semakin membulat. “gak nyangka ya, kita bisa ketemu lagi” sambungnya dengan senyum manis yang kian melebar, persis seperti satu tahun lalu.
“in, ini beneran kamu?” tanyaku masih tak percaya.
“ya.. iya ini aku”
Bibirku yang sedari tadi terus melongo memandangnya berganti menjadi sebuah senyuman. Dan teringatlah aku pada satu hal. Takkan aku lewatkan lagi kesempatan yang kesekian kalinya ini seperti satu tahun lalu.

“Oh ya, waktu kita ngobrol-ngobrol itu.. kita.. belum ada kenalan lho ” ucapku malu-malu. Ahayyy..
“Oh, iya ya kok kita bisa ya ngobrol panjang sebelum sesi kenalan” sahutnya dengan tawa kecil. “ya udah, kenalin namaku Deva Mahendra” dia nengulurkan tangan yang sedetik berikutnya kujabat.
“Zayya Hafisa” senyum pun mengembang di antara kami.

Akhirnya, aku tak melewatkan lagi kesempatanku untuk menanyakan siapa namanya.

Cerpen Karangan: Sofia
Blog / Facebook: Amelia Sofia
hai semua.. aku lagi belajar buat karangan nih, jadi maaf ya klo susunan katanya tidak berturan 🙂

Cerpen Lupa Bertanya Namanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Keep Fighting and Pray For SBMPTN

Oleh:
Perkenalkan namaku Aisyah Nur Fortuna biasa di panggil Una. Nama Aisyah Nur sendiri diberikan oleh Ibuku dan Fortuna diberikan oleh Ayahku. Kata mereka nama itu mengandung sebuah harapan, harapan

Mengagumi Dalam Diam

Oleh:
“Itu orang yang kusuka, Rin” “Yang mana sih?” “Itu loh, di kursi nomor tiga pakai jaket biru tua” “Adek kelas?!” “Iya emang adek kelas, kan gue udah bilang” “Kirain

Angkot

Oleh:
Angkot. Kendaraan umum yang selalu kunaiki saat pulang sekolah. Kendaraan berwarna biru yang bertuliskan angka 61 yang biasa kunaiki. Suasana angkot yang tidak luput dari rasa tak nyaman dengan

My Persami Story (Part 1) Persiapan

Oleh:
Pagi-pagi banyak orang berkumpul di mading. Aku penasaran banget. Oh ya, aku Silvia Anggelina. Kelas 7E. Aku berusaha menerobos segerombolan yang panjang karena badanku yang cukup kecil untuk menerobos.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Lupa Bertanya Namanya”

  1. moderator says:

    Perjuangan banget ya buat sekedar tau namanya ^_^

    nice…

    ~ Mod N

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *