Magician Girl

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 January 2016

Jam mulai masuk pukul delapan malam untuk pergi ke kafe menikmati kue tar dan segelas chapucino, sambil jalan-jalan menikmati angin malam. Aku ke luar dari rumah menuju mini market di seberang jalan, membeli sebotol air mineral dan sebungkus rok*k, kemudian aku kembali lagi ke rumah membawa motor. Aku mengendarai motor melewati jalan yang penuh keramaian karena ada festival jajanan, begitu ramai sekali para penjajak makanan sepanjang trotoar, para pengunjung yang datang untuk menikmati jajanan dan sekumpulan orang-orang sedang berkumpul di depan gedung bersejarah untuk mengabadikan foto.

Aku menemukan sebuah kafe yang baru dibuka saat aku memperlambat laju kendaraan, karena tempatnya dekat bertempatan di jalanan ini, aku memutuskan pergi ke sana. Kafe itu sangat besar dan bangunannya memperlihatkan dinding-dinding cat hitam gelap meliputi keseluruhannya. Lampu berkelap-kelip. Dan berlantai tiga. Bagian depan tiap lantai terlihat kaca-kaca memperlihatkan bagian dalam kafe yang dapat dilihat pengunjung dari luar. Papan nama bergaya unik seperti kafe-kafe terkenal.

Aku memarkirkan motor lalu masuk ke dalam kafe. Baru dua langkah aku sudah begitu terpukau, bagian dalam kafe didominasi oleh banyak warna-warni cerah yang meliputi seluruh bagian dinding, lampu-lampu gantung cahaya merah sebagai penerangan, atap langit diselimuti sutra berhiaskan bunga mawar. Namun yang utama menjadi perhatianku, seorang gadis di bagian atas panggung yang menjadi perhatian banyak orang. Dia mengenakan gaun merah muda terang, topi berbentuk corong di kepalanya seperti penyihir, sepatu both merah muda, dan hampir seluruh yang ia kenakan meliputi warna merah muda. Mungkin ia seperti karakter Magician Girl dalam film animasi yugi oh.

Aku segera beralih pergi mendekati meja bundar yang berhadapan panggung. Aku menarik salah satu tiga kursi kosong tersusun rapi. Aku duduk sambil mengeluarkan sebotol air mineral dan sebungkus rok*k dari dalam saku jaket, kemudian pelayan laki-laki berjalan ke arahku membawa buku menu warna hitam. Dia mengenakan kemeja putih dan celana katun hitam. Aku pun segera memesan chapucino dan chocolate cake dalam buku menu itu, pelayan itu pun pergi.

Di panggung itu, gadis bertopi corong sedang beraksi mengocok kartu remi kemudian masuk ke dalam tahap menunjukkan kecepatan tangannya, saat semua kartu dilempar ke atas, kartu satu keriting yang sudah ada tanda tangan telah ditangkapnya di udara. Suara tepukan tangan didapatkan gadis itu. Pelayan itu kembali lagi membawa pesananku dan meletakannya di atas meja, ia pun pergi. Aku menggambil segelas chapucino, menuangkanya ke dalam mulutku. Rasanya menyenangkan sekali berada di sini melihat pertunjukan sulap dan ditemani segelas chapucino. Pada saat itu juga, tiba-tiba gadis bertopi corong itu datang ke arahku, semua orang memandangiku. Gadis itu tersenyum simpul menghampiriku.

“Permisi, boleh pinjam cincin atau arloji anda?” ujar gadis itu.
“Oh ya,” jawabku. Aku melepaskan jam tangan dari pergelangan tangan kiriku, sementara gadis itu masih terus menatapku, lalu aku menyerahkannya.
“Terima kasih,” ujarnya lagi.

Gadis itu berbalik menuju panggung. Dia memperlihatkan jam tanganku di atas panggung kepada banyak orang yang ada di dalam kafe. Ku rasa aku sedikit malu karena jam tanganku sedikit lusuh. Gadis itu mengambil topi corong di kepalanya kemudian memperlihatkan isinya. Ku rasa ia mau menunjukkan jika isi topinya tidak ada apa-apanya. Jam tanganku dimasukkan ke dalam topinya, kemudian tangannya bergerak memutar di atas topinya seperti membaca mantra dan gadis itu pun membalikkan topinya, namun jam tanganku tidak jatuh ke luar, ia menunjukkan isi topinya ternyata jam tanganku sudah tidak ada nampaknya ia sangat ahli melakukan trik itu.

Gadis itu pun kembali disambut tepuk tangan penonton dan sekaligus mengakhiri pertunjukannya. Gadis itu mengucapkan, “terima kasih” dengan sikap penghargaannya terhadap penonton. Lalu ia melangkah turun dari panggung dan berjalan memasuki ruangan di belakang panggung. Lantunan gitar bernada musik jazz mulai diputar mengganti hiburan malam itu. Beberapa menit kemudian gadis itu terlihat kembali mengenakan jaket cokelat berbahan parasit, dia belum menanggalkan kostumnya, bawahannya masih mengenakan rok merah muda. Gadis itu melangkah melihat orang-orang dan meja sambil memegangi topi corongnya hingga berhenti di sampingku dengan tersenyum.

“Boleh duduk sebentar di sini?”
“Silahkan,” jawabku. Gadis itu pun menarik salah satu kursi dan duduk sambil melipat kaki.
“Terima kasih sudah dipinjamkan arloji” Gadis bertopi corong itu meletakkan jam tanganku di atas meja.
“Iya.” jawabku, aku memakaikan kembali jam tanganku. Gadis itu memandang ke arahku lalu tersenyum. Dia sangat cantik, memperlihatkan dua bola mata kecokelatan, hidung mancung, dan menggunakan wig rambut panjang berwarna kuning. Dia sepertinya berdarah campuran dari jepang atau mungkin eropa.

“Ini malam pertama penampilanku di sini. Belum begitu lama, jadi belum ada yang ku kenal di sini”
“Oh! Begitu..” jawabku sedikit acuh.
“Kau tahu astrologi?”
“Tidak. Aku tidak menyukai hal yang seperti itu.” jawabku. Aku mengambil sebatang rok*k dari bungkusannya.
“Akhir-akhir ini, ada sesuatu yang ku lewatkan..mengenai.. penampilanku saat pertunjukan. Jadi aku meminta saran dan pendapat penonton”

Dia senang mengobrol dan meminta saran kepadaku, aku sedikit memperhatikannya sambil merogoh saku celana mencari pemantik api. “Menurutmu bagaimana penilaiannya mengenai penampilanku atau kostumku? Supaya kedepannya aku memperbaiki penampilanku”
“Ku rasa kamu cocok memakai pakaian cosplay seperti itu” sahutku yang mulai memperhatikan gadis itu.
“Terima kasih, biar aku lihat!” Dia meraih tanganku di atas meja dan tatapannya beralih ke telapak tanganku.

“Aku melihat garis bergurat putus, mencerminkan kau tidak punya gairah, sepertinya kau selalu hidup sendirian” gadis itu beralih menatapku. “Kau memancarkan warna kuning pucat, kalau ku lihat wajahmu nampak seperti kelelahan dan tidak memiliki semangat” dia kembali menatap telapak tanganku kemudian menatapku lagi.

“Aku lihat matamu pernah memerah, mungkin kau kurang tidur setiap malam.” Gadis itu sepertinya punya kemampuan lain, seperti meramal atau membaca pikiran orang. Semua yang dikatakan gadis itu semuanya benar. Aku merasa takjub, akhir-akhir ini aku sedang tidak enak badan dan gadis itu pun mengatakan begitu. Aku sering tidak tidur setiap malam, ku rasa semua dikatakannya benar, dia seperti punya indera keenam.

“Ku kira kamu cuman bisa sulap saja?” Tanyaku.
“Aku lebih suka dipanggil seorang magician dari pada pesulap, karena mempunyai arti berbeda..” ujar gadis itu seraya melepas tanganku.
“Kau sepertinya membutuhkan seseorang dalam hidupmu.” ujar gadis itu lagi.
“Entahlah. Mungkin aku butuh pergi berlibur akhir pekan.” aku mengerutkan dahi.

Gadis itu pun diam tanpa bergeming lalu beralih memandang panggung dan membuka lipatan kakinya dia mengubah posisi duduknya menyamai pandangannya dengan raut wajah yang datar. Aku kemudian mengambil pisau di samping piring kue tar, aku memotong kue tar menjadi dua bagian, kemudian aku mengajak gadis itu makan bersama-sama.

“kamu mau kue? ayo! aku tidak bisa menghabiskannya sendiri.”
Gadis itu tersenyum dan menatap ke arahku sambil mengubah kembali posisi duduknya. “Hmm… baiklah!” Ujarnya.
Kami menikmati bersama-sama kue tar cokelat enak ini dengan saling memulai cerita masing-masing.

Cerpen Karangan: Irfansyah
Blog: jalanrancagoong.blogspot.com

Cerpen Magician Girl merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Harapan

Oleh:
Aku terbangun. Dari tidurku. Aku merasa di sebuah tempat yang sangat asing. Di padang rumput yang sangat luas dan cuacanya sangat cerah. “adit.. Kesini dong..” terdengar suara perempuan memanggilku.

Tentang Viana

Oleh:
Semilir angin datang berhembus, menerbangkan lembut rambut gadis jelita yang tidak jauh dari hadapanku. Tawanya yang bisa membuat pikiranku tak pernah lepas dari dirinya. Senyumnya, sifat ramah tamahnya yang

My Love (Part 2)

Oleh:
Setelah sampai di rumah sakit aku langsung ditempatkan di kursi duduk, rasanya aku tak kuat lagi duduk, aku hanya ingin berbaring. tapi aku hanya bisa menunggu. Setelah Aku berbaring,

Rindu

Oleh:
Pagi itu semua siswa smpn 22 dikumpulkan di lapangan basket untuk informasi kelas, Dinda pun ikut berkumpul di lapangan basket, agar dia mengetahui dimana kelasnya, Dinda adalah anak yang

Selamatkan Ekosistem Laut

Oleh:
Suatu hari tinggallah seorang pemuda yang suka memancing. Ia seorang yang suka membersihkan dan bertanggung jawab kepada ekosistem laut. Pemuda ini bernama Anto. Jika Anto memancing pasti Anto mengajak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *