Malaikat Terlambat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 9 May 2018

Kami berpencar ke tempat tujuan masing-masing. Restaurant, tujuan bagi mereka yang kemarin sudah bersepakat membuat masalah ini berhasil. Dua tahun bersama, tidak bisa membuat kelas kami kompak. Keegoisan menyebabkan kerugian bagi yang benar-benar ingin menuntut ilmu.

“Tanggung jawab dong yang piket!” teriak seorang teman dari belakang.
“Puput sama Elly udah mau piket kok kemarin. Cuman temen-temen yang lain ngusir kita.” jawab Putri membela.
“Alasan aja! Kita udah kelas dua belas, bentar lagi mau ujian.” sahut yang lain.
“Iya, mereka bilang, biar mereka aja yang piket. Ya udah, karena kita didorong-dorong terus, kita pulang.” jelas Putri.
“Elly, kok diem aja sih? Bantuin Puput ngejelasin!” rengek Putri padaku.
Aku hanya diam dengan perasaan yang kacau. Serba salah, aku dibuat oleh masalah ini. Tertunduk ingin berontak, melihat yang lain senang rencanya berhasil.

“Puput tu udah megang sapu, terus sapunya ditarik sama Arti. Puput bingung.” bela Putri.
“Piket kelas udah terjadwal, tanggung jawab dong! Kita aja bisa!” sahut seorang teman disampingku.
“Bensin, dan waktu terbuang percuma. Orangtua kita tahu anaknya sekolah.” tambahnya lagi.
“Cuman karena enam orang, semua gak bisa belajar.” kembali yang lain menjawab.

Langkah kakiku terhenti, tepat di depan gerbang sekolah. Tekadku sudah bulat, dan hatiku sudah siap menerima apapun konsekuensinya. Aku berbalik menghadap mereka.
“Kalian benar-benar ingin belajar?” ku lihat satu per satu wajah kesebelas temanku.
“Iya jelas! Tujuan kita ke sekolah ya belajar.” jawab seorang dari mereka.
“Baiklah, kalau begitu ikuti aku!”
Dengan tegas, aku kembali masuk ke sekolah. Wajah bingung tergambar jelas pada mereka. Aku melihat ke belakang, tidak ada satupun yang menyusulku.
“Kenapa kalian diam? Katanya tadi mau belajar. Biarkan aku yang tanggung jawab.” ucapku tegas berharap mendapatkan dukungan dari mereka.

Aku telah sampai di depan kantor guru. Rasa percaya diriku semakin kuat, karena mereka mau mengikutiku dan menaruh kepercayaannya padaku. Kulemparkan secarik senyum pada mereka sebelum kami masuk ke kantor guru.
“Permisi Pak, saya perlu berbicara dengan Bapak.” salamku kepada Wali Kelas.
“Sudah disuruh pulang, kenapa masih di sini?” jawab Wali Kelasku.
“Sebelumnya saya minta maaf atas kejadian ini. Saya kemari ingin menjelaskan akar dari masalah ini.” jawabku dengan penuh harap.
“Kalian tidak piket, saya dipandang tidak bisa menjaga kelas yang dipercayakan kepada saya. Sudah jelas semuanya.”
“Ya, saya tahu. Ini semua sebenarnya…” kulihat lagi wajah teman-temanku, sampai akhirnya keberanianku muncul.
“Kejadian ini sudah direncanakan dari kemarin Pak. Saya dilarang teman-teman yang lain untuk membicarakan hal ini.”
Wali Kelasku terkejut mendengarnya. Teman-temanku pun saling berpandangan.

Kutarik nafas sebelum melanjutkannya lagi. “Iya, tujuan mereka memang seperti ini. Kelas tidak bersih, lalu disuruh pulang. Sekarang, mereka pergi ke sebuah restaurant.”
“Lanjutkan bicaramu!” perintah Wali Kelasku.
“Hari kamis dipilih, karena pelajaran hari ini berat Pak. Sebenarnya, saya takut untuk memberitahu ini. Mereka terlalu ramai untuk saya hadapi sendiri.”
“Ini sudah keterlaluan, saya akan membicarakan ini dengan Kepala Sekolah.” dengan wajah marahnya, Wali Kelasku beranjak dari tempat duduknya.
“Lantas, kami bagaimana Pak? Kami ingin tetap belajar.” tanya Puput.
“Kelas akan dibuka, tunggulah di depan kelas. Kalian tetap belajar seperti biasa.” jawab Wali Kelasku, lalu pergi meninggalkan kami.
“Terimakasih Pak!”

Dengan senyum bahagaia kami bergegas menuju kelas. Aku pun lega dengan pengakuanku. Meskipun kedepannya, aku akan dimusuhi oleh teman-temanku yang lain. Tapi aku sudah siap menghadapi itu semua.

“Makasih ya Elly! Berkat pengakuanmu, kami tidak datang ke sekolah dengan sia-sia.” ucap temanku sambil merangkulku.
“Iya, aku juga gak habis pikir dengan kelakuan mereka yang sudah sangat keterlaluan.” sahut yang lain.
“Karena kepentingan pribadi mereka, kita yang menjadi korban. Aku tidak akan memberikan respon yang baik terhadap mereka.” tambahnya lagi.
Aku tersenyum lega mendengar kekaguman mereka terhadapku. Seharusnya aku jujur kepada mereka sebelum ini terjadi.

Tamat

Cerpen Karangan: Zellynne Sewar
Facebook: Maria Zellynne
Manusia yang sedang memperjuangkan cita-cita?

Cerpen Malaikat Terlambat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kertas Dalam Buku

Oleh:
Seperti biasa, dia di sana. Berdiri di depan sebuah rak buku yang tinggi berisikan buku-buku yang begitu membosankan bagi sebagian besar orang. Matematika, Fisika, Kimia. Meskipun rak itu tinggi,

Galang dan Juna

Oleh:
“Masih inget rumah kamu?” “Kalo ayah nungguin Galang pulang, cuma buat ngomel. Mending gak usah, Galang capek mau langsung tidur” Ucap remaja berumur 16 tahun tersebut. Pakaiannya yang sudah

Bagai Bintang Sirius

Oleh:
Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Nella yang mulus. “tampar aja terus! Tampar!” ujar Nella penuh emosi. “beraninya kamu dengan ayah kamu sendiri!” balas ayah Nella. “ayah? Ayah gue

Biru Perjalanan Kita (Part 1)

Oleh:
Bandung, 2010… Pria itu mengetuk-ngetukan kakinya sendiri tanda tidak sabar. Dia tengah menunggu seseorang di sebuah cafe yang ada di jalan Dago sekarang. Di sisinya, ada seorang anak tunanetra

Misteri

Oleh:
Aku adalah seorang siswa SMA kelas satu. Tidak, lebih tepatnya bukan siswi. Hanya seorang penggila ilmu pengetahuan. Aku selalu tertarik dengan segalanya yang berkaitan tentang fenomena dunia ini. Aneh,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *