Maroon (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 December 2015

Upacara peresmian tahun ajaran baru selalu melelahkan, bukan, setiap upacara selalu saja melelahkan. Pidato kepala sekolah yang selalu diulang tiap tahunnya -mungkin dimodif sedikit- sampai terik matahari yang menyinari tanpa ampun pada bulan Juli. Tetapi, melihat wajah-wajah baru yang akan ikut menimba ilmu di sekolah ini setidaknya memberikan sedikit hiburan. Ada siswa yang dengan seriusnya mengikuti upacara, sampai yang tidak sabar untuk mendinginkan diri di kelas yang memang diberi fasilitas ac.

Seseorang menyenggol bahuku. “Oi, coba lihat Adik kelas. Ada yang cantik banget deh..” Bukannya itu yang tadi ku lakukan. Tapi tetap aku alihkan pandanganku ke arah yang ditunjuk oleh temanku itu. Aku berdeham, benar katanya, adik kelas tahun ini memang banyak yang manis. “Udah ah, pikirannya kok pacaran melulu.” Dia hanya menggerutu dan beringsut ke barisan belakang. Aku terkekeh, temanku memang lucu sekali. Ketika aku mencoba memperhatikan kepala sekolah yang sekarang berbicara tentang kurikulum baru, aku menghembuskan napas panjang. Aah.. ingin pulang..

Selembar uang kertas mengapung di atas kolam. Uang lembaran seratus ribu: merah tua karena terendam air. Cepat atau lambat pasti akan ada yang memungutnya nanti. Sambil meneguk minumanku, aku melihat ke kelas. IPS 3. Awalnya orangtuaku tak mau aku memilih program IPS. Tapi apa boleh dikata, eksak memang bukan bidangku, dan aku terlalu cinta sosiologi untuk meninggalkan IPS. Pada akhirnya mereka bisa mengerti keinginanku dan memperbolehkanku memilih program ini. Aku cinta mereka. Tidak ada yang mengambil uang kertas itu. Ku rasa aku harus membawanya ke BK.

“Hei, aku duduk sama kamu dong. Banyak yang gak kenal nih..”

Aku mengiyakannya dan kemudian ia pun duduk di sampingku. Dia pasti gak bawa apa-apa, tasnya kelihatan ringan banget, pikirku sambil menahan tawa. Tentu saja banyak yang belum ku kenali di kelas ini. Dari kelasku yang sebelumnya saja hanya 2 orang yang masuk kelas ini, yaitu aku dan temanku yang duduk di samping ini.
“Ngomong-ngomong kita sekelas sama dia loh!” Aku memandang temanku aneh, memintanya menjelaskan lebih lanjut siapa yang dimaksud “dia” itu.
“Duuh, yang sempet jadi Yuk tahun lalu ituloh. Judith!”

Judith? Ku perhatikan seisi kelas, benar, itu Judith. Gadis yang duduk di pojok kelas sambil memperhatikan ke luar jendela itu adalah Judith. Dia cantik. Oh, semua perempuan itu cantik, maksudku adalah jika Judith dibandingkan dengan semua siswa perempuan di kelas ini, ia akan terlihat lebih.
“Gilaa.. Judith cantik banget. Rambutnya lurus dan hitam legam, kulitnya seputih lembaran kertas textbook yang belum tercecerkan tinta, tubuh yang proporsional, dan wajah layaknya bidadari yang kau lihat setiap malam di mimpimu. Ssssh..” Aku tidak bisa menahan tawa atas ocehan temanku itu. Dasar gombal. Itulah salah satu alasan mengapa temanku memilih IPS, ia adalah seorang sweet talker yang lauk-pauknya adalah buku-buku sastra yang sukar dimengerti.

“Kamu jangan ketawain aku! Itu memang fakta kan!”
“Mending kamu buat puisi aja deh, tentang dia.”
Temanku terdiam, ia memiliki raut wajah yang serius. Kelihatannya ia memikirkan saran asal-asalanku itu. Sambil mengeluarkan buku paket sosiologi, aku menggelengkan kepalaku heran dengan tingkah konyol temanku.

Ini merupakan sebuah kejutan. Sejarah, kami diminta membuat kelompok beranggotakan 3 orang, yang anggotanya diacak oleh gurunya. Ketika melihat siapa anggota kelompokku yang lain. Temanku melolong gembira, dia memang tidak tahu malu. Di papan, tertuliskan untuk kelompok 5: namaku, nama temanku -Maulana Dwi- dan Judith -Juditha Indriyani. Aku melirik reaksi Judith. Entah kenapa ia memiliki raut wajah antara kaget dan bingung. Dengan mata cokelatnya yang sedikit terbelalak dan alisnya yang terangkat. Aku penasaran apa yang membuat ekspresi itu muncul. Mungkinkan dia mengenal salah satu dari kami? Ketika ketua kelompok diminta untuk maju, aku pun sukarela untuk menjadi ketua kelompok.

“Jadi sebenarnya pada revolusi Prancis itu banyak sekali konspirasi-konspirasi yang dibuat oleh bankir Yahudi pada raja Prancis saat itu.”
“Aku baru tahu hal itu…”

Dan kemudian percakapan itu terus berlanjut, tentang bagaimana para bankir ikut berperan dalam banyaknya kejadian penting seperti perang dunia maupun perang dingin. Dan juga tentang bagaimana semua itu hanya berawal dari pemikiran para idealis belaka, sampai pada akhirnya satu demi satu bukti terkuak. Ketika Lana -temanku- berbicara menggebu-gebu tentang sejarah pada Judith, aku terus menuliskan preamble untuk tugas makalah kami. Sepertinya Lana sudah tidak canggung lagi untuk berbicara dengan Judith, tadinya ia sempat memiliki keram lidah ketika berhadapan dengan Judith. Lana memang anak yang mudah berteman.

“Duuh.. aku harus ke toilet nih.. Tunggu bentar ya.. Na…”

Mengibaskan tanganku tanda memperbolehkan. Lana pun bergegas pergi ke toilet. Tinggallah kami berdua. Aku yang sedari tadi tidak selesai menulis pembuka. Dan dia yang sibuk membaca buku sejarah. Meskipun dengan latar yang cukup bising, kami berdua tidak terbawa suasana untuk membuka suatu percakapan. Pada akhirnya Judith menutup buku sejarahnya dan mendengus kesal. “Benar kata Lana.. Pemenanglah yang menulis sejarah. Pandangannya di sini subjektif banget! Bener gak?” Sedikit terkejut karena Judith mengajakku berbicara, aku pun berhenti menulis sejenak dan berdeham setuju padanya.

“Maksudku, kayak sejarah penjajahan Belanda di Indonesia. Memang mereka kejam, tapi mereka gak sekejam itu. Seperti ini kan hanya menanamkan kebencian saja kepada kaum muda, hmph!” Antara mendengarkan perkataannya dan melihat wajahnya. Dengan pipinya yang sedikit memerah karena jengkel dan bibirnya yang menguncup lucu. Aku rasa lebih ke arah memperhatikan wajahnya.
“Kamu denger gak sih?” Judith melirik ke arahku dengan kesal.

Aku yang sudah melanjutkan menulis latar belakang pun menjawab, “Iya, soal bagaimana sejarah itu sering ditulis oleh pemenang dan tidak objektif itu kan? Dan juga soal bagaimana penulisan sejarah Indonesia hanya membesarkan api kebencian pada kaum muda kan?” Judith terdiam. Bukan bermaksud pamer, tapi kemampuanku untuk mendengar dan fokus itu cukup bagus. Bahkan aku bisa mengulang kembali semua kata-kata yang Judith ucapkan tadi, tapi ku rasa hal itu tak perlu ku tunjukkan.

“Ngomong-ngomong namamu.. aneh ya?”

Ketika kata-kata tersebut terlontar dari bibir merah muda Judith, aku memperhatikan emblem namaku. Ajna Sasmitra. Aneh memang. Ayah dan Ibu bilang kalau nama itu berasal dari bahasa Sanskerta asli. Maka dari itu terdengar aneh bila diucapkan oleh lidah lokal. Bel pulang berbunyi. Judith tidak melanjutkan perkataannya yang tadi, ia merapikan buku dan tasnya. Aku pun tak jauh berbeda. Dengan ketidaksediaan lawan bicara -aku- untuk membahasnya. Topik itu pun kami tinggalkan.

“Ada yang nyari Judith!”

Seseorang berdiri di ambang pintu, orang itu yang mencari Judith. Dengan tubuh atletis, kaki jenjang, pipi tirus, dan mata yang tajam. Satrio secara tidak sadar menarik perhatian hampir seluruh siswa perempuan di kelasku. Ia adalah kapten basket SMA ini. Berkali-kali membawakan sekolah kami harumnya bunga kemenangan, tentu saja Satrio sangat terkenal. Dan ia adalah kekasih terbaru dari Judith. Judith yang saat itu masih berdiri di sebelahku, mendengus dan melengos pergi ke luar kelas. Satrio mengikutinya tidak jauh di belakang. Lana ini memakan waktu lama sekali di toilet.

Beberapa lama setelah percakapan kami -kalau itu bisa disebut percakapan- pada saat sejarah. Aku jarang berbicara pada Judith, kalaupun iya hal yang kami bicarakan insignifikan. Kebanyakan Lana yang mengisi keheningan di antara kami pada saat kerja kelompok, sungguh mulut Lana itu sudah bisa mewakili 3 orang sekaligus. Terkadang aku menertawakan pikiranku sendiri. Haha.

Aku sering sekali berlama-lama di kelas, apalagi saat sepi, biasanya untuk mengerjakan tugas, membaca novel, maupun merenung. Entah kenapa, konsentrasiku jauh lebih tinggi ketika di kelas. Mungkin karena suasana tenang di kelas. Apalagi bau tanah dan hujan pada akhir Oktober, lebih membuatku betah berlama-lama di kelas. Suara derap sepatu tidak membuatku berhenti mendengarkan bunyi hujan yang ritmis. Tapi seseorang yang duduk di depanku itulah yang membuatku membuka satu mataku yang tadi terpejam.

Dari langkahnya aku sudah bisa mengira kalau itu Judith. Setidaknya aku menghafalkan cara berjalan dan suara langkah kaki anak-anak kelas. Jika Lana berjalan dengan menyeret kakinya sedikit, tetapi tetap cepat. Maka Judith berjalan layaknya seorang model. Tidak ada seretan kaki, maupun langkah yang terlalu cepat, langkah yang benar-benar terartikulasi. Yang membuatku bertanya-tanya adalah dengan alasan apa Judith duduk di bangku depanku, apa yang dia inginkan. Waktu berjalan, Judith belum juga mengatakan apa-apa. Aku pun memutuskan untuk kembali memejamkan mataku sambil menunggunya.

“Kayaknya sekarang aku ngerti kenapa kamu sering pulang pas udah sore banget, suasana kelas yang sepi memang enak kan?” Merasa pertanyaannya tak perlu jawaban, aku hanya membuka kedua mataku untuk menatap Judith yang pandangannya sedang terarahkan pada taman di luar kelas.

“Aku boleh minta sesuatu sama kamu gak?”
“Boleh aja..”
“Aku boleh pinjem pendengaran sama perhatianmu gak?”
Aku terkejut, untuk apa ia ingin bicara denganku ketika ia memiliki banyak teman yang bisa dicurhati. Judith melihatku, ia seperti mengerti apa yang sedang ku pikirkan.
“Aku mau seseorang mendengarkanku, benar-benar mendengarkan. Tidak memotong perkataan, tidak memberi komentar, tidak mendesak, dan tidak memberi saran. Dan kamu adalah orang yang tepat..” Mengerti yang ia maksud, aku pun menganggukkan kepalaku. Pada akhirnya kami berdua pulang sesaat setelah hujan berhenti, ketika matahari membuat bayangan kami terlihat lebih panjang.

Lana banyak bersin hari ini. Pasti karena tadi pagi ia datang dengan keadaan setengah basah kuyup. Lana memang tidak begitu kuat angin dan hujan.
“Ngghh… Na minta tissue dong..” Aku memberikannya tissue yang selalu ku simpan di kantong untuk jaga-jaga.
“Makasih.. Hrrrk…” Beberapa anak masih banyak yang melihat Lana dengan aneh maupun menertawainya, tetapi aku sudah biasa dengan hal ini.
“Ngomong-ngomong Na, denger-denger kamu kemarin di kelas sama Judith sampai sore ya? Kamu ngapain aja?”
Tidak begitu kaget seseorang melihatku dan Judith, meskipun kemarin rasanya hanya ada kami berdua dan suara hujan menyentuh tanah yang menemani kami. Agar tidak membuat Lana panik, aku mengungkapkan hal yang sebenarnya terjadi kemarin.

“Kamu jadi tempat curhatnya? Dia ngomongin apa aja?”
“Bahas tentang keluarganya sama hal-hal lain..” Lana mengangguk-angguk kecil. Aku tahu dia masih penasaran, tetapi dia sendiri mengerti kalau hal yang dibicarakan Judith padaku itu merupakan sebuah privasi. Melihat ada teman sekelasku yang berjalan mendekati bangkuku, aku mendesah pelan.

Ku pikir hal itu hanya terjadi sekali saja. Sekarang hanya aku dan Judith yang berada di kelas. Judith menunggu sampai semua murid telah pulang, termasuk Lana yang tadinya bersikeras tetap tinggal di kelas tapi pada akhirnya dia bosan, barulah Judith beranjak dari bangkunya dan kembali mengklaim tempatnya kemarin. Dan tanpa basa-basi apa pun juga, ia langsung mengatakan semua hal yang ada di pikirannya saat itu.

“Mereka cerewet banget. Menyebalkan.”
Aku sedikit memiringkan kepalaku, meminta Judith untuk berelaborasi.
“Ya, ‘Teman-temanku’ itu.. Suka banget ikut campur masalah orang. Mereka gak mau berhenti nanya soal kita yang ngobrol kemarin. Dan juga nanya apa aku masih pacaran sama Rio.”

Judith menyilangkan kakinya dan kemudian melanjutkan, “Aku memang dari awal udah gak nganggep mereka teman. Dikiranya aku gak tahu. Aku tahu kalau mereka sering mengataiku yang jelek-jelek di belakangku, aku juga tahu kalau mereka semua iri padaku. Ya bukan salahku dong mereka jadi seperti itu!” Aku terus mendengarkan Judith bercerita tentang “teman-temannya” dan juga berkeluh-kesah, lebih banyak mengeluh sebenarnya. Sampai jam kelas menunjukkan pukul 05.00, akhirnya kami berdua beranjak dari kursi bersamaan. Sebelum pulang, Judith masih menyempatkan diri untuk berterima kasih padaku.

Bersambung

Cerpen Karangan: Nana
Blog: thegreenbeing.wordpress.com

Cerpen Maroon (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cowok Istimewa

Oleh:
Hai guys!!! Namaku Rain, aku sekolah di SMP 2 Jati, dan sekarang aku kelas 9. Aku punya sahabat cowok namanya Pratama. Aku berharap persahabatan kita bertahan dan selalu bersama

Nostalgia

Oleh:
“Jika memang rasaku ini semu, maka ia akan hilang seiring dengan berjalannya waktu” Kataku terkias di atas secarik kertas, kutulis dengan pena kesayanganku. Dengan pena itu kucoba rapal bayangnya

Bocor Membawa Berkah (Part 2)

Oleh:
Keesokan harinya, tepat hari Minggu. Gavin tak hentinya memikirkan kejadian kemarin, bagaimana rasanya naik sepeda motor Riska, yang rodanya meliak-liuk seperti ular, terus sama suara motornya Riska itu, Hah

My Sweet 17

Oleh:
‘h-30 menjelang ulang tahun gue nih. Kira-kira gue dapat apa ya. Duh gue masih jomblo lagi. Sedihnya..’ ngomong dalam hati Tiba-tiba dari kejauhan ditepuk oleh teman dari belakang. “Hayolo

Pengorbanan Hati

Oleh:
Sinar mentari pagi menyinari pagiku. Hari ini adalah hari kedua, di tahun pelajaran baru, aku mulai masuk sekolah. Aku melangkahkan kakiku menuju kelasku, namun belum sampai ku ke kelas,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *