Maroon (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 December 2015

Seperti yang sering Lana ucapkan dengan suaranya yang lantang dan sedikit nyaring itu. Jam kosong layaknya surga dunia. Melihat bagaimana keadaan kelas sekarang, tidak bisa dipungkiri lagi. Aku pun tidak jauh berbeda. Tanpa ada perasaan dosa maupun kegelisahan, aku bermain bridge bersama dengan teman-temanku yang lain. Sambil sedikit mendengarkan candaan Lana yang berhasil menyebabkan gelak tawa.

“Ajna… ada yang nyariin kamu tuuuh!”

Hanya karena konsentrasi yang terpecah sedikit saja, aku langsung dideklarasikan kalah oleh teman-temanku. Dengan wajah sedikit masam aku pun menemui seseorang, yang sebenarnya tidak ku kenal, yang sedang menungguku di depan kelas. Aku mengetahuinya sebagai salah satu “teman” Judith. Nabila Asfara, itulah yang dikatakan emblem namanya padaku. Dia yang menyadari bahwa aku sudah ada di sampingnya langsung berdiri dari posisinya yang menyandar pada tembok.

“Kamu pasti Ajna kan? Kamu mungkin gak kenal aku, dan gak perlu kenal aku. Aku ke sini cuma mau bilang, jangan mau jadi ‘tempat sampahnya’ Judith. Dia itu bisa menyebabkan masalah untukmu! Apalagi sekarang Rio sudah mulai curiga dengan gosip yang beredar ke mana-mana tentang kamu dan Judith.”
“Setahuku itu tidak ada hubungannya denganmu,” dari reaksinya aku tahu kalau Nabila tidak berpikir aku akan menjawab seperti itu, “Memang siapa yang mau berurusan dengan ‘tempat sampah’ yang tidak pernah berpikir untuk bertindak, kecuali hanya sebagai tempat pembuangan saja?” Nabila yang tadi tersentak kaget, langsung berputar arah dan berjalan dengan derap langkah yang keras.

Sampai saat ini Judith belum berkata apa-apa. Aku tahu dari wajahnya dan cara dia bermain dengan lengan bajunya, kalau dia sebenarnya memiliki banyak hal mengganjal, hanya saja ia tidak tahu cara mengungkapkannya. “Aku gak sengaja denger omonganmu sama Nabila…”
Aku mengangguk mengiyakan hal tersebut. “…aku gak perlu dibela.”
“Aku gak membela kamu. Hal yang ku ucapkan saat itu adalah fakta.”
Judith terdiam. Tidak apa-apa. Suara hujan sudah cukup untuk mengisi keheningan kelas.

“Jadi.. sekarang aku harus nganggep kamu teman?”

Setelah berpikir cukup lama, aku menggelengkan kepalaku. “Kamu gak perlu nganggep aku sebagai teman. Ada perkataan seperti ini, terkadang menceritakan masalahmu kepada orang asing itu lebih melegakan daripada membicarakannya kepada orang yang dekat, karena ketika orang asing itu pergi, ia akan membawa masalahmu pergi bersamanya.” Judith mengayunkan kakinya ke depan ke belakang, sambil sesekali melirik ke luar jendela.

Langit pada bulan Desember terlihat lebih tinggi daripada bulan-bulan lainnya. Anginnya pun cukup kuat untuk menjatuhkan helaian daun yang tidak berpegang erat pada pohonnya. Pertemuan kami setelah pulang sekolah masih terus berlanjut sampai sekarang. Judith semakin lama semakin terbuka. Berkali-kali ia membahas tentang Rio dan mantan-mantannya, dan juga tentang “teman-temannya”. Tapi ada satu hal yang mengganjal. Entah kenapa, aku tidak bisa mengingat kapan terakhir kali ia mengucapkan kata “terima kasih” kepadaku.

Akhir-akhir ini Lana sering menulis puisi yang melankolis, dan ia selalu saja menyuruhku membacanya dengan alasan kalau hanya aku yang bisa mengerti puisinya.
“Na, ini aku bikin puisi baru, mau aku ikutkan ke lomba nih, baca dong ya?” Aku melirik ke puisi baru Lana yang dituliskan dalam helaian perkamen. Jadi dia memang serius mengikutkan puisi-puisi ini, pikirku sambil menghitung halaman puisi itu.

Satu judul terngiang akrab dalam kepalaku. Lana melihatku sambil berharap-harap cemas, sepertinya ia menantiku memberi tanggapan terhadap puisinya. Setelah selesai membaca, paru-paruku terasa tercekat. Seperti biasa puisi buatan Lana memang high class, dengan frasa-frasa dan pengandaian yang indah, banyaknya kata-kata yang terkadang susah dimengerti tetapi dapat membangun suasana dalam puisinya.

Tapi ada hal yang membuat puisi ini berbeda dengan puisi Lana yang lain, bagaimana puisi ini dapat menelusup ke dalam perasaan seseorang. Hal itulah yang ku katakan pada Lana. Lana diam. Aneh, biasanya setelah aku memberikan pendapatku ia langsung meracau tiada habisnya. Apa mungkin ia tidak setuju dengan pendapatku? Tiba-tiba Lana mengerang kencang, dan lalu ia memegang kuat kedua bahuku.

“Na! Untuk orang yang peka sama orang lain, kamu gak bisa mengerti perasaanmu sendiri ya?”
Lalu Lana pun tertawa pahit, masih memegang bahuku, ia pun melanjutkan, “Puisi ini gak menelusup ke perasaan orang lain Na, karena puisi ini mengenai dirimu!”
Aku hanya diam dan menatap Lana. Tidak tahu apa yang harus ku rasakan, bingung. Genggaman di bahuku terlepas, Lana menghela napas panjang.

“Kamu kira aku gak tahu. Atau mungkin kamu sendiri memang gak tahu. Tapi aku tahu, gimana hari demi hari kamu berjalan dengan langkah yang seperti diberatkan sesuatu. Padahal kamu yang mengajariku cara mengetahui perasaan seseorang dari langkah kaki mereka.” Lana mengambil perkamen puisinya dari tanganku, lalu ia membuka halaman puisi yang ku baca tadi.

“Insignifikan adalah judul puisi ini. Menceritakan tentang perasaan seseorang yang merasa dirinya tidak penting, tidak dihargai oleh seseorang yang dikasihinya,” Lana menghirup napas dalam-dalam, “si narator terus memuja-muja orang yang dikasihinya itu. Menganggapnya sebagai pusat dari dunia, bagaimana planet-planet tidak berevolusi memutari matahari, melainkan memutarinya. Sedangkan si narator hanya menganggap dirinya sebagai observator, berada di luar orbit. Kecil, tidak penting, insignifikan.”

Paru-paruku kembali tercekat. Pandanganku terpaku kepada paving di bawahku. Aku tidak bisa mengendalikannya. Aku tidak melihatnya, tapi aku tahu Lana melihatku dengan pandangan mengasihani. “Tapi kamu tahu? Aku berpikir, ketika si narator sudah berani menghadapi perasaannya sendiri, ia tidak akan merasa insignifikan lagi.” Akhirnya aku bisa mengalihkan pandanganku ke arah Lana. Ia tersenyum. Senyuman kecil terlihat aneh pada Lana yang sering tersenyum lebar.

“Kamu itu hebat Na. Aku selalu mengagumimu sebagai teman, coret itu, sahabat terbaikku. Karena kamu sering sekali membantuku, sekali ini saja aku mau menolongmu.” Mataku berkaca-kaca, aku bisa merasakannya, tetapi tidak ada air mata yang mengalir ke luar. Terkadang aku lupa kalau aku dan Lana sudah bersahabat sepuluh tahun lebih.

Sore itu, seperti biasanya Judith langsung duduk di depanku ketika semua murid telah melenggang ke luar dari kelas. Tentu saja aku menyadari pandangan Lana padaku sebelum ia beringsut pergi. Ketika Judith sedang membahas tentang kencannya dengan Rio yang berakhir kecut, aku memotong pembicaraannya. Aku tahu aku merusak kesepakatan. Judith menoleh kepadaku sangat cepat aku kira ia akan mematahkan lehernya.

“Kamu memotongku!”

Iya, aku tahu. Aku meminta Judith untuk tetap tenang. Judith terlihat murka, dengan matanya yang melotot, gesekan giginya. Kemudian aku mengeluarkan tiga kata yang menyimpulkan semua perasaanku terhadapnya. Judith berhenti. Kemudian ia beranjak dari kursinya dan berlalu meninggalkanku. Aku teringat. Aku teringat bagaimana aku sering menatapnya dengan perasaan yang aneh. Aku teringat bagaimana aku hampir tertidur mendengar suaranya, intoxicated. Aku teringat bagaimana aku terus melihat hujan ketika yang ia bahas adalah Rio, Rio, Rio. Satu lirikan ke luar jendela. Aku merasa ringan kembali.

Seseorang mengatakan bahwa, satu-satunya jalan untuk menjadi abadi adalah dengan menghapuskan kesadaran kita akan waktu. Aku tidak tahu apakah aku ingin menjadi abadi. Sudah berapa hari, berapa bulan semenjak kejadian itu berlalu, entahlah aku tidak pernah memikirkannya. Yang aku tahu hanyalah, langkah kakiku sudah terasa jauh lebih ringan lagi. Aku sadar Judith tidak pernah menjawabnya. Tapi itu tidak masalah. Kewajibanku hanya untuk menyatakan perasaan itu saja, tentang bagaimana kelanjutannya itu bukan urusanku lagi. Bukannya aku tidak mau berusaha. Ini adalah pertama kalinya aku melakukan suatu hal dengan serius. Aku tidak ingin semuanya hancur menjadi debu hanya karena satu langkah yang salah.

Luka lebam di pipiku sudah mulai menghilang. Aku rasa itu wajar, dengan Lana yang terus-terusan menempelkan bungkusan es batu pada lukaku seperti orang yang kesetanan: bagaimana tidak hilang? Seperti angin yang tiba-tiba berlipat menjadi badai, ia berlalu begitu saja setelah meninggalkan sedikit cinderamata pada wajahku. Saat itu tidak ada yang melihat Satrio mendatangiku dengan hentakan kaki yang keras.

Semuanya sadar ketika mereka melihat tinjunya yang hanya tinggal berjarak beberapa mili dari wajahku. Bahkan aku baru menyadarinya setelah aku tersungkur di tanah. Ia tidak mengatakan apa-apa, melengos pergi begitu saja. Tidak seperti semua orang yang terlihat bingung, aku tahu betul apa yang sebenarnya ingin Satrio katakan. Merah tua seperti lukaku, tangannya yang terkepal.

Hanya tinggal aku yang tersisa di kelas. Bisa dimengerti, karena jari-jari jam yang ringkih sudah menunjuk pada angka 6. Aku tidak tahu apa yang aku nanti sekarang. Kalau aku terlalu lama tinggal di kelas, bisa-bisa akan muncul keinginan untuk menginap di sini: dengan seringai lebar Lana mengatakan hal itu kepadaku. Tentu aku tahu apa yang sebenarnya Lana maksudkan. “Tentu kau boleh masuk, ini kan kelasmu juga.”

Ia lah yang aku nanti sejak tadi. Tapi ku rasa ia tidak ingin bertemu denganku. Tanpa ku sadari, ia sudah mendudukkan dirinya di bangku depanku. Dia tidak mengatakan apa-apa. Ini mengingatkanku pada hari itu di akhir Oktober, ditemani dengan suara hujan yang ritmis: saat itu aku hanya menganggapnya sebagai wajah lain yang berlalu. Judith pasti akan terlihat sangat cantik kalau ia ingin menunjukkan sedikit senyumnya padaku.

“Aku… aku gak ingin menganggapmu sebagai orang asing…”

Tidak apa-apa, kau tidak perlu menyembunyikannya dari pandanganku. Meskipun maskaramu yang terlarut oleh air mata menodai seragamku, itu tidak masalah. Tidak apa-apa untukmu menangis. Meskipun dengan setiap tetes air matamu kau merasa semakin sakit, itu tidak masalah. Karena masih banyak waktu untuk kita memulai lagi di lembar baru. Tapi jangan gunakan lembar berwarna putih. Kita akan gunakan yang berwarna merah tua. Merah tua seperti hati kita.

Cerpen Karangan: Nana
Blog: thegreenbeing.wordpress.com

Cerpen Maroon (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Disabilitas Wife (Part 1)

Oleh:
Aku berjalan keluar dari kelasku, aku menjinjing tas sekolahku, hari ini aku pulang lebih awal. Aku menuju halte untuk menunggu jemputanku. Hari ini sangat melelahkan aku ingin segera menyelesaikan

Pada Hari Minggu

Oleh:
Bangun tidur aku terus mandi. Habis mandi, aku tidur lagi. Ibu datang marah-marah dan menyuruhku merapikan tempat tidurku. Ini hari minggu. Selesai merapikan tempat tidur, aku pergi ke kota,

Penuh Sesak

Oleh:
Pagi yang cerah menyambutku dengan ceria. Jam sudah menujukan pukul setengah 7 pagi, dan tepatnya waktu dimana aku sudah siap dengan seragam putih biruku. “Pagi, Bunda!” sapaku dengan senyum

Ketika Cinta Melukai Cinta

Oleh:
“kapan lo mau punya pacar ly?” tanya satu gadis. “gue lagi nunggu seseorang yang udah gue sayang dari dulu dan gak pernah lost contact dari gue. Dia udah janji

Perjalanan Menuju Sekolah

Oleh:
Suatu Hari di Pagi yang cerah, Secerah dahi teman gua yang bisa memantulkan sinar matahari, tiba-tiba terdengar suara ayam berkaki empat, berambut kriwil dengan paruhnya yang tonggos (?) *Ayam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *