Matahari Amel (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 January 2019

Raut wajah Amel begitu resah. Sudah menit kedua puluh ia menyapu pandangannya di setiap sudut dermaga, mencari-cari sosok mama, bibi dan adiknya yang mungkin saja masih berbaris untuk naik ke atas kapal.

Beberapa menit yang lalu, Amel naik ke dalam kapal bersama pamannya. Menurutnya, lebih asyik bersama paman daripada bersama bibi, mama dan adiknya, sebab mereka berjalan begitu lamban. Amel benar-benar tak sabar, ia ingin segera menelusuri setiap ruang-ruang kapal. Baginya perjalanan kali ini sangat menyenangkan, sebab ini pertama kali ia melakukan perjalanan dengan kapal besar. Dan di sinilah ia, di atas dek tertinggi bersama beberapa tas besar dan ditinggal oleh pamannya sebab paman tak ikut berlayar.

“Mamaaa…” ucap Amel lirih dengan nada gelisah, sebab sebentar lagi kapal hendak meninggalkan dermaga.
Di kiri kanannya ada beberapa orang yang melambai-lambaikan tangan ke arah dermaga. Bergaya seperti selebritis papan atas yang hendak memberi salam perpisahan untuk para fans. Dan jika ia tak terpisah dari mama, ibu dan adiknya dan tersesat di atas kapal mungkin Amel akan melakukan hal yang sama. Beberapa langkah dari tempatnya berdiri seorang bocah laki-laki yang seumuran dengannya berdiri melambaikan tangan ke arah dermaga. Raut wajahnya berbeda 180 derajat dengan Amel. Ia berteriak-teriak menyapa, seakan mengenal seluruh orang di dermaga.
“Halo pak Satpam, pak petugas yang suka angkat-angkat barang terima kasih telah membantu, ibu-ibu penjual…”
Bocah laki-laki tersebut masih sibuk berceloteh riang diiringi tawa yang memamerkan barisan giginya yang patah di beberapa tempat.

Hati Amel semakin resah, kala kapal membunyikan suara-suara menyeramkan -menurutnya- dan suara petugas kapal yang memberitahu bahwa kapal beberapa menit lagi akan segera berlayar. Ia lantas menangis dengan suara kencang, hingga membuat beberapa orang yang masih seru melambaikan tangan segera menoleh ke arahnya.

“Hai Adek manis, kau tersesat yaa?” sapa seorang lelaki dengan nada ramah.
Namun Amel semakin membesarkan volume tangisannya. Melihat gadis kecil itu menangis dengan suara kencang, lelaki tersebut memundurkan langkah. Bocah laki-laki yang acara menyapanya terganggu segera mendekat. Dengan wajah ketus ia segera memarahi lelaki tersebut, “Awas yaa Om, aku laporin mama. Om sudah buat gadis cengeng ini nangis kencang-kencang, padahal aku belum selesai menyapa om-om di dermaga. Tuh lihat yang baju nomor 6, 9, 50, 11 dan eh, pokoknya banyak deh yang belum kusapa.”
Lelaki tersebut melotot, wajahnya kini berlipat-lipat menyeramkan. Padahal pelototon yang ditunjukan mengartikan pada rasa gemas pada dua bocah yang berada di hadapannya. Orang-orang yang tadi tertarik perhatiannya oleh tangisan Amel segera menjauhkan langkah dari dua bocah tersebut. Anggapan mereka, bahwa dua bocah itu hanya iseng, dan pasti kedua orangtua mereka sedang berada tak jauh dari sini. Mungkin ditinggalkan untuk membeli snack atau ke toilet.

Setelah suasana kembali seperti semula, bocah laki-laki tersebut kembali melambai-lambaikan tangan. Ia melanjutkan menyapa orang-orang yang menurutnya belum disapa. Tak peduli dengan tangisan Amel yang kini tertahan, sebab takut ditegur kembali oleh lelaki berkumis dan berjaket hitam yang menurutnya salah satu dari komplotan penculik anak-anak.

“Wah, kau di sini rupanya,” ucap seorang wanita berwajah lembut, pada Amel, “kami mencarimu kemana-mana. Jika kau tak ditemukan, maka habislah, kita akan dilempar bersama-sama dari atas kapal, sebab tiket saat ini berada di tanganmu.”
Seorang bocah yang berdiri di samping wanita itu nyengir dengan wajah riang. Beberapa menit yang lalu hatinya juga cemas, takut dilempar dari atas kapal sebab tak punya tiket. Amel segera memeluk wanita tersebut. Perasaan cemas, sedih, dan bingung yang sedari tadi menyelimuti hatinya, kini lenyap.

Sesaat sebelum melangkah pergi bersama mama dan adiknya, ia memandang pada bocah laki-laki yang masih sibuk ber-da-da-da riang. Menurut Amel, bocah itu pasti bukan tersesat tapi kabur dari pengawasan kedua orangtuanya dan sebentar lagi ia akan mendapat hukuman. Amel nyengir membayangkan hal itu. Beberapa menit setelah Amel menghilang dari balik bingkai pintu, bocah laki-laki tersebut segera menghentikan aktifitasnya. Ia lalu berjalan mengambil ransel yang diletakkan di bangku yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Menyandang ransel tersebut di pundak, lalu berjalan perlahan ke arah yang berlawanan dengan Amel.

Beberapa tahun kemudian…
Seorang gadis remaja dengan potongan rambut pendek sedang berusaha menjatuhkan lawan-lawannya. Wajahnya terlihat tenang dengan tatapan tajam. Ia bukan berada di dalam ring pertarungan melainkan berada di tengah-tengah suasana tawuran. Apa boleh buat, beberapa menit yang lalu ia diseret di arena pertempuran. Motornya dihentikan dan sebuah pukulan terdampar mengenai helm yang dipakai. Gadis tersebut berusaha melawan. Lawan atau kawan, ia tak peduli, yang penting terbebas dari aksi tawuran.

Bersambung

Cerpen Karangan: Itin Lessy
Facebook: Yosphina CL

Cerpen Matahari Amel (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Stranger (Part 2)

Oleh:
“Hai.” begitulah sms pertamaku kepadanya. “Hai juga, ini siapa?” balasnya. “Ini Alen, anak kelas 7-D temennya si Dodo.” balasku. “oh, dapet nomor dari siapa?” tanyanya. “dari si Pipit.”jawabku singkat.

Si Sempe

Oleh:
Kalau biasanya anak cowok susah baget deket sama bokapnya… beda dengan keadaan gue dan kakak-kakak gue ke bokap. Kita justru deket banget sama ayah. Mungkin karena dia orangnya super

Kekhawatiranku Saja

Oleh:
Beberapa hari ini Gandi menunjukkan sikap yang berbeda kepadaku. Ia nampak lebih perhatian dibandingkan hari-hari sebelumnya. Mirip orang lagi berupaya untuk melakukan pendekatan. Entah hanya perasaanku saja, atau memang

Jauh Lebih Dekat (Part 2)

Oleh:
Setelah pulang dari pendakian lusanya mereka berkumpul seperti biasa di taman. “trid Azam kemana kok nggak dateng si?” Tanya Maura bingung mengngkat kedua alisnya “nggak tau nih biasanya dia

Tama

Oleh:
DUGHH!!! Akar pohon ketapang yang besar menjalar, membuatku tersungkur. Sepertinya, wajahku rata dengan tanah. Tapi, sebelum aku meringis. “Aaaww!!” Kedua sahabatku dengan lebaynya berteriak histeris. “Lilin lo kenapa?!” Aster

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *