Matahariku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 1 January 2018

Namaku Mentari. Aku sekolah di Ame High School dan sekarang memasuki tahun ketiga. Ame High School adalah SMA yang berisikan 3 golongan pelajar. Golongan pertama, yaitu pelajar yang pandai dan mampu, golongan kedua, yaitu golongan anak konglomerat, dan golongan ketiga, yaitu golongan pelajar yang pandai tetapi kurang mampu. Di sini, aku berada di golongan yang ketiga, yakni pandai tapi kurang mampu, dalam kata lain aku mendapat beasiswa prestasi di Ame High ini.

Mentari, ibuku memberikanku nama ini agar aku menjadi anak yang selalu cerah dan ceria, seperti matahari. Namun, pada kenyataannya aku bukanlah anak yang selalu cerah dan ceria seperti yang diharapkan oleh ibuku. Mengapa? Karena semenjak ada siswa baru yang masuk di kelasku saat awal tahun kedua, kegiatan belajarku di sekolah menjadi terganggu dan terkesan suram.

Namanya Samuel. Dia termasuk golongan kedua. Ya, dia adalah anak konglomerat, sehingga dia bisa melakukan apapun yang diinginkannya, meskipun itu melanggar peraturan sekolah, termasuk membully.
Ame High School melarang keras siswa-siswinya melakukan bullying dalam bentuk apapun. Sementara Samuel, dia selalu melakukan bullying terhadapku. Entah itu dalam bentuk fisik maupun psikis.

Setiap hari aku selalu mendapati lokerku yang berisikan banyak sampah yang menjijikkan. Meja dan kursiku juga selalu penuh dengan coretan dengan kata-kata kotor dan hina yang tentunya ditujukan untukku. Setiap jadwal olahraga, aku selalu diguyur dengan air tepung dan kadang dicampur dengan telur busuk. Tak hanya itu, sering kali aku dikunci di kamar mandi ataupun di gudang sekolah. Bahkan sampai aku tidak mempunyai teman satu pun, itu karena ulah Samuel.

Aku ingin melawannya, namun aku sadar akan posisiku di sini yang hanya penerima beasiswa. Bisa-bisa aku di DO dari sini. Aku ingin sekali membencinya, namun aku tidak bisa. Aku mempunyai sedikit perasaan padanya. Aku berharap, aku bisa menjadi matahari untuknya. Tapi itu tidak mungkin, sangat tidak mungkin. Aku dan dia beda kasta. Ah, mungkin itu yang menyebabkan dia membullyku dengan sangat kejam. Aku benar-benar tidak tahan akan kelakuannya.

Seperti saat ini, kegiatan olahraga dimulai dengan senam pemanasan dan keliling lapangan 3 kali. Saat berkeliling untuk kali ketiga, dia tiba-tiba mendorongku.

Bugh!
Aku jatuh tersungkur di lapangan. Akh! aku merasakan perih di kedua lutut dan sikuku. Dan benar saja, kedua lutut dan sikuku berdarah. Air mataku sudah menggenang. Kali ini aku sudah tidak tahan lagi. Aku segera bangkit tanpa peduli sakit yang menimpa lututku dan juga teman-teman yang mulai berkumpul mengelilingiku dan Samuel.

Aku berteriak padanya dengan air mata mengalir di pipiku, “Apa sih maumu?!! Kenapa kau selalu menggangguku?!! Apa salahku sampai kau menyiksaku seperti ini?!!”
Kulihat dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Kenapa kau diam saja, ha?!! Bukankah setiap hari kau selalu meneriakiku?!! Bukankah setiap hari kau selalu memainkan tangan dan kakimu untuk mengerjaiku?!!”
Kulihat dia masih diam saja dan hanya menatapku. Aku masih tidak bisa diam. Aku terus berteriak padanya sambil memukul dadanya berkali-kali namun dia hanya diam.

“KENAPA SAMUEL?!! JAWAB AKU!!” aku berteriak sekali lagi padanya.
“Maaf,”
Satu kata yang akhirnya dapat kudengar darinya.
“Maaf?” aku menirukan ucapannya. “Kau bilang maaf padaku?!! Kau pikir kau bisa dengan mudahnya mengatakan itu padaku setelah semua yang kau lakukan padaku, ha?!!”
“Maaf,” ucapnya sekali lagi.
“Maaf,” sekali lagi.
Aku bisa mendengar permintaan maaf darinya yang tulus itu. Tapi bukan itu yang ingin kudengar, melainkan alasan dia melakukan hal itu padaku.

“Aku bertanya padamu! Kenapa kau melakukan itu padaku?!! Aku tidak butuh kata maafmu!!
“Maaf,”
Kali ini dia berusaha memelukku. Aku berontak. Tapi percuma saja, dia lebih kuat dariku. Akhirnya aku melemah di pelukannya.

“Maaf, aku sudah kejam padamu,” katanya. “Aku selalu menyakitimu, membuatmu terluka, dan mungkin akan membuatmu trauma. Tapi aku melakukan ini hanya untuk ingin mendapatkan perhatianmu. Aku ingin dekat denganmu, tapi aku tidak tau bagaimana caranya,” jelasnya lirih di telingaku.
Hatiku sedikit tersentuh mendengarnya, namun aku tetap sakit hati olehnya.

“Maaf, aku menyukaimu dengan jalan yang salah. Maaf,”
“Kau.. Bagaimana mungkin aku bisa memaafkanmu? Kau sudah membuat hatiku hancur karena sikapmu,” ucapku lirih.
“Aku tau, aku sudah membuatmu seperti ini. Aku sudah membuat matahariku kehilangan senyumnya. Aku,-”
“Aku butuh waktu untuk bisa memaafkanmu,” aku memotong ucapannya.
Samuel menatapku tidak percaya, “Apa? Kau.. akan memaafkanku?”
“Aku butuh waktu,” ucapku sambil sesenggukan.
Dia tersenyum lega dan menghapus sisa air mataku, kemudian dia kembali memelukku.

“Terimakasih, sudah memberiku kesempatan untuk kau maafkan, meskipun butuh waktu lama. Aku janji, akan menerima apapun yang akan kau lakukan padaku sebagai balasan yang sudah kulakukan padamu. Kau bisa melakukan apapun padaku,” ucapnya.
Aku menggeleng pelan, “Aku tidak bisa,”
“Kau hanya perlu menjauh dariku selama aku belum bisa memaafkanmu,” lanjutku.
“Akan kulakukan jika itu bisa menebus kesalahanku padamu,” balasnya.

Aku bernafas lega mendengarnya. Akhirnya aku bisa menjalani hari-hariku di sekolah dengan tenang lagi tanpa takut akan gangguan dari Samuel lagi. Aku juga akan berusaha untuk bisa memaafkannya sehingga aku bisa menjalin hubungan yang baik dengannya, karena aku sempat menyukainya dulu.

Terimakasih, Tuhan, Kau telah mengembalikan semangatku seperti namaku yang secerah mentari. Aku berharap aku benar-benar bisa menjadi matahari untuk Samuel.

End

Cerpen Karangan: Anhar Restu
Facebook: Anhar Restu

Cerpen Matahariku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pukul 15.00

Oleh:
“kau tetap temanku, walau dirimu tak menganggapku ada.” Mata Vina melihat langit-langit kamarnya setelah terbangun dari mimpi buruknya, peristiwa dimana dirinya melakukan dialog terakhir dengan salah satu temannya, Syifa.

Bad Anniversary

Oleh:
Malam ini hujan tak henti-hentinya membasahi atap rumahku. aku yang termenung menatap hujan di balik jendela kamarku dan tak sadar bulir-bulir air mata jatuh di pipiku. Drrrtt drrrrtttt… Well

Kebaikan Kecil Yang Bermakna

Oleh:
Siapa sih yang akan merasa bahagia jika akan dihadapkan dengan ujian praktek yang sangat susah? Itulah nasib Alyssa, sepertinya ujian seni musik -pelajaran yang tidak pernah ia kuasai- akan

Jerrot Makin Melorot (Part 1)

Oleh:
GAGAL MOVE ON Awan hitam yang mulai perlahan menutupi awan putih, aku dan Widya yang sedang duduk berdua di puncak tetapi bukan sedang romantis-romantisan melainkan mengatakan putus seperti film

Cinta Monyet

Oleh:
“Morning all…” sorakku yang baru turun dari kamar. Kemudian kutarik kursi yang berada di hadapanku dan mulai menyantap makanan yang sudah disiapkan mama. Ambil ini, ambil itu, makan ini,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *