Mega Mendung (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 June 2016

Setelah bercengkrama bersama Hilal, ia duduk di atas kasur rumah sakit. “Ternyata dia nggak buruk-buruk amat.” fikir Mega. Mega sendirian, mamanya belum kembali. Dalam kesendiriannya dia berimajinasi, tiba-tiba bayangan hantu di film horror yang pernah ia tonton menghantuinya. Bercak darah di rumah sakit, terror di rumah sakit, sampai penampakan membuatnya bergidik ngeri sendiri. Mega bukan sosok yang berani kalau berhadapan dengan hantu dan monster. Dengan selimutnya, dia bersembunyi. Tiba-tiba pintu berdecit, ada seseorang yang masuk. Mega berdoa kalau itu bukan wajah-wajah seram yang kini bermunculan di fikirannya.

“Mega.” terdengar suara laki-laki. Mega belum membuka selimutnya.
“Mega, papa kamu udah dateng.” suara itu terdengar mirip mamanya.
“Mama, papa.” Mega membuka selimutnya. “Kamu kenapa kok selimutan? Dingin?” ucap mamanya.
“Nggak ma, Mega cuma takut aja. Ini kan udah sore, jadi agak sepi dan suasananya horror banget.” kata Mega.
“Tuhkan, kamu itu kebanyakan nonton yang begituan jadi takut sendiri. Ini masih jam 5.” kata papanya, sambil meletakkan sebuah kotak.
“Pa, itu apa?” tanya Mega. “Itu boneka yang papa beliin langsung dari Singapore.” kata papanya.
“Boneka pa? Boneka apa?” kata Mega.
“Buka aja sendiri, tapi nanti aja. Kamu udah minum obat kan?” tanya papanya. “Belum pa, aku maunya kalau mama yang nyuapin.” kata Mega. “Udah gede tapi kelakuan kayak masih kecil.” kata mamanya.
“Mega itu akan selalu masih kecil kalau dibandingin mama sama papa. Iya kan pa?” kata Mega. Papanya hanya mengusap rambut Mega.
“Ma, Mega mau cepetan pulang. Mega kan mau ujian, minggu depan udah ada kegiatan padet.” kata Mega.
“Iya, nanti mama sama papa konsultasi ke dokter dulu ya.” kata Mamanya.
“Kamu minum obat ini, terus istirahat.” kata papanya, sambil memberikan 3 jenis obat berbentuk tablet.
“Kenapa sih harus minum obat. Mega benci obat dan rumah sakit.” keluh Mega.
“Ini kan demi kebaikan kamu.” ucap papanya.
Mega adalah anak tunggal, jadi wajar kalau mama dan papanya memberikan kasih sayang dan memanjakannya.
“Iya pa. Tapi Mega mau cepetan pulang.” kata Mega.

Akhirnya Mega bisa bernafas lega, karena sudah bisa merasakan atmosfer kamarnya.
“Ini melegakan, sungguh amat melegakan.” seru Mega.
Dengan wajah yang berseri-seri Mega meletakkan tubuhnya di kasur. Besok ia akan masuk sekolah. Meski sekolah adalah tempat yang membosankan bagi Mega, dan tempat yang dimana dia menghabiskan waktunya dia tetap saja memilih sekolah daripada rumah sakit.

Di sekolah Mega hanya duduk sambil bertopang dagu. “Lo baru masuk Ga?” tanya Danu. “Iya nih.” jawab Mega dengan acuh. “Ada banyak tugas. Lo mesti selesaiin cepet.” kata Danu. “Hmm.” gumam Mega.
Mega tidak terlalu pandai dalam bergaul, dia sering bersikap acuh dan masa bodoh terhadap sekitarnya.
“Lo denger nggak kabarnya Hilal.” ucap seseorang perempuan yang bernama Nana.
“Hilal Rizky? Kabarnya dia baru diopname, kasian ya. Dia sakit apa ya?” kata lawan bicaranya Nana, yaitu Sasha.
Mega tak sengaja mencuri dengar dari kedua teman kelasnya itu. Rasa penasaran menyelimutinya, rasa penasaran tentang sosok Hilal. Banyak yang mengidolakan, banyak yang memuji, itu sosok Hilal yang Mega ketahui, kadang ia heran kenapa Hilal bisa disukai banyak orang.
“Gue denger Viona sampe njenguk Hilal.” kata Nana. “Viona itu perfect banget, tapi kenapa mereka cuma sahabatan ya.” kata Sasha. “Mungkin mereka kena friendzone.” kata Nana.
Viona, siapa itu. Mega tak mengenalnya, apakah perempuan yang ia lihat bersama Hilal tempo lalu.

Banyak tugas yang mesti Mega selesaikan, ia selesaikan pada hari itu di perpustakaan. Semua itu membuat kepalanya pusing, keringatnya mulai membasahi kening dan tangannya. Dia berjalan menuju UKS. Betapa terkejutnya Mega, ia bertemu Hilal.
“Lo sakit?” tanya Hilal.
“Gue cuma rada pusing, lha lo sendiri?” kata Mega.
“Olahraga…” belum selesai perkataan Hilal, sudah dipotong Mega
“Lo ini, bukannya lo habis sakit malah olahraga. Lo harusnya minta ijin gurunya.” omel Mega.
“Gue belum selesai ngomong, dengerin. Ini pelajaran olahraga, terus gue ijin ke pak Toni. Lha lo sendiri abis darimana? Bukannya ini masih jam pelajaran. Jangan bilang lo bolos.” kata Hilal.
“Jangan nuduh dulu, gue itu abis ngerjain tugas. Tugas gue numpuk, dan gue pusing makanya kesini. Dan asal lo tau ini jamkos.” kata Mega.
“Oh, lo kok rajin? Bukannya lo itu…”
“Stop jangan ngehina gue, gue gak semales itu. Gue cuma mau lulus SMA doang, abis itu gue…” Mega menghentikan perkataannya.
“Abis itu gue? Apa lanjutin?” kata Hilal.
“Kepo ya. Gue mau apa yang serah gue lah, hidup-hidup gue ini.” kata Mega.
“Iya serah lo deh.” kata Hilal.
“Oh iya, sebelum gue mau balik ke kelas. Gue mau tanya, 143 maknanya apaan ya?” kata Mega.
“Oh yang itu, lo lupain aja. Waktu itu gue cuma becanda.” kata Hilal.
“Yaudah gue pergi dulu.” ucap Mega, Mega segera menuju luar UKS.
“Eh Mega mendung.” panggil Hilal, Mega menoleh. “Apaan?” tanya Mega.
“Jangan pernah hilang harapan, kalo lo putus asa karena sesuatu lo bakal terpuruk dan enggak semangat. Jaga harapan dan mimpi elo.” ucap Hilal.
Mega membalasnya dengan senyuman, “Gue bakal coba.”

Mega yang baru saja bertemu Hilal di UKS, segera saja pergi ke kelasnya.Hari ini Hilda, teman sebangkunya ijin untuk menjenguk neneknya di Bandung. Buku-buku yang ia bawa sekarang adalah tugas yang ia tinggalkan selama 3 hari di rumah sakit. Bagian yang paling menyebalkan bukan masalah mengerjakan soal atau apa, tetapi hal yang paling Mega benci harus mendengarkan ocehan gurunya yang selalu saja membuat otak Mega beruap. Mega mengerjakan tugas itu sekuat dan sebisa yang ia bisa, dan hasilnya biasanya mengecewakan. Bagi Mega berusaha itu lebih baik walaupun akhirnya tak menyenangkan, upaya yang Mega lakukan untuk menjalani hidup membuat Mega menjadi kuat. Mega tau bahwa kenyataan tak seindah yang diinginkan.

Banyak yang berkata kalau Mega hanyalah anak manja yang tidak bisa apa-apa, anak yang bodoh dalam pelajaran atau bergaul, dan ada hanya yang mengatakan kalau Mega hanya cantik di parasnya namun otaknya nol besar. Segala cacian dan hinaan mereka, Mega terima walaupun berat, toh mereka tidak tau apa yang sedang Mega alami. Mega adalah penderita Polisitemia Vera, itu adalah suatu penyakit yang berhubungan dengan sumsum tulang, yang menyebabkan produksi darah merah berlebihan. Penderitanya akan mudah lemas dan lelah, sering sakit kepala, pandangan kabur, dan mimisan. Obat-obat yang sering diberikan dokter seperti interferon, hydroxycarbadime, dan aspirin sering Mega buang. Dia jarang meminum obat.

Mega tidak mau hidupnya tergantung kepada obat, dia tidak mau selamanya meminum obat. Obat itu pahit, obat itu racun. Mega juga sering lelah kalau harus mendengarkan komentar buruk tentang hidupnya dari orang lain. Alasan untuk tetap bertahan di sekolah ini adalah kedua orang tuanya, tidak ada yang lain.

Entah bagaimana keadaan orangtuanya jika seandainya Mega telah tiada, tapi semuanya tergantung pada Tuhan. Jika waktu yang diberikan masih ada, maka hari itu akan ditempuh Mega.
“Ga, lo cepetan kumpulin tugas elo. Tinggal elo yang belum ngumpulin.” Kata Helen. “Iya, entar gue kumpulin.” Ucap Mega. Helen adalah termasuk orang yang sering mengajaknya berbicara setelah Hilda.
“Ga, lo 3 hari kemana aja? Lo bolos ya?” Kata Nita, dia adalah orang yang paling Mega benci. Karena kalau ngomong selalu saja tidak memikirkan perasaan orang. “Gue emang bolos, emang kenapa? Lo ngerasa gue bebanin?” Kata Mega. “Iya nih, gue beban kalo liat lo, mending lo nggak usah masuk terus aja. Biar gue nggak terbebani.” Kata Nita, dengan penuh penekanan di kata terbebani. “gue gak pernah ada masalah sama elo, tapi kenapa sikap lo ke gue kayak anti banget ya?” Ucap Mega.
“Gue gak suka aja cara elo, gue tau lo itu bodoh, lo suka bolos, lo selalu bersikap seolah-olah bisa hidup sendiri, temen lo yang setia juga lagi gak ada.Lo kayak bisa berdiri sendiri, dan yang lebih nyebelin dari lo adalah lo bencikan sama Hilal?” Kata Nita, dengan sikap yang seakan-akan merendahkan Mega, dia menatap Mega dengan tatapan sinisnya. “Tentang hidup gue, tentang cara gue bersikap, tentang semuanya urusan gue. Lo urus urusan lo, dan gue urus urusan gue, jadi kita nggak perlu saling mengurus. Lagian ada hubungan apa lo sama Hilal?Lo pacarnya, sampe rela marah ke gue gara-gara Hilal.” Kata Mega, dia tak bisa menahan rasa marahnya kali ini, sering kali dia menahan dan tidak membalas, sering dia diam dan tak bergeming tapi kali ini tak bisa dibiarkan. “Lo sekarang baru bisa ngomong panjang lebar kayak gini ya? Gue kira lo itu nggak bisa ngomong, tapi baguslah setidaknya lo nggak bisu.” Kata Nita, 2 orang teman Nita hanya tertawa kecil di belakangnya. Memang Mega hanya bisa berbicara banyak ketika sedang bersam orang yang ia rasa nyaman baginya.Mega menggenggam tangannya, dia membiarkan amarahnya menguasai dirinya. Tangannya kini mendarat ke pipi Nita, Helen yang menyaksikan hal itu terkejut dan kedua teman Nita yaitu Gita dan Rina tidak terima kalau temannya di tampar. “Lo jangan main fisik dong, lo mesti diajarin tata krama ya.” Teriak Gita. “Lo bilang tentang tata krama tapi kenyataannya teman lo ini gak punya tata krama sama sekali.” Kata Mega.
Terjadilah percekcokan dan pertengkaran di kelas 12 A. Helen yang bingung harus apa segera keluar kelas untuk memanggil guru. Dia berlari, karena tak hati-hati dia menabrak seseorang. “Hilal, maafin gue ya. Gue nggak sengaja.” Kata Helen dengan nafas terengah-engah. “Ada apa? Lo kayak habis di kejar setan.” Kata Hilal. “Me…Mega.” Kata Helen, sambil menarik nafas. “Mega? Kenapa sama dia?” Tanya Hilal. “Dia di keroyok sama geng NGR.” Kata Helen, NGR adalah nama gengnya Nita, yang dianggotai Nita, Gita, dan Rina mereka termasuk anak populer dan ngetop di sekolah. “Kenapa emangnya? Nggak ada gurunya?” Tanya Hilal. “Ini ada jamkos.” Kata Helen. Hilal segera menuju kelasnya Mega, diikuti Helen.

Di kelas, Mega sudah menjadi santapan empuk bagi ketiga orang gadis ini. Tangan Mega sudah dipegang oleh Gita dan Rina. “Lo berani banget ya nampar gue?Lo belum kenal siapa Nita ya?” Kata Nita dengan angkuhnya. “Yang gue tau adalah, lo semua itu adalah orang yang nggak punya tujuan hidup. Hidup lo cuma buat ngerusak hidup orang.” Kata Mega. Ada beberapa orang yang melihat peristiwa ini, namun tidak ada yang berani membantu Mega. “Lo semua pada keluar, gue ada urusan sama dia.” Kata Nita, menyuruh yang lainnya keluar dari kelasnya, tanpa berfikir panjang tidak ada yang berani membantah. “Lo tutup pintunya Rin.” Perintah Nita. Rina menutup pintu kelas. “Sekarang tinggal kita berempat, lo mau ngomong sesuatu.” Kata Nita sambil menarik rambut Mega. “Gue males ngomong sama orang kayak lo, yang beraninya keroyokan.” Kata Mega. Nita semakin menarik rambut Mega, mengakibatkan Mega merintih. “Entah kenapa lo itu yang paling susah dibilangin, kalo lo mau gue maafin lo mesti bungkuk di hadapan gue.” Kata Nita. “Mana mau gue ngelakuin hal kayak begitu, mending lo tarik rambut gue sampai rontok.” Kata Mega.
“Oke, gue bakal bales dulu perbuatan lo tadi.” Kata Nita sambil mengusap tangannya, ia bersiap menampar Mega. Ketika tangan Nita hendak mengenai wajah Mega, pintu terbuka. Hilal sudah berdiri di balik pintu dengan melempar tatapan tajam ke Nita. “Hi…Hilal.” Kata Nita. “Lo mau ngapain? Lo mau ngelakuin kekerasan di sekolah. Emang ini sekolahan elo, dan peraturan ada di tangan elo?” Kata Hilal mengena di hati. “Gue cuman mau ngebales apa yang dia perbuat ke gue.” Kata Nita, dia tidak berani melawan Hilal. Karena sejak lama Nita mengidolakan Hilal.
“Dan demi ngebales perbuatan lo, lo nyuruh temen-temen lo nunggu di luar kelas. Kalo aja ada guru yang tau, gue yakin lo bakal di skors” Ucap Hilal. “Kok kayaknya lo ngebela nih anak sih? Bukannya dia musuh elo? Seharusnya lo bela gue sekarang ini.” Kata Nita dengan memandang Mega penuh kebencian. “Gue nggak pernah musuhan sama nih anak, dan asal lo tau sebenci-bencinya gue sama orang, gue nggak bakal ngelakuin hal memalukan kayak begini. Lo lepasin Mega, dan lo minta maaf.” Kata Hilal, dengan segera Gita melepas tangan Mega. “Gue sama temen-temen gue nggak bakal minta maaf sama nih cewek. Gue nggak akan pernah mau.” Kata Nita dengan tegas. Geng NGR pergi keluar dengan perasaan batin yang dongkol.
“Lo baik-baik aja kan?” Tanya Hilal. Mega hanya diam. “Are you okay?” Tanya Hilal. “Lo jangan sok perhatian dan nolong gue deh, gue gak butuh dikasihani. Kalo lo nggak dateng mungkin aja Nita sama temen-temennya bakal ngelukain fisik gue tapi habis itu bakal selesai. Kalo begini mereka pasti tambah benci sama gue.” Kata Mega, kepalanya terasa pusing hebat. “Gue nggak bermaksud untuk…” Sebelum perkataan Hilal selesai, mega sudah pingsan. Untungnya Hilal bisa menangkapnya, “Ga, Mega?” Kata Hilal untuk memeriksa kesadaran Mega. Hilal yang melihat Helen di sudut pintu, ”Bantuin gue.” Kata Hilal.

Hilal dan Helen membawa Mega ke UKS. “Ini kenapa?” Tanya Bu Melati, penjaga UKS. “Pingsan bu, mungkin kecapekan.” Kata Hilal berbohong. “Lal, dia pucet banget. Mending bawa ke rumah sakit. Tubuhnya dingin banget Lal, gue rasa dia lagi sakit.” Kata Helen. “Ya udah kita bawa ke rumah sakit aja, lo ambil tasnya, dan gue bakal ijin dulu.” Kata Hilal.

Hilal membawa Mega ke rumah sakit yang terdekat dari sekolahnya naik mobil yang ia bawa, Helen ikut menemaninya. Meski tidak terlalu akrab tapi Helen khawatir tentang keadaan Mega. Setelah dokter memeriksa Mega, Hilal hendak bertanya perihal kondisi Mega, “Apa dia baik-baik saja dok?” Tanya Hilal. “Sejauh ini baik, apa anda keluarganya?” Tanya dokter. “Saya temannya dok.” Kata Hilal. “Saya ingin berbicara kepada keluarga pasien.” Kata dokter. “Saya sudah coba untuk hubungi keluarganya, tapi belum ada kabar dok.” Kata Hilal, Hilal telah menghubungi orangtua Mega dari nomer telepon yang ada di data siswa, tapi hasilnya nihil, tidak ada yang bisa dihubungi. “Baiklah, saya akan ingin bicara kepada anda.” Kata dokter.
“Lal, gue balik ya. Gue yakin lo bisa ngurus Mega. Gue mesti ngurus sesuatu.” Kata Helen. “Terus lo naik apa?” Tanya Hilal. “Gue naik taksi aja. Gue pamit ya, kalo Mega siuman sampein salam dari gue.” Kata Helen.

Hilal segera menemui dokter yang memeriksa Mega, “Dia lagi sakit ya dok?” Kata Hilal. “Iya dia sakit, penyakitnya termasuk sudah akut. Apa sang pasien tidak tau tentang penyakitnya ini?” Tanya sang dokter. “Saya rasa dia tau dok, dia pernah dirawat di sini.” Kata Hilal, yang ingat bahwa Mega pernah menemuinya saat Hilal sakit typus. “Sebaiknya keluarga pasien segera dihubungi, untuk mengurusnya lebih lanjut.” Kata dokter. “Kalo saya boleh tau penyakitnya itu apa ya dok?” Tanya Hilal. “Dia menderita Polisitemia Vera.” Kata dokter.
Sekarang Hilal sedang duduk di samping tempat tidur Mega, “Dasar si Mega mendung, kalo lo sakit kenapa sok kuat gitu. Untung tadi gue nolongin lo dari gengnya Nita.” Gumam Hilal, dia melihat wajh Mega yang kini terbaring lemah di tempat tidur. Hilal bukanlah teman sekelas Mega, tapi dia sudah tau Mega sejak kelas 11. Waktu itu dia sedang berjalan menuju ruang guru, Hilal yang melihat Mega sambil membawa tas heran karena belum saatnya pulang. Mega berjalan mengendap-endap, supaya tidak ketahuan siapapun. Tapi hal itu diketahui Hilal, saat itu Hilal menjadi ketua OSIS. Hilal mencoba untuk tidak melaporkannya, tetapi kejadian itu terulang lagi sampai 3 kali. Hilal penasaran dengan perempuan itu, dia mencari informasi tentang Mega sebelumnya. Dan untuk yang keempat kalinya, Hilal melaporkan Mega. Hal itu bukan bermaksud untuk keburukan atau rasa benci, tapi agar Mega sadar dan tidak mengulangnya. Karena bagi Hilal, sekolah itu adalah tempat mengajarkan moral dan tertib aturan. Setelah kejadian itu, Hilal tau kalau Mega membencinya. Tapi itu membuat Hilal semakin penasaran tentang Mega, dan saat kelas 12 perasaan penasaran itu menumbuhkan rasa yang aneh. Bayangan tentang Mega hadir di dalam fikiran Hilal, segala ekspresi marah dan apapun yang Mega tampilkan seperti terekam di memori Hilal. Itulah yang menyebabkan Hilal mengatakan 143 kepada mega waktu itu. Itu bermakna I Love You, 1 kalimat terdiri dari 1 huruf kata pertama, 4 huruf kata kedua, dan 3 huruf kata ketiga.

Cerpen Karangan: Almira Zahra
Facebook: Almira Zahra
Hi…
My name Almira
I like write and read a book or something story

Cerpen Mega Mendung (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menjadi Salehah

Oleh:
Namaku Sara Stacie Febiella. Panggil aku Sara. Yap, aku keturunan Inggris. Mamaku adalah keturunan Inggris. Aku beragama Islam. Mama memang sudah memeluk agama Islam sejak lahir. Aku anak sulung,

Maafkan Aku (Part 2)

Oleh:
Bel berbunyi seperti biasa tetapi ini bel pulang, saat-saat yang membuat diriku cemas dengan perasaan ini akan terjadi ya akan terjadi sebentar lagi. “ayo Ran Jadikan ketematmu” sambil Mirza

Kehilanganmu

Oleh:
Air mataku menetes ketika ku dengar kabar itu, aku nggak pernah menyangka dia akan pergi secepat itu meninggalkanku, pergi untuk selamanya. Pergi dengan tanpa kata, hanya dengan senyum simpul

Diary of Love

Oleh:
Tibalah saat dimana gue sekarang jadi murid smp. Hari senin mungkin menjadi hari yang paling melelahkan bagi beberapa orang, yah karena selain gue harus bangun lebih pagi dari biasanya

Harapan Langka

Oleh:
Sekolah ini, penuh dengan anak-anak yang cantik-manis dan ganteng-cool. Tapi itu kebanyakan, ya. Karena aku berpikir kami (aku dan Veni, sobatku) tidak secantik-manis yang mereka kira. Kelasku, kelas 8A,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *