Membayar Denda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 April 2019

Siang itu, aku berjalan cemas menuju ruang perpustakaan yang berada di lantai atas sekolahku. Disaat itu juga kupegang erat-erat kartu perpustakaan yang sedang kupegang ini. Kartu dengan pemilik bernama Anna Lestari itu tertulis di kartu tersebut. Ya, itu namaku. Di kartu berwarna biru ini, tertulis beberapa nama buku yang kupinjam dan tanggal pengembalian buku buku tersebut. Cukup banyak buku yang kupinjam. Maklum, aku baru saja menjadi salah satu siswa baru di salah satu SMP favorit di kotaku.

Buku-buku yang kupinjam diantaranya ada sekitar 10 buku mata pelajaran dan 1 buku cerita fiksi. Disampingnya terdapat tanggal pengembalian buku yang bertuliskan tanggal 20 September, dan sialnya sekarang adalah tanggal 8 Oktober. Setelah Kuhitung hitung ternyata sudah 1 bulan kurang aku tidak ke perpustakaan dan telat memperpanjang buku yang kupinjam. Kubaca lagi tanggal memperpanjang buku tersebut, argh 20 September, pasti dendaku akan lumayan besar nanti!

Pada awalnya, titik kecemasanku tiba saat temanku yang bernama Tiara, memberitahuku tentang masalah membayar denda yang dialami banyak siswa seangkatanku saat itu. Dia mengatakan bahwa temannya juga terkena denda sebesar Rp 5.000, akibat telat memperpanjang peminjaman buku tersebut selama 1 bulan kurang, sama sepertiku. Aku pun berpikir sejenak, bagaimana bisa aku tak tahu menahu tentang memperpanjang peminjaman buku di perpustakaan? Kalau aku tau, pasti dari dulu aku akan keperpustakaan. ‘Ah, dasar Anna bodoh! Kurang update sekali kau ini’ Gerutuku dalam hati.

Dan pada hari itu saat bel istirahat berbunyi, aku pun langsung menuju ruang perpustakaan. Aku tidak mau lagi menumpuk bayaran denda yang akan semakin menggunung kalau tidak segera dibayar. Aku siap menanggung resiko akibat kecerobohanku ini. Bukankah hutang itu wajib dibayar, kan?

Sesampainya di ruang perpustakaan, aku pun segera masuk ke dalamnya, lalu mencari kartu perpustakaan pegangan petugas perpustakaan. Setelah menemukannya, aku pun langsung berjalan ke meja petugas perpustakaan lalu menyerahkan kedua kartu perpustakaan punyaku tersebut. Saat petugas membaca kartu perpustakaanku, raut wajahnyanya yang tadinya terlihat santai sekarang menjadi agak kesal. Petugas perpustakaan yang bernama Bu Rahmi tersebut lalu menatapku dengan tajam.

“Kemana saja kamu? Kamu tahu sekarang tanggal berapa?” Tanya Bu Rahmi ketus. Aku tertunduk dan menjawab, “Tanggal 8 Oktober, Bu.” “Lalu, ini ditulis pengembalian buku tanggal 20 September kan? Kalau misalnya masih meminjam buku buku ini, perpanjang aja kok susah sih!” Ucapnya dengan nada yang cukup tinggi. Aku hanya bisa tertunduk malu. Lalu Bu Rahmi meraih kalender yang berada didekatnya lalu menghitung jumlah tanggal dan jumlah dendanya. Tiba tiba bu Rahmi berkata, “Jumlah dendanya Rp 21.500”.
Aku terkejut, dalam hati aku bertanya ‘Bagaimana bisa dendaku sampai sebesar itu?’ Lalu, aku mengeluarkan semua uang yang ada di sakuku, dan ternyata uangku tinggal Rp 10.000. ‘Oh iya! Aku kan tadi beli alat tulis, jadinya uangku tinggal segini. Argh dasar bodoh! sialnya aku ini’ batinku.

Lalu aku menatap bu Rahmi. Seakan akan Bu Rahmi membaca pikiranku, bu Rahmi berkata, “Dicicil saja dulu.” Aku pun langsung memberikan uang Rp 10.000 kepada Bu Rahmi, dan bu Rahmi mencatatnya. Seandainya saja aku tidak telat memperpanjang peminjaman buku-buku tersebut, pasti aku tidak akan membayar denda yang cukup besar ini. Lebih baik menggunakan uang itu untuk hal yang bermanfaat daripada untuk membayar denda.

Keesokan harinya aku pun membayar denda tersebut sampai lunas karena aku tidak ingin ada hutang-hutang yang harus kubayar.

Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi terlambat memperpanjang peminjaman buku buku yang kupinjam. Cukup 1 kali saja kejadian yang seperti itu, jangan sampai terulang lagi. Aku tau aku ceroboh, dan aku mengambil hikmah dari semua itu. Yaa, walaupun aku masih bingung dengan bayaran dendaku yang cukup besar ini. Entahlah, aku cukup bingung memikirkannya.

Cerpen Karangan: Robi’ah Adawiyah
Suka membaca, menulis, dan Kamu.

Cerpen Membayar Denda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mata Empat

Oleh:
Waktu terus berlalu tanpa mempedulikan tepian yang mengerak, merubah apa saja di depannya baik buruknya terukir oleh langkahnya, mengenal asa dalam tingkap perjuangan, aku mengenalnya dengan takdir, baik yang

Salah Paham

Oleh:
Hari ke dua MOS smp aku datang terlambat tapi untungnya aku tidak dimarahi oleh kakak mosnya. Karena aku tidak tau aku masuk ke kelompok apa aku langsung bergabung dengan

Menyanyi Membawa Keberuntungan

Oleh:
Cantik, kecil, imut Ina namaku. Sifatku kaya anak cowok (tomboy). Aku berjalan menuju taman sekolahku dengan digenggamkan mp3 dan headset kemudiam aku duduk di bangku taman. Aku terus mendengarkan

Sampur Terakhir

Oleh:
Lina mematikan musik lalu duduk di sebuah bangku. Raut wajahnya menampakkan dirinya sedang tidak bersemangat. Rifa yang melihat Lina bertingkah aneh akhir-akhir ini lalu menghampiri Lina. “Kamu ini kenapa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *