Mentari Terbit Di Hari Minggu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 April 2016

Mentari terbit di hari minggu. Terlihat Hasan hendak menancapkan colokan charger ponselnya ke kotak listrik, tiba-tiba saja Edo nyelonong masuk dan memanggilnya.
“Hasaann!! Tahu Satria tidak?” teriaknya. Hasan yang kaget menoleh ke arah Edo yang berada di tengah-tengah pintu masuk rumahnya, dia tidak menyadari kalau colokan yang dia masukkan tertancap kurang sempurna dan tersentuh jarinya.. Dreett dreeettt.. Aaahhhkk!! Hasan tersetrum arus listrik tersebut. Uft!! Dia lunglai merasakan tangannya yang sakit tak berdaya, lalu duduk di sofa.

“Tahu Satria tidak?” tanya Edo lagi.
“Bodo!!” jawab Hasan sambil mengelus-elus tangannya yang tersetrum arus listrik, dan ditiup-tiup huft huft!

Hari minggu ini Satria disuruh ibunya untuk berbelanja di pasar, sebab ibunya lagi sibuk memasak di dapur karena dapat pesanan katering yang banyak. Satria pergi ke pasar dengan membawa sehelai kertas, berisi catatan belanjaan yang harus dibeli. Yaitu Cabe keriting satu kilo, gula pasir satu kilo, dan bawang putih satu kilo. Satria menuju sebuah lapak penjual yang kebetulan menjual ketiganya.

“Bu, beli cabe satu kilo, gula satu kilo dan bawang satu kilo!” kata Satria pada pedagang pasar itu.
“Cabe keriting apa cabe merah? Cabe keriting lima puluh ribu, cabe merah dua puluh lima ribu..” tanya pedagang sambil menunjukkan pada Satria tumpukan cabe keriting dan cabe merah di depannya. Wah!! Kok murah cabe merah? Besar-besar dan kelihatan lebih pedas dari cabe keriting? Batin Satria keheranan.
“Cabe merah saja Bu, dua kilo sekalian!” kata Satria mantap.
“Gula pasir apa gula merah? Gula pasir dua puluh ribu, gula merah sepuluh ribu!” kata pedagang pada Satria sambil menunjukkan lagi barang dagangannya. Wah!! Kok murah gula merah? Ah sama-sama gulanya mending gula merah saja bisa dapat dua kilo, batin Satria.

“Gula merah saja Bu, dua kilo sekalian dah!” jawab Satria percaya diri.
“Bawang putih apa bawang merah? Bawang putih empat puluh ribu, bawang merah dua puluh ribu!” kata pedagang yang lagi-lagi menunjukkan dagangannya pada Satria. Wah!! Lebih murah bawang merah, bisa dapat dua kilo lagi nih.. Batinnya seperti menemukan rejeki yang tidak terduga.
“Bawang merah saja Bu, dua kilo juga dah!” jawab Satria tidak ragu-ragu lagi.

Satria pulang dengan membawa belanjaan yang sangat berat, dia berpikir ibunya pasti bangga melihat barang belanjaannya lebih banyak dari catatan yang dia bawa. Satria memasuki rumahnya, lalu dia tutup pintunya. Samar-samar terdengar suara gaduh dari dalam rumahnya, pluk! plak! gedebuk! auh! aggghhh! ampun Buuu!!! Tiba-tiba pintu terbuka dan Satria lari ke luar rumah sambil memegangi telinganya yang sudah merah sebelah, disusul ibunya yang memegang sapu dan diacung-acungkan ke udara sembari mengejar Satria. “Satriaaa!! Mau ke mana kamu anak nakal?” Para tetangga pada tersenyum saat melihatnya. Cowok kok disuruh belanja? Ya gitu deh!

Satria, Edo dan Hasan terlihat berkumpul di stasiun kereta api. Mereka memakai atribut bola, mirip suporter bola sejati. Ya, mereka hendak menonton sepak bola tim kesayangan mereka yaitu Timnas Indonesia melawan Timnas Spanyol di stadion luar kota. Terlihat antrean panjang di pintu loket stasiun, membuat mereka bertiga tidak sabar ingin segera memiliki tiket kereta api. Lalu datanglah seseorang yang datang menawarkan tiket kepada mereka, dia adalah makelar tiket. “Bang tiket? Daripada ngantre cape!” kata orang itu. Mereka bertiga pun setuju untuk membeli tiket tersebut. Kereta api datang, mereka bertiga naik, lalu mencari tempat duduk dan meletakkan pantat mereka pada tempat duduk itu. Kereta api berjalan, tut tut tut… Lalu terlihat pemandangan yang indah dari balik kaca gerbong. Sawah, gunung, kota, dan lain-lain. Petugas tiket datang.

“Tiket! Mana tiketnya?” kata petugas itu.
“Ini Pak!” jawab Satria sambil memberikan tiket berjumlah tiga lembar. Petugas itu memeriksa sejenak.
Lalu berkata, “Kalian bertiga pindah ke depan di ruang masinis sekarang juga! Tiket kalian palsu! Jangan melarikan diri atau melompat ke luar, kalian bisa mati! Nanti kalian harus turun di stasiun depan, dan harus ke kantor PJKA! Buruan ke depan!” perintah petugas tiket pada mereka. Akhirnya mereka pindah ke ruang masinis dengan setengah hati dongkol. Tiba di stasiun terdekat mereka harus turun dan dibawa ke kantor PJKA.

“Kalian ini dapat dari mana tiket-tiket palsu ini?” tanya petugas PJKA.
“Beli di makelar, Pak!” jawab mereka.
“Jangan-jangan kalianlah yang sering memalsukan tiket kereta api selama ini?” tuduh Petugas PJKA penuh selidik.
“Tidak Pak!!” jawab mereka serempak, lalu push up sepuluh kali sebagai hukuman sebelum dibebaskan. (Kamu mau? Silahkan push up!)

Mereka tidak naik kereta api lagi untuk melanjutkan perjalanan, melainkan naik bus. Sampai di terminal mereka menaiki salah satu bus yang terparkir rapi. Srett! Tanpa disadari saku belakang celana Edo dan Hasan telah dirobek oleh pencopet, dan dompetnya telah lenyap. Untung saja dompet Satria tidak ikut lenyap juga. Akhirnya Satria harus menanggung semua kebutuhan kedua sahabatnya itu. Mulai dari ongkos transport, biaya makan, tiket nonton bola nanti, dan lain-lain deh! Ah sudahlah! Edo dan Hasan saling memandang, orangnya yang mana ya pencopetnya? Terlihat sekali mereka menahan marah di dalam hatinya. Seperti Gunung Semeru yang menahan lahar panas dan segera mau meletus.. (Kabur yuk!)

Sampai di stadion terlihat lautan manusia sedang berjubel dan mengantre panjang di setiap loket. Satria, Edo, dan Hasan dengan sabar berada dalam antrean tersebut. Panas, sesak, dan pengap tidak menjadi halangan bagi mereka untuk mendukung tim kesayangannya. Lama menunggu akhirnya mereka mendapatkan tiket juga. Kali ini tinggal antre di depan pintu masuk. Pertandingan sudah mulai. Antrean masuk berjalan lambat sekali, karena mereka harus diperiksa tiketnya satu per satu sebelum masuk. Saat babak pertama usai, barulah mereka bertiga bisa memasuki stadion dan bergabung dengan suporter lainnya. Papan skor menunjukkan angka 5-0 untuk Timnas Indonesia.

Priiitt! Suara peluit dari wasit menandakan pertandingan babak kedua dimulai. Gol demi gol tercipta membuat sorak sorai penonton bergemuruh menghiasi stadion. Hingga peluit tanda pertandingan telah usai ditiup wasit, Priittt!… Skor 10-0 untuk Timnas Indonesia. Satria, Edo, dan Hasan meneriakkan yel yel bersama suporter yang lain. Indonesia! Indonesia! Indonesia!… Mereka bertiga tidak menyadari ada sebuah tangan yang merogoh saku belakang celana Satria dan mengambil dompetnya! Sruut! Hingga mereka bertiga ke luar stadion, dan melihat hari mulai gelap. Dan mentari telah tenggelam di hari minggu ini. (Apa yang akan terjadi pada mereka bertiga?). Ah, sudahlah!

Cerpen Karangan: Y. Endik Sam
Facebook: Yenva Endik Sam
Berdoa dan berusaha! Yess! Bangkitlah Timnas Sepak Bola Indonesia!!

Cerpen Mentari Terbit Di Hari Minggu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saat Cinta Tiba

Oleh:
Sinar matahari telah menembus cela-cela ventilasi kamar, tapi adi masih tertidur lelap. Terdengar dering jam weker yang telah disetting jam 6. Dengan kaget adi pun terbangun dari mimpi indahnya.

Cinta Di Wonogiri

Oleh:
Malam ini berandaku ramai, tapi aku merasa sangat sepi. Kulihat ada sebuah inbox yang baru saja masuk dari Elvin Octaviana yang menulis ~ Elvin Octaviana Hay ka’… cerpennya bagus

Di Atas Bianglala

Oleh:
Menurut kalian, apa itu definisi nakal? Nggak ngerjain PR? Ngobrol waktu guru nerangin? Ke kantin waktu jam pelajaran masih berlangsung? Cabut mata pelajaran guru killer? Main-main waktu upacara? Atau,

Nyebar (Nyeblak Bareng)

Oleh:
Di hari libur akhir semester ini Milly gadis belia yang baik dan ramah, memutuskan untuk mengunjungi teman lamanya, yang bernama Jihan disuatu tempat yang jauh dari tempat tinggalnya. “Bu,

Kisah Cinta

Oleh:
Hujan. Ya! Tak asing lagi. Yang datang menyapa secara tiba-tiba. Banyak hal yang bisa terjadi. Aku sering mendengarkan kisah cinta romantis kala hujan. Jujur saja aku pernah merasakan cinta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *