MIA 3

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 June 2016

Rabu, hari yang paling gak aku suka -karena ada pelajaran kimia. Tapi beruntung gurunya gak masuk karena lagi rapat. Jadi kami berempat, Karet hap-hap, TB’s, Nom-nom, dan gue sendiri -Karet cabe- langsung mencari tempat untuk bergibah ria. Dosa memang, cuman seru. Dan memang kenyataannya hal-hal yang seru itu kebanyakan berdosa. Di depan kelas, tepatnya lorong kelas kami bergibah ria. Hari ini kita dapet topik gibah yaitu, “When love got wrong way”. Pemerannya ada tiga orang, dua cewek dan satu cowok. Tahulah apa yang akan terjadi jika ada dua orang cewek dan satu orang cowok digabungkan. Perang dunia tiga (amit-amit deh).

Kita sebut saja dua orang cewek ini Sam dan Sung, sedangkan si cowoknya Sony. Sebelum aku lanjut pada gibah ria kami berempat, aku akan menceritakan kronologi topik kali ini. Bayangkan saja bahwa Sam dan Sung ini adalah teman dekat -dalam artian satu brand yang tidak dapat terpisahkan, dan jika mereka berpisah maka iphone akan jadi orang keempat dalam cerita ini. Pada awalnya kehidupan mereka berdua datar-datar saja, tapi setelah si Sony masuk Sam jadi jatuh cinta dengan Sony. Sung pun menjadi risih dan pergi menjauh. Dari sinilah mulai ada keretakan antara mereka berdua. Selang beberapa tahun Sam dan Sony pun terlibat cekcok yang mengharuskan mereka menggantung tinggi hubungan mereka. Sony yang melihat ada sebuah celah kesempatan, langsung mengambil kesempatan itu tanpa pikir panjang.

“Eh gak ada guru kimia, gibah aja yuk di luar.” Karet hap-hap dengan riangnya mengajak kami bertiga.
“Iya sih, panas tahu di sini. Diluar aja gibahnya.” TB’s mendukung opini Karet hap-hap. Kebiasaan kami kalau lagi ngomong adalah tanpa sadar mengulang perkataan teman yang sebelumnya. Dan itu kami lakukan hampir di setiap percakapan setiap harinya. Serada nyebelin sih sebenernya.

“Yuk lah ke luar,” aku pun ikut mengulang kembali. “Panas!”
Dengan santainya kami nyelonong ke luar kelas. Sampai di depan pintu, TB’s dan Karet hap-hap langsung menghempaskan bokongnya di lantai. “Ahh..” ucap mereka berdua.
“Heh jangan duduk di sini sih, gak enak, masa di depan pintu. Ada anak kelas lain juga di sana.” aku protes dan Nom-nom di belakang hanya diam mengiyakan saja.
“Ya udah di sana tuh, kesanaan dikit.” Mereka berdua menggeser bokongnya ke tempat yang lumayan kosong dan sepi. aku dan Nom-nom ikut menggiring mereka berdua.
“Apa nih mau gibahin apa?” aku membuka percakapan. “Eh maju sih, jangan duduk di situ kejauhan.”
“Heh kirain udah punya topik gibah, gimana sih!” Karet hap-hap protes.

“Eh iya hap, tadi pagi aku udah diceritain sama si cabe tentang si Sam, si Sung, sama si Sony. Parah anj*r.” ucap TB’s dengan semangatnya.
“Apa sih apa, certain lagi sih.”
“Pada dengerkan kemaren si Sam banting pintu itu. Nah itu gara-gara si Sony.” aku mulai menceritakan masalahnya.
“Oh jadi itu, tapi mereka berdua udah break up, kan? Ngapain banting-banting pintu, huh?!” Karet hap-hap mulai penasaran. TB’s mulai greget sama rasa penasaran Karet hap-hap. Mulutnya sudah gatal ingin bergibah ria. “Masalahnya bukan pas mereka putus Hap, tau gak si Sony itu sekarang udah punya doi baru lagi.”

“Huh?! Masa sih?” Nom-nom terkaget-kaget mendengarnya.
“Yang bener Karet cabe, jangan nyebar gosip yang bukan-bukan dong. Masa iya baru putus udah dapet yang baru, stres kali ya si Sony geblek itu.”
“Heh malah gak percaya,” TB’s mendukung aku. “Aku geh kaget. Gulungan kertas yang bilang, tadi pagi sempet cerita.”

Sebut saja si Gulungan kertas ini adalah sang informan bayaran yang memberikan kami informasi berharga untuk dijadikan bahan gibah ria. Jadi kami berempat sangat berterima kasih kepada informan Gulungan kertas yang kami cintai. Tenang saja di lain kesempatan aku akan menceritakan lebih banyak lagi topik-topik seru yang semuanya kebanyakan bersumber dari informan tercinta kami, Gulungan kertas.

“Yang lebih parahnya lagi masa si Sony itu pacaran sama temennya si Sam, SUNG!”
“APA?!” tiba-tiba aku terkaget dengan gerakan cepat yang dihasilkan oleh Karet hap-hap dan TB’s.
“Mereka itu kan temen!”
“Anjay Temen makan Temen,” Nom-nom nyolot seketika. “Emang enak, ya?”
“Parah banget, kan.” aku sebagai Karet cabe mulai mengasihani garis takdir dari kisah cinta Sam, Sung, dan Sony.

Siang itu kami akhirnya bergibah ria dengan tenang. Membicarakan hal-hal kurang penting yang menurut kami berempat berhubungan dengan kisah cinta Sam, Sung, dan Sony. Sampai-sampai entah kenapa tiba-tiba topik kami mulai terganti secara perlahan. Dan malah bergibah ria tentang orang lain yang tidak ada sangkut pautnya antara Sam, Sung, dan Sony. Di tengah-tengah acara bergibah ria kami berempat, tiba-tiba datang (sebut saja Haram) ketua kelas bersama Prince keasayangan kami berempat di belakangnya (sebut saja Gerem). Kedua makhluk ini berjalan dengan santainya melewati daerah gibah ria kami. Kami terlena saat Gerem lewat di depan kami, apalagi si Karet hap-hap. Dia menjadi wanita yang paling ribut di antara kami berempat.

“Huuu.. Prince lewat,” Karet hap-hap usreg sendiri. “Awas-awas kasih jalan.”
“Heh Prince aku itu!” aku tidak mau kalah. “Enak aja ngaku-ngaku.”
“Karet cabe! Karet hap-hap diem deh, lihat tuh Prince-nya senyum ke aku.” TB’s menjadi kepedean. Padahal jelas-jelas Gerem pada saat itu sama sekali tidak menoleh ke arah kami berempat. Intinya dia hanya lewat di depan kami, tanpa sama sekali mempedulikan keberadaan makhluk-makhluk kurang kerjaan di bawahnya. Dan Nom-nom, wanita yang satu ini terlihat diam dan sabar dalam menghadapi bocah-bocah di sekitarnya.

“Ada tugas tuh dari Bu Wenti sama Bu Yuli, disuruh ngerjain LKS halaman sekian (maaf aku lupa halaman berapa).” ucap Haram kepada kami berempat di ambang pintu kelas. “Bagian A-nya aja. Dikumpulin hari ini katanya,'”
“Gurunya gak masuk?”
“Ho-oh!”

“Malesnya sih,” keluh Karet hap-hap sambil mengeliat di lantai (?).
“Sih gak usah ngerjain, males!” Nom-nom mengulangi perkataan Karet hap-hap. “Nyontek aja tah?”
“Heh! Ngaco, kerjain sendiri aja lah biar jadi orang pinter.”
Kesambet apa si TB’s jadi bijak begini. Tapi ada benernya juga sih, kadang-kadang. Akhirnya siang itu kami mengerjakan dua lks sekaligus. Dengan bantuan Google.com tugas kami dapat terselesaikan dengan mudah, tepat dan yang pastinya cepat. Terima kasih Google. Tanpamu aku hanya seorang anak SMA biasa yang kudet dunia luar.

Cerpen Karangan: Hyobie
Blog: zilvanaana.blogspot.com

Cerpen MIA 3 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dunia Tanpa Suara

Oleh:
Apakah salah aku berharap akan sesuatu, ya? Apakah aku tidak boleh mempunyai mimpi dan tujuan seperti orang lain? Tapi kenapa? Walau aku seperti ini, aku masih punya hak untuk

Sahabat Sejatiku

Oleh:
Empat tahun yang lalu, kami dipertemukan dalam ruangan yang akhirnya membawa kami sampai pada persahabatan. Namaku Ita, dan sahabat-sahabatku tercinta yaitu Aya, Sinta dan Siska. Empat tahun bukanlah waktu

Gadis Korek Api

Oleh:
Dulu sebelum tidur orangtuaku sering membacakan sebuah dongeng tentang ‘Gadis korek api’ ‘Dahulu kala di Eropa sana hiduplah seorang gadis kecil. Dengan berdagang korek api lah gadis itu bertahan

The First Broken Heart

Oleh:
Namaku adalah Riri, aku suka sekali dengan film yang berjudul magic hours. Kenapa, karena aku juga suka hujan, setiap aku menontonnya, baik di bioskop maupun di televisi, aku selalu

Anime in Love (Part 1)

Oleh:
Anime Satu kata itu tidak terdengar asing di Telingaku. Ya, mungkin karena aku penggemar anime. Suka nonton film-filmnya, suka jadi cosplay salah satu karakter (nggak sering juga, sih), dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *