Mimpi Menjadi Penulis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 March 2016

Entah kenapa akhir-akhir ini aku rajin melamun. Tentu bukan karena aku punya hobi kerasukan jin, dan aku gak mikirin hal-hal yang aneh dalam lamunan (mungkin). Keanehan ini bermula sejak aku masuk madrasah berasrama ini. Tepatnya, ketika seluruh kelas X jurusan bahasa (termasuk aku, karena kelas X dan mengambil jurusan bahasa) divonis program aneh tingkat dewa bernama 9 bulan berbahasa. Program yang mungkin dipungut dari RSJ ini, memiliki aturan sederhana, setiap santri (budak, orang yang terjajah atau apa pun sebutannya) wajib menggunakan bahasa Indonesia dengan penggunaan kata yang sebiji pun tak boleh ke luar dari KBBI.

Para kakak kelas yang berkeliling menggunakan sepeda, dengan sorot mata tajam penuh kekuasaan segera menangkap kami untuk disidang di ruang BK, jika ketahuan ucapan kami melenceng dari si kitab bahasa. Dampak dari program ini pun merembet ke mana-mana. Yang paling umum tentu saja rasa takut berlebihan karena khawatir menggunakan bahasa yang salah, penghinaan terhadap para ustad bahasa Indonesia yang merajalela, atau pengalaman unik salah seorang temanku yang pulang kampung karena sakit, bukannya dimanjakan, ia malah jadi bahan ejekan keluarganya karena berbicara dengan bahasa Indonesia yang kelewat formal.

Kami dari kelas X Bahasa 2 pernah memprotes hal ini kepada Ustad Zulfikar, yang termasuk tim penggagas program berbahasa ini. Menurut kami, tentu lebih baik melakukan pembinaan intensif pada pelajaran Bahasa Inggris dan Arab yang jauh lebih penting. Beliau lalu tersenyum dan memberikan balasan yang sangat telak. “Reza, ke sini.” Reza adalah ketua kelas sekaligus teman sebangku terbaikku (karena hanya dia teman sebangkuku sejauh ini) “Sebagai bentuk tuntutan kalian, Ustad kasih kalian lembaran ini. Fotokopi, isi, terus berikan ke staff BK.” Setelah memberikan lembaran itu di tangan Reza, Ustad lalu pergi. Kami lalu merubunginya untuk membaca lembaran yang terlihat masih baru itu. Tapi di sanalah kejengkelan bermula, tenyata itu sebuah surat dengan kopnya yang jelas tertulis SURAT KETERANGAN PINDAH DARI MADRASAH.

Kadang, aku melamunkan mimpi-mimpi dan harapan, atau masa laluku yang penuh pahit manisnya kenangan, dan isi lamunanku sekarang, menerka seperti apa aku di masa depan. Apa waktu dewasa aku kaya? Seperti apa kehidupanku nanti? Apa aku bakalan jatuh bangkrut dan terdampar menjadi pedagang sandal? Ada apa dengan cinta? “Woy nyadar!” sisi otakku mulai bicara, “lamunannya mulai gak jelas nih.” sisi hatiku ikutan nimbrung. Dalam lamunanku, ada dua sisi berbeda yang memberiku saran dari sudut pandang mereka masing-masing. Sisi otak mengandalkan logika, sedangkan sisi hati menggunakan perasaan. Karena jenuh, aku lalu memutuskan memulai dialog kebangsaan dengan dua sisi yang sama-sama sok tahu ini.

“Kira-kira aku bakalan sukses gak?” kataku.
“Lihat kamu yang sekarang sih, sulit,” jawab sisi otak.
“Kalau usaha pasti ada jalan,” tambah Sisi hati.

Inilah yang kadang ku tak bisa pahami dari dua sisi ini, yang satu sudah langsung memvonisku seperti hakim negeri ini yang memang tak kenal kompromi dengan pencuri jemuran. Lalu yang satunya sok filsuf segala lagi. Tapi kalau bukan karena mereka, aku bakal sendirian jadi endemik gila di pulau terpencil ini. Tapi… apa yang dikatakan mereka mungkin saja benar. Aku yang sekarang memang mustahil sukses jika masih mudah menyerah. Tapi jika aku terus berusaha.. pasti ada jajan.. eh jalan maksudku. (Karena keasyikan melamun, aku tidak menyadari sudah memberikan dua sisi waktu sunyi dengan durasi seperti lagu mengheningkan cipta).

“Hmmm.. iya ya ya,”
“Kancill!!… kelamaan mikir woyy!” jawab Sisi otak.
“Lha.. yang suruh nunggu siapa?” kataku.
“Maklum… dia itu sisi yang selalu ditolak orang pintar,” kata Sisi hati.
“Hahahaha.. Eh.. kamu kira aku bodoh apa!!” kataku.
(Sisi hati mendadak hilang)

Aku bermimpi menjadi penulis, alasannya bukan karena nama-nama tenar para penulis berikut karya terbaik yang pernah dihasilkan. Meski aku juga ingin sukses seperti mereka, Ustad Farqun, guru ngajiku sekaligus wartawan salah satu media nasional terkemuka, yang selalu membakar motivasiku untuk selalu berjuang dalam dunia tulis-menulis. Ia adalah mentor yang tak segan membagi ilmu dan pengalamannya kepadaku. “Kamu harus sabar,” ujarnya ketika aku menyatakan tekadku untuk menjadi penulis. “Untuk menghasilkan tulisan berkualitas, kamu harus bisa membentuk judul yang memikat, heading yang kuat, isi yang tepat, dan ending yang baik.”

Aku kala itu hanya bisa garuk-garuk kepala, melihat aku kebingungan, Ustad Farqun kembali menjelaskan. “Strong heading, happy ending. Lebih jelasnya, judul adalah media pertama yang harus dimanfaatkan untuk menarik pembaca agar tertarik dengan artikel yang kamu buat, tapi peran awal dari tulisanmu juga tak kalah penting, karena menentukan pembaca bakal melanjutkan membaca ke isi tulisan atau tidak. Awali dengan kuat. Layaknya lelaki sejati, bukan lemah kayak banci.”

Ustad sempat terdiam melihat cuaca mendung yang lagi mengangkasa, lalu melanjutkan sarannya, “Untuk endingnya, kalau cerpen boleh kamu ekspresikan sesukamu, meski akhir ceritanya kamu bikin ngegantung dengan alasan agar cerpennya unik atau mengecoh pembaca, tapi kalau artikel serius seperti opini dan analisa pertandingan sepak bola, endingnya harus jelas. Bisa kamu gunakan untuk kesimpulan, pertanyaan retoris kepada pembaca atau bahkan gabungan kedua-duanya. Intinya jangan sampai bagian isi mirip seperti ending. Aku kini mulai paham apa yang Ustad Farqun jelaskan, tapi aku masih kurang puas dan bertanya.

“Apa kualitas tulisan itu sendiri adalah jaminan utama agar artikel yang ditulis bisa dimuat oleh media?”
“Bisa iya, bisa tidak. Hal ini tergantung dari media itu sendiri. Kalau koran tempatku bekerja, kualitas tak selalu jadi prioritas. Artikel yang ditulis terkait dengan hari besar nasional atau kejadian terhangat di masyarakat, jelas lebih diutamakan, tentu juga nama besar dan spesifikasi keilmuan dari si penulis juga bisa mempengaruhi editor untuk memuat karyanya. Nama besar dan spekifasi keilmuan, apa maksudnya?” tanyaku bingung.

“Spesifikasi mungkin maksudmu. Payah, udah MA belum tahu kata gituan, katanya jurusan bahasa.”
“Hehehe.. namanya juga baru belajar.” jawabku singkat.
“Hemm.. terserahlah, jadi saya contohkan saja, misalnya kamu kirim artikel tentang judicial review, di saat bersamaan, kebetulan juga seorang pengacara ternama dengan keilmuannya sebagai seorang sarjana hukum dan praktisi hukum berpengalaman mengirim artikel dengan topik yang sama. Tentu dengan namanya yang terkenal serta statusnya sebagai orang hukum, tulisannyalah yang dimuat, meski tulisanmu sebenarnya bagus, karena statusmu yang hanya seorang pelajar norak gak jelas, soalnya ini termasuk dari reputasi dan nilai jual koran nantinya.”

“Sampai segitunya juga ya… jadi opini yang dimuat di koran mirip sama klub sepak bola kaya raya, lebih suka beli pemain bintang daripada mempromosikan pemain akademi sendiri,”
“Analogimu bagus juga,” puji Ustad Farqun. Aku menepuk dada dengan bangga. “Terima kasih Ustad atas ilmu dan sindirannya, saya pamit dulu,”
“Ya ya… anggap saja apa yang dari tadi saya jelaskan bocoran supaya tulisanmmu bisa lebih keren.”

Amat ku sayangkan memang, Ustad Farqun dipindahtugaskan ke Riau oleh koran tempatnya bekerja. Meski ia meninggalkan nomor hp-nya sebelum keberangkatan dari bandara, aku hanya sekali menghubunginya sekedar mengucapkan selamat atas jabatan barunya dan menanyakan kondisi Riau. Tak enak rasanya mengganggu Ustad yang mengesankan itu, ia menjadi ketua biro sekaligus wakil ketua divisi marketing. Karena itu, aku lebih suka menyepi ke musala madrasah dan berdiskusi dengan dua sisi, seperti kali ini.

Aku Cek.. cek…. 1. 7. 9
“Wah.. akhirnya datang juga,” kata Sisi hati.
“Gimana, lombanya menang gak?” tanya Sisi otak.
“Untuk yang ke-17 kalinya, tulisanku tidak dimuat ataupun gagal Menang lomba.” jawabku.
“Kamu punya alasan khusus untuk terus menulis?” kata Sisi hati.
“Ustad Farqun memang selalu mendukungku, tapi aku belum pernah menemukan alasan kenapa aku harus terus menulis.” kataku.

“Imam Syafii pernah berkata, kalau kau bukan anak raja atau Ulama, maka menulislah.” kata Sisi otak.
“Apa maksudnya?” kataku.
“Dengan jadi anak raja, seseorang bisa mendapat kekuasaan untuk menebar pengaruhnya, sedangkan jika menjadi anak ulama, selain mendapatkan ilmu agama, tentu saja dengan nama besar sang ayah ia dihormati dan perkataannya dengan mudah diikuti oleh masyarakat.” kata Sisi hati.
“Sedangkan dengan menjadi penulis, kamu bisa abadi dengan karya yang kamu hasilkan. Di antara kekuasaan, perkataan, atau tulisan, jelas yang paling hebat adalah tulisan karena tak lekang oleh waktu. Jadi, kamu akan terus berjuang kan?” kata Sisi otak.

“Aku juga akan selalu ada di belakangmu kok, maju terus!!” kata Sisi hati.
“Terima kasih… aku akan ingat perkataan kalian.” kataku.
Sekali lagi, setelah kepergian Ustad Farqun, aku menemukan cahaya semangat yang sudah cukup lama hilang dari jiwaku.

“Dek.. dek.. bangun.. dah maghrib nih.” perasaan suara ini kukenal, dan benar saja, yang membangunkanku ternyata adalah Pak Rahman, marbot musala ini. Sial! berarti tadi aku ketiduran karena keasikan melamun, segera saja aku memasang sepatu dan lari seribu ke kelas. Aku melewatkan 2 jam pelajaran.
“Oh iya ya.. apa lamunanku tadi bisa menjadi sepotong cerpen?

Cerpen Karangan: Sayyid M. H. Nezara Lily Al-Kaff
Facebook: Sayyid
Twitter: @haedaralkaff
Sayyid M. H. Nezara Lily AL-Kaff adalah nama pena dari Sayyid Muhammad Haedar Al-Kaff. Pelajar eksentrik nan gila yang gemar berkonflik dengan guru. Bosan bermasalah. Kini lagi mencari sekolah yang mau menerimanya sebagai murid pindahan SMA dari dalam maupun luar Lombok. Akan berusaha berprestasi melalui karya tulisan dan tenis meja. Kini membantu usaha orangtuanya “CV. SIFON SINAR SENTOSA” di jln. M. Yamin no 29 Lotim, NTB. Berakun twitter @haedaralkaff

Cerpen Mimpi Menjadi Penulis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I’m Telatan Not Teladan

Oleh:
Senin pagi seperti biasa Indah berangkat sekolah dengan tergesa-gesa. Karena, lagi-lagi dia harus mengalami suatu kejadian yang membuatnya gelisah, Terpepet Waktu! “Pukul 06.45,” desis Indah sambil mempercepat langkah setengah

Detektif Numpang Lewat

Oleh:
Di sebuah kota maju yang bernama kota Neuro, terdapat sebuah SMP favorit bernama SMP Pelita. Hari ini adalah hari pertama sekolah untuk siswa-siswi angkatan baru tahun ini. Di antara

Best Day of My Life

Oleh:
Mengagumi dalam diam itu sulit diungkapkan rasanya. Aku memang lebih suka mengagumi orang dalam hati, aku tak pernah bilang kepada siapapun karena aku tahu apa yang akan terjadi jika

Pelampiasan

Oleh:
“Gue mau kita PUTUS” Kalimat itu mendarat tepat di gendang telingaku. Bagaikan granat, ucapannya sukses membuat hatiku meledak. Mati matian aku mencari alasan agar bisa keluar rumah tanpa harus

Cinta Yang Tak Terucap

Oleh:
Perkenal kan nama ku arifin, aku seorang mahasiswa di perguruan tinggi swasta di kota bandung. Aku adalah lelaki yang jauh dari kata sempurna, waktu masih sma aku tak pernah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Mimpi Menjadi Penulis”

  1. Sayyid M.H.Nezara Lily Al-Kaff says:

    Maaf..terdapat kesalahan penulisan nama.
    Nama tokohnya Ustad Farqun.Tapi dua kali
    Disebut ustad Faruq
    Ttd
    Penulis

  2. DenyA says:

    Perasaan dah bener tu..

  3. Sayyid M.H.Nezara Lily Al-Kaff says:

    Kebetulan sy udh minta tolong ke tim
    Cerpenmu utk diperbaiki.

  4. Rexa says:

    Apresiasi utk cerpenmu
    Yg mau benerin kesalahannya
    Sy jdi tertantang ngirim
    Cerpen juga:-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *