Moonlight vs Starlight (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 November 2016

“I love you, You love me I love you, You love me
We’re a happy family We’re best friend like friends should be
With a great big hug With a great big hug
And the kiss from me to you And the kiss from me to you
Won’t you say you love me to? Won’t you say you love me to?”
Sebuah soundtrack dari acara anak-anak yang terkenal pada tahun 90an itu terdengar jelas sampai kamar Rinie dan membuatnya refleks ikut bernyanyi hingga membuat tarian-tarian kecil di seluruh ruangan. Rinie seolah teringat kembali masa-masa kecilnya yang ia lewati tanpa adanya masalah serius yang menimpanya. Yang dia ingat hanyalah keceriaan, canda-tawa, dan kasih sayang tulus orang-orang terkasihnya seperti Mama, Papa, juga anggota keluarga lain. Tak seperti saat ini, saat dimana ia memulai kehidupannya sebagai wanita yang beranjak dewasa.

Pagi itu, 5 Januari.
“Umur gue sekarang tepat 19 tahun! Up-date dulu deh”

Happy Birthday 19 years self. Sent!

Tak lama seseorang membalas status pribadiku dan mengucapkan kalimat selamat ulang tahun lengkap beserta doa-doa yang ia berikan padaku.
“Happy Birthday Rin, gue tau gue orang pertama yang ngucapin lo Birthday kan? Ngaku deh lo? Jadi gue dapet traktiran special nih? Ciye seneng dong kalo gue yang ngucapin pertama”
“Haha apaan sih lo, btw thanks ya udah ngucapin gue birthday gini. Iya deh anggep aja lo orang yang pertama”
“Emang iya kan? Ya udah yuk kita jalan sekarang aja pokoknya lo harus traktir gue!”
“Ih gak mau ah…” Typing
Hap! Layar handpone Rinie mati seketika, dan ia lupa bahwa ia harus mencharger handponenya yang sudah low battery tersebut. Namun, ia tak terlihat kesal justru malah tersenyum dengan sendirinya seolah meneruskan doa dan harapan atas ulang tahunnya hari ini.

Kenapa harus dia sih yang ngucapin pertama? Padahal dulu 2 tahun sekelas sama dia aja gak pernah ngobrol. Sedikitpun nggak pernah. Terus sekarang bbm dan ngucapin gue ultah? Firasat nih

Ia tidak terlalu mementingkan hal itu tapi yang pasti itu sudah cukup membuatnya bertanya-tanya kenapa orang yang terkesan cuek bahkan tak pernah sekalipun akrab dengannya justru menjadi orang pertama saat hari terpenting dalam hidupnya. Ia pun nampak bingung lalu kemudian meghiraukannya.

Flashback and Remember!
Sejak kejadian itu, mereka lebih sering chatting satu sama lain. Walau tak terlalu sering sudah cukup membuat Rinie terhibur dengan tingkah Raffa yang humoris, tidak tau malu, dan kadang vulgar. Bahkan sampai larut malam, padahal tak ada percakapan yang begitu penting lebih tepatnya hanya untuk membunuh waktu dan kejenuhan.

Tapi kok dia sekarang banyak berubah ya? Hmm bagus deh jadi gak terlalu cuek dan jaim kaya dulu, terus lucu lagi dulu pas masih SMA males banget lihat mukanya. Mentang-mentang jadi ketua kelas tapi seenaknya sendiri. Sok ganteng lagi, hidih gue sih gelik banget sama orang yang kaya gitu.

Gue masih inget aja kejadian dimana gue dihukum sama Bu Renna guru IPS X-D gara-gara main di luar kelas padahal cuma main Saya orang kaya-Saya orang miskin. Emang sih kalo inget itu gue ngerasa stupid dan kekanakan banget. Lagian juga niatnya kan flashback permainan masa lalu pas masih SD. Jadi intinya gue kepergok gitu main di luar kelas dan gak ngerjain tugasnya Bu Renna LMAO ini binal parah. Ketua kelasnya juga bloon gak ada carenya banget sama temen-temennya. Finally, gue dihukum di depan kelas beserta Squad Girls Gank gue, sampe nangis parah sampe Bu Renna yang ngomong dari A ke Z ke A lagi.
Dan kita Squad Girls ini disuruh nyontohin main itu di depan anak-anak satu kelas. Damnit! Shamed by us banget. ada satu cowok yang tiba-tiba nyeletuk gini:
“Anak kok minta? Bikin!”
Saat itu juga gue refleks nemuin sumber suara orang yang bilang kaya gitu. Yaps, bener gak salah lagi itu si Raffa! Si ketua kelas aneh, bodoh, dan terdungu yang pernah mimpin kelangsungan hidup koloni di kelas gue.
Tapi untungnya, pas hari kenaikan kelas saat itu gue random gitu kan kelasnya dipisah-pisah dan gue ada di kelas XI-A golongan anak-anak pintar gitu katanya. HAH padahal gue biasa aja sih. Yang paling gue syukuri adalah There’s no one like Mr. Stupidly Class Leader anymore!

Nyatanya gue salah. Jadi pas kelas 12 kita yang dulu-dulunya ada di X-D harus dipertemukan lagi di XII-D. Well, isn’t bad but The Squad Girls Gank was back! Ketemu lagi deh sama sahabat-sahabat gue yang kayak Craziest, Joker, and Laugher of load.

Kelas 12 gak ngerubah apapun yang terjadi selama masa-masa terakhir gue di SMA yang ada cuma les-bimbel-dan-belajar terus belajar sampai UN tiba akhirnya pun lulus dengan hasil yang cukuplah dari pada absurd.

Rinie tersadar dari lamunannya mengingat kembali masa-masa putih birunya bersama teman lamanya tersebut. Bayangkan saja, hampir 2 tahun mereka tak pernah lagi bertemu meskipun jarak keduanya tidak terlalu jauh namun kesibukan masing-masing telah membuat mereka jauh terpisah karena perbedaan Kampus dan melewati jalan hidupnya sendiri-sendiri.
Mereka pernah sekali bertemu pada Reuni Ex. X-D di Taman Raya saat itu namun ya, mereka saling acuh-tak acuh dan berbicara seperlunya. Mungkin karena Rinie adalah gadis yang pendiam ditambah sifat Raffa yang cuek membuat mereka lebih terlihat sebagai orang yang baru kenal. Padahal, Rinie sendiri tau kalau Raffa adalah pribadi yang menyenangkan namun kadang usil dengan celoteh-celotehan dan jokes yang lebih jatuh tepatnya pada bullying. Dan semuanya berjalan begitu saja, hingga akhirnya hari itu pun tiba.
First Intens Cutiest Conversation

“tc!”
“Apaan sih bala banget”
“Akhirnya ada juga yang bbm gue”
“Hidih nyesel gue bm lo”
Well, Raffa come back lagi nih. Ah paling juga iseng sok-sok ngegoda gitu dia kan Jomblo Immortal gue godain balik deh

Kita terus chattingan bahkan sampe pernah jam 3 kita masih bbman. Apa aja diomongin, nggak ngerti lagi gue. Waktu itu suasana lagi seru-serunya, dan dia terus-terusan godain gue gak mau kalah dong gue juga play back time becandain juga kan.

Makin kesini kita makin keseringan chatting, awalnya gue kira cuma malem itu aja dia bakal kayak gitu ke gue. Tapi gue salah, setiap hari kita chatting tiap waktu tiap menit tiap detik gak pernah sekalipun kita lost chatt. Terus gue mikir sejak kapan panggilan kita yang tadinya Gue-Lo berubah jadi Aku-Kamu. Ini unbelieveable banget sih heran aja gue, tiba-tiba sikapnya jadi berubah drastis gini kayak something happened between us.
Yang tadinya cuma becanda lama-lama keterusan, keterusan sok-sok perhatian, keterusan sok-sok gombal gitu, keterusan sok-sok care. Sampe suatu malem kita meet-up, emang udah direncanain sih terus deket rumah gue juga kan. Dan dia masih gak berubah, masih sok ganteng dengan rambut yang agak gondrong dan sedikit laki style

Malam itu pertemuan pertama antara Rinie dan Raffa setelah hampir 2 Tahun mereka tak pernah bertemu kembali. Dengan hawa dinginnya malam tak mengurungkan niat Rinie untuk menemui Raffa yang telah cukup lama menunggunya. Langkah kaki Rinie tergerak dan berhenti perlahan, ia kebingungan mencari keberadaan Raffa.

“Kamu dimana?
“Aku di pinggir sebelah kiri, liat sini”
“Aku wanita berbaju pink”
Raffa menyadari langkah Rinie dan dengan spontan ia memanggilnya.
“Hei! Rin! Sini!” dengan wajah yang tersenyum lebar.
“Hei Raf” membalas senyuman manis di wajah Raffa.
“Dari mana?”
“Lewat sebentar ko abis dari depan, hehe”
“Gak mau nemenin dulu?”
“Nggak deh, udah malem nanti dicariin”
“Ya udah hati-hati ya”

Pertemuan mereka malam itu berlangsung singkat. Namun, senyuman di wajah keduanya tak bisa dipandang biasa. Senyuman tulus itulah yang membuat mereka dekat satu sama lain. Senyuman yang membuat malam Rinie indah dari biasanya, penuh cahaya terang mengalahkan bintang di malam itu.

Cerpen Karangan: Dinie Rachmadiani
Blog: drachmaaa.blogspot.co.id
I just me, I mean; I write everything with feelin’ thinkin’ and lovin’.

Cerpen Moonlight vs Starlight (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akhir Dari Penantian (Part 2)

Oleh:
Ku pegang ucapan Kak Yayat, ku jadikan dia sebagai kakakku. Ku anggap dia sebagai abangku. Walaupun tidak berarti aku melupakan Kak Raka. Semua ku jalani dan hal hasil, lambat

Flat Face

Oleh:
“Untuk apa?” Tanyaku pada seorang anak kecil yang menghampiriku. Menyebalkan sekali, jauh dari adegan dalam drama korea yang biasa kutonton. Mereka hanya memperhatikanku yang terjatuh dengan sepeda tua yang

Aku Mau yang Itu!

Oleh:
“Aku udah SMA!” ucapku saat mama memaksaku untuk membawa bekal makanan ke sekolah. Memang aku belum sah menyandang gelar sebagai siswi SMA. Bahkan aku masih harus melewati masa-masa orientasi

Neighbor Love

Oleh:
Hari pertama diriku menginjakkan kakiku di sekolah yang berbeda, sungguh berbeda. Karena sekarang diriku sudah melepas seragam SMP-ku dengan seragam SMA. Dan sekarang pagi-pagi sekali aku harus datang ke

Tanggungan yang Terjawab

Oleh:
“Bro! Tahu gak orang yang paling aneh di dunia?” “Apa bro?” “Orang yang lagi baca tulisan percakapan ini. Hahaha!!” Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Saya juga ikut. Tapi semua itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *