My Secret Identity

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 November 2018

Senin pagi dengan hati yang berdegub kencang, aku (Anita) sudah berada di depan laptop. Menanti sebuah hasil keputusan yang menentukan masa depan dan cita-citaku. Dengan hati-hati aku mengisi kolom nomor peserta di sebuah website salah satu universitas yang aku inginkan. Jari-jariku bergetar dan terasa berat sekali, tetapi ini harus aku lakukan, perlahan-lahan aku mulai ketik tombol angka nomor pesertaku yang terdiri dari 6 (enam) digit. Aku mulai ketik dengan “0” (nol) lalu “2” (dua) lalu “5” (lima) lalu “7” (tujuh) lalu “3”(tiga) dan yang terakhir “8” (delapan) dan “ENTER”. Aku memejamkan mataku sambil dalam hati memohon semoga tahun ini aku menjadi mahasiswa fakultas hukum.

Aku pikir cukup lama memejamkan mata, saatnya aku membuka mataku perlahan-lahan dan masih terasa buram karena terlalu lama menutup mata. Pandanganku mulai jelas, nafasku seakan melambat, jari-jariku yang sebelumnya bergetar karena cemas kini mulai lemas dan tak terasa air mataku keluar melewati pipiku. Tertulis di website bahwa “Anita (no peserta: 025738) telah mengikuti tes seleksi masuk Universitas Highbrain dengan hasil Tidak Lulus”. Sejak saat itu aku mulai sadar bahwa universitas tidak akan pernah menerimaku, karena ini adalah tahun ketiga penerimaan mahasiswa baru dan tiga kali pula aku mengikuti ujian dan tiga kali aku melihat “tidak lulus” dalam hasil tes.

Aku melamun lama di dalam kamarku, dan berharap ada keajaiban dalam hasil tes tersebut. Tiba-tiba aku tersentak kaget, terdengar suara ibuku mengetuk pintu dengan sangat keras:
“Anita!!!… Anita!… kamu masih tidur apa uda bangun sih??!, Bangun… Ada Indri tuh…”, dengan cepat aku menutup laptopku, dan jangan sampai ibuku mengetahui kenyataan bahwa tiap tahun putrinya selalu gagal dalam tes, tetapi untungnya ibuku tidak mengetahui bahwa hari ini adalah pengumuman tes.

Segera aku buka pintu kamar, dan Indri, sahabatku yang selalu ceria, langsung masuk dalam kamarku. Hari itu wajah Indri sangat bersinar dan ceria, berbeda dengan wajahku yang kusut dan putus asa, Dia (Indri) langsung duduk di atas kasurku,

“Nit.. gimana hasil tes nya?, kalo aku lulus dan syaratnya minggu depan daftar ulang, kalau kamu?”,
aku terdiam dan menunduk dan Indri menanggapi ekspresiku
“Ah… terulang lagi… hmmm.. gak apa-apa… aku akan bantu kamu dan tahun ini kamu akan jadi mahasiswi”.
Aku bingung dengan kata-katanya, “apa maksudmu?”
dan dia tersenyum, “sebenarnya masuk universitas bukan cita-citaku nit…, ditambah lagi tahun ini berbarengan aku mau ikut casting film dan main opera di Singapore… tapi aku juga gak mau melepas jadi mahasiswa baru… jadi… aku mau minta tolong kamu hihihi”,
Aku semakin bingung dengan kata-katanya, “Tolong apa sih In?”,
Dengan penuh harapan, Indri memegang tanganku erat-erat, “Tolong gantiin aku jadi mahasiswi baru, cukup satu semester aja kok, alias kamu jadi aku (Indri), gimana?”, Mataku melotot menatap Indri, dan tak sadar mulutku mengeluarkan jawaban konyol “oke… baiklah”. Lalu Indri pun memelukku dengan bahagia, dan seharusnya aku pun bahagia karena kesempatan ini, tetapi entah kenapa aku merasa takut melakukannya.

Keesokan pagi di hari Selasa yang cerah, aku sedang membantu ibuku menyiapkan makan pagi untuk kami sekeluarga, Ibuku bekerja sebagai pembantu dan Ayahku seorang supir taxi, bersiap-siap dengan mengancingkan seragam kemejanya sambil duduk di meja makan. Dengan suasana hening dan makan pagi yang terasa hambar, aku memberitahu kedua orangtuaku bahwa telah diterima di Fakultas Hukum Universitas Highbrain. Ayah dan Ibuku langsung menghentikan makan paginya dan mereka berdua sangat bangga dan gembira. Saat itu aku benar-benar merasa bersalah dan berdosa atas apa yang aku katakan. Ini benar-benar gila pikirku.

Seusai makan pagi, aku langsung pergi ke Universitas Highbrain untuk melihat persyaratan daftar ulang dan lokasi fakuktas hukum. Aku hampir lupa bahwa identitasku mulai saat ini adalah Indri. Di persyaratan daftar ulang adalah menyerahkan ID card atau KTP, tentu aku sudah mempersiapkannya yangmana dibantu oleh Indri dengan ID Card baruku atas nama “Indri”.

Di perjalanan menuju fakultas hukum, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang, aku tidak langsung menoleh, karena mana mungkin ada yang mengenalku di universitas ini. Pelan-pelan aku memutar badanku, aku melihat sosok pria yang seumuran denganku, dan dia menyapaku
“Hei… kita ketemu lagi ya, inget gak sama aku?”, aku terdiam.
Dalam hati aku berkata mungkin ini berakhir, berakhir sudah aku menjadi Indri. Pelan-pelan aku ingat akan pria ini, ya, dia adalah peserta ujian masuk perguruan tinggi yang tempat duduknya bersebelahan denganku.
Dia langsung menyambung pertanyaannya “kita belum sempat kenalan waktu itu…, Aku Ade, nama kamu?” sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku.
Dalam hati aku lega mendengar bahwa dia tidak tahu namaku, dengan cepat aku mengulurkan tanganku untuk membalasnya “Aku Indri”. Kami berdua banyak bicara dan faktanya Ade dan Indri diterima sebagai mahasiswa baru di Universitas Highbrain, lalu fakta kedua bahwa aku bukanlah Indri melainkan Anita yang menggantikan sosok Indri.

Hari demi hari aku mulai menjalani di kampus sebagai Indri. Aku mulai mengabaikan nasihat Indri, yaitu aku dilarang mempunyai teman atau dekat dengan seorang pria di kampus, karena itu akan membahayakan identitas Indri. Tetapi sebagai anak muda, aku merasa sulit jika tidak mempunyai teman di kampus. Terlebih lagi si Ade, sosok teman yang baik dan pasangan idaman tiap wanita karena kepintarannya.

Suatu hari saat jam kuliah selesai, ponselku berdering, aku terkejut karena Indri yang sekian lama tidak meneleponku, akhirnya siang itu menelponku dan segera kuterima teleponnya. Aku berlari keluar gedung kampusku agar tidak terdengar oleh yang lain. Seperti biasa dengan ceria Indri menanyakan keadaanku:
“Hai apa kabar Indri KW?… Hahaha… gimana kuliahnya? Baik-baik aja kan?”. Aku bingung menjawabnya,
dengan suara lemas aku mengatakan, “baik-baik aja in…, kamu apa kabar?… gimana casting ama opera kamu di sana?”,
Indri langsung menjawab “hmmmm… padahal aku uda mikir bakal stay lama di sini, tapi yang namanya rejeki bisa meleset…, aku gagal casting dan di opera aku bukan pemain utama…, dalam waktu dekat ini aku akan balik ke Indonesia”.
Mendengar ucapan Indri, aku sangat terkejut, entah aku harus bahagia karena bertemu sahabatku lagi atau sedih karena harus mengakhiri sebagai mahasiswi. Aku mulai tersadar bahwa ini semua hanya sementara. Dalam perjalanan pulang kakiku terasa lemas dan berat untuk melangkah, karena dalam waktu dekat aku akan kembali ke realita.

Kehidupanku di kampus mulai membuatku cemas, dan aku sangat sedih. Si Ade memperhatikan ekspresi wajahku tiap hari, dan dia selalu memberikan semangat tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Aku semakin menjadi sedih, karena selain membohongi kedua orangtuaku, aku juga membohongi Ade. Setiap hari aku merasakan cemas dan takut. Sampai suatu hari Ade menanyakan padaku:
“Kamu kenapa In?, tiap di kelas aku perhatiin kamu melamun terus, kamu jalan juga kaya tatapan kosong…”,
Aku merasa bingung dan takut ketika dia menanyakan ekspresiku. Aku bingung harus menjawab mulai dari mana. Aku takut, jika aku berterus terang siapa diriku sebenarnya, dia akan marah atau bahkan membenciku. Namun, tiba-tiba ponselku berdering dan aku lari meninggalkan Ade yang masih penasaran dengan keadaanku. Aku pun lari begitu saja tanpa berpamitan dengan Ade. Sampai aku lari sejauh mungkin dari Ade dan tiba di taman kampus. Aku cepat-cepat mengangkat teleponku, dan aku mengenal suara ceria itu. Indri mengagetkanku lewat telepon
“Hei!!!.. lama banget ngangkat telepon dari aku?, kamu gak apa-apa kan Nit… kok nafas kamu ngos ngosan gitu?”,
dengan menarik nafas dalam-dalam aku menjawab, “iya gak apa-apa kok”.
Tanpa memperdulikan jawabanku, Indri langsung mengatakan bahwa dia sudah tiba di Indonesia kemarin malam, dan dia sekarang berada di depan rumahku. Aku sangat terkejut mendengarnya dan segera aku pulang ke rumah.

Sesampainya di depan rumah, aku melihat Indri mondar-mandir di depan rumahku. Aku mengajaknya ke dalam rumah dan masuk kedalam kamarku. Indri menanyakan banyak hal tentang kampus seolah-olah aku sedang diinterogasi. Dan puncaknya, Indri memintaku menyiapkan semua catatan dan buku-buku penunjang selama aku menggantikannya di kampus. Mendengar permintaannya, kepalaku merasa pusing. Berat sekali menuruti permintaannya.

Hari Sabtu pagi, aku berjanji pada Indri untuk memberikan semua catatan dan buku-buku selama kuliah. Indri berterima kasih atas apa yang aku lakukan selama ini. Tetapi Indri memiliki satu permintaan lagi, dia ingin aku menemaninya di hari Senin pagi untuk pergi kuliah. Indri memang seperti anak kecil, dia takut harus bertemu dengan teman-teman baru yang sebenarnya bagi teman-teman di kampus mahasiswi bernama Indri sudah tidak asing lagi.

Di Hari Senin, dengan malas aku menemani Indri ke kampus. Perasaanku bercampur gelisah jika Ade melihat kenyataan bahwa Indri yang asli telah tiba.
Tak terasa, kami berdua sudah di depan kampus. Aku berpisah dengan Indri. Indri berlari ke dalam kampus dan aku jalan berbalik arah dan pergi ke taman yang letaknya tak jauh dari kampus. Aku duduk di taman dengan angin yang cukup sejuk. Aku termenung memikirkan semua kebohongan yang aku lakukan. Memikirkan bagaimana cara menjelaskan kepada kedua orang tuaku dan Ade.

Tiba-tiba aku dikejutkan dengan sosok pria yang dengan santai dan tanpa permisi duduk di sebelahku. Ternyata dia adalah Ade. Aku kaget dan dengan terbata-bata aku bertanya, “ng..nga..ngapain kamu di sini?, ini kan jam kuliah?”.
Ade pun tersenyum sambil menatapku dan dia menjawab pertanyaanku,
“Lagi malas… lagian dosennya lama gak dateng-dateng terus temen-temen pada heboh… ya udah bolos aja”, dan dia semakin tersenyum lebar sambil menatapku.

Aku berfikir mungkin ini saatnya aku berterus terang pada Ade, siapa aku sebenarnya dan kenapa aku melakukannya. Tetapi ketika aku akan menjelaskan, tiba-tiba Ade langsung memelukku dan berkata,
“semuanya akan baik-baik aja, simpan rahasiamu dan aku jaga rahasiamu”.
Aku meneteskan air mata karena menyadari bahwa ternyata Ade mengetahui siapa aku sebenarnya. Aku meminta maaf pada Ade atas kebohonganku selama ini,
“Maaf… maafin aku udah bohong sama kamu…”, Ade pun tetap tersenyum. Ade melepas pelukannya dan mengatakan bahwa dia sebenarnya juga membohongiku. Dia mengatakan bahwa sebenarnya dia juga bukanlah Ade. Aku kembali bingung akan perkataanya,
“Apa maksud kamu bohong?”,
Ade menjelaskan, “Aku kembar, Aku Aldo, Ade adalah adikku yang meninggal karena kecelakaan dan meninggal tiga hari sebelum harus daftar ulang masuk perguruan tinggi… sedangkan aku pada saat tes bernasib sama denganmu, aku gagal… di satu sisi kedua orangtuaku menginginkan melihat putranya diterima di salah satu universitas, akhirnya atas persetujuan orangtuaku, aku menggantikan posisi Ade…”.

Aku kembali terkejut mendengar penjelasan Ade yang sebenarnya bukan Ade melainkan Aldo. Sebelum aku menanggapinya, Aldo pun langsung kembali menjelaskan kepadaku. Dia mengetahui aku gagal dalam tes adalah ketika nomer pesertaku yang tertempel di meja jatuh tepat di dekat kakinya. Dia menyimpan nomer pesertaku sampai hari pengumuman tiba. Dia mencoba memasukkan nomer pesertaku di website universitas, dari situlah dia mengetahui bahwa sebenarnya aku telah gagal tes bersama. Namun tiba-tiba dia bertanya tentang pekerjaan ibuku,
“O iya, ibu kamu kerja atau ibu rumah tangga?”,
pikirku sebelum menjawab, mengapa dia bertanya pekerjaan ibuku.
Aku menjawab, “Ibuku bekerja sebagai pembantu di rumah sebuah keluarga… kenapa memangnya?”, tanyaku dengan penasaran.
Aldo pun tersenyum lagi dan menjawab, “Ibumu bekerja di rumahku dan sudah lama… Aku melihat fotomu di dompet Ibumu yang kebetulan jatuh ketika beliau mau pulang… aku terkejut melihat fotomu… mungkin ini takdir dan kebetulan… dan aku sudah membantumu… aku sudah menjelaskan kepada ibumu bahwa sebenarnya kamu gagal dalam tes, dan aku memohon kepada Ibumu agar tidak marah, karena aku yakin kamu melakukannya karena kamu ingin membahagiakan kedua orangtuamu”.
Mendengar penjelasannya yang begitu panjang, aku menatapnya dan kembali menangis. Namun tangisan kali ini adalah berterimakasih kepada Aldo dan bersyukur atas semua keadaan ini.

Angin memberikan kesejukan saat itu dan cuaca sangat indah. Ibu dan Ayahku menerima penjelasanku dan memaafkan atas tindakanku yang ceroboh. Indri pun juga bertanggung jawab ikut meminta maaf kepada kedua orangtuaku. Kehidupanku terus berjalan. Aku memutuskan mengkuti bimbingan belajar untuk persiapan masuk perguruan tinggi. Aku belajar sangat tekun. Hubunganku dengan Aldo juga semakin dekat dan Indri tetap sebagai sahabatku yang ceria.

Satu tahun kemudian, di pagi hari dengan aktivitas yang padat, aku membuka lokerku. Aku terkejut menemukan sebuah coklat yang diikat dengan pita warna ungu. Dari belakang, aku dikejutkan suara sosok laki-laki yang ramah dan tentu aku mengenalnya, laki-laki itu menyapaku,
“Hei… selamat ya… denger dari temen-temen kamu, kamu nilainya tertinggi ya… cieeee”, sambil mencubit pipiku.
Dia adalah Aldo, mahasiswa jurusan Hukum, dan sedangkan aku akhirnya diterima di fakultas Ekonomi. Sudah hampir semester tiga aku kuliah dan diterima sebagai mahasiswi baru dengan mengikuti tes nasional. Aku dan Aldo berbeda fakultas, tetapi kami masih dalam hubungan dekat. Kehidupanku semakin baik, tidak ada lagi kebohongan yang aku lakukan. Pengalaman di masa lalu membuatku belajar, bahwa keberuntungan yang abadi dapat diraih dengan jalan yang benar tanpa menyakiti orang lain atau diri sendiri.

TAMAT

Cerpen Karangan: Hening Winda
Facebook: Hening Winda

Cerpen My Secret Identity merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Scratch Teens (Part 3)

Oleh:
Tuhan.. apakah aku tak pantas untuk disayangi? Satu-persatu berpaling dari sisi ku Perih hati ini saat harus menerima takdir dari mu Kemana janji mu Rangga? Kau telah mengingkarinya Kini..

Serial Niken (Sepatu Kaca Cinderella)

Oleh:
Semalem niken dan angeline ngambek minta dibikinin opor ayam. Alhasil pagi ini mama sinta terpaksa bela belain ke pasar bareng tania. Tapi dari tadi mama ngeluh, secara harga harga

Your Secret Admirer

Oleh:
2011 “Kenapa? ada apa dengan tahun 2011 Re?” tanya seseorang dari arah belakang. “Gak apa-apa Vit” senyum Realga pada sahabat terbaiknya. “Seriusan? ekspresi kamu itu gak ngeyakinin” tebak Vitsha

Kakak Kelas Menyebalkan

Oleh:
Sayup sayup terdengar suara adzan subuh. Aku pun menghentikan kegiatanku berkutat dengan angka angka. Jadwal pertama UAS yang sangat menakjubkan ini membuatku tak bisa tidur semalaman. Entahlah apa yang

Akhirnya Balikan Lagi

Oleh:
Banyak orang yang sering mengatakan “Akhirnya Balikan Lagi cha”, kata itu entah menyindir atau memang sekedar ucapan selamat padaku. Singkat cerita saat itu aku berpacaran dengan Elang, hubungan kami

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *