Pahit Manis Hanya Bisa Dikenang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 April 2016

Ini aku Hana. Gadis yang sekarang menyandang gelar SMA. Walau sudah hampir setahun ini aku berada di SMA tapi rasanya baru kemarin aku meninggalkan SMP kesayanganku. Semua bermula dari ketika aku baru pindah dari Jakarta ke kampung halamanku, Malang. Sudah sejak lama semenjak aku, ayah, dan Ibuku merantau kami sudah membicarakan soal kepindahan ke Malang. Awalnya aku tak setuju. Aku tahu bahwa di Malanglah kota kelahiranku tapi di sinilah aku dibesarkan hingga usiaku 10 tahun ini. Di sini juga banyak sahabatku sejak kecil yang sangat amat aku sayangi juga walau masih terlalu kecil tapi aku memiliki seorang yang menjadi cinta pertama dalam hidupku. Untuk yang pertama semua kebahagiaan terasa begitu lengkap bersama mereka. Tapi itulah orangtuaku mereka sungguh tak bisa mengerti bahwa inilah kebahagiaanku yang sederhana bersama orang-orang yang ku kasihi.

Mereka hanya melihat kebaikanku dalam segi materi untuk masa depanku. Tak butuh banyak waktu akhirnya kami pindah begitu saja. Tanpa bisa berpamitan pada semua sahabat-sahabatku, Aku hanya meninggalkan selembar surat perpisahan yang kutulis dengan air mata. Awal kepindahanku ke Malang membuatku sedikit gelisah dengan awal hidupku yang baru. Aku harus memulainya dari awal untuk yang terakhir kalinya. Di sinilah aku bertemu banyak teman sebayaku. Awalnya sedikit sulit menyesuaikan adat kebiasaan mereka. Tapi tidak lagi setelah aku mulai tinggal di situ lebih lama. Di desa kecil di tengah alam yang hijau itu membuatku tenang dan lega. Aku pikir mungkin Tuhan mengirimku ke sini karena ingin membuatku tenang dari segala kebisingan di kota sebesar itu. Nyatanya konflik muncul satu per satu antara keluarga, kerabat dekat, teman, juga diri sendiri. Tapi untuk tahap awal di masa SD aku bisa melaluinya dengan sedikit terbebani.

Dan aku pun lulus SD menuju SMP. Di kota ini banyak sekolahan yang tersedia. Begitu pun sekolah-sekolah di desanya. Di desaku ini ada satu sekolah di mana mereka sangat membanggakannya sebagai sekolah yang maju. Aku berpikiran memang semaju apa sekolah ini? Tak banyak yang aku tahu soal daerah bahkan sekolah-sekolah di sini. Wajar saja aku kecil aku dibesarkan di Jakarta. Tapi setelah tak lama di sini aku mulai mengalami masa-masa sulitku atau pendewasaan. Atau yang mereka sebut dengan pubertas. Di sini aku diajarkan banyak hal dan mengalami banyak hal yang tak pernah aku tahu dan pelajari sebelumnya. Aku dikenalkan dengan kehidupan luar, permasalahan yang rumit, menyelesaikan dengan hati dan pikiran sendiri, bahkan proses membantu penemuan jati diri. Di sini berbeda dengan teman-temanku di Jakarta.

Aku banyak belajar dari kisah teman-temanku. Aku juga banyak memiliki pengalaman dari orangtua terbaik. Pahit manis selama tiga tahun bersama para sahabatku dan orangtua yang ku cintai membuatku tersadar akan hidup yang dulunya aku lewati cukup sia-sia dengan tak menghargai waktu sebaik-baiknya. Setelah tiga tahun aku memiliki kenangan yang indah di SMP kesayanganku kini akhirnya aku lulus dengan nilai cukup baik. Kebahagiaan yang ku rasakan di sini adalah di mana aku mendapatkan kesederhanaan dalam hidupku yang sangat berharga. Membuatku belajar terbangun sendiri saat aku terpuruk dan sendiri. Karena Tuhan bersamaku. Maaf Tuhan yang awalnya telah marah pada-Mu karena membuatku bersedih merasa paling kesepian dan terpuruk padahal di luar sana banyak yang lebih kurang beruntung dariku.

Lulus juga aku akhirnya dari SMP kesayanganku. Sekarang aku memilih meneruskan ke SMA yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku. Tak hanya aku saja yang ke SMA ini tapi ada banyak juga teman se-SMP-ku itu juga ke sini. Kami bersama lagi walau itu sebagian dari kami. Sebagian banyak ada yang ke kota ada yang ke luar kota ada juga yang memutuskan untuk masuk pesantren saja. Tapi dengan kita terpencar seperti ini memang tak banyak yang bisa saling bertemu dan menghubungi lagi seperti dahulu. Ada teman yang terlalu dekat tapi memilih untuk tidak saling mengenal lagi, ada yang jauh tapi begitu seringnya ingin berkomunikasi. Ada pula yang sama sekali tak tahu kabar beritanya. Berbeda-beda kami menjalani hidup setelah SMP itu.

Yang paling membuatku sedih adalah bukan ketika saat teman dekat menjadi orang asing melainkan ketika aku menyesal tak bisa kembali ke masa itu dan menarik perkataanku yang pernah terlintas dulu ketika sedang sedih. ‘AKU INGIN CEPAT LULUS’ karena ketika aku mengatakan itu aku tak menyadari betapa beruntungnya aku dulu memiliki kebahagiaan sederhana itu bersama sahabatku. Memiliki pahit manisnya hidup bersama. Setiap hari rasa sesalku terus berlanjut.

Setiap malam walau banyak sekali yang ku curahkan semua rasa rinduku pada bintang-bintang, semua itu tak lagi ada gunanya jika semua yang tak pernah aku inginkan jadi sesuatu yang justru sangat aku rindukan. Dan di SMA ini sepahit apa pun aku melewati hidupku lagi, aku tak akan pernah mengatakan hal yang sama lagi. Aku tak mau menyesal untuk sekian kalinya. Karena bukannya aku mengeluh tapi bersyukur dengan apa yang aku punya sebelum statusnya berubah menjadi apa, ‘Yang pernah aku miliki.’ itu rasanya sakit sekali untuk dirindukan. Bahkan tidak bisa dibayangkan.

Cerita ini aku dedikasikan untuk seluruh para sahabat yang sedang mengalami masa-masa sulit bersama sahabatnya. Khususnya pada sahabatku yang amat aku rindukan yang berada jauh dan yang berada begitu dekat denganku.

Cerpen Karangan: Anggun Septa Devita Sary
Facebook: Anggun Septa Devita Sary
Nama: Anggun Septa Devita Sary
Alamat: Kabupaten Lamongan
Sekolah: SMAN 1 KARANGBINANGUN

Cerpen Pahit Manis Hanya Bisa Dikenang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Queer (Coquettish Girls)

Oleh:
Suara jeritan murid-murid perempuan terdengar bergemuruh memecah keheningan ruang laboratorium. Mereka begitu hebohnya saat melihat seorang murid baru pindahan dari SMA di Kota Bandung. Namanya Riki. Perawakannya bisa dibilang

Kenangan Terindah

Oleh:
Eh, eh, kenapa ya? Hari-hari ku itu selalu campur aduk? Eh, tapi selalu senang kalau ada dia. Dia yang selalu hibur aku kalau lagi sedih. Dia juga selalu ngebelain

Bunda

Oleh:
Aku masih tidak percaya apa yang sedang ku lihat sekarang. Selembar kertas ulangan yang di sana tertera nilai 70. Kenapa nilai ulanganku jelek sekali? Biasanya aku selalu mendapat nilai

Hujan Di Bulan November

Oleh:
Hujan amat deras mengguyur kota bandung, tak menyisakan berkas berkas pengasihan kepada penduduk yang hendak beraktivitas. Rere yang menatap butiran-butiran hujan dari jendela kamarnya menjadi pilu, sembari mendengar berita

Cinta Lain Kali (Part 2)

Oleh:
Dua hari setelah aku mengalami kesialan yang luar biasa, aku harus bersekolah. Seperti biasa, aku berangkat sekolah naik angkot, ku nikmati pagi dan mengumpulkan semangat untuk menjalani hari ini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *