Pejuang Dari Belakang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 May 2016

Malam sedang terang disinari cahaya bulan purnama. Disertai sinaran bintang yang ingin menunjukkan keindahannya. Namun, di balik keindahan itu tersembunyi keangkuhan. Persis seperti sebagian manusia. Di sebuah rumah yang indah, di sebuah kamar yang kosong, terbaringlah seorang lelaki. Sedang merenungi masa lalu, kisah seorang pejuang bangsa. Yang namanya diabadikan dalam sebuah lagu berjudul, “Ibu Kita Kartini”. Dia teringat sewaktu tadi, ketika dia dan seorang gadis bertengkar untuk sesuatu. Mungkin sebagian orang akan menganggap itu sepele. Tapi, jika orang itu berakal pasti dia tidak akan menganggapnya sepele.

“Tidak aku tidak setuju dengan pendapatmu. Kau tahu, jika monyet mendengar ucapanmu, mereka pun akan ketawa,” Segera saja Azizah memerah mukanya. Tadi, mereka membicarakan tentang siapa yang akan memimpin kelompoknya. Lantas, Azizah mengatakan bahwa sebaiknya perempuan saja. Tapi, Retro sangat tidak setuju. Dan keluarlah perkataan menyakitkan itu. “Tidak Retro. Coba kau ingat, berapa banyak pejuang nasional (Indonesia) wanita?” Azizah lekas menjawab Pernyataan Retro tadi.

“Mungkin satu, dua, tiga… mungkin paling banyak enam,” Retro menjawab enteng. Lantas, pergi seperti angin berlalu. Sebenarnya hanya pergi toilet, tentu, setelah meminta izin gurunya. Ternyata, perdebatan itu terus berlanjut. Sewaktu istirahat, mereka sekali lagi bertengkar. Tidak memedulikan mata-mata yang melihat. Kedengaran sepele, tapi ternyata bagi mereka sangat penting, lebih penting dari urusan PR.

“Kau belum menjawab soalanku lagi, Retro,” berlipat kening Retro mendengarnya.
“Bukankah sudah ku jawab?” dia malah balik bertanya.
“Maksudku dengan benar,”
“Kalau begitu anggap saja aku selalu salah,” jawaban tanpa akal Retro.
“Aku simpan perkataanmu itu, Retro.”
“Dimana? Di saku?” sekali lagi, jawaban tanpa akal.
“Terserah kaulah Retro, demam aku dibuatmu,” dijawab lagi.
“Seharusnya rabies.”

Setelah jawaban terakhirnya, dia pergi seperti angin berlalu meninggalkan Azizah sendirian di tanah lapang. Tidak menoleh lagi. Di dalam pikirannya, tentu, tentang masalahnya tadi. Merangkai apa yang akan dilakukannya setelah ini.

Hari itu, hari minggu, libur, pasti. Retro berjalan di dalam rumahnya. Tidak sengaja tampak olehnya selembar koran. Entah mengapa, timbul keinginannya untuk membacanya. Setelah membacanya, wajahnya berubah. Sekarang, aku paham. Desis hatinya. Ternyata begitu. Desisnya lagi. Dia ke luar dari rumahnya. Ternyata, perempuan memang layak disetarakan dengan laki-laki. Dan ternyata, perkataan Azizah itu sangat benar. Pejuang dari belakang, pejuang tak kasat mata, itulah gelar yang sangat cocok untuk mereka. Kelihatan lemah, tak berdaya. Tapi sebenarnya segagah macan, bahkan lebih. Ternyata, sekitar 9000000000 pejuang wanita, bahkan lebih. Dia mengambil HP Android Xiaou Mi-nya, Lantas menelepon satu nomor. Dengan pulsanya yang masih bersisa Rp. 35.000, dia tidak takut pulsanya habis. Seharusnya benda itu tidak perlu diperhatikan. Akhirnya, teleponnya diangkat.

“Assalamualaikum,” salam mengawali pembicaraannya. Pembicaraan yang menyelesaikan konfliknya dengan lawan jenis. “Aku sudah memahaminya, Azizah.”
“Apa yang kau paham?” disambut suara gadis dari sana, entah di mana. Huh, waktunya menghilangkan egoisme, Retro. Desah hati Retro, kepada diri sendiri. Dia memulai pembicaraannya dengan nada yang tenang, mungkin kaku.

“Begini, waktu itu kau katakan bahwa pejuang wanita ada lebih dari 9 triliun, kan?” dijawab.
“Iya, sudah kau temukan kebenarannya?”
“Tepat, tadi, aku melihat artikel di Koran, tentang perempuan,”
“Ternyata, seluruh pejuang itu dilahirkan pejuang lainnya, pejuang dari belakang. Karena itulah kau sebut pejuang wanita itu 9 triliun kan?”
Azizah menjawab, “Iya, tapi.. ku sangka aku yang menyadarkan engkau.”
“Kau tak akan pernah bisa.”

Di dalam hatinya, timbul penyesalan pernah merendahkan kaum ini. Mengapa engkau sanggup mengatakan itu, Retro? Padahal, mereka yang membuat kau di atas dunia ini. Hatinya bercampur-aduk. Tidak sadar dia masih memegang HP-nya. Akalnya tidak juga sadar. Masih melamun di dalam alam bawah sadar. Meninggalkan dunia yang satu lagi, menuju ke alam antah berantah nun jauh di sana. Menuju labirin pemikiran dan khayalan yang baginya tampak nyata.

“Err… Retro, sebenarnya aku yang mengarang artikel itu. Jadi, sama saja artinya bahwa aku yang menyadarkanmu, kan?” segera saja Retro berlari mengambil koran tadi. Ternyata, memang si Azizah yang menulisnya. “Cih, ternyata engkau.” Azizah hanya ketawa. “Tapi, kau tahu, siapa pun yang menyadarkan aku, aku berterima kasih,” Azizah tersenyum dari sana. “Dan yang paling penting adalah, bahwa wanita layak bekerja seperti lelaki, kecuali kuli bangunan. Dan yang paling penting adalah..”
Mereka berkata serentak. “Ini saatnya Emansipasi Wanita.”

Cerpen Karangan: Muja_Aulia
Facebook: Tidak Ada
Ditulis oleh: Mujahid Salafi Aulia MTsN Model padang
Kelas: VII. 323\3\2016

Cerpen Pejuang Dari Belakang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Adik kelas Ku

Oleh:
Nama aku Jani. Ini ceritaku ini luapan kebahagiaanku memilikinya. Dia muda tangguh berwibawa walaupun dua tingkat di bawahku, ya dia adik kelasku dan aku kakak kelasnya. Namanya Muhammad Rizal

Kenangan Terindah

Oleh:
Aku dapat merasakan mata semua orang ke arahku. Aku tidak perlu menengok ataupun memutar tubuhku untuk mengetahuinya, perasaan di hatiku sudah dapat menebak dengan benar apa yang sedang terjadi

Gak Punya Judul

Oleh:
Toet, toet, breng, breng! Toet, toet, breng, breng!! Suara marching band terdengar membahana di sepanjang jalan raya pahlawan. Anak-anak SMA Masa Depan serentak berhamburan memenuhi pinggir jalan depan sekolah.

Pilar Kebahagiaan

Oleh:
Pagi itu hawa dingin serasa menyayat kalbu. Jalan setapak yang biasanya dilalui oleh Ila untuk pergi ke sekolah tampak begitu sepi. Karena kabut yang sangat tebal membuat para pengguna

Berangkat Sekolah

Oleh:
Jam udah menunjukkan pukul 04.30 aku mulai bergegas salat subuh. Lalu aku lanjutkan seperti biasa 2 hari sekali aku ngebersihin tempat wudhu. Jam udah menunjukkan pukul 06.00 waktunya mandi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *