Pemburu Kematian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 19 January 2019

“Apa yang membuatmu menjadi seperti ini?”
“Tidak ada”
“Lalu kenapa kau lakukan?”
“Karena aku menyukainya”
“Tidak ada alasan lain?”
“Tidak”
“Baiklah, ayo kita mulai”
“Jangan berhenti sampai kita mati”
“Jika itu maumu”

“Brukk!!” mereka saling memukul wajah masing-masing. Kedua pria itu terus mengadu pukulan dan tendangan tanpa henti.
“Bug!” Pukulan Robi tepat mengenai hidung Key. Darah segar mengalir keluar dari kedua lubang hidungnya. Key tersenyum sembari menghapus darah itu.
“Kamu kuat juga”, ucapnya.
“Andai bisa sedikit lebih bertenaga”, lanjutnya meledek.
“Jalanan mengajariku dengan baik, tapi tidak pernah menyembuhkanku”, ucap Robi.
“Kau tau, jalanan juga mengajariku hal yang sama, tapi dia tidak pernah membuatku lebih baik dan aku terjebak di dalamnya”
“Kau terlalu banyak bicara”, ledek Robi.

“Bruk!! Bug!”, berkali-kali pukulan mereka mengenai satu sama lain. Raut wajah Key dan Robi penuh dengan luka memar dan darah segar, meskipun begitu kedua pria itu terus berusaha berdiri dan mengadu kekuatan mereka. Pada kenyataannya tidak ada yang lebih penting dalam fikiran mereka kecuali kekuatan, kecepatan dan tenaga. Dari hal itulah mereka bertahan dan terus bertarung agar tau dimana batas mereka, dan sayangnya setiap mereka tau batas mereka, mereka selalu berusaha keras untuk melewatinya. Hingga saat ini, setelah melewati semua preman-preman kecil bertindik dan bertato dari masing-masing kelompok, hanya mereka berdualah yang bertahan.

“Bruk!” Kedua pria itu rebah di tanah cadas tempat mereka beradu. Darah segar masih terus mengalir dari setiap luka di tubuh mereka. Deru nafas mereka seakan memaksa berhenti tapi terus tertarik keluar dari rongga pernafasan mereka.

“Hah, jadi beginilah akhirnya?”, ucap Key santai.
“Kau tau, ini masih terlalu awal untuk berhenti”, ucap Robi seraya mencoba berdiri.
“Haha”, tawa Key seraya mengangkat wajahnya yang penuh luka.

“Sebenarnya apa yang kau kejar?”, lanjutnya sambil berdiri.
“Tidak ada”, jawab Robi singkat.
“Jadi? Hanya sekedar bertarung dan menang?”, sergah Key.
“Ya”

“Aku tau apa yang selama ini kau kejar”, ucap Key berusaha mengalihkan perhatian Robi.
“Kau tidak mengenalku. Jadi berhentilah mengoceh!”, teriak Robi seraya menghantamkan pukulannya ke wajah Key, namun pria itu sama sekali tidak menghindar. Dengan kesempatan seperti itu Robi terus memukulnya dengan beringas.
“Bug”, kepalan tangan Robi mampu ditangkapnya dengan telak. Key kembali menebar senyumnya. “Kau tau, pertarungan jalanan dan bela diri itu berbeda”, ucap Key sembari menarik tangan Robi dan membanting tubuhnya ke arah kanan dan dengan cepat lutut kaki kanannya menghantam wajah Robi hingga tubuhnya terbalik. Key masih tersenyum sambil berusaha menghapus darah itu dari wajahnya meskipun dia tau itu percuma.

“Aku tau, kau sebenarnya ingin mati, tapi kau tidak pernah mendapatkannya bukan?”, ucap Key santai.
“Ya, aku juga seperti itu. Aku juga menginginkan kematian itu sendiri, tapi sayangnya kematian tidak pernah datang pada orang yang menginginkannya”, lanjutnya sambil melangkahkan kaki mendekati Robi.

“Aku tau masalalumu, kedua orangtuamu berpisah dan ayahmu pergi meninggalkan kalian. Sejak saat itulah kau mengenal jalanan beserta kekerasannya. Terlebih lagi ada satu alasan penting, wanita itu meninggalkanmu tepat disaat ayahmu pergi bukan? Hah, dasar wanita murahan yang dengan secepat itu bisa pindah pilihan sesukanya. Kau tau, wanita seperti itulah yang membuatku seperti ini, sekarang bagiku wanita itu tak lebih dari barang sekali pakai lalu hilang”, jelas Key panjang lebar.

“Wanita itu memang racun yang sangat manis, dia bisa memainkan hidup orang sesuka mereka lalu pergi. Dan saat seperti ini, orang seperti kitalah yang disalahkan mereka. Dan kenyataannya, merekalah yang membuat kita seperti ini. Kau tau, wanita yang meninggalkanmu juga seperti itu bukan?”, tanya Key sembari membungkukkan tubuhnya di atas Robi.
“Diam!!”, “Bruukk!”, teriak Robi sambil mendorong Key.
“Bruk!” Mereka terjatuh.
Robi menghantam wajah Key terus menerus. Key mencoba melawan dan mendorong Robi hingga dia terbalik.

“Kenyataannya seperti itu kan?”, teriak Key sembari menarik tubuh Robi.
“Kau tau, aku tidak sepertimu”, ucap Robi mantap.
“Bruk! Bugg!”, mereka kembali mengadu pukulan.
“Kau tau, kau masih beruntung punya keluarga, setidaknya ada ibu dan adikmu, sejujurnya aku iri denganmu, bahkan kedua orangtuaku sudah tidak ada”, cerita Key singkat.

“Kau tau, kau benar tentang satu hal. Aku menginginkan kematian, aku menginginkannya karena aku merasa tidak berguna di depan semua orang, bahkan tidak ada satu orangpun yang mau menatapku. Kau tau, aku selalu ingin mati. Jadi, ayo kita lakukan dengan benar”, ucap Robi sembari berdiri.
“Akhirnya kau mengakuinya juga, ayo kita lakukan bersama”, tanggap Key dengan senyumnya.

Merekapun mengadu semua tenaga mereka hingga keduanya terjatuh dan lemas. Key menatap langit di atasnya. “Huff, ternyata semua rasa lelah itu hanya setitik dari langit biru. Apa seperti inikah rasa saat kematian itu mendekat? Seakan semuanya terbuang percuma. Setidaknya aku bisa menyusul kedua orangtuaku di sana”, ucap Key lirih.
“Kau salah, harusnya aku yang mati. Aku yakin tidak akan ada yang menyesali kematianku, termasuk wanita itu. Jadi, bunuhlah aku sekarang selagi bisa”, ucap Robi menyerah.
“Jadi kau menyerah, bocah?”, ejek Key.
“Aku tidak tau, hanya saja aku tidak bisa bergerak”, ucap Robi.
“Kau kuat, aku mengakuimu, seandainya nanti aku kehabisan darah dan mati, semua ini jadi milikmu”, puji Key.
“Kau tau, aku tidak butuh semua milikmu, aku bisa melakukan semuanya sendirian, tapi mungkin saat kau kehabisan darah, akupun juga sama, dan kau tau apa artinya?”, tanya Robi seraya menatap Key dari tempatnya berbaring.
“Tidak ada satupun yang menang bukan?”
“Tepat”

“Aku masih punya sedikit tenaga untuk memukul wajahmu, jadi pasti akulah yang menang”
“Aku juga masih punya sedikit, ayo kita lakukan dan liat siapa yang memejamkan mata duluan”, tantang Robi.
“Sebentar, kalau reinkarnasi itu ada, aku ingin jadi kakakmu”, ucap Key seraya tersenyum.
“Kalau kau tidak seperti itu, aku akan senang jadi adikmu”, jawab Robi sembari menyiapkan kepalan tangannya. Mereka siap dengan keadaan mereka sekarang. Layaknya hitungan mundur yang otomatis berjalan, mereka mengambil ancang-ancang dan “Bug!!!”.

“Kau siap bocah?”
“Kapanpun kau siap orangtua”
“Terakhir kali kita bertarung kita pingsan bersamaan dan berada dalam satu kamar di rumah sakit, apa kau sudah berterima kasih pada orang yang membawa kita ke sana?”
“Tidak, aku mencarinya lalu menghajarnya hingga dia pingsan lalu kukirim dia ke rumah sakit yang sama”, ucap Robi santai.
“Kau masih sama”, ucap Key dengan senyumnya.
“Harusnya dia membiarkanku mati biar aku tidak repot-repot menghajarmu lagi”
“Haha, kau masih bisa sesumbar? Ayo kita lakukan sekarang dan buktikan siapa yang mati duluan dialah yang menang”
“Okey, tapi peraturannya masih sama, tidak ada yang boleh mengalah seperti banci”
“Yap, Ayo kita mulai”, ucap Key mantap.

Mereka bersiap.
“Bruk!!!”

Cerpen Karangan: Wahyu Danarga
Facebook: facebook.com/ergayosa
Wahyu Danarga
Pujangga Yang Terkurung Dalam Kamar Kosnya

Cerpen Pemburu Kematian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


First Love

Oleh:
Aku adaalah seorang mahasisiwi semester pertama dari salah satu Universitas yang ada di Indonesia. Aku adalah anak yang dibesarkan di keluarga yang sangat disiplin, ayah dan ibuku sangat extra

Skate Love

Oleh:
Aku suka suara itu. Menenangkan rasanya. Aku suka saat benda kecil berbentuk lingkaran itu bergesekan dengan aspal. Melintas dengan lihai di antara padatnya ibu Kota. Aku suka saat papan

The Stranger (Part 1)

Oleh:
Kamis, 08 Oktober 1998 adalah hari dimana anak tertampan dari kedua orangtuaku dilahirkan. Ya, itu aku. Kenapa disebut tertampan? karena aku adalah anak laki-laki satu-satunya. Aku terlahir di Kalianda,

Ternyata Dia

Oleh:
“Huh. Hampir saja aku telat.” Sambil terengah-engah aku masuk kelas dan duduk di bangku yang biasa aku tempatin, hari sabtu, jam pertama adalah pelajaran Biologi, Bu Lia guru pengampunya,

Hello Mossi

Oleh:
Selamat pagi dunia. Hari ini adalah hari pertama aku sekolah di SMA Cahaya Abadi. Dimana sekolah ini adalah salah satu sekolah bagus se Jogjakarta. Aku senang bisa sekolah lagi,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *