Pemimpin Yang Baik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 March 2016

“Teman-teman, ayo kita latihan pramuka.” Ucap Luna.
“Sebentar Luna… Kami lagi bermain.” Ucap Bahar mewakili teman yang lain.
“10 Menit saja ya.” Ucap Luna lembut.
“Siap bos.”

Luna adalah ketua pramuka, ketua kelas, ketua kelompok drama, dan lain-lain. Luna adalah anak yang sabar dan lembut. Ia juga mempunyai ide yang beragam dan fantastis. Luna juga selalu bisa diandalkan, wajahnya yang putih bersih, hidungnya yang mancung, posturnya yang ramping dan tinggi membuat teman-teman mengaguminya. Banyak yang menyimpan rasa padanya. Tapi, ia tak pernah sombong dan selalu baik hati.

“Luna… lihat Ridho dia menggangguku.” Ucap Lidya.
“Aduh.. Ridho temanku yang baik, kenapa lagi toh?” Tanya Luna.
“Dia tak mau meminjamkan penghapus untukku, jadi aku kesal deh.”
“Tapi, kata Ibuku tidak boleh Ridho!!!” Lidya mulai kesal.
“Sudah sudah, Ridho, Lidya ayo minta maaf. Kan masalah kecil saja kok dibesar-besarkan.” Luna menengahi mereka berdua. “Ihh.. okelah Lidya aku minta maaf.”
“Aku juga,”
“Nah gitu dong akur, sekarang ayo kita latihan. Minggu depan kan kita ambil nilai yel-yel.”
“I’m coming.” Teriak Bahar ngos-ngosan.
“Me too.” Sambung Diego.

Semua dengan serius memperhatikan Luna, lalu mereka mulai latihan. Begitulah, jika latihan dengan Luna semua akan diam dan teratur. Menurut mereka, Luna adalah sosok yang sabar. Walaupun jika mereka nakal.

“Teman-temanku sekalian mari kita rapat.” Teriak Luna dengan kencang.
Semua langsung berkumpul. Rafiq, sang ketua kelas menutup pintu.
“Begini, sebentar lagi pentas seni. Kita harus menghias kelas kita karena mading kita kosong dirusak oleh Pria.”
“Hehehe.. maaf.” Ucap Pria.
“Hmm… Luna bagaimana kalau kita mengisi daftar pelajaran, daftar piket, dan pengurus kelas dengan tulisanku.” Ucap Ayu.
“Boleh juga tuh. Khusus kelas kita di mading sebelah kanan, kalau kiri bebas.”

“Aku punya ide nih. Gimana kalau kita buat karton besar warna hijau, isinya adalah foto-foto kita satu kelas. Gimana Luna?” Usul Bahar.
“Ya ide yang bagus Bahar. Aku sudah punya kertasnya nih.” Ucap Luna menyodorkan kertas besar.
“Biar aku saja yang memegangnya Luna.” Jerit Chacha.
“Iya Chacha yang cantik. Tapi jangan menjerit-jerit.”
“Hehehe… iya deh.”

“Luna.. lihat Afgan memukulku.. hiks… sakit banget.” Isak Zahra yang sedari tadi sibuk dengan Afgan.
“Astafigrullah, Zahra mukamu pucat dan tanganmu lebam. Hugh.. Afgan apa yang terjadi?”
“Zahra itu merobek buku gambar kesayanganku. Aku kesal sekali padanya.” Ucap Afgan kesal sambil menatap sinis Zahra. “Ta… ta… pi.. kann… aku.. ga.. gak… sengaja.. hiks aduh..”
“Sudahlah Rafiq cepat ambilkan kursi roda!!! Afgan kamu harus meminta maaf pada Zahra.”
“Siap bos.” Ucap Rafiq sambil berlari.
“Hugh, ihh males amat.. ya sudah Aku minta maaf Zahra yang jelek.” Afgan membanting pintu.
“Aduh… ya sudah rapat selesai. Besok kita lanjutkan teman.”

“Ini kursi rodanya Luna.”
Zahra duduk di kursi roda sambil meringis dan menangis kesakitan.
Rafiq perlahan mendorongnya menuju lift darurat.
“Zahra kamu kenapa? Luna dan Rafiq bisa kamu jelaskan?” Tanya guru yang berada di UKS.
“Begini bu… bla. bla.. bla.” Rafiq dan Luna menceritakan panjang lebar.
“Kalau begitu tolong panggil Afgan dan suruh dia ke sini.”
“Siap Bu.” Akhrinya, kasus Afgan dan Zahra sudah selesai.

“Teman-teman, hari ini kita rapat lagi. Apakah rencana kita yang kemarin sudah selesai?”
“Sudah.” Jerit Chacha.
“Huss… Chacha kamu ini.” Ucap Rafiq.
“Maaf lagi.” Ucap Chacha.
“Sudah kok Luna, ini semua sudah ku siapkan.” Ucap Ayu.
“Bagus sekali, Farah tolong bantu aku menempelkan semua ini. Rafiq kamu sebagai wakil ketua kelas menggantikanku di rapat ini.”
“Siap Luna..” Ucap Rafiq.

“Ada yang mempunyai ide untuk mading sebelah kiri?” Tanya Rafiq.
“Hmm… aha aku punya ide. Kan kelas kita bermayoritas Islam semua, jadi mading sebelah kiri kita isi semua hal yang berhubungan dengan agama Islam bagaimana?” Usul Lidya.
“Wah.. idemu bagus sekali Lidya, aku setuju kita tunggu persetujuan Luna.”
“Bagaimana sudah dapat ide belum, teman-teman?” Tanya Luna.
“Sudah nih.” Ucap Rafiq. Teman-teman Luna menceritakan ide Lidya. Luna pun mengangguk setuju dan senang.
“Kalian mempunyai ide yang bagus. Kalian mempunyai kreatifitas yang tinggi.” Puji Luna.
“Kamu juga Luna, kamu adalah pemimpin yang baik dan sabar.” Puji Ayu, begitu pula dengan yang lain.

TAMAT

Cerpen Karangan: Tita Larasati Tjoa
Facebook: Tita Larasati

Cerpen Pemimpin Yang Baik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terbang

Oleh:
Apa yang seharusnya aku lakukan? Aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Rasanya aku sudah tidak kuat lagi menerima tekanan ini. Ini begitu berat, berat sekali. Bahkan sepertinya

Ospek

Oleh:
Pagi itu begitu cerah, semua mahasiswa baru degdegan menunggu acara orientasi dimulai, begitu pula salah satu calon mahasiswa yang satu ini dia adalah Arli, hari itu dia begitu gelisah

Ruang Kehampaan

Oleh:
Hidup bagai ruangan yang hampa. Tanpa seseorang yang kita sayang. Hidup bagai ruangan yang hampa. Penuh tekanan, kekangan, paksaan. Selasa pagi, gerimis masih saja datang dan terpaksa aku harus

Pembelajaran Cinta

Oleh:
Namaku Alicia Cantika tapi biasa dipanggil Ica, karena mayoritas kata orang aku ini imut-imut gitu. Selain itu, aku punya 2 sahabat yang sangat dekat denganku. Namanya Salsa dan Rani,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *