Penggila Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 11 April 2017

Kesalahan terbodoh yang pernah kutemui, ialah kita melihat sebuah realita, dan kita tidak memercayainya.

Namanya, Ana. Sahabatku sejak kelas dua SMP. Dia satu-satunya orang yang bisa mengerti apa yang aku katakan. Terlihat konyol, tapi itulah faktanya, nyatanya tidak ada orang yang mengerti jalan pikiranku, mereka -orang orang itu akan menertawakanku ketika aku berpikir dua arah, satu sebagai diriku dan satu sebagai realita kehidupan.

Bukan, aku bukan gadis dengan dua sisi berbeda, bukan pula gadis yang jenius atau pun bodoh, juga bukan gadis culun sebagai bahan bullying. Aku hanya gadis yang mempersulit hidupku, setidaknya itulah kata mereka. Dan faktanya, bukan mereka yang menjauhiku, tapi aku yang menjauhinya. Kurasa aku tak nyaman berdekatan dengan orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri, memaksakan realita, dan apakah sesimple itu hidup?

Kali ini aku sependapat dengan mereka, aku adalah gadis yang suka mempersulit hidupku. Karena aku tidak bisa membutakan mataku ketika melihat keterpurukan di depan mataku, Aku tidak bisa menulikan telingaku saat mendengar jeritan mereka yang susah, Aku pula tidak bisa menutup hatiku supaya memaksakan realita sesuai apa yang kuinginkan.
Aku, hanya seseorang yang mempersulit hidupku, benar sekali. Karena aku tidak ingin rugi, aku selalu ingin mengambil 1000 hikmah dari satu pengalamanku.

Hari ini, jam setengah sebelas siang, guruku tidak memasuki kelas, sesuai realita, semua dalam kelas sangat ribut, ada yang main laptop, ada yang main, kejar-kejaran, ngegosip dan mengganggu teman-teman. Tidak, tidak ada si kutu buku yang membaca di atas kursi dengan kacamata bulatnya seperti di film atau di novel-novel.

Aku, aku sendiri sedang berdiskusi, bukan berdiskusi tentang pelajaran. Meskipun aku ambisius untuk mendapat nilai bagus, tapi aku tau realita seorang murid ketika jam kosong, dan aku tidak bisa membohongi itu. Topik yang dibahas adalah antara persahabatan, logika, hati dan realita.

“Sahabat perempuan tuh ya kalau ditanya pilih pacar atau sahabat pasti jawabnya pilih sahabat” kata Ana
“Iya lah, namanya di depan sahabatnya”
“Tapi kalau boleh jujur, cewek itu lebih cerita secara keseluruhan ke cowok, iya gak sih? Kalau cewek cerita ke cewek itu kayak ada yang ditahan”
Yup, aku setuju.
“Tapi kalau cewek bilang pilih cowoknya di depan sahabat itu bakal nyakitin hati sahabatnya” ucapku
“Padahal faktanya mereka gak cocok sama pilihan mereka”

Tiba-tiba Kama datang, dia temanku, suka berkata bijak pula sih, dalam hatiku lumayan kalau ikut debat entar aku bisa nambah temen yang ngerti selain Ana.
“Kalau aku sih pilih sahabat, soalnya pacar belum tentu jodoh kita nanti” sip, Kama berkata tepat.

Tapi selama setengah jam berdiskusi, aku tidak puas, karena Kama terlalu yakin sama keyakinannya sedangkan maksudku dan Irfani tidak seperti itu. Maksudku yaitu secara logika memang seharusnya kita milih sahabat, tapi cobalah lihat realita, buat yang udah punya pacar atau punya temen cowok, iya gak sih cewek gak bakal nutupin apapun dari cowok? sedangkan jika sama sahabatnya, masalah yang diketahui sahabatnya itu gak secara keseluruhan.

Aku tersenyum kepada Ana, “sudahlah gak usah maksain buat nambah temen yang seperti kita, kita itu aneh” Ana hanya cengengesan.
Faktanya, banyak orang yang tidak memercayai realita, dengan alasan hati ataupun logika, meskipun realita ada di depan mata.

Cerpen Karangan: Aulia Taureza
Facebook: Ataureza Aulia
kunjungi wattpadku ya @staronee

Cerpen Penggila Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Misteri

Oleh:
Serentak ku terarah pada pandangannya. Wajahnya yang oval dan kulitnya yang sawo matang, menjadi pendukung suasana. Mungkin tak ada alasan bagiku untuk menolaknya, seorang kapten tim basket yang menjadi

Mengagumi Dalam Diam

Oleh:
“Itu orang yang kusuka, Rin” “Yang mana sih?” “Itu loh, di kursi nomor tiga pakai jaket biru tua” “Adek kelas?!” “Iya emang adek kelas, kan gue udah bilang” “Kirain

Happy Ending

Oleh:
“kamu mau kemana, flo?” tanya sarah saat didalam kelas. “aku mau ke perpus bentar cari buku.” “iya aku tau kamu pasti cari buku. Mangnya buku apa..” “hehe.. sejarah.” Jawabnya

He

Oleh:
Pagi ini aku menatap ke luar jendela, butir-butir salju membuat pagi ini terasa dingin sangat dingin. “Syna, jangan melamun!” Tegur Sir Sam guru matematika di sekolahku. Aku tidak menghiraukan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *