Perasaan Palsu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 November 2017

Manusia memang terkadang tidak bisa menafsirkan perasaan yang mereka rasakan baik disadari maupun tidak. Terkadang mereka bingung dengan perasaan yang berubah-ubah atau labil, dari perasaan benci dan kecewa berubah menjadi kekagumandan rasa suka. Seperti yang aku rasakan sekarang. Namun benarkah ini adalah sebuah kekaguman?

Ku berjalan di sepanjang koridor sekolah. Lagi-lagi cowok satu itu muncul di hadapanku. Bakri namanya. Ya maklumlah kami sekelas dan akhir-akhir ini aku berada dalam kelompok yang sama dengannya. Dia menghampiriku, kukira dia mau menanyakan tugas kami, tapi ternyata dia berkata, “Far, nanti tugas laporan kita kamu tambahkan foto-fotonya ya, oiya sumbernya jangan lupa dicopy, oke? Untungnya tadi aku dapat ide pas di kantin kalau nanti sore kita mulai penelitiannya, biar cepet selesai gitu. Ya udah deh aku duluan ya,” dia pun berlalu meninggalkanku setelah kujawab permintaannya dan mungkin dia tidak mendengarku. Itulah yang aku tidak suka dengan cowok seperti dia. Terlalu perfectsionist dalam segala hal, sehingga lebih terkesan memaksakan kehendak.

Bel sekolah pun berbunyi, sahabatku Syarifa menghampiriku dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. Dia memang cewek paling PD di kelasku. “Rin, pulang bareng yuk, kayaknya Abiku nggak jemput deh,” kata Syarifa sambil menggandeng erat tanganku. “Hmm.. boleh,” aku menjawabnya dengan singkat karena pikiranku tidak tertuju padanya melainkan pada tugas kelompok yang baru saja aku berikan pada Bakri. Entah mengapa aku takut pekerjaanku tidak sempurna. Aku pun terdiam di sepanjang perjalanan pulang. Sepeda yang kukayuh pun melambat setelah aku mengantar Syarifa pulang. Setelah berpikir beberapa saat aku pun memutuskan untuk melupakan tugas kelompok itu dan membiarkannya terkoreksi dengan benar oleh Bakri.

“Assalamu’alaikum, Farin pulang Mah,” ucapku dengan senang tatkala memasuki rumah karena ku mencium aroma bolu kukus kesukaanku. “Wa’alaikum salam eh anak Mamah udah pulang, gimana tadi sekolahnya?” tanya Mamah sambil mencium pipiku. “Yah biasa aja Mah, hmm.. kayaknya Mamah masak sesuatu nih,” candaku mengalihkan pembicaraan Mamah tentang sekolah, aku tidak ingin Mamah tau tantang kegelisahanku. “Ini nih, Mamah buatkan bolu kesukaan Farin,” kata Mamah dengan penuh perhatian. Aku berhasil. Mamah pun tidak membahas tentang sekolah lagi. Akhirnya siang ini kuhabiskan dengan berbincang-bincang bersama Mamah.

Baru kali ini angin berhembus kencang di sore hari. Aku pun mengayuh sepedaku dengan kuat menuju Masjid Darussalam demi mendengarkan pengajian dari Ustadzah Nur. Dan sepertinya tema pekan ini menarik. 30 menit berlalu, aku mulai menyadari kata-kata Ustadzah Nur tadi bahwa janganlah membenci sesuatu berlebihan karena bisa jadi suatu hari kau menyukainya dan janganlah menyukai sesuatu berlebihan karena bisa jadi suatu hari kau membencinya, jadi sukailah atau bencilah sesuatu dengan wajar.

Pagi ini begitu sejuk, membuatku semangat pergi ke sekolah. “Mah, Farin berangkat dulu ya, Assalamu’alaikum,” kataku sambil mencium tangan Mamah. “Iya, Wa’alaikum salam, hati-hati ya Nak,” kata Mamah dengan suara yang lembut dan tentunya sambil memberikan jatah uang saku padaku. 25 menit ku mengayuh sepeda ke sekolah dengan penuh kegembiraan di hatiku karena hari ini tidak ada ulangan harian maupun tugas yang dikumpulkan. Dan hari ini aku memutuskan untuk duduk di belakang. Bel masuk berbunyi, dan sedari tadi Bakri menatapku dengan sinis. Ada apa ini?

Teet… teet… teet.
Akhirnya istirahat juga. Seketika kelas menjadi ramai dengan tawa, namun tiba-tiba suasana berubah. “Hei Farin! Sini deh bentar, lihat laporan kita,” ucap Bakri dengan nada yang keras, sampai-sampai semua anak menengok ke arahku. “Ada apa sama laporan kita?” tanyaku cemas kalau-kalau aku membuat kesalahan di laporan kami. “ini apa? Kok jadinya gini sih? Aku kan udah bilang kasih foto-foto penelitian ke laporan kita bukan foto yang ini. Terus sumbernya kok sedikit? Padahal kan dulu kita cari banyak banget lho,” ujar Bakri dengan seribu pertanyaan ketus hingga membuatku tidak tahu akan menjawab apa. Setelah lama mengomel ia pun membanting laptopnya dan berlalu meninggalkanku. Aku pun terdiam tak percaya dia bisa semarah itu. Setahuku aku sudah menambahkan semua foto penelitian ke laporan kami. Dan berkat sikapnya yang perfectsionist aku merasa sangat bodoh saat bekerja sama dengannya. Akibatnya perasaan benci dan kecewaku pada Bakri justru semakin besar.

Hari berganti hari. Aku sudah melupakan rasa kecewaku dan juga kemarahan Bakri padaku dulu. Entah mengapa aku dan Bakri justru menjadi sangat akrab saat kami beserta lima anak lainnya menjadi satu tim dalam sebuah penelitian di sekolah. Walaupun sekarang aku lebih berhati-hati saat berbicara dengan Bakri. Sejalan dengan hal itu aku pun mulai merasakan ada sesuatu yang aneh, aku tidak lagi memikirkan betapa mengesalkannya Bakri saat dia memarahiku tapi lebih sering memikirkan candaannya. Namun sampai sekarang aku masih menjaga jarak dengan Bakri, bukan karena aku tidak ingin mendapat omelannya tapi karena aku terlalu canggung saat berbicara dengannya.

Tahun pelajaran baru kami semua naik ke kelas XII, namun aku tak sekelas lagi dengan Bakri dan beberapa temanku. Syarifa sahabatku sekelas lagi dengan Bakri. Beberapa bulan berlalu, aku menyadari dia semakin dekat saja dengan Bakri. Begitu pula dengan Bakri yang terlihat riang saat bersamanya. Aku sedih, kecewa, dia sahabatku namun aku belum berani bercerita tentang Bakri padanya. Aku pun memutuskan untuk melupakannya.

Aku tersadar perasaan bahwa perasaan ini ternyata palsu. Ustadzah Nur benar, bahwa janganlah membenci sesuatu berlebihan karena bisa jadi suatu hari kau menyukainya atau sebaliknya. Aku tidak boleh menyukainya berlebihan karena mungkin aku akan merasakan kesedihan ketika kekecewaan itu datang.

Cerpen Karangan: Bintang Ismiarizqi

Cerpen Perasaan Palsu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maaf Karena Aku Terlalu Berharap

Oleh:
Hembusan angin dari jendela membangun kan ciara dari tidur nya. Ara melihat jam di meja belajar, “astagfirullah!!! Sudah jam 6 fix aku kesiangan!!!” Ujar ciara atau biasa dipanggil ara.

Pingsan Karenamu

Oleh:
Nunung yuningsih ialah seorang gadis yang mampu membuat senyuman di wajahku seminggu ini. Ya tuhan! Ada apa denganku baru sekali bertemu dengannya aku sudah seperti ini, untung saja dia

Cintaku Semanis Gulali

Oleh:
Aku berjalan keluar dari kelas bersama Bella. Menuruni tangga lalu berjalan lagi melewati taman sekolah sampai akhirnya keluar dari sekolah. Bukan hari yang buruk tapi hari yang cukup menegangkan,

My Lovely Teacher

Oleh:
“Free download game Zuma, tinggal ngetik itu aja fer.” Jelas Sam padaku. “Woi lo dengerin gue kagak sih? Kok malah ngelamun,” Ucap Sam kesal padaku “Iya-iya gue denger kok,”

Untuk Kakak

Oleh:
Aku dan rana adalah sepasang saudara kembar yang lahir 16 tahun yang lalu. Orangtuaku memberikan nama yang mirip kepada kami berdua yaitu Rana dan Rena. Meskipun kembar tetapi wajahku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *