Perasaan Sahabatku, Hasan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 March 2016

Pukul, 06:30.
“Bangun! Woi, sekolah-sekolah.” Suara Hasan yang mencoba untuk membangunkanku.
“Iya, iya aku bangun.” Suaraku pelan menjawabnya sembari tanganku mengusap-usap mukaku yang basah, karena Hasan membangunkanku bukan hanya dengan suaranya yang keras, namun disertai dengan semprotan air dari botol semprotan yang biasa digunakan untuk memandikan burung.
“Lihat tuh! Jam berapa?” Tunjuknya pada sebuah jam dinding yang ada di tembok kamar kami. Aku terkejut ketika melihat jarum-jarum jam itu berada pada posisi sejajar di angka 6, aku pun bergegas merapikan tempat tidurku kemudian mandi dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah.

Aku dan Hasan bersekolah di salah satu SMA swasta yang mewajibkan semua anak didiknya untuk tinggal di asrama sekolah tersebut, jarak antara asrama dengan gedung sekolah hanya sekitar 300 meter, jadi semua siswa tak ada yang menggunakan kendaraan lain selain kaki mereka sendiri untuk berangkat ke sekolah. Di sekolah kami mempunyai sebuah aturan yang wajib ditaati oleh semua anak didik, yaitu dilarang berhubungan dengan lawan jenis yang belum muhrim dalam bentuk apa pun, baik itu surat menyurat, telepon, apalagi sampai berpacaran.

Alasannya untuk membuat anak didik menjadi lebih fokus pada sekolah dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Makanya, kelas kami dipisah, antara laki-laki dengan perempuan sendiri-sendiri, satu kelas hanya berisi satu jenis. Tapi meskipun aturannya jelas seperti itu, tetap saja ada beberapa siswa yang berani melanggarnya, karena sifat dasar makhluk yang apabila bertemu dengan lawan jenisnya pasti akan ada ketertarikan satu sama lain.

Kami sudah satu tahun setengah bersekolah di SMA tersebut, tepatnya, kami sekarang kelas 2 SMA. Kami bersahabat sejak masuk di SMA tersebut, karena di sekolah kami satu kelas dan di asrama pun juga satu kamar. Hasan adalah anak yang baik, jujur, apa adanya, gigih, serta sifat yang paling menonjol darinya adalah anti jam karet. Darinya aku telah belajar banyak hal, mulai dari cara memandang hidup, cara menghargai orang lain, serta masih banyak hal lain yang telah membuatku menjadi orang yang lebih baik setelah aku mengenalnya. Kami sering saling berbagi cerita tentang kehidupan kami sebelum di asrama dan angan-angan kami di masa depan kelak.

Kami juga biasa berbagi apa pun, mulai dari makanan, alat-alat sekolah, alat-alat mandi, bahkan baju pun terkadang juga. Bagi kami, semua yang kami miliki adalah milik bersama (ciye-ciye, soswet). Ke mana-mana kami juga selalu bersama, berangkat ke sekolah, jalan-jalan ke luar asrama ketika jenuh, bahkan tidur pun juga satu ranjang (ranjang bertingkat), hanya satu yang kami lakukan secara terpisah, yaitu urusan kami masing-masing di kamar mandi. Meskipun hubungan kami terlihat seperti hubungan yang tidak normal, tapi kami tetap normal kok, hubungan kami hanya sebatas sahabat yang sudah seperti saudara, bukan seperti hubungan yang terlarang.

Pukul, 07:00.
“Kriiing.” Bel sekolah telah berbunyi, sementara aku dan Hasan masih dalam perjalanan menuju ke gedung sekolah. Beruntung sekolah kami tidak memakai sistem gerbang seperti sekolah-sekolah pada umumnya, yang ketika bel berbunyi artinya gerbang telah tertutup, dan bagi siswa yang terlambat, akan dikenai hukuman. Tapi meskipun sekolah kami tidak memakai sistem gerbang, tetap saja kami harus bisa tepat waktu. Memang tidak ada hukuman bagi yang terlambat, tapi kalau seperti ini aku sendiri yang jadi susah, karena Hasan benci sekali dengan yang namanya jam karet, jadi, dia pasti ngomel-ngomel nggak karuan sama aku, aku pun jadi merasa bersalah karena tadi aku bangun kesiangan.

Kami pun akhirnya berlari menuju kelas, tapi sayangnya kami telah didahului oleh guru Matematika kami yang telah duduk manis di kursi guru sembari membaca sebuah buku. Kami berpikir mungkin dia tak menyadari kedatangan kami, kami pun langsung masuk begitu saja tanpa ada rasa berdosa. Sayangnya nasib kami tidak beruntung hari ini, Pak Winarto (guru matematika kami yang terkenal killer) ternyata mengetahui kedatangan kami, dan akhirnya kami mendapatkan hukuman, yaitu pus up 50 kali sebelum kami diperbolehkan mengukuti pelajarannya.

“Gara-gara kamu sih, bangunnya kesiangan kita jadi dihukum Pak Win kan.” Bisik Hasan padaku saat kami sudah diperbolehkan duduk oleh Pak Winarto.
“Maaf-maaf, iya aku yang salah.” Aku meminta maaf padanya dengan memasang muka termelasku.
“Kamu tuh ya, jangan pasang muka itu di depanku! Sedih aku melihatnya.”
“Hehehe.” Aku hanya tersenyum melihat ekspresinya ketika dia melihat wajah termelasku. Selama jam pelajaran Pak Winarto, kami semua hanya biasa terdiam dan memperhatikan setiap materi yang di sampaikan olehnya.

Pukul, 12:02.
Lelah dan letih, itulah yang kami rasakan ketika bel sekolah berbunyi untuk yang terakhir kali, tanda kalau jam belajar telah selesai (pulang). Bagaikan ratusan itik yang apabila dibuka pintu kandangnya, semua siswa berhamburan ke luar dari dalam kelas mereka masing-masing, berkerumun antara laki-laki dan perempuan tak ada yang saling bersentuhan, karena mereka semua taat pada peraturan sekolah yang mengharuskan laki-laki dan perempuan untuk bisa menjaga jarak.

Tapi meskipun aturan sekolah sudah jelas-jelas seperti itu, tetap saja ada segelintir siswa yang berani menggoda para siswi yang cantik ketika jauh dari pengawasan para guru. Lorong-lorong sekolah yang menjadi satu-satunya jalan mereka, terlihat penuh dan seperti tak mampu menampung jumlah mereka, tapi meskipun seperti itu, mereka tetap bisa menjaga jarak dengan lawan jenisnya, karena takut akan hukuman bila mereka melanggar aturan yang sudah ditetapkan.

Aku dan Hasan berjalan bersama rombongan anak-anak satu kelas kami, dan saat rombongan kami tiba di persimpangan lorong sekolah, rombongan kami berpapasan dengan rombongan siswi-siswi yang terlihat cantik-cantik. Kami semua tahu kalau rombongan siswi itu se-angkatan dengan kami, karena bet kelas yang ada di lengan baju kanan mereka sama persis dengan bet yang ada di lengan baju kanan kami. Tapi meskipun kami se-angkatan, kami semua tak ada yang saling kenal, karena aturan ketat yang dibuat oleh pihak sekolah membuat kami tak bisa bersosialisasi dengan teman lawan jenis yang se-angkatan dengan kami.

Kami mempersilahkan rombongan siswi itu untuk berjalan duluan, mereka pun paham dengan isyarat yang kami berikan, kemudian mereka berjalan melewati kami. Saat mereka telah berjalan melewati kami, salah satu dari mereka ada yang bukunya jatuh dan berserakan, siswi itu terlihat gugup dan malu ketika merapikan buku-buku pelajaran miliknnya yang berserakan di lantai, mungkin dia malu karena membuat rombongan kami menunggu. Dengan sigap Hasan membantu merapikan buku-buku milik siswi tersebut, karena teman-temannya tak ada yang membantunya dan malah meninggalkannya.

Kami semua hanya bisa diam ketika melihat Hasan dengan berani membantu siswi tersebut tanpa takut akan hukuman yang telah ditetapkan oleh sekolah. Menurutku yang dilakukan Hasan ini memang benar, kerena dia berniat membantu orang lain yang sedang kesusahan, tapi kalau menurut pihak sekolah, perbuatannya ini adalah perbuatan yang salah dan harus mendapatkan hukuman. Beruntung sekali tak ada seorang guru yang melihatnya, dan setelah Hasan selesai membantu siswi tersebut, siswi tersebut langsung berlari mengejar rombongan teman-temannya yang telah jauh meninggalkannya.

Pukul, 20:50.
Suasana malam yang sunyi menjadi pelengkap obrolan malamku dan Hasan sebelum tidur.
“Kamu kok berani sekali tadi siang? Kamu nggak takut kena hukuman?” Tanyaku sembari tiduran di ranjang.
“Kenapa harus takut kalau kita melakukan hal baik.” Jawabnya sembari merapikan bajunya yang baru ia cuci tadi siang. “Iya emang bener sih, tapi kan kalau tadi siang itu ketahuan sama guru, pasti kamu akan dihukum.”
“kalau buat cewek secantik dan se anggun dia mah, dihukum pun nggak masalah buatku.”

“Kamu suka sama dia?” Tanyaku padanya.
“Kelihatannya seperti itu Zal, aku jadi penasaran dengan dia.”
“Terus kamu mau apa?”
“Aku ingin mencari tahu tentang dia, aku ingin tahu, mulai dari nama, tempat tinggal, nomor telepon, pokoknya semuanya tentang dia.” Jelas Hasan padaku.
“Gimana caranya?”
“Maka dari itu, aku minta bantuanmu Zal, plis bantuain aku ya.” Minta Hasan padaku. Aku pun mau tidak mau harus membantunya atas dasar persahabatan.
“Oke deh, kita pikirkan besok saja gimana caranya.”
“Sip Zal, thanks ya, kamu emang temen terbaikku.” Ucap Hasan padaku. Kemudian kami menikmati malam yang indah seperti orang-orang pada umumnya, yaitu tidur.

Keesokan harinya. Pukul, 06:00. Matahari telah menampakkan wajahnya yang terlihat begitu silau, apabila kita menatapnya secara langsung. Hari ini aku dan Hasan telah mempersiapkan rencana untuk hal yang kami bahas semalam. Aku terpikir sebuah cara untuk bisa mendapatkan informasi tentang siswi yang ditolongnya kemarin, cara yang terpikir olehku yaitu, sebelum kelas dimulai, kami akan menyusup ke dalam kelas siswi tersebut, kemudian mencari tahu informasi namanya lewat absensi kelas yang biasanya ada di meja guru. Kami pun berangkat lebih awal dari biasanya, kami langsung menuju kelas siswi tersebut, dan saat kami sampai di depan kelas siswi tersebut, kami tanpa rasa ragu langsung masuk begitu saja dan menyusuri setiap sudut kelas.

Hasan mencari bangku tempat siswi itu duduk, sementara aku mencari buku absensi kelas. Aku menemukan buku absensi kelas yang ku cari, ternyata ada di dalam almari, perlahan ku buka absensi yang ku temukan, dan setelah ku lihat, ternyata di dalamnya hanya berisi data yang mencakup nama, nomor absen, dan daftar hadir siswa. Dalam batinku, “Ini ide konyol, mana bisa ku tahu dia siapa, cuma ada nama tanpa foto atau petunjuk lain yang bisa membantu.” aku pun memanggil Hasan yang masih sibuk mencari tempat duduk siswi tersebut, kemudian dia datang menghampiriku, dan ku tunjukkan apa yang aku temukan.

Saat ini kami merasa seperti dua orang detektif yang konyol dalam menjalankan misinya. Saat kami tengah merenungi kegagalan kami, tiba-tiba beberapa siswi penghuni kelas tersebut masuk ke dalam kelas. Sontak mereka kaget ketika melihat kami, dan mereka pun berteriak. Teriakan mereka membuatku kesal, bukan karena teriakan mereka menyakiti telingaku, tapi karena teriakan mereka menyinggung perasaanku, soalnya mereka berteriak, “Maling-maling-maling, tolong ada maling.” udah gitu dengan suara yang tidak pelan. Kami pun langsung berlari ke luar kelas dan menuju kelas kami sendiri. Beruntung belum ada guru yang datang, jadi kami bisa tenang.

Pukul, 20:45.
“Ide kamu konyol Zal, sia-sia kan usaha kita jadinya.” Kata Hasan padaku.
“Maaf San, pikirku cara ini akan berhasil.” Jawabku.
“Nyatanya nggak kan?” Hasan terlihat kesal.
“Udahlah, mendingan kita pikirkan jalan lain aja, daripada berdebat gini.”
“Ok deh, hmm… kamu punya ide lagi nggak Zal?”
“Hm… ada-ada.”
“Gimana?”
“Ajak kenalan langsung aja.”

“Caranya?”
“Pake tanya lagi… ya kamu tinggal samperin dia, terus ulurkan tangan kamu dan sebutin nama kamu, kemudian tanyain nama dia siapa, gitu.” Jelasku panjang lebar.
“Kamu sedikit pintar ya.” Puji Hasan.
“Siapa dulu… eh, tapi kok cuma sedikit.”
“Soalnya, kebanyakan begonya… kan kamu tahu sendiri dengan aturan yang ada di sekolah kita.”
“O iya-ya, maaf, aku lupa.”

“Terus, ada cara lain nggak? Yang lebih masuk akal gitu.” Tanya Hasan.
“Hehehe, enggak.” Jawabku sambil tertawa.
“Hufft.” Hasan menghela napas sembari mengusap-usap kepalanya, dan itu biasanya, menandakan kalau seseorang sedang kecewa. Kami pun berpikir keras malam ini, sampai kami berdua tanpa sadar telah terbawa ke alam indah, yaitu alam mimpi.

Bersambung

Cerpen Karangan: Safrizal Annur Huda
Blog: kata2bijaksafriz4l.blogspot.com

Cerpen Perasaan Sahabatku, Hasan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Antara Nada Nada dan Spektrum Warna

Oleh:
Gelap. Hitam pekat. Tiada warna, tiada cahaya. Itulah pemandangan yang selalu menemaniku di setiap hari. Memang tidak mudah terlahir sebagai tuna netra, terbiasa dengan kegelapan yang mencekam, tanpa celah

Wanted: A Boy Friend

Oleh:
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.00, terlihat dari kejauhan Pak Jajang, satpam SMK Sakti Kencana mulai menutup pintu gerbang sekolah. Semakin cepat kukayuh sepeda lipat yang baru dibelikan ayahku

Moment of 3 Years

Oleh:
Nama saya Ikbal Fahmi, biasa dipanggil ikbal. 2 tahun yang lalu dimana kita sama-sama mendapatkan kelas baru, teman baru, sahabat baru, dan spesial yang baru. 2 tahun yang lalu

Aku, Kamu, Kita

Oleh:
Aku gadis berusia 15 tahun. Sebut saja namaku YASMIN. Bahagia, senang dan gembira. Tiga kata itulah yang menggambarkan perasaanku saat ini. Aku sangat bersyukur atas nikmat yang telah Allah

Steps to Get Your Heart (Part 1)

Oleh:
Soni POV Cuek Jutek Dingin Apalagi yang harus aku jabarkan tentang dia. Sudah cuek, jutek, dingin pula. Tapi entah kenapa aku menyukainya, yaaa… Menyukainya, antara lelaki dan perempuan? Seperti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *