Perbedaan Bukan Halangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 May 2016

Ceritaku bermulai saat aku merasakan jatuh cinta kepada orang yang pertama kali aku kenal, itu terjadi ketika aku masih SMP kelas 9, dan kenal hanya melalui chat media sosial saja. Aku membuka sosial media tersebut dan keadaanku saat itu sedang santai, aku berkata dalam hati. “Ahh… bosan banget nih, iseng ngajak chat orang aja kali ya?” Ada cewek yang membuat status galau, langsung aku comment dan akhirnya chattingan. Chat pun berlangsung dengan ala kadarnya, setelah berkenalan dan dia bernama Sherly.

“Hai, boleh kenalan gak?” kataku.
Dia membalas, “Hmm… boleh kok.”
“Nama gue Yanu, sekolah di SMP 48 kelas 9.” balasanku.
“Gue Tamara sekolah di SMP 40 kelas 9 juga,” balasnya.
Setelah tahu dia anak SMP 40 ku berkata dalam hati, “Wah… anak 40 nih, gak begitu jauh lagi dari 48.” Chat pun berlanjut, kali ini aku langsung menggunakan bahasa sopan. “Kamu lagi ngapain?” balasku. Sherly sama sekali tidak merasa aneh ketika aku bertanya seperti itu, dia membalas.
“Aku lagi santai aja nih… liburan gak ke mana-mana.” langsung ku balas.
“Oh gitu, apa aku ganggu?”
“Enggak kok, sama sekali gak ganggu. Malah enak ada yang nemenin chat, jadi gak begitu bete.” Balasnya.

Waktu pun beranjak siang, dan chat kami hanya berisi saling bertanya-tanya tentang sekolah dan teman yang dikenalku di sekolahnya. Adzan Zuhur berkumandang dan aku langsung chat bahwa aku ingin salat dulu, “Ehh iya… udah zuhur, aku salat dulu ya.. kamu salat juga!” chatku kepadanya.
“Hahaha, aku gak salat,” balasnya.
“Loh ko gak salat? emangnya kenapa?” balasku heran.
“Aku beda agama sama kamu, Aku Kristen… maaf ya tadi aku gak bilang sebelumnya,” balasnya.
Aku pun merasa tidak enak dan malu, “Aduh maaf ya, aku gak tahu.. jadi gak enak nih,” balasku.
“Hmm gak apa-apa kok, ya udah kamu salat dulu terus jangan lupa makan.. kalau udah semua baru chat aku lagi.” balasnya.

Hari berlalu dan semakin lama aku merasa dekat dan nyaman jika chatting dengan Sherly. Aku menembak dia untuk ku jadikan pacar, walupun hanya lewat chatting. Maklumlah anak SMP hehe, padahal sih sama orangtua gak boleh pacaran, tapi yang namanya penasaran. Kalau kata anak muda zaman sekarang, “Gas terus!” Kami pun jadian, sebagaimana orang pacaran pada umumnya, melainkan kita hanya lewat chatting saja. Perhatian, saling pengertian, dan selalu positif thinking. Hubungan ini kami jalani, terkadang lewat sms atau jika sedang tidak ada orangtua di rumah, kita bisa teleponan.

Hingga suatu saat kita memutuskan untuk bertemu, dan hal itu Sherly yang memutuskan. “Masa kita udah pacaran 1 bulan lebih belum pernah ketemuan yang.” katanya via telepon pada waktu itu, “Iya deh aku usahain, nanti aku ke rumah kamu ya sayang.”
“Ih… sayang, nantinya tuh kapan? besok aku di rumah cuma sama kakak aku doang nih, mamih sama papih aku lagi ke luar kota.” jawabnya.
“Emang rumah kamu di mana sih? besok kasih tahu aku alamatnya sama kasih tahu aku jalannya.” sahutku.
“Ok deh, gak jauh kok.. gak sejauh jakarta-surabaya hahahaha.” katanya.

“Ya iyalah, kalau sejauh itu? kecil kemungkinannya buat aku nemuin kamu sayang, ada-ada aja nih kamu,” jawabku.
“Ya udah ya yang, udah malem… besok lagi teleponannya. aku mau bobo dulu, night sayang,” katanya.
“Iya… Night too yang.” jawabku.
“Ehh iya aku lupa, besok jadi kan ketemuan?” sahutnya lagi.
Aku jawab, “Iya sayang jadi kok, tapi aku gak janji ya… takut gak bisa nepatin..”
“Hmm… ya udah deh, pokoknya aku tunggu besok. Bodoh amat, good night My Dear.” Jawabnya sambil menutup telepon.

Aku kebingungan, harus bagaimana. aku bulatkan tekad untuk bertemu dengannya. “Kebetulan juga besok hari Sabtu, sekolah juga libur.. okelah kalau gitu.” Aku meyakinkan diriku sendiri, keesokan paginya seperti biasa Sherly sms. “Woy… kebo bangun!!! udah pagi tahu, jangan lupa salat subuh,” pesannya.
“Iya sayang, gak bakalan lupa kok..” balasku.
Sekitar jam 7 Sherly meneleponku, langsung ku angkat dan dia bertanya.

“Gimana yang, jadi kan ke sini? aku udah masak loh..”
“Hmm iya sayang, jadi kok lagi siap-siap nih. Oh iya alamatnya bener gak tuh? entar aku salah nemuin orang,” sahutku.
“Ya enggak lah, kalau misalnya salah… kamunya yang nyasar berarti,” jawabnya.
“Ya udah, aku udah mau jalan nih… tunggu ya sayang,” kataku.
“Iya sayangku, hati-hati ya.” sahutnya dan menutup telepon.

Aku pun bersiap-siap berangkat, dengan motor Yamaha Vixion milik Ayahku yang hari ini tidak dipakai karena sedang libur, karena postur tubuhku tinggi aku bisa mengendarai motor yang menurutku lumayan berat ini. Aku izin ke Ayahku ingin main Futsal, padahal buat ngapel sama cewek. Saat aku menyalakan motor aku berkata dalam hati, “Maaf Ayah, aku berbohong padamu.” Aku pun melaju menuju alamat yang Sherly berikan padaku, setelah sampai di depan jalan sebuah komplek perumahan. Aku pun berhenti menepikan motorku dan menelepon Sherly.

“Halo sayang, aku udah di jalan depan komplek kamu nih… rumah kamu yang mana?” kataku.
“Rumah aku masih masuk lagi sedikit, patokannya ada indomart terus kamu belok ke kiri. Jalan lagi sedikit, rumah aku di kiri jalan nomor 22 gerbang hitam,” sahutnya.
“Oke deh yang, bentar lagi sampe kok.” aku menutup teleponku dan kembali melanjutkan perjalanan.
Setelah sampai di depan rumahnya, aku kembali meneleponnya.

“Sayang, aku udah ada di depan gerbang rumah kamu. Keluar dong.” Kataku sedikit gak sabaran.
“Oke sayang, tunggu ya..” sahutnya dan menutup telepon.
Setelah aku menunggu ia pun membuka gerbangnya dan dengan sedikit senyuman dia memanggil namaku.
“Yanu… kamu beneran Yanu?” katanya sambil melihatku.
“Iyalah beneran, kamu Sherly kan?” kataku.
“Iya aku Sherly, aku seneng banget akhirnya kita bisa ketemu.” sahutnya kegirangan.
“Iya sayang, ternyata kamu pendek ya. Cuma sepundak aku hahahaha,” kataku dengan sedikit bergurau.
“Iihh kamu mah, mentang-mentang tinggi..” sambil memukul pelan dadaku.

Setelah sedikit berbincang-bincang di luar akhirnya aku di persilahkan masuk ke dalam rumahnya Sherly, di situ aku baru bertemu dan berkenalan dengan kakaknya saja karena orangtua Sherly sedang ke luar kota. Kami pun bercanda, tertawa bersama, menceritakan masa kecil kami, tak lupa juga kami belajar bersama karena kami sudah kelas 9. Hari itu tak pernah terlupakan olehku sampai saat ini. Dan akhirnya kita selalu ngedate tiap weekend, entah itu jalan-jalan atau nonton, sekedar makan siang bersama, tapi yang jelas walaupun kita berbeda agama kita tetap saling menghargai dan menghormati, terkadang aku juga mengantar dan menjemputnya di gereja tempat dia beribadah.

Tamat

Cerpen Karangan: Muhamad YanuIrza Pratama
Facebook: Yanu Irza

Cerpen Perbedaan Bukan Halangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rahasia Lusil (Part 2)

Oleh:
Sampai di rumah sakit, lusil masuk ke ruang rawat neneknya, ternyata keadaan neneknya baik-baik saja hanya terluka di bagian kanan dahinya. “Nenek baik-baik saja kan?” neneknya hanya tersenyum pada

Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki

Oleh:
Namaku Raina. Aku baru menduduki bangku SMa di sebuah sekolah yang terbilang favorit. Aku termasuk orang yang sederhana dan pendiam. Ya, begitulah yang kebanyakan teman-temanku bilang mengenai diriku. Saat

Birthday Horror

Oleh:
Pagi hari yang cerah dengan terik panas matahari gadis berambut panjang sebahu dengan nama Elena melangkahkan kakinya menuju kelas. Hari ini adalah hari ulang tahun teman-temannya tidak mengucapkan selamat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *