Pergi Tanpa kembali

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 June 2016

Aku masih menatap nanar langit-langit kamar memikirkan apa yang selama ini terjadi, hal-hal yang tak bisa dihindari dan direncanakan terjadi tanpa permisi membuat hati ini lelah dan mata dengan indahnya menutup membuatku terlelap tidur.

“Dara cepetan!”
“Iya Ma bentar lagi!”

Entah apa yang membuatku jadi begini, baru kali ini aku bangun kesiangan, ditambah lagi omelan mama yang nggak ada habisnya-habisnya. Aku masuk mobil dengan muka masam. Aku lihat jalanan tak begitu ramai tidak seperti otakku yang selalu ramai dengan hal-hal yang tidak penting membuatnya ruwet seruwet benang kusut. Jarak dari rumah ke sekolah hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Di depan gerbang sudah berdiri Aulia –sahabatku yang menungguku.

“Lo lama banget sih! Hampir telat nih,” omelnya karena terlalu lama menunggu. Aku hanya senyum-senyum saja melihat raut wajah temanku yang satu ini. Akupun berpamitan dengan mama dan menuju kelas bersama Aulia. Aku anak kelas XI ipa 1 sedangkan Aulia berada di kelas XI ipa 2, meskipun kami berada di kelas yang berbeda bukan berarti kami tidak berteman baik.

“Entar istirahat ikut gue ke perpus yuk!” ajakku, Aulia melirikku dengan tatapan aneh.
“Kenapa?” tanyanya bingung. “Tumben amat lo mau ke perpus? Mau ngecengin Kak Oka ya? Ayo ngaku! Hahaha,” jawabnya dengan nada ngeledek.
“Kepo deh! Pokoknya ikut aja, bye,” aku pun meninggalkan Aulia berlari menuju kelasku.

Pelajaran pertama selesai dan masuk pelajaran kedua pelajaran bahasa inggris, banyak yang tidak suka dengan pelajaran ini, bukan karena pelajarannya yang susah tapi karena gurunya. Dari wajahnya saja siapa pun yang melihat sudah tahu bagaimana sifatnya. Semua tegang saat Mr. Pai datang dan duduk di kursinya, beberapa detik setelah ia selesai merapikan buku-buku di atas meja, tiba-tiba Mr. Pai berdiri dan berkata, “Collect your homework!”

“Hah? Homework?” seketika keringatku mengucur deras, ku lihat semua teman-teman maju ke depan mengumpulkan buku mereka masing-masing. “Mati gue! Sama sekali belum ngerjain lagi, kalau mau nyontek sekarang mana keburu,” umpatku dalam hati. Akhirnya aku pun dihukum dan disuruh berdiri di depan kelas, saat itu wajahku terlihat pasrah saat kulihat Mr. Pai memarahiku, tapi aku sih diam saja. Bukan.. Bukan karena aku anak nakal yang tidak tahu diri apalagi tak yau sopan santun, tapi Mr. Pai memarahiku full menggunakan bahasa inggris yang sama sekali aku gak ngerti dan cuma bisa jawab yes, yes saja dan aku pun diusir dari kelas.

Udara di luar kelas lebih dingin daripada di dalam kelas. Sesekali angin berhembus mengibaskan rambut panjangku, akupun berjalan gontai menyusuri koridor sekolah berharap rasa bosanku dapat menguap bersama teriknya mentari. Langkahku terhenti oleh sosok yang sangat ku kenal, mataku tak henti memperhatikan setiap gerakannya. “Masuk!” ucapku dengan semangat. Ku lihat lengkung senyumnya mengembang yang ku ikuti tanpa ku sadari sampai akhirnya lengkung senyum ini pudar dengan sendirinya diiringi dengan datangnya seseorang yang menghampirinya dengan raut wajah yang sangat ceria.

“Hoi! Tega amat ninggalin gue!” teriak Aulia.
“Biasa aja kali ah. Lagi bete gue,” jawabku seadanya.
“Kenapa gitu? Eh gue mau pesen makanan, lo mau nitip?” tanyanya.
“Ice cream aja, vanilla ya,” jawabku. Ku lihat Aulia mengedipkan sebelah matanya tanda mengiyakan lalu pergi memesan makanan. Tak biasanya kantin sesepi ini, aku menatap bunga mawar kesukaanku yang tertanam di seberang kantin. Samar-samar ku lihat seseorang berlari ke arah kantin.

“Kak Oka!” panggilku dalam hati. Ia melihatku sekilas, dapat ku lihat butir-butir keringat menetes dari dahinya, ku tatap lekat punggungnya yang menjauh menuju penjual minuman bersoda. Lamunanku buyar saat Aulia datang membawa pesananku, belum sempat aku memakan ice cream-ku, tiba-tiba Aulia bertanya.
“Nanti jadi ke perpus?”
“Ngapain ke perpus?” jawabku enteng.
“Dih, tadi pagi ngajakin!” umpat Aulia.
“Hahaha, nggak jadi ah, Kak Oka nya aja di sini kok,” jawabku.
“Hih kebiasaan lo mah!”

Mentari siang ini sangat panas, membuat kepalaku sedikit pusing. “Jangan panas banget dong, masa harus sakit lagi sih, kan baru sembuh,” keluhku dalam hati. Aku berjalan ke luar gerbang sekolah, hari ini aku harus pulang naik bus karena mama ada perlu dengan rekan bisnisnya dan Aulia masih ada di kelas membahas soal mading dengan teman-temannya. Sesampainya di persimpangan jalan tak sengaja kakiku tersandung sebuah batu yang sukses membuatku terjatuh. “Aduh sakit! Duh, luka lagi,” kataku sambil memegang lututku.

“Dara lo kenapa?” tanya seseorang yang sangat ku kenali suaranya, Kak Oka!
“Jatuh kak,” jawabku dengan nada sedikit memelas manja.
“Kok bisa? Makanya kalau jalan jangan ngelamunin gue terus, gue tahu kok kalau gue ganteng tapi kalau sampe ngebuat orang luka ya ribet juga urusannya,” jawabnya diikuti gelak tawanya yang khas.

“Dih, jadi sekarang lo mau ngebatuin gue apa enggak nih kak?” tanyaku kesal.
“Enggak, gue mau main futsal, hahahaha baik-baik ya!” jawabnya enteng sambil berlari meninggalkanku.
“Hah? Momen macam apa ini? Kesan pertama gue ngobrol sama dia gini amat, ah kesel gue sama lo kak!” teriakku pelan.
Aku pun bangun sambil menahan sedikit rasa sakit di lutut. “Eh wait!” pikirku.
“Kenapa dia bisa tahu nama gue? Kita kan nggak pernah kenalan. Aaaaaaa,” teriakku.
“Eh tapi dia nyebelin deng, gue kesel sama dia tapi Kak Oka manis banget.. Ah entah ah!”

Angin berhembus kencang membuatku kembali merapatkan sweater biruku menahan dinginnya angin yang menusuk tulangku. Ku perhatikan setiap butir hujan yang turun dari langit. Cuaca memang sangat aneh, berubah tanpa permisi yang memaksaku berteduh di sebuah toko di persimpangan jalan. Terlihat sebuah sepeda motor menyalakan lampu sein kanan yang menandakan akan berteduh di tempat yang sama denganku. Mata kami bertemu saat aku sedang asyik memperhatikannya yang membuatku jadi salah tingkah, dapat ku lihat dari ekor mataku ia tertawa kecil melihat tingkahku.

“Lo Dara kan? Anak XI ipa 1?” tanyanya membuka percakapan.
“Iya kak,” jawabku.
“Kenalin gue oka anak XII ipa 4,” lalu kami pun berjabat tangan.
“Gimana lututnya? Masih sakit?” tanyanya.
“Eh lumayan kak,” jawabku. Ternyata ia masih mengingat kejadian tadi.
“Katanya mau main futsal kak? Gak jadi?” tanyaku heran.
“Sebenernya gak mau main futsal tapi mau ngambil motor di sekolah mau pulang,” jawabnya enteng sambil tertawa, aku bergidik heran mendengarnya jadi tadi dia bilang mau main futsal buat mengindarin gue? Oh men!

Ribuan air hujan yang turun ke bumi semakin hilang, matahari kembali muncul dari tempat persembunyiannya.
“Mau pulang bareng nggak?” tanya Kak Oka yang sudah berada di atas motor bersiap untuk pulang.
“Nggak usah kak, makasih naik bus aja,” tolakku sopan.
“Nggak apa-apa sebagai permintaan maaf gara-gara tadi kamu aku tinggalin, ayo!” pintanya diikuti dengan melemparkan sebuah lengkung senyum yang memperlihatkan lesung di kedua pipinya –manis sekali, aku pun mengangguk tanda mengiyakan.

Kami pun pulang bersama, satu hal yang aku heran kenapa kita pulang lewat jalan ini? Jalan yang jaraknya 2 kali lipat lebih jauh menuju rumahku, apa Kak Oka nggak tahu rumahku? Terus kenapa dia nggak tanya? Apa mungkin dia sengaja? Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul dalam benakku, tapi biarlah kapan lagi kita di atas motor berdua mengelilingi kota seperti ini. 35 menit kemudian kami pun sampai di depan rumahku.

“Ini kan rumahnya?” tanya Kak Oka.
“Iya kak, makasih ya,” balasku, ia pun tersenyum kemudian pergi. Hari yang paling menyenangkan pergi bersama orang yang dikagumi selama ini.

Handphoneku bergetar saat aku hendak memejamkan mata, ku lihat ada panggilan dari seseorang di sebrang sana sedang menungguku menerima telepon darinya, ku perhatikan layar ponselku, nomornya tidak ku kenali lalu aku pun menjawabnya. “Halo?”
“Ini Dara kan? Ini oka Dar hehe,” jawabnya disebrang sana yang membuatku sedikit kaget karena tau nomer handphone-ku dan rumahku.
“Halo dar, kok diem? Ganggu ya?” tanyanya lagi saat ia tahu aku tidak berkata apa-apa.
“Ehh enggak kok kak, ada apa kak kok malem-malem telepon?” tanyaku.
“Besok berangkat sekolah bareng yuk!” ajaknya to the point dan aku pun mengiyakan.

Beberapa bulan sejak telepon pertama tersebut aku dan Kak Oka semakin dekat lebih dari seorang teman tapi tidak dapat dikatakan pacar karena pada kenyataannya kita memang tidak pacaran, mungkin saat ini kata-kata “Hubungan tanpa status,” sangat tepat untuk mendeskripsikan hubungan kami. Kami selalu menghabiskan waktu bersama di sekolah, saat pulang sekolah bahkan setiap akhir pekan kami selalu jalan bersama. Ingin sekali aku bertanya padanya tentang kejelasan hubungan ini tapi sepertinya gengsi lebih egois daripada rasa penasaranku yang selalu berhasil membuatku menahan untuk melontarkan pertanyaan itu. Selama kami bersama tak pernah sekalipun aku melihat ada rasa penasaran tentang siapa kita di matanya, tidak sepertiku yang selalu gelisah ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

“Aulia gue mau cerita,” kataku pada Aulia.
“Iya cerita apa?” jawabnya sambil kembali menyantap bakso kegemarannya.
“Menurut lo gue sama Kak Oka itu gimana sih?” tanyaku.
“Gak tahu ya gue juga bingung, kenapa tiba-tiba tanya gitu? Gak biasanya,” jawab Aulia.
“Ya enggak gue bingung aja, apalagi kemaren tiba-tiba Kak Oka sms katanya untuk beberapa hari jangan ngehubungin dia dulu, gak tahu deh alesannya apa mau tanya kenapa takut aja gitu gak punya hak buat tanya-tanya gitu,” jelasku.

“Gue takut aja kalau itu ternyata cuma alesan dia buat ngehindar dari gue,” tambahku.
“Apa sebelumnya lo ada masalah sama dia? Apa dia pernah tersinggung gitu sama kata-kata lo? Atau lo pernah gak nanggepin dia?” tanya Aulia, aku berpikir beberapa detik sebelum menjawabnya. “Masalah sih nggak ada, tapi gue pernah gitu sekali dia nyuruh gue sesuatu, emang penting sih tapi waktu itu gue lagi bete jadi nggak gue jalanin dan gue bilang kalau gue males buat ngelakuin hal itu, abis itu dia marah sama gue,” jelasku.

“Nah itu kali yang buat dia jadi gini, emang dia nyuruh apaan sih kok lo gak mau?” tanya Aulia.
“Bukan nggak mau, gue lagi males,” belaku.
“Sama aja kali ah, ya udah tunggu aja kali aja dia lagi bete, besok juga kali udah balik lagi kayak dulu, lonya sabar aja jangan gegabah lagi,” nasihat Aulia.
“Iya, thanks ya Aul,” jawabnya.

Hari ini tepat seminggu setelah Kak Oka bilang jangan menghubungi dia dulu, hal yang selama ini aku takutkan pun terjadi, pesan teksku tak terbalas, bahkan teleponku diabaikan, beberapa kali kami bertemu di sekolah tapi pandangannya terhadapku seolah-olah kami tidak saling kenal, Kak Oka mulai menjauh bahkan beberapa kali aku melihatnya dengan kak Adel teman sekelasnya. Aku pun menyadari satu hal bahwa selama ini kami hanya terjebak dalam status “Friendzone,” aku cukup tahu diri, aku pun mundur perlahan mencoba menghapus rasa ini, tapi kenyataannya aku nggak bisa, andai dulu rasa gengsi untuk untuk menanyakan kejelasan hubungan ini mati, mungkin tidak akan sesakit ini.

Meski semuanya sudah terlambat tapi aku yang paling sayang dia dan kenyataannya meski tak pernah memiliki merelakannya tetap saja menyakitkan hati. Aku pun kembali ke tempat di mana pertama kali kita bertemu, tempat di mana pertama kali dia berbicara kepadaku dan semua pertanyaan-pertanyaan tentangnya tiba-tiba memasuki pikiranku dengan sesak. “Setelah kamu pergi, untuk siapa celingukan ini? Sedetik setelah kamu pergi, untuk siapa lagi lengkung senyum ini? Kamu yang menjauh cuma mendekatkan aku pada kesepian, aku selalu di sini di persimpangan jalan ini dan ketika kamu dengannya menemui akhir, kembalilah.. Aku masih melambaikan tangan dingin ini kepada kamu yang pergi tanpa kembali.

Cerpen Karangan: Rizka Diana Anggraeni
Facebook: Rizkaa Diana Anggraeni
Rizka Diana Anggraeni adalah seorang gadis yang lahir pada 17 November 1998 yang saat ini sedang belajar menulis dan sukanya ngetweet diakunnya @RizRizka_ yang punya cita-cita menjadi seorang Ahli Gizi.

Cerpen Pergi Tanpa kembali merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Pasti Mendapatkan Cintamu

Oleh:
Hai, nama gue Rudy Iswanto, lo bisa panggil gue Rudy. Gue adalah siswa kelas 12 pindahan dari salah satu SMA di Bandung. Dan ini cerita sepanjang gue di sekolah

Pelangi Arka dan Rain (Part 3)

Oleh:
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara letupan. Ray menutup mata karena terkejut. Namun, ketika ia membuka mata, ia telah di hujani kertas warna warni dari konveti. Ketika ia melihat

GeTer (Gebetan Terbaik)

Oleh:
Namanya Adinda Putri Wijaya sering dipanggil Eicha. Waduh, jauh banget kan dari nama aslinya, entah dari mana datangnya nama Eicha itu. Katanya sih dia bosan sama namanya jadi cari

Wednesday Boy

Oleh:
Prittt!!! Prittt!!!! Suara peluit yang khas milik guru olahraga membuatku langsung menutup telinga, aku menggerutu kesal melihat pak Hari menyuruh kami untuk ganti baju lebih cepat. Oh ya, namaku

Lost Friends Because Of Love

Oleh:
Hari ini hari yang begitu indah, karena rumah pohon yang aku dan sahabat sahabatku buat telah selesai. Namaku Kayla aku punya 4 sahabat, namanya Tessa, Tina, Andi dan Deran.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *