Phira

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 May 2016

Phira gak suka sama yang namanya keributan, dia benci sama orang yang suka main kasar, dan benci sama orang yang main otot daripada otak. Tapi hari ini, tanpa sengaja, Phira terjebak di sebuah tawuran yang membuatnya benar-benar takut. Kata tawuran gak pernah ada dalam kamus bahasa Phira, tapi kenapa sih Phira harus ada di sini? Tadi, usai pulang sekolah, Phira piket kelas sebentar, teman-teman Phira yang satu piket dengannya, pada kelayapan entah ke mana ada juga yang beralasan mau nganterin pacar ke rumah. Makanya Phira cuma piket sendirian, emang kampret banget mereka. Usai piket, Phira langsung menuju halte bus yang dekat sekolah, tapi sayang ternyata di sana ada tawuran, dan Phira udah gak tahu mau ke luar lewat mana, karena dia udah kejebak.

“Woi cewek kepang kuda, sini naik cepetan!” Phira yang masih ketakutan di tengah-tengah tawuran itu, langsung menoleh. “Cepetan!” Tanpa berpikir panjang, Phira menaiki motor ninja lelaki itu -lelaki yang menawarkannya bantuan.

Phira pikir, dia bakalan mati di tengah-tengah tawuran itu, atau dia bakal kena masalah, bisa dipanggil BK, atau dikeluarin dari sekolah, karena dikira ikut-ikutan dalam tawuran. Tapi untung aja ada orang yang berbaik hati sama Phira, jadi semua imajinasi Phira gak bakalan terwujud. Ketika mereka jauh dari tawuran, lelaki itu memberhentikan motornya dan menyuruh Phira untuk turun.

“Makasih,” ucap Phira pelan.
“Makasihnya disimpan dulu. Nanti kalau aku butuh, akan aku minta.” motor itu pun melaju kembali.

Phira suka Photography, setiap hari ia suka membawa kameranya ke mana-mana, dan kalau ditanya apa yang lebih menyenangkan di dunia ini, Phira dengan cepat menjawab kalau itu adalah Photography. Hari ini, Phira ada ekskul Photography, makanya dia pulang agak lama. Usai ekskul, Phira pergi ke halte bus, dan Phira beruntung kalau hari ini gak ada tawuran. Ngomong-ngomong tawuran, Phira jadi ingat sama cowok yang menolongnya kemaren, tadi pagi Phira sama sekali gak ngelihat cowok itu, padahal Phira yakin kalau cowok itu murid di sekolahnya juga.

Saat bus belum datang juga, sebuah motor tiba-tiba berhenti di hadapan Phira. Sang pemilik motor itu membuka helm-nya dan tersenyum. “Ketemu lagi sama kamu, kayaknya takdir udah mengatur pertemuan kita, atau takdir udah mengatur kalau kita akan bersama?”
Phira mengernyit bingung. Itu orang kemaren waktu tawuran kena lempar batu kali ya, makanya omongannya jadi ngawur.
“Saya gak tahu cara kenalan sama kamu kayak gimana, tapi.. perkenalkan nama saya Bintang, masih single kayak judul film-nya Raditya Dika,” Awalnya, Phira pengen ketawa. Tapi gak jadi, gengsi. “Phira.” jawab Phira. Bintang tersenyum lagi, dan memasang helm-nya kembali, tapi sebelum itu, Bintang memberikan selembar kertas yang digulung kepada Phira.

“Nanti dibuka Phira, kalau kamu buka sekarang saya takut,”
“Kenapa?”
“Takut kamu kena penyakit jantung, soalnya kalau kamu baca itu kamu bakalan deg-degan.” Phira mendelik geli.
Bintang menghidupkan mesin motornya, dan berlalu begitu saja. Diam-diam, Phira mengambil gambar Bintang dari belakangan. Setelah Bintang menghilang dari pandangan, Phira langsung membuka surat yang diberikan Bintang tersebut.

‘Ada hati yang termanis dan penuh cinta
Tentu saja kan ku balas seisi jiwa
Tiada lagi.. Tiada lagi yang ganggu kita
Ini kesungguhan
Sungguh aku sayang kamu’
“Ps: ini lirik lagunya kahitna, saya tulis pake surat aja ya. Soalnya suara saya masih dipakai sama Shawn Mendes.”

Mau tak mau, Phira tertawa pelan, dan saat Phira selesai membaca surat itu, bus pun tiba dan membawa Phira pulang.

Cerpen Karangan: Fenni Rahmi Putri
Blog: z939.wordpress.com

Cerpen Phira merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tepuk Sebelah Tangan Atau Tepuk Tangan?

Oleh:
“Cinta adalah sebuah keajaiban, takdir bukan pilihan. Meski perpisahan ada, jika takdir berkata cinta itu ada, musnahlah semua. Tapi dengan takdir, apalah daya manusia ini.” “Hei, hei… hei Nindi,

Yang Terakhir

Oleh:
Lantunan melodi membuat hati Liora seakan-akan memutar kembali semua kisah yang pernah dilewati. Kebersamaan, kegembiraan, rasa kasih sayang yang begitu hangat bahkan hingga saat ini masih membekas di hati

Pantang Menyerah Mencari Cinta

Oleh:
Ini kisah cinta seorang remaja yang bernama Kiki. Dia adalah pencari cinta sejati yang pantang menyerah sebelum mencoba, saat masih SD dia sempat membuat cewek takluk kepadanya ini dia

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
Hay kenalin namaku Zahra Indri, biasa dipanggil Zahra. Aku punya kakak bernama Doni Saputra, aku juga punya sahabat namanya Ilham fauzi. Dia tuh orangnya baik banget, aku sebenarnya sudah

Mata Najwa

Oleh:
“Baiklah anak-anak. Hari ini kita akan bermain olahraga kasti! Setuju?”, tanya pak guru. “Setujuu!”, “Pak, kasti itu melelahkan!”, “Nanti ketek saya tambah bau, pak”. Langsung saja berbagai respon dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *