Plagiator Cerpen

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 July 2018

Pada saat bel pelajaran terakhir berbunyi, semua siswa di kelas 8A bersiap-siap pulang ke rumah masing-masing, semua siswa di kelas sudah mulai berhamburan keluar kecuali satu siswa, nama siswa itu adalah Zakki. Ia tampak sedang mengerjakan sesuatu. Pandangannya yang sedikit serius tertuju pada layar laptopnya, pada saat yang sama seorang siswa bernama Hani ingin mengambil suatu barang yang tertinggal di kelas 8A, ia melihat Zakki di sana. Hani penasaran apa yang dikerjakan Zakki, namun tiba-tiba Zakki sudah menutup laptopnya sehingga Hani tidak sempat untuk melihatnya.

Pada keesokan harinya Rena, anak dari kelas lain ingin meminjam laptop milik Zakki untuk presentasi di kelasnya, 8B.
“Zakki, boleh pinjam laptop milikmu untuk presentasi? Aku lupa bawa laptop, karena buru-buru tadi pagi.”
“Ya, tapi jangan terlalu lama ya.”
“Oke! Makasih ya.”
Kemudian Zakki pun meminjamkan laptopnya kepada Rena, Hani yang duduk tidak jauh dari sana mendengarnya sehingga ia mempunyai niat untuk melihat kembali apa yang dikerjakan oleh Zakki kemarin saat setelah pulang sekolah. Ia masih begitu penasaran.

Di saat Rena sedang mengerjakan tugas menggunakan laptop milik Zakki, Hani pun mendekatinya dan ingin meminjamnya, Rena memberikan laptopnya Zakki kepada Hani, lalu Hani mencari tempat yang sepi dan tak bisa diketahui orang lain. Ia membuka semua data, dan menemukan apa yang dia cari, ternyata sebuah karangan cerpen baru Zakki. Ia menyalin file tersebut ke dalam flashdisknya. Setelah itu ia mengembalikan laptop milik Zakki kembali Rena. Saka melihat ketika Hani menggunakan laptopnya Zakki. Dari gerak-gerik dan ekspresi wajah Hani, terbesit suatu pikiran yang membuat Saka curiga.
Si Hani itu kenapa ya, kok senyam-senyum sendiri. Aneh. Hah, enggak usah dipikirkan!

Sampai di rumah, Hani Membuka dokumen karangan Zakki yang telah ia salin. Ia membacanya sampai terakhir namun ternyata karangan itu belum selesai.
“Bagus ceritanya, tapi sejak kapan Zakki pandai mengarang?” gumam Hani. Hani pun mempunyai niat untuk melihat lanjutan cerita tersebut.

Hari berikutnya Zakki diam-diam mengerjakan kembali karangannya, tanpa diketahui siapa pun termasuk sahabatnya sendiri, Saka. Lalu tiba-tiba Saka mengagetkannya dari belakang.
“Ha! lagi ngapain?” ucap Saka sedikit teriak
“Enggak, enggak apa-apa kok!” ucap Zakki, karena kaget ia refleks menutup laptopnya
“Kamu sudah dengar belum ada banyak lomba yang diadakan untuk peringatan Bulan Bahasa?”
“Belum, memang ada?”
“Astaga! Temanmu ini seorang ketua OSIS lho, apa aku begitu sibuk ya sampai belum memberitahunya ke kamu ya?”
“Iya, kamu memang sok sibuk, bukan?”
“Huh. Apa aku perlu menjelaskan? Padahal sudah diumumkan di papan mading sekolah,” ucap Saka “Oke. Begini jadi ada lomba membaca pidato itu hari Senin… bla… bla”
“Oke, aku ke papan mading dulu!” ucap Zakki sambil berlari ke luar kelas
“Hey, padahal aku sudah baik hati mau menjelaskan!” teriak Saka dengan kesal “Setidaknya dengerin sampai akhir!”
“Kamu bicaranya terlalu cepat! Aku enggak mengerti!” balas Zakki, raut muka Saka seketika cemberut.

Setelah itu Zakki melihat pengumumannya. Ternyata ada lomba mengarang cerita. Dalam hatinya Zakki berencana untuk mengikutinya, namun karangannya belum selesai dan ia sedikit malu tentang karangan cerpennya. Ia bertekad ingin segera menyelesaikan karangannya.
“Haduh, batas waktu ngumpulin ceritanya 3 minggu lagi.” ucap Zakki. Hani yang sedang berada di sekitar tempat Zakki berada sempat mendengar perkataan Zakki. Sekarang ia tahu bahwa Zakki akan mengikuti lomba mengarang.

Di sekolah, Zakki sering mengerjakan karangannya diam-diam hingga hampir ia selesaikan. Pada saat istirahat, semua anak kecuali Zakki keluar kelas. Seperti biasanya ia menyelesaikan karangannya tanpa diketahui siapa pun. Lalu Hani masuk kelas untuk mengambil sesuatu, dan melihat Zakki sedang membuka laptopnya. Ia pun berpikir “Pasti karangannya Zakki sudah selesai. Ia pasti mau mengajukan cerpen karyanya saat lomba peringatan Bulan Bahasa.” Hani kemudian berniat sesuatu. Sesaat kemudian Sarah masuk dan meminjam laptopnya Zakki.

“Zakki, pinjam laptopnya ya. Untuk mengerjakan tugas PKN kelompokku.”
“Ya, nanti kalau sudah selesai taruh di laci mejaku.” ucap Zakki sambil berjalan keluar kelas. Hani kebetulan satu kelompok dengan Sarah. Hani pun menghampiri Sarah.
“Kamu lagi apa?”
“Oh ya, kebetulan ada kamu. Ini IPS-nya tolong diketik ya! Aku mau ke kantin dulu.” ucap Sarah
“Ya, serahkan kepadaku!” ucap Hani. “Pucuk dicinta ulam pun tiba. Timing yang pas sekali.” pikir Hani. Hani berniat untuk menyalin lagi karangan cerpen milik Zakki. Hani membuka dan mencari karangannya Zakki dengan diam-diam.
Ketemu! Lalu ia berpikir “Aku ubah saja, biar karangannya Zakki enggak lolos.” Hani pun menyalin karangan yang asli ke dalam flashdisk-nya. Dan mengubahnya serta menghapus di bagian tengah cerita. Lalu Sarah masuk kelas, dan pada saat yang bersamaan Saka juga masuk kelas.

“Hani, Sudah selesai belum? Biar aku yang lanjutin.”
“Hmm. Enggak usah. Biar aku saja.”
“Apa enggak apa-apa?”
“Ya, enggak apa-apa. Aku lanjutin di rumah. Besok sisanya aku beri ke yang lain”
Saka, melihat percakapan mereka dan melihat yang kedua kalinya Hani memakai laptopnya Zakki. Lalu ia berniat bicara dengan Zakki setelah pulang sekolah. Bel masuk pelajaran sudah berbunyi.

“Zakki, Hani itu kenapa pinjam laptopmu. Aku sudah liat yang kedua kalinya.” ucap Saka
“Apa iya? Setahuku yang pinjam Rena, yang kedua Sarah.” jawab Zakki
“Iya, aku dari dulu ngerasa aneh. Jangan-jangan si Hani ngotak-atik, atau mencari sesuatu, atau jangan-jangan yang lebih buruk lagi.”
“Ah, mana mungkin?”

Saat perjalanan pulang, Zakki terus memikirkan yang dikatakan Saka. Sesampainya di rumah Zakki penasaran, dan membuka laptopnya. Dan mencari karangannya karena batas waktu pengumpulannya besok.
“Lho, karanganku berubah! Seingatku terakhir kali, bukan seperti ini. Ternyata betul yang dikatakan Saka.” ucap Zakki dengan kesal. “Tapi, siapa? Siapa yang melakukan ini?” Zakki menghela napas. “Untungnya aku punya cadangan karangannya di flashdisk.”

Lalu setelah itu Zakki mengecek ulang karangannya tersebut dan menambahkan bagian-bagian penting lalu mencetaknya. Di sisi lain Hani memperbaharui karangannya dan memadukan karangannya Zakki yang telah ia salin sebelumnya.
“Akhirnya selesai juga. Aku yakin, pasti aku yang menang!” ucap Hani dengan semangat

Keesokan harinya masing-masing peserta sudah mengumpulkan karangannya. Satu minggu telah berlalu dan hari pengumuman telah tiba. Saat istirahat, Saka melewati papan pengumuman. Lalu ia melihat ada secarik kertas yang baru saja ditempel oleh pengurus OSIS lain. Ia pun membaca.
“Zakki menang lomba mengarang cerpen? Sejak kapan ia mulai mengarang? Aku harus segera memberitahunya.” ucap Saka. Sesampainya di kelas Saka lalu memberi tahu Zakki. Dan saat itu juga teman-teman yang lain, termasuk Rena Sarah, dan Hani juga tahu.
“Zakki, ternyata kamu ikut lomba mengarang cerita ya. Kamu menang lomba lho!”
“Masa, sih?”
“Lihat saja sendiri. Pengumumannya di papan mading.” Setelah itu Zakki bergegas melihat papan pengumuman, dan ia pun terkejut.
“Ternyata betul. Alhamdulillah.”
Teman sekelasnya, termasuk Rena dan Sarah melihat papan pengumuman. Di samping itu Hani juga melihatnya.
“Selamat ya, Zakki! Kamu kok enggak bilang-bilang kalau kamu suka mengarang cerita. Oo, jadi selama ini kamu diam-diam buka laptopmu itu untuk membuat cerita itu ya.” ucap Saka sambil tersenyum. Teman-teman lain juga memberi ucapan selamat kepada Zakki.
“Iya, maaf sebenarnya aku enggak percaya diri sama ceritanya. Aku juga enggak tahu bagus atau enggak.” jawab Zakki
“Kenapa enggak percaya diri? Baguslah kamu sudah mencoba. Bagus atau enggak urusan nanti, kalau ingin lebih mahir lagi bisa terus belajar, kan? Kayaknya kamu bisa jadi penulis top deh. Hasil pertama saja sudah juara pertama. Aku nanti lihat cerpennya ya?” ucap Saka
“Iya nanti aku juga lihat ya?” ucap Rena dan Sarah
“Iya, ya boleh kok.” jawab Zakki. Kemudian mereka kembali ke kelas, kecuali Saka yang berjalan melambat di belakang dan seketika berbalik badan dan berhadapan dengan Hani.
“Hani, kamu ternyata juga ikut lomba mengarang ya? Lalu kamu dapat juara 3 ya? Selamat! Aku juga nanti boleh baca hasil karyamu? Itu benar-benar hasil karyamu, bukan? Apa benar-benar hasil dari pikiran sendiri? Sudah ya, aku duluan!” ucap Saka dengan sedikit tekanan sambil berlalu. Hani hanya terdiam mematung. “Sial, kenapa Saka bisa tahu?”
Hani masih mematung. Ia kesal, kenapa bukan dirinya yang juara pertama? Ia belum puas dengan hasil pengumuman. Hani kemudian pergi lari entah kemana.

Keesokan harinya, pagi yang cerah. Pepohonan rindang sekitar sekolah bagai menyapa dengan udara segarnya. Sang mentari dengan cahaya yang begitu hangat menerpa sambil tersenyum. Murid-murid ramai memasuki sekolah, kemudian memberi salam kepada para guru yang sedang berjajar.

“Zakki! Pagi! Sudah mengerjakan PR?” ucap Saka sambil merangkul Zakki
“Pagi juga. Sudah lah!” balas Zakki sambil tersenyum
“Zakki!” teriak seorang murid. Zakki dan Saka menoleh ke arah sumber suara itu.
“Hani, ada apa?” ucap Zakki
“Maaf, Zakki. Kamu pasti menyadari, kan? Tentang cerpen karanganmu yang tiba-tiba berubah dan hilang beberapa bagiannya? Itu salahku, akulah yang berbuat semua itu. Maaf, Zakki. Aku benar-benar minta maaf.” ucap Hani sedikit berteriak tanpa jeda.
“Kenapa?” tanya Zakki
“Eh. Kenapa?” tanya Hani kebingungan. “Aku memang salah. Aku hanya ingin jadi juara pertama. Aku minta maaf.” jawab Hani
“Sudahlah, Hani. Kalau kamu sudah mengetahui jika kamu salah, ya sudah. Kamu tahu kan? Masih banyak cara yang benar supaya bisa jadi yang terbaik. Belajar salah satunya. Jika kamu merasa bersalah, iya aku maafkan. Kamu tahu, meskipun kamu juara pertama dan itu sama saja menjiplak hasil karya orang lain, apakah kamu bisa bangga dengan itu? Tidak, kamu akan bisa bangga jika itu hasil jerih payahmu sendiri. Sudah ya, aku duluan.” ucap Zakki
“Huh. Hani. Untung saja Zakki baik hati begini. Baguslah kalau kamu sudah meminta maaf.” ucap Saka
“Iya, aku sudah mengerti. Makasih.” ucap Hani sambil berlalu
“Saka, apa kamu sudah tahu kalau pelakunya Hani?” tanya Zakki “Kenapa kamu enggak ngasih tahu?”
“Ya, begitulah.” jawab Saka dengan santai. “Biar, dia menyadari kesalahannya sendiri, sudah cukup. Kita akan telat masuk kelas kalau lambat begini, aku juga ada piket lagi.” ucap Saka sambil melihat jam tangannya dan berlari.
“Oke!” ucap Zakki sambil menyusul Saka.

Cerpen Karangan: Hardian Ridho Alfalah
Blog / Facebook: Hardian Ridho

Cerpen Plagiator Cerpen merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tentang Kamu

Oleh:
Kamu adalah pelangi yang terlihat setelah derasnya hujan, seperti mentari yang muncul setelah gelapnya malam, kamu ciptaan Tuhan yang terindah, matamu sebening Kristal, wajahmu berbinar seperti bintang, senyummu seperti

Trip to Rumah Hantu Darmo

Oleh:
Karena gue orangnya suka berpetualang, gue dan geng “ingusan” gue (geng yang terlalu cepat puber) sering pergi ke tempat-tempat yang menantang, kamar mandi cewek misalnya. Hahaha, gue bercanda Hahaha

Nampak Tak Terlihat

Oleh:
Ketika semua telah berubah dan berakhir. Aku takut untuk melihat dunia, aku takut melihat jalan hidupku. Amanda adalah namaku dan dinda adalah panggilan kesayangan dari nenekku. Aku selalu memanggil

Sahabat Yang Hilang

Oleh:
Seorang guru berjalan menuju kelasku. Ia adalah ibu Sari, seorang guru yang mengajar sebagai guru IPS di sekolahku. Namaku Annisa. Teman-temanku biasanya memanggilku Nisa. Aku memiliki dua orang sahabat

Kalung Salibku dan Kalung Tasbihmu

Oleh:
Kuakui, mengenal dia seorang gadis Muslim yang cantik dengan pakaian khas muslimahnya membuatku sedikit meliriknya. Bagaimana dia dengan tutur katanya yang lembut serta pembaannya yang baik dan sopan membuat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *