Prasangka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 25 July 2017

Apa kalian tahu bagaimana suara pintu terbuka?
Krieeet.. Begitu kan? Kali ini tidak. Suara pintu itu telah terganti.
BRAAK!!
Semua orang menoleh ke pintu (dengan cemas karena takut pintunya rusak). Seorang gadis manis berwajah cemberut. Ia tidak memedulikan sekelilingnya. Ia tidak menutup pintunya kembali dan malah berjalan tegas ke arah bangkunya, jadilah seorang temannya menutupkan pintu tersebut sambil menaikkan salah satu alisnya.
Semua orang ingin tahu ada apa dengan teman mereka yang biasanya periang itu. Tapi sayang mereka terlalu takut untuk bertanya.

Menyadari keadaan canggung ini, gadis itu memanggil beberapa teman terdekatnya. Mau curhat, maksudnya. Beberapa gadis datang ke mejanya. Penasaran sih, tapi paling-paling selesai nanti mereka diinterogasi semua orang di kelas.
“Kenapa, Mir?” tanya salah seorang gadis mungil yang agak gemuk.
“Kayaknya sih, tentang si emi.” sahut seorang lagi. Dia menyenderkan punggungnya di dinding depan bangku gadis yang cemberut itu. Gadis itu menelungkupkan kepalanya di lipatan tangannya, sambil mendesah lembut. Gadis yang bersender di depannya tersenyum seolah tebakannya benar.
“Nah lho! Ada apa lagi sih?” Gadis mungil gemuk itu makin mendekat saja. Dua gadis lainnya hanya diam disumpal rasa penasaran.
“Dia menghindar terus. Dan tadi klimaksnya.” kata gadis itu yang makin membenamkan dirinya.
“Ya ampun, Mira! Cuma menghindar aja sih, dipermasalahkan.” sahut seorang gadis yang tadinya diam. “Aku juga sering kali.” Mira mengangkat kepalanya lalu tersenyum simpul.
“Kamu emang gak akan pernah peka, Sek.” Tiba-tiba gadis yang menyahut Mira memelototinya.
“Heh, emang kamu kira aku ini Sektor! SEKAR. S-E-K-A-R. Gak bisa baca ya, kamu nih!” Mira dan teman-teman lainnya tertawa.
“Yeeh, lebay amat sih! Terus kalau dipanggil ‘kar’, takut dikira kari! Serba salah jadinya.” Sekar terkekeh. Keadaan sudah ceria lagi, tapi hanya sebentar. Karena Mira membenamkan dirinya lagi.

“Mir, cerita dong, Mir!” Gadis mungil gemuk itu tak bisa menahan rasa penasarannya. Mira tertawa, agak menggelikan juga tingkah penasaran temannya ini. Lalu ia menarik napas.
“Jadi tadi, waktu di kantin. Aku mau bayar jus di Teh Eni. Kalian tau kan, dagangannya Teh Eni ada di dekat pintu masuk kantin?” Semua temannya mengangguk cepat. “Nah waktu itu, aku liat ada emi mau masuk. Tapi waktu ngeliat aku, dia langsung pergi, gak jadi masuk kantin. Nyebelin banget tau gak! Emang dia kira aku ini apa?!”
Gadis-gadis itu bertatap-tatap penuh kecurigaan. Kecurigaan terhadap emi, inisial doinya Mira. Memang kurang ajar banget sih, menghindar dari cewek, dan jelas-jelas ketahuan. Mira menarik napas lagi.
“Terus, ya, aku kan mau keluar. Aku tengok-tengok ke belakang, dan bener aja, ada dia lagi duduk. Terus waktu dia ngeliat aku, dia langsung pergi ke belakang, entah ke mana!”
“Ke belakang, ngapain? Bukannya jalan buntu? Masa iya dia mau ikutan nyuci piring bareng mbak-mbak yang jualan?!” sahut gadis tinggi yang dari tadi terdiam. Tawa meledak di kumpulan itu. Tapi Mira mengangguk yakin.
“Makanya! Dasar emi! Jahat banget sih jadi orang!” Mira pun melanjutkan makiannya. Gadis yang bersandar melangkah ke depan meja Mira, lalu menggebrak mejanya. Sontak semua temannya di sekitar situ kaget.
“Mir, kamu harus berhenti menyukainya! Cowok kayak gitu gak pantas disukai!” Mereka selain Mira menyahut-nyahut yakin. Mira terdiam, lalu memandang ke jendela. Membiarkan teman-temannya berdiskusi. Dia bingung, karena dia sudah kelewat menyukainya. Setiap malam di pikirkannya si emi, bahkan saat belajar. Sampai didamprat dia oleh ibunya karena melamun saja setiap belajar.
“Mir, kamu harus mup on! Tadinya kita mau ngasih pelajaran ke emi, tapi rasanya terlalu jahat deh. Nah, yang penting, kamu harus mup on! Janji, ya?” kata Sekar. Mira menengok ke arah teman-temannya. Ia mendesah, wajahnya murung.
“Ayolah. Kita kan gak tega kamu dihindari terang-terangan sama doi kamu sendiri. Percayalah, akhir-akhirnya kalau kamu gak mup on nanti sakit sendiri. Dan sakit hati itu rasanya sakit banget tau gak. Tanya aja Kiki, dia udah jadi korbannya.” jelas gadis yang di depan mejanya meyakinkan. Mira menengok ke Kiki, gadis tinggi di belakang. Kiki tersenyum malu.
Mira makin bimbang. Melupakan emi? Mana bisa?

“Kamu kan sahabat kita, Mir.” Tiba-tiba gadis mungil gemuk memegang erat tangannya dengan posisi seperti bermain panco. Sedetik kemudian sahabat-sahabatnya yang lain ikut-ikutan memegang tangannya. Mira makin bimbang. Ia menundukkan kepalanya.
Demi sahabat-sahabatku. Maaf ya, emi. Eh, lagi pula, ngapain juga cowok kayak kamu disukai!
Mira mengangguk serius. “Yap! Aku bakal ngelupain dia!”
Sorakan kegembiraan menggema di ujung kelas.

Sementara itu, di kelas C.
Fian menyeruput jus jeruk yang tadi ia beli di Teh Eni. Ngapain gue ngehindar coba!
“Woy, Yan!” Seorang sahabatnya menghampiri bangku terujung di kelas itu. Fian menengadah, karena sahabatnya ini lumayan tinggi. Lalu ia mengambil bangku yang tergeletak asal di belakangnya, menyeretnya ke depan meja Fian, dan duduk di atasnya.
“Tadi gue berhasil membuat si Ema ketawa. Lu liat kan? Tadi kita ketawa bareng! Ha ha ha.” Tanpa minta izin sahabatnya itu langsung menyeruput jus milik Fian. Itu sudah menjadi perjanjian tetap di antara mereka.
“Yaelah, gitu doang seneng. Pacarin dong! Baru gue tepuk tangan. Sori ya, untuk saat ini gue tepok jidat dulu.” Kedua orang itu tertawa-tawa.
“Heh, Ema itu tipe cewek yang susah ditaklukin tau! Dan gue, udah berhasil ngebut dia ketawa! Ha ha ha.” katanya dengan tawa khas di ujung. “Eh, Yan. Tadi di kantin gue liat lu ngehindar dari si Mira. Kali ini jelas banget, dan doi kayaknya marah tuh. Ha ha ha.”
Fian menundukkan kepala. “Emang jelas banget, ya, gue ngehindar?”
“Ya iya lah! Emang kenapa, sih? Lu jijik?”
Fian memandang ke jendela. Semua perasaan di hatinya bercampur aduk.
“Gue malu, San.”

Cerpen Karangan: Alia Rahmani Dharma
Blog: storyseasonblog.wordpress.com
Alia Rahmani Dharma,
12 tahun.
Karena masih penulis pemula, tolong kasih saran dan kritiknya!

Cerpen Prasangka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rainbow

Oleh:
SMA Negeri 1 Dolok Merawan adalah pilihan orangtuaku untuk menempuh pendidikan sekolah menengah atas. Sebenarnya aku enggan bersekolah di sini, karena desakan kedua orangtuaku akhirnya aku mau bersekolah di

Kita yang Tidak Saling Mengerti

Oleh:
“loe ga waras ya, Bel? Cewek secantik Vina loe tolak! Mau cari yang kayak gimana lagi bro.” Ibel hanya senyum-senyum mendengar ocehan Radit yang tak jelas baginya. ‘siapa yang

Peristiwa Komedi Batang Ubi

Oleh:
Di pagi cerah dan sedikit mendung tepatnya saat itu hari selasa Wafik dan keempat sahabatnya Elisabeth, Elisa, Widiya, dan Mutia salah membawa batang ubi “Woy Bet, ubi yang kita

Bulan Di Atas Kota Santriku

Oleh:
Kota santri terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup kota santri masih terasa.

The Stranger (Part 1)

Oleh:
Kamis, 08 Oktober 1998 adalah hari dimana anak tertampan dari kedua orangtuaku dilahirkan. Ya, itu aku. Kenapa disebut tertampan? karena aku adalah anak laki-laki satu-satunya. Aku terlahir di Kalianda,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Prasangka”

  1. Dina Aulia says:

    Udah bagus kok. Terus nulis ya, tingkatin lagi kemampuannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *