Pretty May (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 January 2016

Karena tugas kantor, keluarga Baskoro harus pindah ke kota. Pagi itu mereka sibuk menata barang-barang di rumah baru yang akan ditempati. “May.. tolong rapikan kamar! Ibu mau membersihkan dapur dulu.” perintah ibunya pada anak sulungnya. “Oke beres Bu.” balas May sambil membawa koper dan tasnya menuju kamarnya.

“Ayah! Aku senang rumah ini di pinggir kota, suasananya tenang.” ungkap Ibu May pada suaminya.
“ya.. anak-anak juga pasti kerasan dan tambah rajin belajar.” jawab suaminya yang memakai kacamata itu.
“ini harus segera rapi, karena anak-anak besok sekolah, Ayah juga harus berangkat pagi ke kantor.” ucap Ibu May sambil membereskan baju-bajunya di kamar.
“tapi Ayah sudah minta izin libur selama 2 hari, jadi Ayah bisa bantu beres-beres rumah.”

May yang sedang sibuk memberesi barang-barangnya tiba-tiba Jimmy adiknya datang sambil bermain mainan pesawat terbang.
“Nguing.. Nguing…”
“Adik! Tempat tidur Kakak jangan dikotorin gitu dong!” bantah May kesal.
“Kakak cerewet.. weeekkk.” ledek adiknya sambil menjulurkan lidah.
“Apa?” Lagi-lagi kakak beradik itu selalu saja berantem. Terkadang juga akur.
“anak nakal, siapa yang cerewe!! Rasain ini.” komentar May mengejar adiknya sambil membawa sapu.
“Hehe.. Cerewet.” ledek adiknya terus.
“huh.. nakal.”

Ketika May menangkap Jimmy. Jimmy melihat kucing kecil yang terbaring lemas dan kotor di deket pohon. “Hey.. stop dulu! Stop!! Lihat! Ada kucing lucu.” tunjuk adiknya.
“Cup.. Cup.. aduh kasihan badannya kotor sekali.. lemas lagi, pasti belum makan.” ujar May sembari menggendong dan mengelus-elus anak kucing berwarna putih itu. Lalu May memutuskan untuk merawat kucing itu. “Kucingnya lucu ya Kak.” ucap Jimmy.
“Ayo diam dulu.. badannya biar bersih.” kata May saat memandikan kucingnya.

Setelah selesai dimandikan, May dan adiknya memberi makan. “Makan yang banyak ya.. aduh lucunya.. kita kasih nama siapa yaa.” pikir May.
“kasih nama Simba aja Kak.. keren kan!!” usul Jimmy.
Ayah dan ibunya pun ke luar dan melihat anak-anaknya sedang bermain bersama kucing kecil.
“kucingnya lucu.. rawat yang baik yaa.” pinta ibunya.

Keesokan harinya.
“May.. pergi dulu.” ucap May bersalaman dengan ibu dan ayahnya, ketika akan berangkat ke sekolah.
“Ya hati-hati.. di jalan.” May pun segera berangkat sekolah dengan sepedanya.

“kota ini sejuk sekali.” papar May dan setelah sampai di depan gerbang sekolah banyak murid-murid yang memperhatikan May terutama para cowok yang mengagumi kecantikan May.
“anak-anak kenalkan ini May murid baru. Kalian pasti senang punya teman baru.” ucap ibu guru yang memperkenalkan May di depan kelas. Tapi salah seorang murid perempuan berkata.
“siapa yang senang.. anaknya kuper gitu.” cetusnya.
“ayo May duduk di sebelah Vidi. Sekarang kita mulai pelajaran sejarahnya ya.” peintah ibu guru.

May pun menghampiri mejanya dan duduk di sebelah murid perempuan yang bernama Vidi itu.
“Hai.. Saya May!” sapa May pada Vidi.
“Hai.. Saya Vidi! senang berkenalan denganmu.” jawab perempuan dengan rambut panjang ikal itu.

Waktu istirahat tiba. Semua murid SMP PELITA ke luar kelas. Di koridor May pun dipanggil dengan murid perempuan yang tak menyukainya tadi.
“Hai.. Anak baru sini kamu!!” panggilnya sedikit berteriak.
“Kamu jangan sok keren ya.. cari perhatian sana-sini.”
“Aku gak ngerti maksud kamu.” sahut May pelan.
“Oaaalaahh.. pura-pura lagi, kamu harus tahu setiap anak baru di sekolah ini harus memperkenalkan diri dulu pada semua siswa, ayo sana laksanakan cepat!” cecarnya
May pun mengikuti perkataan perempuan tengil tadi dan May harus keliling lapangan disaksikan seluruh murid dengan memakai papan nama yang tergantung di lehernya.

“Hahaha.. rasain gue kerjain lo.” desis murid perempuan tadi yang bernama Jessie.
“Hey.. hentikan perbuatan konyolmu itu, memalukan saja.” sergah seorang murid cowok menarik lengan May. “Apa-apaan sih.. kamu itu dikerjain.” katanya lagi sambil membantu melepaskan papan nama itu dari leher May. “pasti ini ulah Jessie dan teman-temannya.” rutuk si murid cowok itu.

“Oh ya.. saya Rico, saya ketua OSIS di Sekolah ini!” ucapnya sambil mengacungkan jabat tangan.
“Aku May.” balas May membalas jabat tangan Rico. Rico memang berwajah tampan, smart, supel, dan memiliki tubuh tinggi. Wajar jika ia dikagumi semua orang dan menjadi cowok populer di sekolahnya. “Huhh.. ngapain sih si Rico bela-belain anak kuper itu.” keluh Jessie saat melihat Rico bersama dengan May.

“Anak-anak sekarang siap dengan ulangan matematikanya?” Tanya pak guru di depan kelas.
“Awas! Jangan ada yang nyontek yaaa.. letakkan tas kalian di atas meja!” perintah pak guru lagi. Murid-murid pun meletakkan tas-tasnya di atas meja.
Suasana kelas pun menjadi hening, semua murid mengerjakan ulangan dengan tenang. Tiba-tiba si guru melihat sesuatu di atas meja, tepatnya di atas tas May.

“May apa itu? bawa sini!!” Tanya pak guru.
“tidak tahu Pak.. ini bukan milik saya.” jawab May kebingungan sambil menyerahkan gumpalan kertas itu. Teman-teman yang lain langsung memperhatikan May.
“Hmm.. anak sekarang aneh.. May! Sebagai hukuman baca ini di depan kelas!!” respon Pak guru mengangkat sebelah alisnya saat membaca isi kertas tersebut. May bertanya-tanya dalam hatinya.

“tapi Pak.. ini bukan milik saya.” ungkap May.
“tidak ada alasan sekarang baca keras-keras.” perintah pak guru. Mau bagaimana lagi May tidak bisa membantah guru matematikanya itu. May pun membacakan dengan keras di depan teman-temannya.

“Dear Rico.. sejak pertama aku melihatmu, aku sudah jatuh hati padamu. Rico terimalah hatiku ini. Rico I LOVE YOU.” begitulah isi dari kertas yang bikin May malu di depan guru dan teman-temannya, terutama Rico. Rasanya May ingin ke luar sambil menutupi wajahnya. “siapa yang melakukan hal itu.” ketus May dalam hatinya.
Seisi kelas menjadi ramai menertawakan May. “Kena dia! Haha.” seru Jessie dan kawan-kawannya begitu puas mengerjai May.

Saat tiba waktu istirahat. Rico menghampiri May yang sedang termenung sendiri di bawah pohon.
“Aku tahu itu bukan kamu yang menulis.. tidak usah dipikirkan.” ucap Rico duduk di samping May.
“lalu siapa yang menulis.. siapa yang melakukannya? kenapa harus aku?! apa setiap anak baru diperlakukan seperti itu?” Tanya May beruntun.
“tidak kok.. hanya saja mungkin iri terhadapmu.” balas Rico, suaranya terdengar bijaksana dan lembut.
“kenapa mesti iri terhadapku? apa yang mesti diiri-in.”

“mungkin karena kamu cantik, smart, baik, disukai banyak teman.” ungkap Rico melanjutkan. Kata-kata Rico membuat May tersanjung dan tersenyum malu. Rico pun juga ikut tersenyum sambil mencoba menghibur May. “wajahmu memerah gitu.. tapi aku berkata jujur loh.. kamu emang…” canda Rico kata-katanya tidak diteruskan.
Mereka pun tertawa dan tanpa disadari pertemanan mereka jadi semakin akrab. Kemudian Jessie si cewek tengil dan kawan-kawannya melihat Rico bersama May yang sedang duduk asyik mengobrol. “kenapa mesti si Rico sih.. yang lengket terus sama cewek kuper itu. Huh!” ketus Jessie.

Malam hari di rumah May.
“Tenanglah May, sabar saja!” kata Ayah May saat makan malam bersama.
“bayangin Yah.. masa May tidak salah dikerjain kayak gitu.. sebel banget!!” curhat May memberitahu.
“Cuekin saja, lama-lama juga dia bosan ngerjain.” saran Ibu May menimpali.
“Iya May juga tidak terlalu mempedulikan lagi pula May kan baru, tidak ingin membuat masalah. Oh.. iya besok May ikut audisi vokalis Band sekolah untuk HUT sekolah minggu depan.” papar May membuat senang keluarganya.
“waahhh.. bagus itu May, semoga menang dan jadi yang terbaik. Amin!” balas Ayah May sambil mengacungkan jempol.

Pagi hari di sekolah.
“Ana-anak yang ikut audisi vokal segera menuju aula sekolah!!” begitulah informasi yang disampaikan oleh guru yang bersangkutan.
Audisi pun mulai dilaksanakan di aula sekolah disaksikan murid-murid dan guru yang menjadi jurinya. Satu per satu murid tampil termasuk May, dan kini tinggal diumumkan siapa-siapa yang masuk 5 besar. “Baiklah anak-anak sudah terpilih 5 besar terbaik hari ini.. dan nama-nama itu adalah.. Rani, Syla, Casy, Jessie, dan May.”
“Selanjutnya 5 besar tadi akan diseleksi lagi besok untuk mendapatkan 1 orang terbaik menjadi vokalis band sekolah.”

Saat pulang sekolah. May begitu gembira setelah diumumkan oleh guru bahwa dia masuk dalam 5 besar. May memberitahu kabar gembira itu pada keluarganya.
“Horreee.. aku terpilih 5 besar.” seru May.
Ketika malam hari akan tidur, May gelisah memikirkan audisi lagi besok.
“semoga saja aku terpilih lagi. Amin.” batin May dalam hatinya, termenung memandangi langit-langit kamarnya.

Keesokan harinya merupakan hari yang ditunggu-tunggu peserta audisi.
“jangan PD dulu kamu.. belum tentu kamu yang menang.” ejek Jessie saat berpapasan di koridor.
“mau terpilih atau tidak itu bukan urusan kamu..” Celetuk May berbisik di telinga Jessie. May pun langsung meninggalkannya sembari tertawa kecil. Jessie menggeram marah, sambil memandangi May.

Tidak berapa lama setelah audisi kedua selesai, pengumuman pemenang audisinya pun sudah ditempel di madding sekolah. Semua murid-murid berdatangan untuk melihat siapa yang menjadi vokalis terbaik band di sekolah. “ohh.. pantaslah jadi vokalis, suaranya bagus sih.” sebut-sebut salah satu murid memuji setelah mengetahui siapa yang terpilih.

Dan kemudian May melihat namanya yang tertulis di madding. “MAYA BASKORO.” juri telah sepakat bahwa yang terpilih menjadi vokalis terbaik itu adalah May. May sangat senang dan berterima kasih kepada semua temannnya yang sudah mendukungnya. Teman-teman May pun memberikan selamat kepada May terutama Rico yang juga memberikan selamat kepada May. Membuat May senang dan lagi-lagi jantungnya berdegup kencang saat Rico mendekatinya. May jadi tertarik pada Rico, si ketua OSIS nan tampan dan bijaksana itu.

May sangat semangat latihan hari itu juga apalagi saat May tahu bahwa pemain Drummer bandnya adalah Rico. Rico sengaja tidak memberitahu May karena sebagai kejutan untuknya. Itu akan menjadi hari yang spesial untuk May, dan menjadi awal dari kisah cinta dan persahabatan dalam hidup May. Karena cinta dan persahabatan tak bisa terpisahkan. Mungkin seperti sahabat jadi cinta. Apa salahnya..

Bersambung

Cerpen Karangan: Shinta Ajeng
Facebook: Shinta Ajeng Alhan

Cerpen Pretty May (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Telah Percaya

Oleh:
Ketika sebuah percobaan akan berlangsung, disitulah sebuah rasa was-was menghantui. Sebuah kisah yang mungkin dianggap biasa namun sulit untuk disamakan oleh siapapun jika tanpa sebuah pengetahuan. Sangat sederhana, namun

Short Love

Oleh:
“ann… buka pintu lo ann!” teriak mira dan nam sembari menggedor-gedor pintu kamar ann. Sebenarnya ann malas membukakan pintu untuk kedua sahabat anehnya itu, habisnya mereka pasti akan mengacak-acak

Kecelakaan Menakutkan

Oleh:
Namaku Shasa. Aku baru anak SMP kelas 1. Setiap hari aku harus bangun pagi karena jarak sekolah dengan rumahku lumayan jauh. Pagi-pagi mama sudah membangunkanku. “Sha, ayo bangun cepat,

Kapan Bahagia Itu? Until You And I Meet

Oleh:
Aku mengenalnya di dunia maya, sosial media yang paling populer facebook. Gheo Prakarsa Putra, itulah namanya. Dia misterius karena jarang buat status, menurutku sih begitu. Yang kulakukan hanya membuka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *