Rainy Day

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 June 2016

Di sinilah aku, di salah satu cafe di Jakarta. Hawa dingin AC membuat tubuhku merinding. Aku merapatkan sweaterku yang berwarna merah muda dengan renda-renda di bawahnya. Sudah dua jam aku sendirian di cafe ini. Lynda, sahabatku yang selalu sibuk dengan urusannya tidak bisa menemaniku di sini. Jadi, aku hanya ditemani dengan suara bising orang-orang sekitar.

Mataku menatap satu per satu orang yang sedang tertawa bahagia bersama dengan orang lain, entah itu pacar atau keluarga dan sahabat. Perih, itu yang ku rasakan. Sebuah rasa yang membuatku menderita, sebuah rasa yang membuat dadaku seperti tertusuk benda tajam berkali-kali. Aku benci rasa itu, tapi rasa itu selalu ada hampir setiap hari. Aku mengalihkan pandanganku ke arah jendela. Aku sengaja duduk dekat jendela. Mataku memandang butir-butir bening yang mulai turun berlomba-lomba mendarat ke tanah. Hujan, dia memiliki arti tersendiri bagiku. Dia seakan-akan ikut menemaniku dalam kesedihan. Udaranya yang dingin membuatku betah berlama-lama. Baunya yang khas membuat diriku tenang.

Aku melangkahkan kakiku menuju kasir. Setelah itu aku ke luar dari cafe kecil ini. Bunyi hujan yang deras segera terdengar setelah aku membuka pintu. Mataku menatap langit yang berwarna kehitaman, pasti hujan ini akan lama. Aku menerobos hujan deras ini, membiarkan tubuhku basah kuyup untuk kesekian kalinya bersama hujan. Aku tahu aku bisa juga sakit untuk kesekian kalinya karena hujan-hujanan, tapi aku tidak peduli. Aku tidak peduli dengan diriku sendiri. Rumahku cukup dekat, aku tidak mau repot-repot naik taksi, karena itu juga membuat uangku akan semakin menipis. Aku bukan anak orang kaya yang bisa membuang-buang uang untuk hal-hal yang tidak berguna.

Aku berhenti sebentar, sekedar untuk menetralkan jantung yang berdetak kencang karena berlari. Aku menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Mataku terpejam, air mataku mengalir tanpa ku sadari. Ini yang terkadang ku sukai dari hujan, membuat orang lain tidak tahu bahwa aku sedang menangis. Aku merasa tubuhku tidak terkena lagi oleh air hujan. Aku mendongakkan kepalaku untuk melihat benda apa yang melindungiku dari hujan. Benda transparan yang terbuat dari pelastik, payung. Mataku beralih kepada pemilik payung yang bersedia meminjamkan payungnya untukku.

Deg!

Napasku tercekat. Jantungku terpompa dengan cepat lagi, tapi ini bukan karena lari. Aku seperti berada di masa-masa SMA lagi, dan dengan laki-laki yang sama. Matanya yang membuatku tenang, rambutnya yang berantakan membuat dirinya terlihat berandalan. Tapi dia tidak, dia laki-laki berpendidikan, dia satu-satunya pewaris perusahaan ayahnya. Aku rindu dengannya, tidak dapat ku pungkiri lagi, walaupun aku berusaha menyembunyikan rasa itu. Tapi rasa benci itu masih ada dalam diriku, masih tetap setia bersemayam di dalam hatiku.

“Kebiasaanmu masih sama. Kau tidak takut sakit?” Ia sedikit berteriak untuk mengalahkan suara hujan yang besar. Deylita, tidak boleh tersentuh. Aku tersenyum sinis, “Kenapa? Kenapa kau peduli?” Aku juga berusaha mengalahkan suara hujan yang besar. Jujur, hatiku sedikit merasa senang saat dia peduli dengan diriku.
“Ayo, aku antarmu pulang,” ucapnya. Bahkan suaranya saja aku rindu. Mataku melihat mobil yang berada di belakangnya. Tapi sejak kapan dia berada di situ?
“Tidak perlu.” Aku berlari menjauh darinya, membiarkan lagi- lagi hujan mengguyur tubuhku.

Aku berharap dia mengejarku, tapi itu tidak mungkin kan? Mungkin dia hanya basa-basi saat melihatku. Benar, aku memang wanita munafik. Sebuah tangan menahan langkahku, membuatku menoleh dengan cepat. Laki-laki itu lagi, setidaknya harapan kecilku terkabul. Ia menatapku tajam dengan sebuah payung yang masih dipegangnya dengan erat, membuat tubuhku sedikit tidak terkena hujan. Tatapannya sangat dalam seperti mengundangku untuk masuk ke dalam pupil matanya yang berwarna hitam pekat itu. Aku suka melihatnya.

“Maaf…” lirihnya pelan, tapi masih terdengar dengan jelas di telingaku. Aku tertegun. Maaf? Sekarang dia baru minta maaf? Sayang, tapi hatiku sudah hancur berkeping- keping.

“Maaf?” Tanyaku dengan mengulang kata- kata yang dia ucapkan. “Untuk apa?” Aku menaikkan kedua alisku. “Oh aku tahu, untuk kesalahanmu yang dulu yang menjelek- jelekkanku, yang membuat diriku hancur, yang membuat diriku–” Ucapanku terputus, dia memelukku sangat erat. Napasku sangat pendek karena pelukannya yang kelewat erat. Jantungku tidak bisa diajak kompromi, dia berdetak dengan sangat kencang di dalam sana. Payung yang dipegangnya entah sudah jatuh kemana yang membuat tubuh kami berdua sukses basah kuyup.

“Maaf,” ucapnya lagi.

Tangisku sudah tidak dapat ku tahan lagi. Cairan bening itu sudah tumpah membasahi bajunya. Aku tidak tahu harus berkata apa. Yang aku sadari, aku terlalu mencintainya. Berapa kali pun dia melukaiku aku tetap akan mencintainya. “Aku sungguh minta maaf. Aku berjanji tidak akan melukaimu lagi. Aku mohon percaya padaku.” Aku sudah bilang, aku terlalu mencintainya. Kata-katanya membuat hatiku terasa sangat hangat. Tangannya mengelus puncak kepalaku dengan lembut. Hal itu membuat jantungku tidak karuan. Dia melepaskan pelukannya, lalu menatapku lagi, menunggu sebuah jawaban dariku.

“Aku maafkanmu. Aku percaya padamu,” ucapku dengan pasti.
Sudah ku bilang, aku terlalu mencintainya.

The end

Cerpen Karangan: Shandez Darlene
Facebook: Shandez Darlene

Cerpen Rainy Day merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Flashdisk Pembawa Cinta (Part 1)

Oleh:
Perpisahan tersedih dalam hidupku kalau aku harus berpisah dengan flashdisk kesayanganku. Apalagi sekarang, Prnya harus disimpan ke dalam flaskdisk, dan harus dibawa sama guru yang tak tau kapan dikembalikan.

Tinju Dunia (Part 2)

Oleh:
~ Tragedi ~ Beberapa minggu pun berlalu setelah Firhan mengalahkan Budi dalam perkelahian. Diceritakan pada saat itu, Firhan dan Eva sedang membahas tentang liburan akhir tahun yang akan datang.

Anak Millenial

Oleh:
Menurut loe kaum millenial itu kayak apa sih? Apakah harus ikutin yang viral-viral gitu? Atau gua harus jadi artis biar gua dikata gaul? Kalau ga kaum millenial itu harus

Puisi Sedih Untuk Thara

Oleh:
Sore itu, angin tak seperti biasanya, ia berhembus dengan sangat tenang. Sore itu seorang wanita berpakian serba hitam berjalan menuju sebuah pemakaman umum. Dia berjalan menyusuri setiap petak tanah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *