Richy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 September 2016

Masih pagi. Dari bawah aku melihat laki-laki yang berada di depan kelasku. Pandangannya sangat mengganggu. Wajahnya sama sekali tak kukenal. Pasti dia bocah baru disini. Namun setelah aku menginjak anak tangga sampai lantai tiga, dia sama halnya aku. Siswa yang sudah lama tinggal di sekolah ini.
Memang wajahnya asing. Hampir satu tahun di tempat ini, baru pagi ini aku melihat laki-laki itu. Laki-laki dengan tubuhnya yang tinggi dan tegap, dia tampan, dan aku suka dengan caranya memandang. Karena matanya begitu indah.
Aku hanya menatapnya sekilas. Tak berani kumenatap terlalu lama. Karena beberapa hal. Iya, hanya karena beberapa hal yang sulit untuk diungkapkan. Atau memang aku tak mengerti bagaimana mengungkapkannya.

Di hari kemudian. Aku selalu mencari informasi tentangnya. Siapa dirinya? Dan apapun yang berkaitan dengannya. Hingga aku menemukan, satu akun media sosial atas nama dirinya, Richy Fernanda.
Awalnya, aku menemukan nama itu karena seringnya aku meminjam buku di perpustakaan sekolah. Saat mencari kartu perpustakaan ku disana, kutemukan terlebih dahulu kartu miliknya. Dengan foto yang mirip dengannya. Dari situlah, nama Richi kutemukan.
Tidak. Ternyata aku salah membaca. Bukan Richi namanya, tetapi Ricky. Ah! Tapi sama saja. Hanya beda satu huruf.
Sedikit gemetar jariku. Teruslah berdesir darahku. Seakan mempengaruhi jantungku untuk lebih cepat berdetak. Padahal, hanya satu rencana kecil yang akan kuluncurkan. Mengirim pesan ke akun media sosialnya tersebut.
Mungkin hanya dengan satu pesan tak penting, dimana aku sendiri sudah tahu jawaban dari pesan tersebut.
“Kamu sekolah di SMA ini juga ya?” Sambil kuikut sertakan gambar dari lambang sekolahku.
Berjam-jam kutatap layar ponselku. Tak kutemui juga balasan darinya. Memang sudah terlihat dari wajahnya, dia termasuk laki-laki yang cuek dan dingin. Mungkin pesanku hanya dibacanya lalu dihapus. Sempurna!

Sudah satu Minggu. Tetap kulihat ponselku. Ditengah pelajaran seperti ini. Pelajaran yang sangat membosankan dan membuat teman-temanku mengantuk di jam siang seperti ini. Hanya berharap, ada yang mengajakku chat, lalu aku bebas dari kebosanan ini.

Drttt..
Satu pesan muncul dari layar ponselku. Kulihat Ricky membalasnya. Apa dia perlu satu Minggu untuk membalas pesan sesingkat itu? Hanya dengan jawaban, “Y”. Kurasa hidupnya memang sedang sempurna.
Langsung kugeletakkan ponselku. Aku berfikir, perlukah aku membalasnya lagi? Kuambil ponsel tadi. Kupencet dengan cepat tombol delete. Mungkin disini hidupku juga akan sempurna.

Setelah hari itu, sering sekali kutemui dirinya. Tak peduli dimana tempatnya, dia selalu muncul dimana aku berada. Kulihat matanya lagi, seakan pandangannya sudah mengenaliku. Dari sini aku menyesal. Mengapa getaran jariku malam itu membuatku untuk mengirimkan satu pesan bodoh kepadanya?!
Satu yang aku takuti, matanya. Entah mengapa aku sangat takut saat matanya menatapku. Terkadang aku langsung mengalihkan pandanganku. Namun tidak saat sore itu, mungkin dunia sudah terbalik.

Dari jarak kita berdiri sudah sangat jauh. Aku tetap mencari kesempatan untuk dapat memandangnya. Entah apa yang aku temukan saat ini, ternyata dia sudah menatapku lebih dulu, bahkan lebih lama. Ternyata dia sama sepertiku. Dengan cepat dia mengalihkan pandangannya setelah tertangkap basah olehku. Dasar!

Setelah itu, aku berjalan ke arah barat. Dia juga berjalan bersama satu temannya ke arah Utara. Kita hampir berebut satu jalan saat. Temannya sangat baik, mempersilahkanku untuk berjalan lebih dulu. Namun dia egois, tetap melanjutkan jalannya dan membuatku berhenti di tengah jalan dan jengkel dengan tingkahnya.

Dia melanjutkan jalannya begitu saja. Lalu berhenti dan berbalik, bukan menatapku, melainkan mengajak temannya untuk lanjut berjalan tanpa berhenti. Temannya masih sangat baik. Dia masih mempersilakan jalan lebih dulu. “Terimakasih.” Ucapku lalu tersenyum.
Setelah temannya bersamanya, aku berhenti dan menatap mereka. Bukan, tapi salah satu dari mereka. Sudah siap tanganku mengambil batu dari bawah kakiku lalu melemparkannya tepat pada kepalanya. Namun rencana itu tertunda, karena aku masih memiliki perasaan dan karena sifatku tidak seburuk dia.
Sebenarnya hanya satu dari sekian temanku yang mengetahui hal ini. Selang beberapa hari, temanku yang biasa aku panggil jengkol itu tiba-tiba merebut ponsel dari tanganku. Awalnya aku tak peduli dengannya, namun langkah selanjutnya semakin membuatku greget.
Satu chat sudah meluncur kepada Ricky lewat akun BBM. Gila! Aku marah saat itu juga, tapi “Allah.. nggak usah sok marah.. palingan lo juga seneng..” Ucapnya dan malah membuat pipiku merah.

Di kemudian hari, jengkol menghampiriku. “Sudah dibales belum sama Ricky?” Tanyanya.
“Belum.” Jawabku singkat.
“Sini biar aku chat lagi.” Sambil berusaha mengeroyok ponselku.
“Nggak!” Bentakku seketika itu.

Malam itu, aku masih menanti chat dari Rcky. Tak ada. Memangnya dia siapa? Bahkan kita juga tidak saling kenal.
Aku diam. Ponselku kuajak kompromi untuk chat Ricky. Entah sihir apa yang datang, hanya menghitung detik, ponselku error saat itu juga. Layarnya berwarna hitam penuh. Berulang kali ku tekan tombol powernya, tetap tak ada efek yang timbul. Wajahku hanya pasrah dan semoga keajaiban muncul besok pagi.

2 Minggu kemudian
Salah satu temanku yang sering kupanggil gondrong itu memanggilku. Aku tau dan aku melihat jelas siapa laki-laki yang ada bersamanya saat itu, Ricky.
“Apa?” Tanyaku.
“Nih, ponselnya dia rusak.. sama kayak punya lo dulu.. coba lo benerin.” Jawabnya, lalu diikuti tangan Ricky menyerahkan ponselnya kepadaku.
“Kok gue?”
“Kan lo dulu pernah benerin ponsel lo sendiri..”
“Tapi kan dulu.. dan kalau ponselnya nggak satu jenis, mana gue bisa.”
“Ini ponselnya sama seperti punya lo..”
“Hah?”
Lalu, kusaut cepat ponsel itu dari tangan Ricky. Sambil kulihat pandangannya. Kini matanya bukan mata yang indah seperti dulu. Kini matanya terlihat kejam.

Gondrong meninggalkan kita. Wajar, karena gondrong termasuk orang penting. Banyak dibutuhkan, jadi sangat sibuk.
Kuakui, dengan gayaku yang sok bisa, kini aku menyerah. Aku bahkan lupa bagaimana cara memperbaikinya. Aku menatapnya, hampir kukatakan, “Aku tidak bisa.”, tapi dia langsung begitu saja menyaut ponselku. “Kalau lo nggak bisa, ponsel lo milik gue.” Begitu Ucapnya.
“Hah? Ya nggak lah.. lo gila?! Ini kan bukan murni kesalahan dari gue..”
“Ya jelas dari lo lah..”
“Hah.. kok?”
“Lo lihat.. tadi ponsel gue rusaknya tidak segitu parahnya. Tapi setelah lo pegang, jadi hancur!” Ucapnya lalu pergi.
“Iblis!!” Gumamku.
Aku sudah ingin marah, berteriak, menghajarnya, memukulnya, dan melempar apapun kearahnya. Bagaimana mungkin ada manusia yang lebih dingin dari es.

Satu hari penuh aku memperbaiki ponsel tersebut. Hingga kelopak mataku penuh dengan bulatan hitam. Seakan mataku habis dipukul. Aku sangat ingin tidur, tapi jarum jam sudah berkata kepadaku bahwa sekarang saatnya sholat subuh. Ah! Seakan aku ingin sekali memutar jarum jam itu untuk kembali ke tengah malam.

Masih pagi. Iya, masih pagi. Mungkin aku terlalu cepat datang ke sekolah. Atau mungkin teman-temanku yang telat. Aku sudah menunggu laki-laki itu di depan kelasnya. Entah kenapa, sedikitpun wajahnya tak kulihat. Terakhir aku melihat gondrong menuju ke kelas Ricky dan memberikan satu amplop putih kepada salah satu teman Ricky.
“Tadi apa, ndrong? Surat?”
“Heem.. eh, lo ngapain disini?”
“Surat siapa?”
“Ricky nggak masuk.”
“Hah?”
“Kenapa? Lo Disni nunggu Ricky?”
“Iyaa.. hiks hiks hiks.. huh! Lo bilangin sama dia, ponsel dia udah selesai gue perbaikan dan suruh dia ngembaliin ponsel gue, se-ce-pat-nya!!” Teriakku, lalu pergi.

Aku hanya diam di kelas. Melihat teman-temanku yang asik dengan ponsel di tangannya. Aku juga ingin, tapi ponsel siapa yang kubawa sekarang?

Sudah dua hari. Tetap tak ada kabar tentang Ricky. Dari tempatku duduk, aku melihat gondrong mulai masuk kelas. Kulihat tatapannya, sangat meledek.
“Cil?!” Gondrong muncul dari belakangku. Dia tetap sama seperti pacarnya, selalu muncul di hadapanku secara tiba-tiba.
“Apa?”
“Ricky udah masuk tuh..”
“Mana?”
“Di kelas lah..”
“Kok nggak kesini?”
“Ngapain?”
“Balikin hp gue lah..”
“Dia bilang nanti sore.”
“Ha? Kok sore?”
“Tak tau..”
“Trus nanti sore dia mau balikin dimana?”
“Kedai Ori depan sekolah.. jam 5.”
“Kok dia gitu sih…”

Sore ini aku berjalan sendiri. Menuju ke kedai depan sekolah. Dan Ricky belum ada disana..!!! Aku duduk di dekat pintu.
“Lo disini?” Tanya Ricky yang tiba-tiba mendatangiku.
“Iya! Udah dari tadi gue nunggu lo disini. Lama!!” Jawabku dengan jengkel.
“Lo yang lama. Gue udah disini dari tadi.”
“Mana? Pas datang, gue nggak liat lo sama sekali.”
“Lo buta? Gue duduk di pojok dari tadi. Gue aja liat Lo datang. Ternyata Lo sedeng ya, orang segede gini nggak liat.”
“Gue nggak tau.”
Ricky langsung mengikutiku duduk. “Mana ponsel gue?” Tanyaku secara langsung.
Dia langsung memberikannya. Dengan matanya yang menatapku seperti itu, seakan aku ingin pulang dan mengumpat.
“Apa?!” Tanyaku membentak.
“Kenapa?” Dia balik bertanya.
“Mata Lo nggak bisa biasa kalau lihat gue.”
“Eh, lo sering gue ya?” Kini dia mulai menakutkan. Aku takut kalau dia tau aku sering chat dia, tapi nggak pernah dia balas. Hiikss..
“Enggak!”
“Hallah..”
“Iya, cuma sekali.”
“Sekali?”
“Dua kali kayaknya. Eh! Tiga.. nggak tau deh.”
Kulihat bibirnya sedikit terangkat sambil meledekku.

“Sebenarnya chat dari lo yang terakhir sudah gue bales..”
“Memangnya kapan terakhir gue chat Lo?”
“Gue juga lupa. Yang pasti lewat akun BBM Lo.. tapi Lo selalu centang.”
“Memangnya Lo punya pin gue?”
“Ini?” Lalu dia menunjukkannya.
“Ya jelas saja centang. Gue ganti pin.”
“Kenapa?”
“Ponsel gue habis eror. Lalu gue restart. Trus hilang semuanya.”
“Lo nggak hafal sandi Lo?”
“Enggak lah, menangnya biologi yang harus dihafalin?”
“Syukurlah..”
“Kenapa?” Tanyaku.
Dia tidak menjawab, melainkan langsung menyaut ponselnya yang dari tadi masih kupegang.

Aku penasaran. Belum sempat dia mendapatkannya, aku langsung membawa ponselnya lari. Mengumpat di suatu tempat. Lalu melihat semua isi ponselnya.
Aku melihat. Semua chat yang dia kirim ke akun BBM lamaku. Langsung kulangkahkan kakiku keluar dari sarangnya. Kulihat dia yang masih sibuk mencariku. Lalu aku tertawa.
Lalu dia menghampiriku, lalu menyaut ponselnya. Dan menatapku seperti itu. Iya, seperti itu. Aku masih menahan geli. Lalu dia berjalan pergi.

Di tengah sana. Aku mendapat chat dari Ricky lewat messenger. “Apa Lo sudah membaca semuanya?”
“Iya.”
“Bagaimana menurut Lo?”
“Norak!”
“Iya. Gue berharap, entah kapan waktunya, gue bisa mengungkapkannya lebih romantis.”
“Gue tunggu.”
“Gue suka Lo nunggu gue.”
Mulai saat ini, entah sampai kapan nantinya, aku tetap menunggu. Dia juga yakin, aku masih tetap menunggunya. Kita hanya butuh satu kepercayaan dari apa yang telah kita ucapkan.

Cerpen Karangan: Ade Shinta

Cerpen Richy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Facebook to Love

Oleh:
“gita, walaupun aku kenal kamu Cuma dari facebook, tapi aku ngerasa kita udah cocok. kalau kita chatting kita selalu nyambung, kamu mau jadi pacar ku?” andi mengirimkan pesan ke

Nostalgia

Oleh:
“Jika memang rasaku ini semu, maka ia akan hilang seiring dengan berjalannya waktu” Kataku terkias di atas secarik kertas, kutulis dengan pena kesayanganku. Dengan pena itu kucoba rapal bayangnya

Diary of Love

Oleh:
Tibalah saat dimana gue sekarang jadi murid smp. Hari senin mungkin menjadi hari yang paling melelahkan bagi beberapa orang, yah karena selain gue harus bangun lebih pagi dari biasanya

Ramalan Cinta Untuk Langit

Oleh:
Alarm jam di kamarku sudah berulang kali berbunyi, tapi rasa hangatnya selimut yang membalut tubuhku dari tadi malam sungguh sulit untuk kugantikan dengan seragam sekolah, apalagi jika kuingat pelajaran

Mungkinkah Kau Malaikatku?

Oleh:
Suara hingar bingar memenuhi kelas seperti biasanya.. Aku dan sahabatku Herma sedang duduk di sudut kelas sambil memainkan PSP yang biasa aku bawa sembari menunggu datangnya guru. Disaat tengah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *