Sang Juara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 October 2019

Sore itu gerimis sudah turun, Sis gelisah karena Jim, anak semata wayangnya belum juga pulang. Di dinding jam menunjukkan pukul tiga sore. Biasanya jam dua sudah sampai di rumah. Sis khawatir hujan deras segera turun. Sambil menunggu Jim, Sis melangkah ke ruang keluarga ketika SMS masuk ke ponselnya. “Saluran 13 Acaraku sekarang.” Begitu tulisan di layar ponsel Sis. Segera ia menyalakan televisi dan menekan Channel 13 di remote control Acaranya adalah Report Investigation. Ceo-Produser acara itu adalah Sam yang tak lain adalah suaminya sendiri. Kali ini adalah tentang Pengemis di Ibukota. Menonton acara itu melangutkan lamunan Sis ke masa-masa remajanya, 20 tahun yang lalu. Sis tersenyum sendiri teringat masa-masa indah itu.

Bel masuk sekolah telah berbunyi. Sam dan Sis berlari-lari kecil menuju gerbang sekolah yang hendak ditutup oleh satpam sekolah. Beruntung Pak Satpam itu melihat mereka dan memberi kesempatan mereka masuk.
“Besok lebih pagi berangkatnya!” kata Pak Satpam.
“Ya Pak, terima kasih.” Jawab mereka hampir bersamaan.
“Kamu kelas VII apa?” tanya Sam
“Aku VIIA. Kamu?”
“Aku VII H.”
“Kau di kelas unggulan ya?”
“Siapa bilang?”
“Kakakku. Dia bilang kelas H di sekolah ini adalah kelas unggulan.”
“Lihat saja nanti.”
“Masak sih? Oh ya, siapa namamu?”
“Aku Sis.” Jawab Sis sambil mengulurkan tangan.
“Aku Sam” jawab Sambil meraih tangan Sis. Mereka berjabatan tangan.
Percakapan mereka tidak berlanjut karena letak kelas mereka yang berjauhan. Kelas Sis di pojok Barat dan kelas Sam di pojok Timur. Mereka saling melambaikan tangan. Amboi… mesranya mereka.

Waktu berlalu dan hari-hari pun berganti. Persahabatan mereka semakin akrab. Sering Sam menunggu Sis di dekat gerbang sekolah untuk sekadar “say hello” lalu jalan bareng masuk gerbang sekolah dan bersalaman dengan guru piket. Meski berbeda kelas, mereka dipertemukan oleh kegiatan ekstra kurikuler yang pembinanya sama. Sis mengikuti ekskul Sanggar Sastra (SS) dan Sam mengikuti ekskul Jurnalistik Sekolah (JS). Kedua ekskul itu merupakan pendukung utama majalah sekolah (Majas) yang dikelola siswa. Setiap bulan sekolah itu menerbitkan majalah sekolah. Majalah itulah salah satu kebanggaan sekolah mereka. Keduanya pun dipercaya pembina ekskul untuk menjadi anggota redaksi majalah sekolah itu. Karena itu Sam dan Sis sering bertemu apalagi jika majalah akan terbit. Redaksi tentu sibuk sekali. SS menjadi Sibuk Sekali dan JS menjadi Jarang Santai. Begitu kelakar mereka terhadap ekskul masing-masing.

“Kamu cita-citanya sastrawan ya?” tanya Sam ketika di suatu siang mereka bertemu di kantin.
“Entahlah. Sebenarnya aku ingin jadi penulis.”
“Kalau ingin jadi penulis kenapa tidak ikut JS saja?”
“Suka-suka aku dong.”
“Okelah. Ayo pesan apa? Aku traktir.”
“Bakso.”

Tak lama kemudian Sam sudah datang dengan membawa dua mangkuk bakso pada sebuah nampan. Di kursinya Sis menunggu sambil tertawa cekikikan. Sis melihat lucunya Sam membawa bakso itu.
“Kenapa tertawa?”
”Kamu lucu deh kalau bawa bakso tadi. Seperti…”
“Seperti apa?”
“Pelayan restoran.”
“Sialan!”

Suatu hari Senin pada upacara bendera pembina upacara mengumumkan bahwa salah satu siswa adalah memenangi lomba cipta cerpen tingkat nasional. Semua siswa bertepuk tangan meski belum tahu siapa pemenangnya. Mereka penasaran karena sebelumnya tidak ada pengumuman lomba itu. Bukankah setiap lomba pasti diumumkan sekolah? Dan ketika pembina upacara menyebut nama Sis, mereka bersorak dan segera menyalami Sis tak peduli mereka masih dalam posisi berbaris. Barisan menjadi kacau tapi pembina menoleransinya. Sebentar kemudian mereka sudah berbaris rapi kembali.

“Selamat Sis. Kapan lombanya? Kok diam-diam saja ikut lomba?” kata Tom yang juara lomba cipta cerpen FLS2N tahun lalu.
“Sis cuma tersenyum. Ia tahu itu cuma basa-basi Tom saja. Tom merasa tersaingi. Tapi bagi Sis sikap itu membangkitkan motivasinya untuk terus berlatih dan berkarya.

Setelah upacara Sis menjadi viral seluruh siswa. Semua guru memujinya. Ikon sekolah yang tertulis “Selalu Berprestasi” sekali lagi dibuktikan. Mungkin ini pantas menjadi berita utama Majas tetapi sayang hari itu Sam tak tampak batang hidungnya. “Kemana Sam?” pikir Sis. Harusnya ia memberi ucapan selamat kepadanya. Usut punya usut ternyata Sam hari itu tidak masuk karena sakit.

Tanpa terasa hampir dua tahun berlalu. Hari ini adalah hari kenaikan kelas. Sam dan Sis akan naik ke kelas IX. Kelas terakhir yang selalu ditunggu-tunggu oleh mereka. Status remaja sudah mantap mereka sandang. Mereka punya dua adik kelas. Namun, bagi Sam ada yang hilang ketika ia berada di kelas tertinggi ini. Katanya kelas IX sudah tidak boleh ikut ekskul. Mereka harus fokus belajar untuk menghadapi Ujian Nasional (UN) apalagi sekolah ini melaksanakan CBT.
“Kelas IX tidak ada ekskul dan diganti dengan bimbel. Kalian harus fokus pada UN, apalagi UN-nya pakai komputer. Namanya Computer Based Test atau disingkat CBT. Bahasa Indonesianya: Ujian Nasional Berbasis Komputer disingkat UNBK” Kata pembina OSIS.
“Huu…” protes para aktivis ekskul. Mereka memang “ekskul-mania”
“Pembagian kelas kapan Pak?” tanya Rev.
“Setelah liburan. Hari pertama masuk kelas sudah terbentuk.”

Jam istirahat kedua kurang lima menit lagi berbunyi. Tiga kali mata Sam tertuju pada jarum jam dinding yang terpaku di tembok kelas. Tanpa sadar hal itu diamati oleh Sis. Ia tahu bahwa teman sekelasnya itu ingin segera berkumpul dengan gengnya. Biasanya di belakang sekolah dekat toilet. Sis sering mendapati Sam merok*k bersama teman gengnya. Sis prihatin Sam telah salah bergaul. Dulu waktu kelas 7 Sam adalah siswa yang pendiam dan pintar.

“Hei, awas jangan ikut-ikutan mereka”
“Ikutan apa sih?”
“Seperti kemarin.”
“Kamu ngomong apa?”
“Kamu ngerok*k sama gengmu. Iya kan?”
“Kalo ketahuan BK, mampus Lo!”

Bel istirahat kedua berbunyi. Semua lega. Sam langsung melesat ke tempat gengnya berkumpul. Mungkin mereka sudah membuat janji.
“Haloo pren…!”
“Acaranya apa kali ini?”
“Nih, aku dapat rejeki.” Kata Mid sambil membanting sebungkus rok*k yang masih utuh dan belum dibuka. Mid bilang tadi malam ia membantu orang mendorong mobilnya yang mogok. Setelah itu, orang itu memberinya 20 ribu.
“Udah cepet dibuka.”
“Mana koreknya?”
“Aduuh, kok gak ada yang bawa korek?”
“Sudah sana Sam cari korek.”

Sam berdiri dan meninggalkan mereka. Ia akan mencari api. Ia akan pinjam korek, entah ke siapa. Tapi tak lama kemudian beberapa guru menggerebek mereka. Tiga guru yang mencurigai mereka langsung menggiringnya ke ruang BK. Sam beruntung sekali tidak ikut terjaring. Tapi nasibnya belum bisa dipastikan. Mungkin saja temannya yang di-BK mencatut namanya. Sam merasa was-was. Dalam hati ia menggerutu, “Begini ya sumpeknya jadi siswa bermasalah. Hari itu ia pulang dengan gontai dan bisa merasakan sebagai siswa yang bakal jadi pesakitan BK.

Benar saja esok paginya di tengah lapangan upacara telah berdiri empat siswa yang dicurigai BK. Mereka berbaris di bawah tiang bendera. Tentu mereka jadi pusat perhatian semua siswa dan guru. Kabar yang beredar mereka kemarin kedapatan membawa sebungkus rok*k. Tapi mereka sudah terkena skor pelanggaran. Jika mereka tertangkap tangan merok*k, mereka akan mendapat peringatan tertulis dan orangtua dipanggil ke sekolah. Sementara Sam karena tidak terbukti bersama mereka, Sam hanya diberi nasihat-nasihat saja dan tidak disuruh berdiri di bawah tiang bendera. Guru BK menasihati Sam agar tidak bergaul dengan mereka. Sam manggut-manggut dan mengiyakan saja.

Siangnya ketika pulang sekolah, di gerbang sekolah ia bertemu Sis yang sedang menuntun sepeda pancalnya. Setengah berlari ia menghampiri Sis.
“Hei, Sis.” Sapa Sam ragu-ragu. Sis menoleh dan menghentikan langkahnya begitu tahu Sam menghampirinya. Sis tahu saat ini Sam butuh teman untuk berbagi. Sis tahu Sam dapat masalah. Sebagai teman Sis merasa harus menolong temannya ini.
“Hei, Sam… balas Sis. Mereka terus berjalan hingga keluar gerbang sekolah. Mereka berjalan dalam diam. Lidah Sis terasa kelu untuk memulai kata-kata.
“Aku… seperti tidak mengenalmu Sam. Kau bukan Sam yang dulu.” Kata Sis sambil terus menuntun sepedanya. Ia memberanikan diri mengatakan itu.
“Oh, selamat Sis. Katanya kamu menang lomba cerpen.” Sam mengalihkan pembicara-an. Sam memang bertingkah aneh akhir-akhir ini. Sis tak tahu kenapa.
“Terima kasih. Aku akan mentraktirmu bakso besok. Gimana?”
“Boleh.”

Mereka sudah berjalan hampir mendekati rumah Sis. Ketika sudah di depan rumah Sis kebetulan di kejauhan sebuah angkot akan melintas di depan mereka. Sam segera menyetopnya dan naik angkot itu seperti biasanya. Dari balik kaca angkot yang bening Sam melambaikan tangan. Sis membalasnya.

Pada suatu hari Senin pada upacara bendera, kembali sekolah itu mendapatkan satu kebanggaan.
“Anak-anak, hari ini sekali lagi sekolah kita mendapatkan sesuatu prestasi yang luar biasa” kata pembina upacara dengan penuh semangat. Semua peserta upacara bertepuk tangan dengan meriah.
“Luar biasa karena lomba ini diikuti secara mandiri. Jadi sebenarnya sekolah tidak tahu. Tahunya hari Sabtu kemarin pihak penyelenggara lomba menghubungi sekolah untuk mengonfirmasi. Apakah benar siswa itu siswa sekolah ini.” Semua peserta upacara terdiam. Mungkin penasaran.

Pembina upacara melanjutkan, “Dan… Siswa tersebut adalah… Sam.”
Semua bertepuk tangan, sementara kelas Sam bersorak-sorak kegirangan dan menyerbu Sam untuk memberi ucapan selamat. Barisan jadi kacau. Tapi pembina upacara membiarkan anak-anak itu meluapkan kegembiraan masing-masing.
Setelah ekspresi luapan kegembiraan itu reda dan semua kembali ke barisan masing-masing, pembina upacara memberi kesempatan kepada Sam untuk menyampaikan perihal lomba yang diikutinya.

Sam maju ke depan barisan diikuti tepuk tangan semua peserta upacara. Buru-buru pembaca protokoler upacara memberikan mik kepadanya.
“Assalamualaikum warokmatullohi wabarokatuh…”
“Waalaikumusalam warokmatullohi wabarokatuh” jawab peserta upacara kompak.
“Yth. Kepala sekolah, yang saya hormati ibu bapak guru, dan teman-teman yang saya banggakan. Alhamdulilah saya memenangi lomba jurnalistik sekolah dalam bentuk penulisan report investigation yang diadakan oleh sebuah televisi nasional dan kemendik. Terima kasih kepada semua yang membantu saya. Terutama Genk Joss yang telah menjadi objek penulisan saya. Saya telah bergaul lebih dari tiga bulan untuk keperluan ini. Dan insyaallah tulisan saya ini akan dijadikan naskah acara serupa. Tentu saja nanti ada drama-tisasi karena acara sifatnya hiburan.” Semua tepuk tangan. Itu yang bisa saya sampaikan. Terima kasih. Dan maaf hampir lupa, semua anak SS, JS, dan Genk Joss nanti pada istirahat kedua saya traktir makan bakso di kantin. Wassalamualaikum warokmatullohi wabarokatuh.”

Semua bersorak. Anak-anak lain berteriak-teriak minta ditraktir juga. Tapi Sam cuma tersenyum dan kembali ke barisan. Upacara selesai. Banyak siswa yang masih mengerubuti Sam. Kemudian guru BK mengajak berfoto bersama. Hari itu Sam menjadi bintang. Sementara seseorang yang merasa ditipu Sam merasa sebel sekali. Dialah Sis. Ternyata Sam berpura-pura menjadi siswa nakal untuk tujuan pribadinya, bersaing dengan dirinya. Sam tak tahu Sis selalu memikirkannya. Gak taunya?

“Kamu jahat!” teriak Sis.
“Oh, no no no. It’s only a surprise for you.”
“For me? Why?”
“You are a winner and I wanna be like you you too.”
Kita sang juara. Kelak ini akan jadi cerita yang indah. Mereka bersalaman. Mata mereka bertatapan. Ada sesuatu bergetar di hati masing-masing. Entah apa itu. Kelak waktu yang menunjukkannya.

Cerpen Karangan: Suwarsono
Blog / Facebook: Sam Swarson

Cerpen Sang Juara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Yogi Si Kura Kura Ninja

Oleh:
“dor dor dor dor”, terdengar suara gedoran pintu kamarku. “qo, cepetan bangun udah jam 6” teriak kakakku, Zahra. “iya kak” teriak ku pada Zahra. Aku bangun, dan bersiap untuk

Pilihan Yang Baik

Oleh:
Pilihanku akan menentukan takdirku di masa depan. Itu merupakan suatu fakta hidup yang sudah selalu aku terima sampai sekarang. Tetapi, alasannya mengapa begitu susah dimengerti. Setiap momen, setiap menit,

Kudapatkan Apa Yang Kumau (Part 2)

Oleh:
Esok harinya aku berani untuk menceritakan kiki pada mamahku, aku ceritakan kedekatan aku dengan kiki dan aku jujur tentang kejadian malam itu. Setelah aku ceritakan aku merasa lega banget,

Hitam Putih

Oleh:
Zahra menahan napas ketika sampai di depan pintu kelasnya. Pak Rafi pasti sudah masuk. Matilah dia. Lalu, dengan pelan, ia membuka pintu kelas. Bersamaan dengan itu, seisi kelas menjadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *