Sebab Akibat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 March 2016

“Busyet dah! Udah jam setengah delapan?!” Teriakku ketika melihat jam dinding yang tepat berada di depan pandanganku ketika baru saja bangun.

Reaksi ini pasti akan ku lakukan mengingat waktu tersebut adalah jam masuk sekolah. Seketika aku langsung bangun, lalu mengambil buku-buku sesuai jadwal hari ini, memakai seragam, dan bergegas pergi, tidak ada waktu untuk mandi. Meski jarak rumah ke sekolah cukup dekat, tentu saja aku sudah terlambat setelah aku berlari sekuat tenaga. Pintu gerbang telah tertutup, aku menggoyangkan gerbang tersebut agar satpam sekolah membukakannya. Satpam sekolah seketika datang dan membukakan pintu gerbang, aku dipersilahkan masuk namun bersyarat. Aku harus push-up 50 kali terlebih dahulu. Setelahnya aku langsung dengan cepat mengambil langkah ke arah kelas, aku mengetuk pintu lalu masuk ke kelas. Guru Fisika tidak membiarkan begitu saja aku untuk duduk.

“Kenapa telat?” Tanya guru dengan nada ketus.
“Kesiangan Bu…”
“Hemh.. Klasik.”

Aku tak dapat membalas komentar Ibu guru tersebut, teman-teman sekelas terlihat senyam-senyum saja melihatku berdiri di hadapan mereka. Setelah hening beberapa detik, akhirnya bisa duduk. Setelah melakukan squat jump cukup banyak. Ada rasa lega luar biasa di dalam hati, aku masih bisa mengejar waktu untuk sekolah. Namun ketenangan tersebut tidak berlangsung lama, Ibu guru seolah mengucapkan mantera yang dapat membuatku terhentak hampir jantungan, “Oh iya kamu, mana PR-nya? Sini kumpulin!” Mataku dengan sigap melihat catatan terakhir yang ada di buku, terpampang jelas ada 5 soal pertanyaan yang telah ditulis minggu lalu, akan tetapi masih belum ada jawabannya. Aku tersadar bahwa belum mengerjakannya.

“Belum.. Bu..” Ucapku dengan gemetaran sampai-sampai aku salah tingkah dengan mematahkan pensil.
“Emhh.. Squat jump 50 kali! Cepet!!” Tanpa ke luar kata dari mulutku, aku kembali berdiri lagi di depan kelas, melakukan squat jump lagi meski nyatanya badanku sudah lumayan lemas setelah melakukan beberapa kegiatan semacam militer sebelumnya. Aku tidak akan bisa menang berdebat dengan menemukan alasan mengapa aku belum mengerjakan PR, karena guru yang satu ini tidak akan menerima apa pun alasannya.

Loncatan demi loncatan mulai ku lakukan, membuat kakiku semakin pegal dan lemas. Namun di saat itu aku berpikir, mengapa semua ini bisa terjadi? Ingatanku pun kembali memanggil gambaran-gambaran semalam. Aku masih ingat betul bahwa semalam aku berniat akan mengerjakan PR tersebut, semua buku dan alat tulis sudah siap di meja. Beberapa saat kemudian aku berniat untuk istirahat sejenak, karena takut bosan, aku menyalakan playstation dan bermain game untuk refreshing. Namun tak terasa jam menunjukkaan pukul 11 malam, aku terlanjur merasa kantuk luar biasa untuk melanjutkan PR-ku waktu itu, tetapi aku tetap paksakan untuk menjawab soal-soal yang ada, bukan jawaban yang ku dapat, malah pusing yang luar biasa.

Aku tahu bahwa mau sampai gimanapun jika keadaan begini aku tak dapat mengerjakan PR-ku, segera aku ke ranjang dan tidur, sampai akhirnya aku berada di posisi squat jump ini. Itulah gambaran yang datang ketika mengingat kejadian semalam, kini aku tahu mengapa aku bisa sampai dihukum seperti ini. Semua akibat yang terjadi datang dari sebab-sebab yang aku lakukan, tidak aneh dan semuanya lazim. Andai saja aku bisa lebih bijak dalam menggunakan waktu, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi, aku tidak harus melakukan hal-hal ekstrim layaknya seorang calon tentara, aku juga sadar, aku harusnya melakukan kewajiban layaknya seorang pelajar.

Cerpen Karangan: Mochamad Syah Rizal
Facebook: Mochamad Syah Rizal (Rizalzalle)
Twitter: @Rizalzalle_

Cerpen Sebab Akibat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Asam Manis Masa Sekolah

Oleh:
Tahun 2054, dimana mesin-mesin canggih di dunia sudah berevolusi ke level yang lebih tinggi. Di depan cermin, berdiri seorang gadis dengan rambut lurus sepinggang yang cantik sedang bersiap-siap pergi

She Not Good (Part 1)

Oleh:
“Pencuri!, Tolong!, ada pencuri”. Teriak seorang kasir minimarket. Mendengar itu, aku langsung mengejar pencuri tersebut. aku pun langsung menaiki sepeda, walau aku tidak tahu itu sepeda siapa punya. yang

Dia Yang Ku Sayang

Oleh:
Waktu pertama kali aku kenal dia waktu aku baru menjejakan kaki di smp 5.. Waktu itu aku tak tau mengapa aku sebenci itu pada seorang lelaki yang bernama avan

Perjanjian Masa Depan (Remake)

Oleh:
Hidup dengan masalah itu membuat hidup lebih berwarna. Apalagi masalah mengagumi seseorang dengan penyebab yang gak jelas. Hahaha… itulah yang sedang kualami. Semua ini berawal dari hari pertamaku masuk

Sepercik Senyum Sejuta Luka

Oleh:
Jogja belum bangun. Sayup-sayup dari celah jendela hembusan nafas masih terdengar. Detak jantung masih berdenting. Tangan itu masih berdenyut. Perlahan aku membuka mata. Sama seperti kemarin. Aku masih melihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *