Sebatas Ini (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 November 2018

“Kamu yang membawaku masuk ke dalam ruang asing ini. Kamu yang mengenalkanku dengan rasa itu. Rasa yang indah namun menyakitkan, rasa yang menyenangkan, namun itulah kesedihannya. Rasa yang menerbangkanku ke awan lalu menghempaskan tubuhku ke jurang terdalam.”

Kututup buku diary yang ada di pangkuanku. Menatap langit biru yang cerah dari balkon kamarku. Mengamati setiap gumpalan awan yang bergerak perlahan. Mengingatkanku pada peristiwa beberapa tahun silam.

“Perkenalkan nama saya Athena Aurelius. Biasa dipanggil Athena.” Aku tersenyum menatap semua siswa-siswi yang duduk di hadapanku. Yah, hari ini hari pertamaku masuk di sekolah baruku setelah kepindahanku dari Bali ke Jakarta.

“Baiklah Athena, silahkan duduk di belakang ketua kelas, di kursi kosong baris ketiga.” Suara guru wanita cantik yang sedari tadi menemaniku membuatku tersadar. Segera aku mengayunkan kakiku menuju meja yang ditunjukan guru.

Pelajaran pertamaku berjalan mulus, karena aku melewatinya dengan mata mengantuk akibat begadang. Saat jam istirahat, satu persatu anak-anak dalam kelasku berjalan meninggalkan kelas setelah sebelumnya mengumpulkan tugas yang diberikan guru fisika yang mengajar tadi.

Aku langsung menyandarkan tubuhku pada meja. mengobati rasa kantuk yang terus menggerogoti tubuhku.

Pleetak!!!
Segera aku mengangkat kepalaku. Menatap manusia yang sudah berani mengetuk kepalaku dengan kasar dan membuatku tak mengantuk lagi.

“Kamu ngapain?” tanyaku kesal sambil mengelus-ngelus kepalaku yang sakit.
“Bangunin kebo!!” Jawabnya tegas
Aku melongo mendengar jawabannya. Apa dia bilang tadi? Kebo? wah belum pernah diajarin sopan santun nih anak.

“Tes, tes. Apa ada yang salah dengan matamu?” Tanyaku geram
“Mataku sehat 100 persen” Lagi-lagi jawaban cowok yang katanya ketua kelas itu membuatku menahan emosi.
“Trus ngapain bilangin aku kebo? aku punya nama. Athena!!” mataku melotot padanya. Tapi dia dengan gaya angkuhnya mulai bangkit dari kursinya. Berjalan perlahan ke arahku lalu menatapku dengan tatapan jijik.
“Karena cuma kebo yang doyan tidur”
“A… ap.. apppa kamu bilang tadi??” tanyaku terbata. Aku tak tahu bagaimana dia bisa jadi ketua kelas di kelas yang katanya kelas unggulan di SMA favorit ini. Kulihat dia menyunggingkan bibirnya. Menatapku seakan menatap budaknya.
“Kebo!!” ucapnya lagi.
Tanpa pikir panjang aku berdiri menatapnya yang masih memasang tampang menyebalkannya padaku lalu meninju perutnya.

“Hahahhhh” suara tawaku menggema memenuhi kelas yang sepi. Aku menatap ketua kelas sombong itu. Menatapnya yang kesakitan karena pukulanku yang tiba-tiba.
“Jangan pernah remehin aku. Karena aku bukan gadis lemah yang hanya bisa menerima tatapan rendahan milikmu” Ucapku penuh penekanan dan berlalu dari depannya.

Tapi belum sempat aku melangkah lebih jauh. Kurasakan tangannya melingkari pergelangan tanganku. Jengkel. Aku pun berbalik dan menatapnya malas-malasan.
“Ngapain?” tanyaku heran melihatnya seperti sangat kesakitan.
“Please! Bawa aku ke Rumah Sakit” Ucapnya terbata sambil memegangi perutnya.
“Ngapain bawa kamu ke sana?”
“Perut aku. Perut aku luka” Suaranya makin terdengar putus asa. Penasaran, akhirnya kusingkirkan tangannya yang sedari tadi menutupi perutnya yang aku pukul. Dan aku pun melihat bercak darah yang mulai menyebar di seragamnya.

“Kenapa berdarah?” Tanyaku kaget. Aku ingin tahu dari mana darah itu. Tanpa permisi aku langsung mengangkat seragam putihnya. Mataku sampai ingin melompat keluar melihat perutnya. Bukan karena perutnya yang datar dan dilengkapi dengan cetakan tahunya. Tapi karena bekas luka yang dihiasi benang ruang operasi. Aku menelan ludah was-was.

“Cepat. Cepat bawa aku ke rumah sakit.” Suaranya yang mulai menipis menyadarkanku. Tanpa berfikir dua kali aku membantunya berdiri dan membantunya berjalan.

“Pakai mobilku saja.” Usulanya sambil merogoh kantung celananya sendiri.
“Mobilmu yang mana?” Tanyaku gugup. Sepanjang perjalanan menuju parkiran begitu banyak mata yang menatap kami. Mungkin karena posisiku yang memegang perutnya.
“Hitam metalik itu” Suaranya sudah hampir habis. Segera kusandarkan tubuhnya di Samping mobil lain dan aku langsung menuju mobilnya.

Aku sudah ada di Rumah Sakit. Menunggunya di depan ruang UGD. Di dalam mobil tadi dia bahkan pingsan setelah beberapa meter dari sekolah. Pasti dia kehilangan banyak darah. Ohh Tuhan!! Apa yang sudah kulakukan? Kenapa aku selalu begini pada semua pria.

“Nona!” Seseorang kurasakan menyentuh pundakku. Dengan sekali gerakan aku sudah berdiri menatap dokter yang tadi memanggilku.
“Bagaimana?” Tanyaku panik
“Tenang saja. Dia sudah baikan. Luka operasinya masih belum sembuh jadi sedikit saja disentuh itu akan berakibat fatal. Tapi kami sudah mengobatinya. Dia sudah baik-baik saja.” Aku menghela nafas lega mendengar penuturan dokter itu.

“Aku minta maaf” kataku tulus. Kulihat dia hanya menatapku.
“Untuk apa?” pertanyaannya spontan membuatku menggaruk tengkukku yang sama sekali tak gatal. Apa maksudnya untuk apa? sudah pasti karena aku sudah membuatnya kesakitan.
“Untuk ini” aku menunjuk perutnya yang terbalut perban putih.
“Kenapa untuk ini? Memangnya apa yang sudah kamu lakukan pada perutku?” Tanyanya lagi yang sukses membuatku membelalakkan mata.
Aku mendengus kesal melihatnya bertingkah ke kanak-kanakan.

“Karena aku yang membuat lukamu seperti ini”

Kulihat dia seperti menahan tawanya. Dan tak berselang lama akhirnya dia tertawa terbahak-bahak. Meninggalkan kekhawatiranku karena perutnya yang terus bergerak membuat lukanya mungkin akan bertambah parah.

“Hey!! Berhenti tertawa.” teriakku sebal. Tapi sukses membuatnya berhenti tertawa.
“Kenapa?” Tanyaku akhirnya.
“Wajahmu terlihat lucu” Jawabnya ringan tanpa dosa.
“Hahh?”
“Iya. Kata temanku seperti kepiting rebus”
“Apa maksudmu?” Aku mulai tak sabaran.
“Apa kamu begitu khawatir padaku? Tapi itu malah membuatmu terlihat lucu dengan mata merah dan ujung hidung kempas-kempis. Hahahahahahh” Tanpa sadar kembali kulayangkan kepalan tanganku di lengannya yang berotot.

“Aku sama sekali tak khawatir padamu” Sanggahku yang berhasil membuatnya terkekeh pelan.
“Terserah kamu mau bilang apa. Tapi yang pasti kamu tetap khawatir padaku. Karena bukan hanya mulut yang bisa memberitahuku kebenarannya, tapi semua yang ada pada dirimu akan selalu jujur padaku. Karena akulah sebagian dari mereka yang ada padamu” Aku terpaku mendengar penuturannya. Apa maksud dari ucapannya? Aku sungguh tak faham.

Cerpen Karangan: Indah Fajarwati
Blog / Facebook: Indah Fajarwati Indah
Seorang pelajar kelas 12 dari kota kendari, sulawesi tenggara. Hobby nulis dan membaca.

Cerpen Sebatas Ini (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Steps to Get Your Heart (Part 2)

Oleh:
“Nah, semuanya sudah lengkap kan? Oke kalau begitu kita bisa memulai kerja kelompoknya!” Ucap Soni. Sekarang mereka sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah Haris. “Terus kepercayaan masyarakat macam apa

Apa Sih Cinta? (Part 4)

Oleh:
“Cinta itu butuh pengungkapan, karena kita bukan Tuhan yang tahu semuanya, jadi bagaimana kita tau perasaan seseorang tanpa pernyataan.” Driana segera menyuruh Chika untuk ke rumah sakit, tempat Bayu

One Special Love For Mom

Oleh:
“Fel.. gue boleh nanya sesuatu nggak sama lo?” tanya Bram di tengah langkah mereka saat mereka telah melakukan rutinitas seperti biasanya. Yaitu, latihan band bersama. “Tanya aja pake izin.

DS2

Oleh:
Aku Alvin. Aku lahir dalam keluarga yang tak begitu indah dan tak seperti keluarga sewajarnya. Mungkin aku hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Tapi, kasih sayang dan perhatian sangat tak

Rasa Sejati Yang Tak Terungkapkan

Oleh:
Namaku ria, aku adalah seorang siswa kelas 1 SMP di salah satu SMP favorit di kotaku. Pagi itu, aku sedang menunggu angkot di pinggir jalan, tiba-tiba ada seorang cowok

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *