Sebenarnya Aku Tidak Suka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 May 2016

Namaku Muhammad Zidan Ramadhan, tapi teman-teman dan ibuku sering memanggilku Zed, entah kenapa aku dipanggil dengan huruf terakhir abjad alphabet itu, tapi biarlah itu hanya nama panggilan. Aku bersekolah di salah satu SMA swasta di kota ini, sekolahku itu sangat bagus dan keren. Aku baru beberapa bulan masuk di sekolah ini, dulu ayahku yang memintaku sekolah di SMA yang juga bekas tempat ayahku menghabiskan waktu SMA-nya.

Hari ini, aku mulai harus mengikuti kegiatan pramuka di SMA ini. Namun, aku paling tidak suka mengikuti pramuka, males ketemu sama kakak kelas yang bawel itu. Selain itu, aku juga gak suka dijemur kayak pakaian sehabis dicuci di lapangan, memang sejauh aku tahu pramuka itu sering berbaris di tengah lapangan seperti dulu waktu pertama masuk ke SMA ini. Tapi, apa boleh buat, aku terpaksa harus berangkat dan mengikuti pramuka di sekolahku itu, karena aku juga tak mau dibentak-bentak pada saat aku tidak masuk mengikuti pramuka. Kakak kelasnya itu yang bikin aku males, mereka itu aneh. Aku sering dibentak-bentak dan disuruh push-up ketika melakukan kesalahan di kegiatan pramuka itu.

Hari-hari ku lalui dengan masih terus berangkat pramuka, walaupun sebenarnya aku gak suka. Sudah hampir habis waktu kelas satu SMA, sekarang adalah waktunya ulangan akhir semester genap. Senang rasanya, aku sudah akan naik ke kelas dua. Itu berarti, aku sudah tidak wajib lagi mengikuti kegiatan pramuka di sekolah ini. Setelah selesai ulangan itu, hatiku senang sekali, aku sudah kelas dua dan tak perlu lagi mengikuti kegiatan pramuka. Namun, tak disangka ada pengumuman di depan kelas, aku sangat kaget membaca isinya. Kakak kelas itu memang gak ada kasihannya, sekarang malah ada kegiatan pelantikan bantara. Memang kegiatan itu hanya satu hari, tapi aku sangat tidak ingin mengikutinya. Namun, dalam hati kecilku aku juga penasaran dengan kegiatan itu, masih lama sih satu minggu lagi, masih ada banyak waktu untuk aku memikirkannya lagi.

Setelah ulangan, di sekolahku juga mengadakan remidi, itu loh perbaikan nilai untuk yang masih kurang. Beruntungnya, nilaiku semuanya bagus hanya saja ada beberapa pelajaran yang memang gak aku suka nilainya jelek. Tentu, pasti kalian tahu musuh terberat semua siswa, ya Matematika. Namun, tak hanya Matematika nilaiku yang mengenaskan, ada Bahasa Inggris, Ekonomi, dan juga Bahasa Jawa. Akhirnya, mau tidak mau aku harus remidi. Sudah lima hari remidi berlangsung, dan semua nilaiku sudah diperbaiki. Kini aku memikirkan kegiatan pramuka itu. Mungkin aku akan coba tanyakan ke temanku lewat telepon.

“Halo, Wil?”
“Ya, kenapa Zed?”
“Lo mau ngikutin kegiatan bantara itu gak?”
“Emm, gimana ya? Gue sih pinginnya gak ikut, tapi nanti dihukum kakak kelas, lah lo sendiri?”
“Gue juga Wil, males banget gue. Tapi, ya itu nanti kakak kelas ngamuk-ngamuk lagi.”

“Ok, gini aja. Kita berangkat aja gimana?”
“Serius lo?”
“Iya, kenapa lo gak mau?”
“Em… ya udah deh, kalau lo berangkat entar gue juga deh. Tapi kalau yang lain gak berangkat gimana?”
“Oh, ya nanti gue bilangin ke temen-temen oke?”
“Terserah.”
“Ya udah, aku tutup teleponnya. Sampai jumpa.” Willy menutup teleponnya.

Sudah seminggu waktu berlalu, dan besok hari pelantikan itu, aku masih bingung. Aku coba untuk menghubungi Willy lagi, tapi tidak bisa handphonenya tidak aktif. Mungkin, aku harus ke rumahnya, tapi dia kata mau berangkat, tak usahlah aku ke sana besok saja ketemu di sekolah. Akhirnya hari yang tidak dinanti-nantikan tiba, aku mondar-mandir di dalam rumah bingung mau berangkat atau tidak. Sementara itu, baterai handphoneku habis, tidak bisa untuk menghubungi temanku, sementara waktu terus berjalan. Jika aku harus berangkat aku harus cepat, tidak boleh telat nanti dihukum. Tapi, aku takut jika nanti teman-temanku gak ada yang berangkat.

“Gimana nih?” Aku mondar-mandir gak jelas.
“Ah, berangkat aja.” kataku.

Aku berangkat menuju sekolah dengan cepat. Sesampainya di sana aku terkejut, semua sudah baris di lapangan, tapi di antara yang baris tak seorangpun laki-laki temanku yang datang, mereka semua yang baris adalah perempuan. Baru masuk beberapa langkah, kakak kelas nyebelin itu berteriak, “Cepat baris!!!” sontak aku berlari, tapi aku bingung harus baris di mana, gak ada barisan laki-laki di sana. Aku baris di barisan paling kanan, dan aku sendiri yang ada di sana. Teman-temanku perempuan menertawakanku. Mungkin ini karena hanya aku laki-laki yang rajin. Namun, tak diduga, ada dua teman laki-lakiku yang datang lagi, mereka tak terlalu akrab denganku, mereka anak kelas sebelah. Sedangkan siswa laki-laki sekelasku tak ada satu pun yang berangkat selain aku, bahkan Willy yang katanya mau berangkat sekarang malah tidak ada.

Kegiatan dilakukan dengan menjelajah, jelajah apaan coba? Laki-lakinya saja hanya tiga, masa mau jadi satu kelompok dengan perempuan? benar saja kelompoknya dicampur dan menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok memiliki satu ketua laki-laki. Pas kalau begitu. Aku memimpin kelompok tiga dengan sepuluh orang perempuan di belakangku, dan kami berangkat duluan. Perjalanan jelajah tak jauh hanya sekitar sini, pos demi pos pun aku lewati dan sampailah di pos terakhir, pos yang paling gak ku suka, bukan karena sulit tugasnya di pos itu. Tugasnya cukup mudah, tapi akibatnya yang gak aku suka. Ya, pos cinta tanah air, aku dan teman-teman perempuanku harus merangkak tiarap seperti tentara diatas kubangan lumpur yang menjijikkan.

Akhirnya, selesai juga jelajahnya. Aku dan kelompokku sudah sampai sekolah dan yang lain juga sudah ada di sana, tetapi dua teman laki-lakiku sudah kabur pulang, aku lantas ingin langsung pulang, hadangan kakak kelas mencegahku pergi. Terpaksa aku harus bertahan laki-laki sendiri di sini. Kegiatan sudah sampai akhir, aku dan teman-teman perempuanku sudah dilantik menjadi bantara dan wajib mengemban tugas menjadi pengurus dewan ambalan pramuka di sekolah kami, aku adalah laki-laki satu-satunya yang menjadi bantara. Sebenarnya aku tidak suka, tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur masuk ke dalam pramuka, dan aku harus aktif dalam kegiatan kepramukaan itu.

Hari-hari aku lalui sebagai anggota dewan ambalan, tak terasa sudah hampir pergantian pengurus aku dan anggota lain harus menjadi pengurus inti di dewan ambalan sekolah, dan sebentar lagi akan diadakan pemilihan pradana putra dan pradana putri, itu loh ketua ambalan putra dan putri. Aku belum siap untuk menjadi ketua, tapi apa boleh buat aku satu-satunya kakak kelas laki-laki yang menjadi pengurus, yang lain hanya pengurus kelas satu. Walaupun begitu, aku cukup tertarik untuk menjadi ketua, dan betul saja satu minggu lagi akan ada perkenalan calon ketua dewan ambalan.

Sudah satu minggu, sore ini kegiatan pramuka acaranya orasi calon ketua dewan ambalan. Dan aku salah satu calonnya. Saat itu aku cukup gugup, karena ini baru pertama kali akan berkampanye, aku sebenarnya tidak ingin menjadi ketua dewan ambalan, aku lebih baik jadi anggota saja. Namun, aku hanya bisa pasrah tak bisa berbuat apa-apa. Pengurus lain, yaitu kelas satu yang mencalonkan ada dua orang mereka sudah selesai berorasi, sekarang giliranku, aku harus melawan rasa gugupku, tapi aku harus melakukannya. Dalam orasi yang aku bicarakan kepada para adik kelas, aku hanya bisa menyampaikan aku hanya bisa menyampaikan tujuh visi dan misi yang terkandung dalam kata PRAMUKA.

Tak disangka aku berhasil menarik simpati adik kelas, sehingga aku yang terpilih menjadi ketua dewan ambalan yang baru. Sudah beberapa bulan aku menjadi pradana, aku sudah mengikuti beberapa kemah dan kejuaraan pramuka di kota, dan sudah mengantarkan dua piala ke sekolah sebagai juara cerdas cermat dan juga juara diskusi interaktif pada waktu kemah nasionalisme lalu. Namun, yang kurang ku suka adalah sifat-sifat anggota pramuka yang lain, mereka selalu merendahkanku, dan mereka menganggap diri mereka itu hebat. Aku hanya bisa diam dan tetap melanjutkan tugasku sebagai pradana. Dan pada suatu saat aku di panggil oleh pembina pramuka.

“Assalamualaikum,” aku masuk ke ruang pembina pramuka.
“Waalaikumsalam, duduk!” pak Harjo menyuruh duduk, dia adalah pembina pramuka di sekolahku.
“Maaf, Bapak panggil saya? Ada apa ya Pak?” tanyaku.
“Kenapa kemarin yang berangkat pramuka cuma sedikit?” pak Harjo berkata dengan nada meninggi sedikit.
Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu, karena menurutku aku tidak berkuasa untuk bisa membuat banyak yang hadir dalam pramuka.

“Kamu tuh kurang tegas, jadi pradana kok lembek?” kata pak Harjo.
“Lembek bagaimana maksudnya Pak?” aku bertanya pelan.
“Kamu kurang tegas kalau menghadapi anak-anak kelas satu,” kata pak Harjo menjawab.
“Maaf Pak, saya rasa saya sudah tegas. Kalau soal bentak membentak itu bukan saya, saya tidak suka itu. Pramuka itu tanpa membentak, saya ajarkan kepada anak-anak kelas satu untuk tidak takut kalau berangkat pramuka. Aku yakin mereka pasti mau untuk berangkat.” Aku menjawab dan meninggalkan ruangan itu begitu saja.

Sore ini ada rapat di ruang pramuka, aku tidak memimpin rapat.
“Heh! Lo itu pradana kan? Ayo dong buka rapatnya?” kata Winda cewek yang cukup resek yang masuk dewan ambalan ini.
“Lo aja, kenapa harus gue?” aku menjawab dengan santai.
“Eh, lo jangan seenaknya gitu mentang-mentang lo jadi pradana!!” kata Erif menggebrak meja.
“Baik, sebelum kita mulai berdoa dulu.” Kataku.
Di sela-sela rapat, aku menyampaikan peraturan yang aku buat sendiri dan semua menyetujuinya.

Di kegiatan pramuka selanjutnya, aku memimpin barisan, hari ini adalah penggeledahan, aku tak mau pada saat upacara ada seseorang yang bermain handphone, apalagi saat pengibaran bendera. Namun, aneh. Yang terjadi adalah sebaliknya para kakak kelas justru bermain handphone dengan asyiknya, aku tak kuasa menegurnya, karena aku belum berpengalaman di pramuka dibanding mereka yang sedang bermain handphone. Mereka selalu nyolot kalau dikasih tahu. Aku juga tidak bisa melaporkan itu ke pembina pramuka, karena mereka itu anak kesayangan dari pembina pramuka, mereka adalah yang memenangkan dua piala itu, sementara aku hanya bisa mengarahkan mereka. Setelah berhari-hari, aku masih tetap tak dianggap sebagai seorang pradana, aku memutuskan untuk mengundurkan diri menjadi pradana, walaupun waktunya masih lama.

Cerpen Karangan: Muhammad Arsyad
Facebook: Arsyad Moeslimsejati’s
Lahir: 9 Mei 1998

Cerpen Sebenarnya Aku Tidak Suka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Happy Ending

Oleh:
Saat pertama melihatnya, aku begitu terpesona. Matanya bersinar jenaka, bibirnya melemparkan senyum hangat kepadaku. Dan pada saat itu juga, rasanya seluruh dunia berhenti berputar dan hanya dirinya yang kulihat.

Penggemar Rahasia

Oleh:
Kejadian hari ini benar-benar tak pernah kubayangkan sebelumnya, Ia menyapaku dengan senyum manisnya. Sosok remaja tampan dan berprestasi di Sekolahku, Abi namanya. Siang itu Aku pulang dengan berjalan kaki,

Gara Gara Diary

Oleh:
Aku melangkah menelusuri jalan setapak yang setiap hari kulewati. Aku menatap rumput-rumput kecil yang melambai-lambai tertiup angin. Jadi teringat pada puisi yang kutulis di diary. Ngomong-ngomong masalah diary. Aku

Tentang Mimpiku

Oleh:
Mimpi, Yapz… semua orang pasti punya mimpi termasuk aku, penjahat, maling pentolan PKI pasti juga punya mimpi, aku pun juga punya mimpi yang dimana impian tersebut pasti memiliki tujuan

Pacar 24 Jam

Oleh:
Saat pulang sekolah, tiba-tiba aku mendapatkan kejutan dari teman-teman sekelasku terutama Ferel. Ferel menyanyikan lagu cinta diiringi dengan alunan musik gitarnya, kemudian teman-temanku berdiri mengelilingiku dan Ferel. “Ada apa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *