Sebuah Alasan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 November 2018

Namaku Stella Aurini. Semenjak aku masuk SMP, aku gemar sekali mengamati ekspresi orang lain. Memperhatikan ekspresi mereka dan membuat catatan atas ekspresi tersebut. Sebagai panduan, aku juga membeli beberapa buku bertema psikologi untuk membantu pengamatanku. Maka, mulailah aku mengerti cara membaca ekspresi seseorang.

Hingga aku mulai bersekolah di SMK, secara tidak sengaja aku bertemu dengan seorang cowok. Pertama kali aku melihatnya saat di sebuah acara sekolah. Dia terlihat canggung saat melihat keadaan sekitarnya. Jika kubaca dari ekspresinya, ia merasa tidak nyaman. Aku langsung tahu bahwa ia adalah murid baru. Karena aku tidak pernah melihatnya.

Maka aku pun diliputi rasa penasaran. Mulailah aku bertanya kesana-kemari untuk mencari tahu siapa dia. Butuh waktu sampai 2 Minggu untuk tahu siapa namanya. Namanya Rendi. Ia dari kelas X-Multimedia. Hanya itu yang kutahu. Aku langsung mencari namanya di kolom pencarian di Facebook, dan Instagram. Ada banyak sekali nama yang sama. Membuatku bingung menentukan yang mana akunnya. Ternyata susah sekali mencari informasi tentang Rendi.

Hingga pada akhirnya aku pun menyerah. Menghentikan usahaku mencari informasi tentang dirinya. Aku hanya mampu melihatnya dari kejauhan. Aku selalu mengamatinya. Rendi kelihatan pendiam sekali. Ketika berpapasan di kantin pun aku hanya mampu menunduk. Entah kenapa aku jadi malu begini.

Ketika memasuki bulan Ramadhan 2017, sekolahku mengadakan Pesantren Kilat. Kami akan menghabiskan satu malam dengan menginap di sekolah.

Acaranya pun dimulai. Para murid kelas 10 sampai 11 memasuki aula. Termasuk Rendi. Aku melihatnya duduk di jajaran murid kelas 10-Multimedia. Aku hanya memperhatikan sekilas. Ia hanya menatap datar dan sesekali tersenyum ketika diajak ngobrol.

Pembukaan acara diisi dengan motivasi dari salah satu tamu undangan. Aku memperhatikan wajah teman-teman di sekitarku. Semua tampak antusias, terpukau, bahkan ada yang terlihat bosan. Hanya ekspresi Rendi yang membuatku heran. Ekspresinya datar. Seakan tidak tertarik. Padahal teman-teman di sekitar nya ada yang tertawa, tersenyum, dan lain-lain, tapi mengapa ia berekspresi seperti itu? Seperti ada sesuatu yang aku tidak tahu apa itu.

Ah, dia memang membuatku penasaran.

Akhir bulan Juni, aku mendapat permintaan pertemanan di akun Facebook. Namanya Rey. Namun, yang membuatku terkejut adalah, foto profilnya adalah foto Rendi. Buru-buru aku menerima permintaan pertemanannya.

Tanpa membuang waktu aku mengirimkan pesan padanya. Masa bodoh dengan gengsi. Rasa penasaran ini begitu meluap.

“Kayaknya aku kenal kamu, deh,” tulisku. Kebetulan dia sedang online.
“Masa’?” Balasnya. Singkat sekali. Padahal hatiku dag-dig-dug tidak karuan.
“Aku Stella. Dari SMK Pemuda 1, Malang,” kataku lagi.
“Kita satu sekolahan. Namaku Rendi,” balasnya 2 menit kemudian.
Yes! Aku tidak salah orang. Kami pun mengobrol banyak hal. Bahkan dia dengan senang hati menceritakan kehidupannya.

“Aku hidup di antara keluarga broken home,” katanya. Aku termenung sebentar kemudian membalas. Ceritanya membuatku nyaris menangis.
“Aku kecewa sama orangtuaku, tapi sekarang perlakuan ayah sudah mending karena ia sudah meninggal sementara ibuku menikah lagi,” cerita Rendi. Ia juga menambahkan, sekarang ia hanya tinggal dengan kakek dan neneknya.
Aku menghela nafas. Apakah ini jawaban kenapa ia begitu pendiam? Karena Rendi punya masalah yang tidak banyak yang tahu.

“Kenapa.. kamu cerita masalah seperti ini padaku? Kan baru kenal,” tanyaku.
“Aku percaya kok kalo kamu bisa jaga rahasia. Lagipula siapa yang peduli sama cerita seperti ini,” jawabnya.
Aku pun mengubah arah pembicaraan. Kami mengobrol lagi sampai ia pamit untuk membantu neneknya.

“Bye,” tulisku. Ia hanya membacanya.
Kenapa rasanya begitu menyakitkan? Padahal aku tidak mengalami apa yang Rendi alami. Mungkin di balik sikap pendiamnya, ia menyimpan banyak rasa sakit dan kekecewaan.

Aku menatap langit-langit kamarku. Ada tekat dalam hatiku.
“Aku akan membantunya dalam mengurangi rasa sakit,” bisikku pelan.

Cerpen Karangan: Firstya Reta

Cerpen Sebuah Alasan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Petualangan Aneh

Oleh:
Satu, dua, tiga… Cerita dimulai! Siang hari nampak terik. Satria melangkah menuju dapur. Dia lihat banyak sekali makanan enak. Bu Ratna ibu Satria memang pandai memasak. Tapi perut Satria

Terselip Cinta di Bumi Perkemahan

Oleh:
Sinar mentari memeluk lembut tubuh ini, menghangatkanku dari dinginnya setetes embun pagi ini. Sebuah bus telah melaju membawaku menuju ke suatu tempat. Berhenti. Kini aku berada di sebuah taman

Thanks For Everything

Oleh:
Ya, seperti biasanya aku terduduk di kursiku yang terletak di pojokan paling pinggir di kelas, ditemani buku jurnal dari kulit hadiah dari ayah, sambil menatap semua keributan di dalam

Jerrot Makin Melorot (Part 2)

Oleh:
WANITA JAHAT Matahari yang menyorot begitu panas suasana saat aku baru saja sampai di rumah sehabis pulang sekolah di hari sabtu. Kejadian 2 hari yang lalu yaitu saat aku

Wednesday

Oleh:
Dering bel berbunyi. Aku merasakan kakiku berat untuk melangkah keluar dari kelas. Bukannya aku sakit, malahan aku sehat sekali dan jarang terserang penyakit karena mamaku selalu rutin untuk menyuruhku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sebuah Alasan”

  1. Ratama Osterich says:

    Nanggung amat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *