Sekolah Berkokok

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 15 April 2017

“Bangun, bangun! Sudah siang” ayahku membangunkan aku. Dengan berat aku berusaha untuk bangun meski aku masih ngantuk
Aku pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah aku selesai sholat subuh, aku langsung ambil laptop dan aktif di facebook, walaupun face masih ngantuk

Ketika aku lagi asik facebookan, ibuku manggil “wahyudi!” Ibu memanggilku. Aku menyaut “iya, bu!” Kemudian aku menghampiri ibuku
“Ada apa bu?”, “tolong ibu dong, beli terigu sama garam”, “iya, bu!” Aku kemudian aku pergi ke warung untuk beli terigu

Pas perjalanan menuju ke warung, aku bertemu sama teman sekolahku namanya Fahmi. “eey, mi. Mau berangkat ke sekolah ya?”, “eh, iya”, “kamu mau ke mana?” Dia tanya balik. “Aku mau ke warung dulu!”
“Oh, ya udah. Aku duluan yah!”, “oh, iya” kemudian dia melanjutkan berangkat ke sekolah. Aku melanjutkan pergi ke warung. Setelah aku pulang dari warung. Aku lihat jam di dinding sebelah kiriku. Ternyata jarum jam menunjukan waktu pukul 06.45, aku pun buru-buru kasih terigu kepada ibu. Kemudian aku segera mandi. Setelah selesai mandi aku segera ganti baju dan berangkat ke sekolah
“Bu, aku berangkat ya!” sambil jalan sedikit berlari “eeh, sarapan dulu..!”

Aku pergi ke sekolah dengan tergesa-gesa, takut kesiangan. Setelah sampai di sekolah, ternyata pelajaran sudah dimulai. Waktu itu sedang pelajaran seni budaya.
“Assalamu’alaikum” sambil membuka pintu pelan-pelan. “Dari mana aja kamu? Kamu lihat, kamu telat 20 menit!” Pak Dadan memarahi aku, sambil menunjuk ke arah jam
“Maafin saya pak, saya telat. Saya tidak akan mengulanginya lagi” aku hanya bisa tertunduk dan tidak bisa bilang apa-apa lagi
“Ya udah, sekarang kamu duduk di bangkumu. Nanti pas jam istirahat, kamu bersihin halaman depan sekolah!”
“Iya pak!” Aku kemudian duduk di bangkuku, dan mengeluarkan buku pelajaran seni budaya dengan pensil
Aku kemudian duduk manis dan memperhatikan pak Dadan yang sedang menjelaskan di depan.

30 menit kemudian, waktu istirahat pun tiba. Tapi ternyata, pak Dadan lupa dengan hukumanku. Aku pun menikmati waktu istirahat dengan jajan. Ketika aku lagi makan bakso, bel masuk berbunyi. Aku segera masuk ke kelas, teman laki-lakiku pada gak ada semua

Tidak lama kemudian, pak Luthfi masuk ke kelas. Pak Luthfi melihat kepadaku dan bertanya “teman-teman kamu mana?”, “tidak tahu pak, dari tadi juga nggak ada”
“Ya sudah, biarkan saja. Kita mulai aja pelajaran matematika” kemudian pak Luthfi membulai mata pelajaran matematika.

Beberapa belas menit kemudian, teman-teman aku yang lain akhirnya datang. Namun ada yang aneh. Seseorang di antara mereka ada yang membawa sesuatu dalam keresek hitam.
Pak Luthfi bertanya “itu bawa apa ramdan?” Si Ramdan menjawab “ayam pak!”

Cerpen Karangan: Herman Wahyudi
Blog: herman.mblog.mobi
Nama gue: Herman wahyudi
Facebook gue: facebook.com/mashermanw
Twitter: @herman050302

Cerpen Sekolah Berkokok merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mine

Oleh:
Mata laki-laki itu terlihat memutar dengan malas. Bola matanya yang berwarna biru terlihat indah dari jauh. Aku hanya diam di sini. Menunggu kejadian selanjutnya lagi. Dan sudah kutebak, pasti

Cinta Sejati (Part 3)

Oleh:
Beberapa hari kemudian, sekolah mengadakan pesta kembang api memperingati hari ulang tahun sekolah. Di akhir acara akan ada peluncuran kembang api oleh para murid dengan pasangannya masing-masing. Sebelum meluncurkan

Ketika Rasa Dipertemukan

Oleh:
Waktu… seperti sungai, selalu mengalir, meskipun kita menyentuh air sungai tersebut, tak akan sama dengan air sungai yang pernah kita sentuh sebelumnya. Air sungai itu akan terus berlalu dan

Catatan Harian Si Angsa Hitam

Oleh:
Makassar, Senin, 2015. Pagi menyapa wajah mengantukku yang nongol di jendela. Matahari belum sepenuhnya terbit, ternyata masih pukul 08;30. “What?!! Gua kuliahnya jam 08;15. Tapi, mataharinya kok belum nampak.

Cinta Pada Lelaki Yang Sama

Oleh:
Pagi itu, sahabatku, Clara menghampiriku. “Ra, bagaimana menurutmu kalau aku mempunyai seorang pacar?” tanyanya. “Tergantung siapa orangnya kan?” balasku. “Ya,” “Memang, siapa yang menyatakan perasaan padamu?” tanyaku. “Ah, tidak.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *