She Not Good (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 2 October 2019

Keesokan harinya, aku hanya berjalan-jalan di pusat kota Manhattan, Tidak kuliah membuat aku tidak memiliki kegiatan, keinginan mencuri pun tampaknya tidak bisa kulakukan, karena aku mungkin masih diawasi oleh polisi sekaligus ayahku sendiri. Dan disaat berjalan-jalan, aku tidak sengaja melihat sebuah mobil yang mirip dengan pencuri Blood Diamond pakai.

“Ohh, maaf, kenapa kau melihat mobilku seperti itu?” Tegur seorang pria
Pria tersebut tampak cupu. Jadi aku tidak yakin dia pencurinya.
“Ohh, tidak, aku hanya kagum melihat mobilmu ini, sangat klasik dan keren deh” Ucapku.
Pria tersebut tersenyum dan masuk ke mobilnya, lalu pergi begitu saja. aku melihat plat mobilnya, berplat nomor 1782 CDF. Tampak beda dengan plat mobil milik pencuri yang menjebakku, jadi aku yakin, bukan dia orang yang kucari.

Sore hari tiba, dan aku melihat di depan mataku, ada seorang pria menjambret tas seorang wanita tua. melihat itu aku spontan mengejar penjambret tersebut. Pria ini larinya sangat cepat, dan ditambah ramainya orang di kota ini, membuatku jadi kesulitan mengejarnya. dan keberuntungan mendatangi aku dan wanita tua tersebut, pria penjambret itu tertabrak oleh sebuah mobil ketika ia sedang menyeberang jalan. pria itu jatuh terguling-guling ke bawah, karena itu, pria tersebut kabur dan meninggalkan tas jambretannya. aku berencana berterima kasih dengan seorang yang menabrak penjambret itu, sampai akhirnya aku melihat mobil ini, yang ternyata merupakan mobil yang tidak asing lagi, yaitu mobil pria cupu tersebutlah yang menabrak penjambret tersebut.

“Wow, terima kasih karena telah membantu” Ucapku
“Tunggu, aku membantumu karena hal apa?” Tanya pria cupu itu
“Ohh, kau telah membantuku dalam menabrak penjambret yang kabur tadi” Jawabku
“Ups, barusan tadi aku menabrak penjambret, hehe” Ucapnya dengan nada heran.
“Iya, seperti itulah” Ucapku.

Datanglah seorang wanita tua tersebut, ia pasti ingin mengambil tasnya, dan aku langsung aja memberikan tasnya. setelah itu, wanita tua itu berterima kasih, dan kemudian pergi.
“Baiklah, lebih baik aku pulang sekarang” Ucapku.
“Kau mau pulang?, ikutlah denganku, biar kuantar”. Ucapnya.
Ia memberiku sebuah tumpangan.
“Oh, baiklah, terima kasih”. Ucapku kepadanya.

Aku melihat pria cupu tersebut, dilihat lebih detail, ia memang benar-benar seorang yang sangat cupu.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” Tanyanya.
“Tidak, tidak apa-apa” Jawabku.

Tiba-tiba ia yang membalik melihatku dengan tatap tajam.
“Siapa namamu” Tanyanya kembali.
“Namaku Susan” Jawabku.
“Hmm, Namaku David, senang berkenalan denganmu” Ucapnya sambil menjabat tanganku.
Tanganku terlalu kencang dijabatnya dan kemudian tatapnya kepadaku terlalu liar. aku risih karena hal itu.
“Rumahku di depan situ” Tegurku untuk mengalihkan perhatiannya.
“Ohh, dekat sekali ternyata” Ucap David.

Akhirnya aku keluar dari mobilnya tanpa melihatnya sama sekali. Aku entah mengapa benci sekali dengan pria cupu, menurutku mereka hanya menyamar aja, dan lagi pula dari mereka kebanyakan merupakan predator s*ks.

Di rumah sangat membosankan, Aku memutuskan untuk pergi keluar. Malam hari ini sangat dingin. Walau aku memakai jaket hitam tebal dengan penutup kepalanya. tetap saja terasa dingin. disaat berjalan-jalan, aku melihat perampokan terjadi di sebuah toko elektronik. aku melihat cara orang tersebut merampok, tampak persis dengan perampokan yang terjadi di toko berlin. ia menggunakan granat asap untuk mengalihkan perhatian. lalu aku melihat orang tersebut lari keluar, dan setelah gua perhatikan dengan jelas, ternyata itu David, dan juga mobil yang ia pakai pun sama. Aku tetap menunggu apa yang akan ia lakukan selanjutnya, ia menelepon seseorang, dan setelah itu ia pergi seketika dari toko itu, gua menunggu sekitar 5 menit, gua melihat segerombolan polisi mendatangi tempat itu. gua awalnya berpikir mereka akan hanya melakukan penyelidikan, tapi ternyata mereka menangkap seorang kasir di tempat itu.
“Ya Tuhan, mereka telah menangkap orang yang salah” Ucapku dengan kaget.
Aku benar-benar terkejut melihat polisi itu menangkap orang yang tidak tahu apa-apa itu. David telah mengelabui polisi-polisi itu, dari kejadian itu gua udah yakin bahwa David lah yang telah menjebakku.

Sesampai di rumah, aku langsung pergi ke kamar tidur. aku mencoba tidur, namun tidak bisa karena masih terpikir kejadian sebelumnya. gua benar-benar bingung, sampai akhirnya aku membuka jendela supaya angin malam yang segar masuk ke kamarku. disaat aku merasakan angin malam, aku melihat seseorang yang aneh tampak berdiri di depan rumahku. ia membawa sebuah pukulan bisbol. aku masih memperhatikan orang yang aneh ini. tiba-tiba dua orang lagi muncul dengan senjata yang sama, gua yakin mereka ini mau merampok rumah gua. dan untungnya aku memiliki ide nakal. aku memiliki sebuah suara sirine polisi di ponsel dan sekaligus gua juga punya sebuah speaker dengan terbilang cukup keras. dan akhirnya aku menyambungkan ponsel gua ke speaker dan kemudian gua nyalakan suara sirinenya, dan terbukti, para pria tersebut lari kucar-kacir seperti disergap oleh banyak polisi. Melihat itu gua tertawa kencang.
“Ya Ampun, mereka ingin merampok rumah seorang perampok” Ucapku sambil geleng-geleng kepala.
dan karena hal itu juga, akhirnya membuat diriku mulai mengantuk, dan kuputuskan untuk tidur.

Esok harinya pun tiba, aku bangun dipagi hari yang tampak sejuk, karena hari ini gua mau berolahraga. aku berlari marathon di sekitar rumahku. Aku melihat seseorang datang, Ternyata itu David.
“Hai Susan, kau berolahraga marathon” Sapa David.
“Yah, seperti yang bisa kau lihat” Ucapku.
“Ia itu tampak dari dirimu yang tampak sehat” Ucapnya.
Ucapan itu menurutku terlalu vulgar.
“Ohh, Kau mau mencari sarapan untuk pagi ini?” Tawarnya.
Aku coba mempertimbangkan perkataannya.
“Baiklah, Aku ikut denganmu” Ucapku menerima tawarannya.
Aku pun ikut pergi dengannya.

Di dalam mobil, ia memutar radio, terdengar suara dari radio yang menjelaskan sebuah berita mengenai perampokan yang terjadi tadi malam.
“Kau hebat sekali, kau yang merampok, tapi orang lain yang tertangkap” Ucapku menyindir dirinya.
“Darimana kau tahu itu?” Tanya David.
“Aku melihat semua kejadian yang kau perbuat tadi malam” Jawabku
“Tapi tenang, aku tidak akan memberitahukan dengan siapapun, karena kita ini satu profesi juga” Kutambah ucapanku.
“Kau juga seorang perampok!, ohh keren, wanita perampok” Ucapnya.
“Seperti itulah” Ucapku dengan singkat.
Dia membalasnya dengan senyuman.

Kami akhirnya sampai di sebuah toko roti, namun toko roti ini tutup.
“Tampaknya toko roti ini tutup” Ucapku.
“Sudahlah, Turun saja kau” Ucapnya.
Dari mimik wajahnya, ia tampaknya berniat membuat hal lain. ia mengeluarkan pistol dari celana belakangnya.
“Jangan gila kau, ini terlalu berbahaya” Ucapku memperingatinnya.
“Tenang saja Susan, ini pasti berhasil dengan aman” Ucapnya dengan percaya diri.
“Dengan menjadikanku tumbal dalam perampokanmu ini” Ucapku.
Mendengar itu, ia terkejut.
“Apa Maksudmu?” Tanyanya.
“Aku tahu kaulah yang menjebakku di Toko Berlian Berlin itu” Jawabku.
“Apa!, Kau rupanya yang telah terkena jebakanku itu” Ucapnya dengan tertawa.
“Kau memang licik David!!” Tegasku.
Ia langsung menodongkan senjatanya kepadaku.
“Pergi kau masuk ke gudang di samping itu” Perintahnya sambil menodongkan pistol ke arah.
Tampaknya aku tidak dapat berbuat apa-apa, dan terpaksa aku ikuti perintahnya.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, aku masih ditodong oleh sebuah pistol. Sampai akhirnya terdengar suara kucing, yang membuat David teralih perhatiannya, dan kemudian aku menyambar pistol dari tangannya. Dan sekarang gantian aku yang memegang pistol ini. Ia tidak bisa berkutik, aku terus menodongkan senjata kepadanya. sampai ia tersandar di sebuah dinding gudang. Mengingat buruknya perbuatannya membuatku ingin membunuhnya. Tapi ketika aku menembakkan pistol kearahnya, tidak apa peluru yang keluar.
“Haha, Kau Bodoh Susan” Tawa David dengan ucapan yang merendahkanku.
Ia langsung menyambar pistol di tanganku. Dan kemudian ia mengisi peluru pistol itu, lalu menodongkannya kembali kepadaku. Yang ini aku benar-benar takut. Ia terus saja memojokkanku sampai ku tersandar di dinding gudang. Ia mulai menarik pelatuknya untuk membunuhku. Tapi untungnya ada polisi yang datang dan langsung menodongkan senjata mereka kearah David.

Walau seperti itu aku masih saja dalam situasi yang berbahaya.
“Darimana kau bisa memanggil polisi-polisi ini” Tanya David.
“Aku tidak memanggil mereka, tapi mereka melacak kita” Ucapku.
Aku mengeluarkan ponsel di kantong jaketku. aku memang sengaja memasang aplikasi yang bisa membuat polisi ini melacakku dengan mudah.
“Menyerahlah David” Ancamku.
Ia mulai tampak gelisah dengan situasi yang ia alami ini.
“Kalau kau membunuhku, artinya kau juga akan ikut dibunuh” Ucapku memperingatinya.
“Lebih baik aku mati, ketimbang melihatmu hidup di dunia ini” Ucapnya.
Perkataanya membuatku merinding, aku tidak tahu harus berbuat apa untuk membuat dirinya takut.

Akhirnya setelah adegan todong-todongan senjata, muncullah sebuah granat asap yang membuat seisi gudang tertutup asap. Hal ini bisa kujadikan kesempatan untuk melarikan diri dan kemudian mengambil pistol yang dipegang oleh David. dan setelah asap berhenti, David terkejut melihat aku telah memegang kembali kendali pistol ini.
“Bailklah, Bunuh aku segera, Bunuh!” Tegasnya.
Akhirnya aku menembakkan pistol itu. suara itu mengejutkan seisi gudang sekaligus David, karena tembakan itu sengaja kulesatkan ke dinding bukan ke arahnya. lagipula aku tidak tega membunuh orang.

Akhirnya ayahku datang, wajahnya tampak memerah, tiba-tiba ia layangkan sebuah pukulan ke wajah David dengan keras. David akhirnya tersungkup dan pingsan, akhirnya polisi bisa menangkapnya. Ayah tiba-tiba mendatangiku tapi dengan ekspresi menyesal.
“Aku minta maaf padamu, karena belakangan ini sikapku terlalu dingin terhadapmu” Ucap Ayah.
“Tidak apa-apa, aku mengerti” Ucapku.
Ia memegang salah satu pundakku, lalu memelukku. aku bisa merasakan kesedihan dalam diri ayahku. Ternyata benar, ia benar-beanr sedih, setelah ia melepaskan pelukannya, matanya berbinar-binar seperti selesai menangis. Setelah itu. ia memutuskan pergi kembali ke kantor untuk memproses David.

Hari yang kutunggu tiba, hari ini aku mulai kembali kuliah, kali ini aku tidak akan membuat masalah dengan tidak mengerjakan deskripsi. aku keluar dari kamar, ayah tampaknya akan pergi duluan.
“Baik Susan, tampaknya aku harus pergi duluan” Ucap Ayah.
“Tapi Ingat, jangan sampai aku mendengar kau berbuat kriminal lagi” Ucap Ayah lagi.
“Baiklah” Jawabku.
Setelah itu ayah pergi, jam menunjukkan pukul 8 pagi, aku mulai kuliah jam setengah 10, tapi aku memutuskan untuk pergi dari rumah sekarang.
“Natasha, aku pergi, jaga rumah yang dengan baik” aku berpamitan dengan adikku.

Lagi-lagi seperti biasa, aku berjalan-jalan di pusat kota Manhattan. tiba-tiba perutku bersuara, iya itu karena aku lupa sarapan, dan juga aku sama sekali tidak membawa uang saku. tapi aku melihat sebuah toko roti. aku masuk ke dalam toko roti itu, banyak sekali roti yang enak di dalamnya. aku ingin mencuri sebuah roti atau uang, tetapi aku ingat perkataan ayah. Tapi rasa lapar yang tidak tertahan ini membuatku nekat melakukan pencurian kembali. aku hanya diam-diam mengambil sebuah roti selagi tukang roti ini melayani para pembelinya. aku keluar dari toko roti tersebut, aku kembali berjalan-jalan lagi sambil memakan roti hasil curian.

Akhirnya waktu sudah mendekati jam setengah 10, aku harus segera ke kampus, dengan ini aku memiliki sebuah prinsip yaitu.
“Bahwa aku kriminal, karena suatu keterpaksaan yang mendadak”.

Cerpen Karangan: Danny Abdilah Hrp
Blog / Facebook: Danny Windruner
Ini adalah cerpen pertama saya di forum ini, kemungkinan saya akan mengupload cerpen lain kalau misalkan cerpen ini banyak disukai

Cerpen She Not Good (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gak Punya Judul

Oleh:
Toet, toet, breng, breng! Toet, toet, breng, breng!! Suara marching band terdengar membahana di sepanjang jalan raya pahlawan. Anak-anak SMA Masa Depan serentak berhamburan memenuhi pinggir jalan depan sekolah.

Ketika Cinta Melukai Cinta

Oleh:
“kapan lo mau punya pacar ly?” tanya satu gadis. “gue lagi nunggu seseorang yang udah gue sayang dari dulu dan gak pernah lost contact dari gue. Dia udah janji

Admirer Line

Oleh:
Sudah seminggu berlalu, namun hubungan Alena dan Rasya belum ada perkembangan. Gadis itu memeluk bantal makin erat, mukanya sengaja dibenamkan dalam bantal. Seandainya, Rasya merupakan cowok yang perhatian dan

Harapan yang Terkubur

Oleh:
Kupakai seragam sekolah dengan nametag Azizah, gesper, dasi, topi, dengan kaos kaki putih serta sepatu hitam. Tak lupa untuk menguncir rambut, aku pun bergegas pergi ke sekolah. Kuhentakkan kaki

Buku Diary Pengantar Cinta

Oleh:
Namaku Sela. Aku menyukai sahabatku sediri yang bernama Dion. Aku sayang dia sangat sayang tapi dari raut wajahnya Dion tidak menyukaiku, dia hanya menganggapku sebagai sahabat saja. Aku tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *