Siksaan Penuh Makna

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 April 2016

Langkah anak-anak berpakaian biru dan kuning itu terus mendekat. Seiring dengan suara azan yang mulai berkumandang. Jam di tanganku pun seolah tak mau kalah dengan langit yang terus menunjukkan pesonanya. Hanya sinar yang samar menerangi tenda kami. Suasana malam itu sangat tegang, pentas seni akan dimulai. Sementara kami belum tahu akan menampilkan apa. Suara dari ujung ke ujung membuat nyali kami semakin melemah.

“Ayolah! Jangan sampai kita seperti ini. Kita tampilkan saja apa yang kita bisa tampilkan,” Kalimat salah seorang anggota terus terngiang di telingaku. Entah mengapa begitu, yang aku tahu kami akan tampilkan yang terbaik. Tepat pukul 8 malam, peserta dari 16 sekolah dikumpulkan di lapangan. Tak ada penerangan di sini, hanya ada sorak ramai dari setiap penampilan mereka.

“Dag.. dig.. dug..” hatiku mulai berdebar. Entah apa yang akan terjadi ketika nama sekolah kami dipanggil.
“Ayolah! rasanya aku mau pingsan aja! Malu loh cuma menampilkan ini saja,”
“Jangan gitu lah sandii.. kita jauh-jauh bukan untuk kalah bukan?”

Setelah menunggu lama, nama sekolah kami pun dipanggil. Bermodalkan yel-yel yang sebenarnya tak keren, tapi penampilan kami begitu memukau. Puisi kami juga begitu menyentuh. Itu sebabnya, sorak ramai dari bawah sana begitu nyaring yang sebenarnya dari pendukung sewaan. Pujian juga terlontar dari bibir pembina kami. Ah senangnya. Pentas seni berakhir pukul 11 malam. Udara yang begitu sejuk membuat rambut di kulitku serasa tegak.

“Terima kasih untuk sorak ramai dari kalian, penampilan kami jadi begitu terkesan,” Begitu kata salah seorang anggota PMR SMANSA Kabun. “Biasa saja lah. Jika tidak ada kalian mungkin penampilan kami tak akan ada yang melihat.” Jawab seniorku sambil tertawa.

Kaki ini mulai melangkah, lima jari kami pun bergantian menggenggam tangan mereka untuk mengucapkan terima kasih. Lapangan mulai sepi. Kembali ke tenda adalah tujuan kami. Mata mulai memerah arti kantuk telah melanda. Tak kami hiraukan lagi nyanyian cantik dari perut kami. Tidur dan tidur menjadi prioritas, untuk menghilangkan sedikit penat di tubuh. Mungkin hanya 2 jam waktu kami untuk terlelap. Terdengar suara KSR (Kop suka relawan) menggunakan toa dari ujung sana. Ya, selarut ini semua peserta harus bangun dari tidur. Siap untuk mengikuti uji materi.

“Cepat dek! Lari lah lariii!” begitu suara lantang KSR kami.
Dengan langkah yang terburu-buru kami mendekat dan bergabung ke barisan.
“Siapa yang suruh pakai jaket dek?” Kata Kak Luga senior di sini.
Tak ada yang berani menjawab pertanyaannya.
“Kita kan PMR, yang lain juga gak pakai jaket. Buka sekarang! Tunjukkan nilai kebersamaan!”

Kami hanya menurut saja. Lanjut ke pos selanjutnya. Rintangan tak lupa melengkapi perjalanan kami. Kira-kira seperti zaman jepun dulu. Setelah rintangan yang amat menyiksa berakhir, kami dikumpulkan kembali ke lapangan untuk renungan suci. Ada yang menangis, diam, merenung, bahkan ada yang tidur sampai mendekur. Ya begitulah. Tapi kami sadar setiap apa yang kami lewati, mereka lakukan untuk menyiapkan kami menjadi relawan berkualitas kelak.

Cerpen Karangan: Silvia Ananda
Facebook: Silvia Ananda

Cerpen Siksaan Penuh Makna merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Liliput (Part 1)

Oleh:
Kata siapa MOS harus dijadiin sesuatu yang scary? Biasa aja tuh! Asal bisa jaga sikap dan nggak sok di depan kakak kelas, kita bakalan aman. But, sayangnya kebanyakan orang

Perasaan yang Salah

Oleh:
Seketika aku merasa senang karena mempunyai sahabat sepertimu, kamu yang selalu menemaniku di saat aku senang maupun sedih dan kamu yang selalu membuat aku tersenyum setiap harinya. Kamu juga

Hilangnya Buku Biru Materi IPA

Oleh:
Bel pulang sekolah berbunyi. Ketua kelas X-IPA 2 menyiapkan untuk segera berdoa. Setelah berdoa dengan tertib. Semua siswa berbaris untuk segera ke luar kelas. Kondisi sekolah itu menjelang pulang

Aku Bukan Pilihan

Oleh:
Tak ada lagi yang mampu menjadikan kau alasan untuk aku kembali kepadamu, ingatkah engkau atas semua luka yang pernah kau beri kepadaku, walau kini aku bukanlah kekasihmu, lantas apa,

She Not Good (Part 2)

Oleh:
Keesokan harinya, aku hanya berjalan-jalan di pusat kota Manhattan, Tidak kuliah membuat aku tidak memiliki kegiatan, keinginan mencuri pun tampaknya tidak bisa kulakukan, karena aku mungkin masih diawasi oleh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *