Sindrom Peristaltik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 6 December 2013

Hari yang indah untuk dilalui, udara yang segar berpadu dengan embun pagi dan terlihat serasi dengan tiga warna daun ketapang yang berjatuhan di taman sekolah. Tapi secara tiba-tiba segera berakhir rasa nyaman dan menyenangkan itu ketika baru selangkah Utari jejalkan kakinya masuk ke ruangan kelas. Teman-temannya terlihat sangat sibuk entah apa yang disibukan berlarian kesana kemari seperti dikejar-kejar setan. Utari memukul-mukul jidatnya, sepertinya dia telah melupakan sesuatu.

“mati, aku. Satupun belum kukerjakan 50 soal matematika yang diberikan minggu lalu.” Gumam Utari dalam hati.
Utari segera berlarian untuk mendapatkan contekkan dari temannya, Ariani Pradipta yang terkenal dengan kepintarannya dalam urusan hitung-menghitung. Utari mengebut laju tangannya di atas selembar kertas yang kosong, mungkin jika diperkirakan kecepatan tangannya saat itu adalah sekitar 299.792.458 m/s, bayangkan begitu cepatnya sampai menyamai kecepatan cahaya.

Waktu terus mengejar-ngejar dan meneriakkan berbagai kata yang membuat tubuhnya terasa gemetaran, keringat tanpa dikomando terus menetes perlahan padahal cuaca saat itu sedang sangat dingin-dinginnya dan Teng… tepat jam 07.00 wib napasnya mulai tersedak-sedak di tenggorokkan wajahnya yang tadinya segar bugar kini berubah menjadi keriput tak bertulang, otak kecilnya kehilangan keseimbangan diikuti otak kiri-kanan yang ikut-ikutan tersumbat tisu bergumpal-gumpal sebesar bola kaki yang sedang ditendang-tendang. Habis sudah, semuanya sudah Utari pasrahkan segalanya pada Tuhan setelah berikhtiar habis-habisan.

Tangan dan jari-jarinya berkhianat terasa keras dan kaku sehingga tak bisa digerakkan, terdengar samar-samar langkah kaki dari luar kelas, dadanya pun terus menabuh gendang yang tak beirama sama sekali. Dag-dig-dug dan terus bergentar hebat, darah yang bertekanan tinggi mengalir deras menuju kepala dan berhenti di ujung ubun-ubun. Langkah kaki itu terus mendekat hampir meraih depan pintu, terus mendekat, mendekat lagi, lagi dan lagi. Lambung di dalam perut kecilnya meronta-ronta terus memacu gerakkan peristaltik, keringat dingin membasahi jemari kecilnya menodai kertas putih bergaris-garis hitam tipis. Sesuatu bergejolak hebat dari perutnya menuju kerongkongan yang hanya berjarak beberapa inchi dari dari rongga mulut. Satu langkah lagi maka Pak Mufti akan masuk ke dalam kelas tapi langsung digagalkan dengan Utari berlari sempoyongan keluar kelas dan melalui Pak Mufti. Tak sempat Pak Mufti berkata-kata, seluruh isi perutnya sudah berhamburan berceceran di teras kelas.

Pak Mufti dan beberapa kawan sekelasnya dengan wajah cemas datang menghampiri dan langsung menanyakan bagaimana keadaan Utari.
“Utari, apa kau baik-baik saja? Apa kau sedang sakit? Jika kau sedang sakit? tak perlu kau datang ke sekolah.” Tanya Pak Mufti panjang.
Utari menghiraukan segala pertanyaan yang diutarakan orang-orang padanya, Utari hanya diam terduduk lemas tak berdaya. Utari juga bingung mengapa bisa seperti ini, sebelumnya Utari merasa bahwa dirinya sedang dalam keadaan baik dan sehat-sehat saja. Beberapa teman-teman sekelasnya merangkul dan membawanya menuju ruangan kesehatan, Utari langsung dibaringkan dan tak lama dari itu matanya terasa berat seperti digantungi batu-batu besar dan dalam hitungan detik matanya terpejam dan untuk sesaat Utari kehilangan kesadaran.

Berjam-jam Utari berada di bawah alam kesadaran dan terbangun dari tidur panjang setelah mendengar handphonenya bergetar-getar. Utari membuka mata, perlahan hanya warna hijau yang ada dalam pandangan, lambat-lambat disadarinya bahwa sekarang dirinya sedang berada dalam kamar tidurnya bukan tempat dimana yang terakhir Utari rasakan.

Utari sudah lebih baik, kepalanya sudah tak berdenyut-denyut lagi. Utari segera mengambil handphonenya dan ada tulisan di layarnya “1 new messege” dengan nomor tak dikenal. Malas tapi rasa ingi tahunya sangat besar, ditekan tombol open dan tampilah sebuah pesan singkat di layar handphonenya.

Ada perasaan yang sama terjadi untuk kedua kalinya, dadanya kembali bergetar-getar hebat, otak kecilnya kembali kehilangan keseimbangan, perutnya kembali berguncang setelah kupahami kata per kata yang tertulis.

Hai, Utari Damayanti
Bagaimana keadaanmu?
Apa sudah lebih baik?
Aku begitu mencemaskanmu?
#Alan
Calon kekasihmu.

Utari merasakan kepalanya berputar-putar, keringat dingin kembali bercururan, gerakan peristaltik berguncang-berguncang, rasa aneh itu kembali datang dan dalam hitungan detik perutnya yang tiada berisi kembali keluar berhamburan. Matanya berubah menjadi berat tak bisa lagi ditahan, mata terpejam dan kembali dirinya melakukan hibernasi panjang di tengah-tengah musim kemarau yang tiada memiliki hujan.

*Peristaltik adalah gerakan yang terjadi pada otot-otot pada saluran pencernaan yang menimbulkan gerakan semacam gelombang sehingga menimbulkan efek menyedot/menelan makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan.
*hibernasi adalah tidur panjang yang merupakan salah satu bentuk adaptasi pada saat musim dingin.
*299.792.458 m/s adalah kecepatan cahaya dalam ruang hampa udara.

Cerpen Karangan: Melly Windart
Facebook: Melly Windarti

nama: Melly Windarti
tempat, tanggal lahir: lahat, 4 Mei 1996
alamat: Lahat, Sumatera Selatan
Sekolah: SMAN 2 Lahat
agama: Islam

Cerpen Sindrom Peristaltik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cintaku Bersemi di Lorong Hijau

Oleh:
“Laura!” teriakku dengan suara yang membahana. “Astaga Rin, kurang kenceng manggilnya!” katanya dengan nada setengah terkejut. “Hahaha! Jangan ngambek dong!” Laura ini sahabat aku kami udah temenan dari SD

Dia Sahabat Atau Dia Cinta

Oleh:
Pagi yang indah dihiasi suara burung yang sibuk bernyanyi dengan suara merdunya. Suasananya menggembirakan persis seperti suasana hatiku. Yah aku begitu gembira karena kejadian kemarin, kejadian yang begitu berkesan

Teman Tak Sejahat Cinta

Oleh:
Gradak… suara keras yang membangunkan keheningan alam bawah sadarku untuk beralih kembali seperti semula. Seketika kubuka mata yang beberapa jam tertutup karena letih yang membawaku untuk menelentangkan badan di

A “I Love You”

Oleh:
– Kenapa disaat kita ingin menghindari seseorang, justru dia lebih sering muncul di hadapan kita? – Brakkk Sekali lagi Alsha mendobrak pintu gudang belakang sekolah yang terkunci. Yap! Ia

Maaf

Oleh:
Suara burung menyapa paginya. Dengan bersemangat Asha bergegas bersiap diri untuk hari pertamanya di sekolah barunya. Sambil berlari kecil ia memasuki gerbang. Saking bersemangatnya ia tidak melihat jalan sehingga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *