Story From Gading

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 January 2016

“Kau mau tahu bagaimana liburanku selama seminggu ini?” Tanya Gading.
“Tergantung ceritanya menarik atau tidak.” Jawabku.
“Aku yakin, kau pasti akan terbawa dengan apa yang ku ceritakan ini.” katanya sambil menghirup dan menghembuskan napas berulang kali.

Sambil menunggu, aku melihat kerumunan siswa-siswi yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mereka semua tersenyum gembira tanpa ada beban yang dihadapi. Namun, aku yakin setelah kebahagian itu mereka akan mulai memasang muka kebosanan. Hanya masalah bunyi bel saja. Setelah itu mereka akan merubah mimik wajah 180 derajat.

Ketika hendak membelikan ibuku kecap di warung, aku melihat sesosok perempuan asing yang bingung mau jalan ke mana. Aku hanya melihat perempuan itu dengan aneh, namun tidak ku ladeni. Prioritas utamaku hanya membeli sebotol kecap manis. Setelah membeli kecap manis, aku pun segera pulang karena setelah ini aku harus membantu ibuku beres-beres rumah. Saat di perjalanan, aku mendengar jeritan sesosok makhluk dengan keras. Setelah mencari-cari rupanya bunyi suara itu berada di semak-semak.

“Palingan hanya seekor kucing.” jawabku.
“Kau salah Bagas. Yang ini manusia, lebih baik kau dengarkan dulu..”

Aku pun penasaran dan lebih mendekati semak-semak itu. Betapa terkejutnya aku apa yang ku lihat. Itu adalah perempuan yang ku lihat dengan aneh tadi. Dengan baju yang kotor, lututnya yang berdarah menahan sakit, aku merasa kasihan dengannya. “Apa yang kau lakukan di sini?” Dia tidak menjawab, hanya menahan sakit yang dideritanya. Semakin lama ku melihatnya, semakin sakit hatiku mendengar dia merasakan rasa sakit.

Tanpa pikir, aku langsung membantunya berdiri. Namun, apa yang ku lakukan menambah jeritannya. Aku bingung dengan apa yang harus ku lakukan. Lalu aku menggendongnya menuju ke Taman bermain di sebelah. Lalu aku melepaskannya dan menyandarkannya di pagar. Yang ku lihat dia kelelahan. Ku lihat lagi kakinya yang berdarah dan di saat aku ingin meluruskan kakinya, dia menampar tanganku.”

“Mau apa kau ingin menyentuh kakiku, GILA!” Kata gadis itu dengan nada yang keras. Sontak perkataan gadis itu membuatku terkejut.
“Niatku baik, aku hanya ingin meluruskan kakimu saja.” Kataku dengan nada yang sengaja ku haluskan.
“Tidak perlu, aku bisa melakukannya.” Katanya dengan nada yang sombong.

Dia pun berusaha untuk meluruskan kakinya, namun usahanya sia-sia dan malah membuatnya mulai menjerit lagi. “Argh.. Sakitt…” Semakin sakit hatiku mendengar suara itu. Lalu aku bergegas meninggalkannya dan pergi ke warung lagi untuk membeli obat luka. Hanya berselang waktu 5 menitku meninggalkannya. Setelah sampai ke taman itu lagi, betapa terkejutnya aku bahwa gadis itu hilang.

“Hilang! ke mana gadis itu?” Tanyaku dengan kaget. “Sabar dulu gas.” Jawabnya.

Aku pun panik, ku cari sekeliling taman dengan lamanya. Tidak juga ku temukan jejak-jejaknya. Lalu aku pergi meninggalkan taman itu untuk mencari dia. Ku cari dia sampai aku ingin sekali berputus asa. Lalu aku bertanya kepada orang-orang yang ku jumpai. Namun, mereka tidak tahu. Waktu semakin banyak terbuang, hanya keringatlah yang ke luar bukannya gadis itu.

Namun entah kenapa rasanya aku ingin buang air kecil di saat waktunya tidak tepat. Aku pun tidak tahan lagi dan aku berhenti di dekat sungai. Ketika aku ingin buang air kecil betapa kagetnya aku karena gadis itu ada di tepi sungai dan di sampingku. Awalnya aku tidak sadar dengan kehadirannya yang berada di sampingku. Untungnya aku belum buka celana. Kalau sudah ku buka, aku tidak tahu lagi mau jadi apa.

“Kau mau apa?” Tanya gadis itu.
“Tutup matamu. Cepat!!” jawabku sambil tidak tahan lagi buang air kecil.
“Tapi kenapa?” Tanya dengan polos.
“Cepatt!!!”

Dia pun langsung menutup matanya. Setelah selesai aku buang air kecil. Dia pun membuka mata dan aku pun duduk di dekatnya. Kami hanya diam membisu dengan lamanya, waktu aku ingin menanyakannya tentang apa sebenarnya yang dilakukannya sampai kakinya terluka, tiba-tiba dia langsung berdiri dengan tergesa-gesanya. Cemas, itulah ekspresi yang dia pasang dengan keringat bercucuran.

“Apa yang sebenarnya kau cari?” Tanyaku.
“Ini bukan urusanmu?” Jawabnya dengan dingin.

Aku pun menyerah dengan apa yang dia cari. Aku sudah letih, jadi aku memutuskan untuk duduk sedikit lebih lama di pinggiran sungai. Lalu seekor kucing datang menghampiriku dengan bulunya berwarna putih bagaikan salju dan kalung yang bergambarkan hati tersebut. Semakin lama, semakin mendekat saja kucing itu. Kemudian aku mendekatinya juga dan menggendongnya.

Sambil aku memandang aliran sungai, aku memusut bulu kucing nan lembut bagaikan kapas itu. “Meong.” betapa terkejutnya aku ketika kucing itu mengeong dengan kerasnya, bahkan berkali-kali. Seorang gadis dengan cepatnya menghampiri suara yang dihasilkan oleh kucing yang ku gendong itu. Ku lihat ekspresi senang yang ditimbulkan oleh gadis itu. Cemas, tidak ada lagi terpancar di wajahnya.

“Nonyy!! Di mana kau menemukannya.”
“jadi ini kucingmu, kucingmu inilah yang menghampiriku.” Dia pun langsung duduk di sampingku.
Setelah ku serahkan kucingnya itu, dia langsung mencium kucingnya itu. Kami pun mengobrol dengan lamanya. Berbagai macam topik yang kami bicarakan.

“Siapa nama gadis itu?” Tanyaku.

Lalu tiba-tiba saja murid-murid langsung meninggalkan segala urusan mereka karena datangnya seorang guru. Aku pun langsung bergegas menuju mejaku. Betapa terlenanya aku mendengar cerita dari Gading. Namun aku masih penasaran siapa nama gadis itu? apakah dia cantik? dari manakah gadis itu berasal? Tak sabarnya aku mendengar kelanjutan dari kisahnya ini. Ada yang berbeda dengan hari ini.

Ketika aku melihat seorang gadis cantik dengan rambutnya yang terurai panjang berada di belakang guru kami. Aku menduga dia adalah murid baru di kelas kami. Namun gadis ini tersenyum kepada satu titik. Ku mengikuti kepada siapa gadis itu tersenyum. Betapa terkejutnya aku ketika yang dia senyumi adalah temanku Gading. Ketika aku melihat Gading, aku sudah tahu kalau dia terkejut dengan apa yang yang terjadi. Matanya yang berkaca-kaca dengan mulut terbuka lebar.

Cerpen Karangan: M. Fauzan Delfani
Facebook: Muhammad Fauzan Delfani

Cerpen Story From Gading merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesabaran

Oleh:
Ketika matahari mulai terbit dan memancarkan cahaya yang begitu indah, kubuka jendelaku dan kulihat seseorang yang sedang duduk di atas rumah. Siapakah gerangan orang itu? ia adalah Rini seorang

Cinta dan Permen Karet

Oleh:
Nama gua angga dan saat ini gua jomblo, mungkin gua jujur atau mungkin juga gua lelah, entahalah intinya gua normal dan suka dengan wanita normal juga. Ini cerita tentang

Gagal Move On

Oleh:
Kring! Kring! Kring! Alarm di kamarku sudah berbunyi, itu tandanya aku harus segera bangun dan bersiap-siap untuk sekolah. Aku langsung ngambil handuk dan langsung pergi ke kamar mandi setelah

Hitam Putih

Oleh:
Jam dinding di kamar Lukas menunjukkan pukul 12 tengah malam. Terdengar lagu menenangkan “Jangan menyerah” oleh D’Masiv yang memotivasinya untuk mengerjakan tugas sekolahnya hingga larut malam. Ini karena ia

Move

Oleh:
“cek.. cek.. satu dua tiga..” cek sound yang sedang dilakukan oleh Andri dengan band-nya yang tak lama lagi akan tampil dalam sebuah acara apresiasi seni di sekolahku. Terlihat ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *