Syukur Atas Kemerdekaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 November 2016

Ting-tong… Ting-tong… Ting-tong…
Finaly! Bel pulang berbunyi juga. Menurut kami, para siswa, bel pulang sekolah itu sudah seindah lagu-lagu karangan Beethoven. Setelah tujuh jam lebih aku berada di sekolah, kini aku dapat kembali ke rumah. Tapi.., mengapa ya, aku merasa bersalah, merasa tidak enak hati? Mungkin kata-kata Ibu Dellia lah yang menyebabkan ini.

Tadi dua jam pelajaran sebelum pulang sekolah, merupakan pelajaran PKN. Ibu Dellia, guru kami, membahas tentang perjuangan kemerdekaan. Topik ini bukanlah hal yang baru bagi kami, karena kami sudah sering membahasnya dari SD. Awalnya aku mengantuk, hampir tertidur malah. Yahh, mau bagaimana lagi? Topik ini kan sudah aku kuasai benar, dan lagi ia sudah sangat tua (75 tahun), makanya aku malas mendengarkan.

Setelah selesai membahas materi, Ibu Dellia bercerita pada kami. Ceritanya membawa kami pada masa lalu. Masa-masa sebelum kemerdekaan Indonesia. Dimana ketakutan sangat mencengkam. Desa-desa yang dibakar, isak-tangis warga, suara tembakan dan ledakan seolah bersatu membentuk sebuah lagu yang mengiringi hari.
“Saat itu.., tiada hari tanpa rasa takut. Kematian selalu siap menghampiri, entah kapan dan kepada siapa,” kisah Ibu Dellia. “Mayat-mayat sudah merupakan pemandangan yang biasa kita lihat. Kami sudah siap, kalau-kalau kami lah korban selanjutnya.”
Ibu Dellia terus bercerita, hingga waktu tidak terasa telah berlalu.

Lima menit sebelum bel berbunyi ia mengakhiri kisahnya. “Kalian.., Ibu rasa kurang menghargai pahlawan bukan?” tanyanya. Serentak sekelas menjawab tidak dengan kencang. “Lalu apa yang telah kalian lakukan untuk menghargai mereka?” Suasana kelas menjadi hening sekali.
“Banyak.., pahlawan kemerdekaan yang sudah renta masih hidup,” lanjutnya dengan nada yang sedih “Tetapi, mereka bukannya hidup dihormati, mereka malah menderita. Terlantar. Sudahkah kalian membantu mereka?” Kembali susasana kelas menjadi hening. “Pernahkah kalian membayangkan berada pada zaman penjajahan? Dimana maut dapat datang menjemput kapanpun dimanapun?”
Hening. Waktu seolah bergerak lambat. “Bagaimana kalau, tidak ada pahlawan yang mau berkorban? Itu artinya tidak ada kemerdekaan. Mau kalian hidup dalam teror?” lanjut Ibu Dellia. “Tidak Bu!!” dengan kompak kami menjawab. “Kalau begitu mengapa kalian tidak bersyukur hidup merdeka? Bisa bersekolah dengan tenang tidak takut terbunuh. Tapi mengapa bersekolah pun kalian malas, tidak mensyukuri kemerdekaan? Kami yang dulu bisa bernafas saja sudah bersyukur,” Ibu Dellia mengakhiri kisahnya dan meninggalkan kelas yang masih merenung.

Kawan, sudahkah kita sungguh bersyukur akan kemerdekaan yang ada? Atas jasa para pahlawan? Sudahkah?

Cerpen Karangan: Bianca S
Facebook: Biancasurja[-at-]ymail.com

Cerpen Syukur Atas Kemerdekaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Trapesium

Oleh:
Aku Renata Gittashafira, sangat biasa dipanggil Rere, dan inilah kisah sederhanaku di luar rumah tapatnya itu di sekolah, sebuah kisah sederhana yang kusebut itu cinta. Arbian Anggara Putra, seseorang

Kisah Seorang LDR

Oleh:
Namaku Amalia, Sekarang aku duduk di bangku kelas VIII di salah satu sekolah yang cukup terbilang biasa biasa saja. Namun, aku mempunyai banyak teman karena aku tergolong orang yang

Cinta Tapi Gengsi

Oleh:
“Wi, ayo nongkrong dulu!” ajak Rena menarik tanganku dan berjalan menuju warung Mbok Sri. Warung makan yang sudah menjadi langganan untuk nongkrong usai pulang sekolah. Mbok Sri pun sudah

Aku Ada Di Sini

Oleh:
Bisu. Aku diam membisu di pojok kelas. Memperhatikan ia bermesraan dengan perempuan kesayangannya. Tenanglah, ini hanya pemandangan biasa. Tapi sepertinya, aku tidak bisa membohongi perasaan sakit yang membelenggu masuk

Gambaran Penyesalan

Oleh:
“Assalamu’alaikum warahmatullah..” “Assalamu’alaikum warahmatullah..” Tepat dini hari, aku kembali bersimpuh lemah. Menengadahkan kedua tangan di hadapan Sang Kuasa pemberi kehidupan. Berdialog singkat dengan melantunkan Asma-Nya dan tak lupa memberi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *