Taman Bulan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 September 2018

Aku adalah pemuda 19 tahun yang baru saja menyelesaikan masa SMAku. Tidak ada yang spesial dari kehidupan setelah masa SMA ini. Bosan, bosan dan bosan, itulah yang aku rasakan selama ini. Tak ada kawan, tak ada kekasih, itulah hal hal yang mewarnai kehidupan seusai masa SMA ini. Semua temanku sibuk mencari universitas yang mereka inginkan. Tetapi tidak denganku, yah aku bersyukur lahir dikaruniai otak yang cerdas sehingga aku berhasil mendapat universitas keinginanku tanpa susah payah. Tapi di sisi lain aku juga terkadang sulit mengajak pergi teman yang berjuang mati matian demi nilai mereka.

Akhirnya aku hanya menghabiskan waktu senggangku di sebuah taman di dekat sungai di kota ini. Taman Bulan, adalah tempat dimana aku menghabiskan waktuku untuk memancing, bermain basket, memberi makan burung dara. Yah, semua kulakukan sendirian hingga akhirnya seseorang menegurku di sana.

“Hei kak, kakak lagi ngapain?” ucap anak kecil yang menggunakan pakaian gaun berwarna putih dengan topi jerami yang menghalau cahaya matahari mengenai kulitnya.
“Hallo dek, kakak lagi kasih makan burung dara nih, mau gabung?” tawarku kepada anak itu
Dia pun menganggukkan kepala dan menuju ke arahku. Aku tak melihat dia bersama orang lain, untuk usia sekitar 13-14 tahun seharusnya dia saat ini berada di sekolah, tapi entah kenapa ketika aku bertanya, dia menjawab baru saja pindah ke tempat ini.

“adek baru pindah ya, hmh kalau sore, mau nemenin kakak kasih makan burung lagi gak?” tanyaku
“Iyaa..!” jawabnya sangat semangat.
Dia pun melambaikan tangannya ke arahku, aku pun membalas lambaiannya. Aku pun segera pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, aku melihat kedua orangtuaku berselisih. Hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagiku, andai saat itu adikku yang selamat, pasti mereka tidak akan berselisih seperti ini. Ya, aku mengalami kecelakaan yang merenggut adik perempuanku beberapa hari lalu. Semenjak itu keluarga kami berantakan.

Aku pun pergi ke taman Bulan untuk menenangkan pikiranku, di sana aku pun bertemu kembali dengan gadis kecil itu.
“loh kak, ngapain malem-malem ke sini?” tanya gadis itu
“Aku yang harusnya nanya, ini kan udah malem, ngapain ke sini kamu?” tanyaku
“hihi, aku iseng aja kak. Aku dikasih tau suster- eh maksudku ibuku kalau dari tempat ini aku bisa liat bulan cantik banget” katanya
“oh, sama dong, aku juga mau ngeliat bulan di sini, rasanya nyaman banget” ucapku
“kakak bohong, ada masalah ya?” ucapnya
Aku pun menceritakan semuanya kepada gadis itu. Entah apa yang aku pikirkan, menceritakan masalahku kepada seorang gadis kecil.

“oh iya, aku mau tanya siapa namamu dek?” tanyaku
“aku Lidya kak, kakak siapa?” tanyanya
“Aku Andi dek lidya, kalau liat adek ini rasanya keinget adekku yang udah gak ada dek.” Ucapku
“oh kak andi ya, kakak jangan sedih ya, kakak bisa anggep aku adek kak andi kok kalau mau” ucapnya
“makasih ya Lid” ucapku

Aku pun menghabiskan malamku sambil bercerita dengan Lidya. Bahkan aku tak memberikan kesempatan untuk mendengarkan ceritanya, tapi dia terlihat cukup asik mendengarkan kisah-kisahku.

Paginya aku ingin segera menemui adik baruku itu, sesampainya di taman aku tak melihat sedikitpun batang hidung anak itu.
“Mungkin dia udah mulai sekolah?” pikirku
“Mungkin dia belum bangun tidur?” ucapku
Aku memandangi sekitar, mataku tertuju pada bangku putih, terselip kertas yang diapit dengan batu di sana.

Dear kak Andi,
Hari ini, aku akan ngejalanin operasi pencangkokan hati.
Kata dokter hati aku udah rusak karena penyakit.
Aku udah dapet transplantasi hati, tapi aku gak bisa tenang begitu aja kak.
Kemungkinan ku selamat cuman 10%, aku ragu tapi aku juga ingin sembuh.
Bisa saja ini jadi surat pertama dan terakhir buat kakak.
Kak, tolong kakak jangan sedih ya kalau aku gak ada lagi di dunia ini
Seenggaknya aku akan tetap ada di tempat ini.
Di taman bulan, aku akan selalu ada sambil menunggu kakak datang.
Kita akan ngobrol terus apapun yang terjadi kepadaku.
Yang terakhir, aku berharap semoga keluarga kakak bisa rukun kembali ya kak.
Kalau kakak mau menengokku silahkan datang ke rumah sakit di seberang sungai ini.
Makasih untuk selama ini ya kak.
Your New Sister

Lidya
Aku bergegas menuju rumah sakit itu, dan melihat keadaan kamar yang di gunakan Lidya sudah kosong, semua alat bantu sudah dilepas. Aku menangis sedih karena tak berhasil menjaga adikku yang lain. Setelah beberapa saat aku termenung, aku melihat beberapa orang, dengan seorang gadis yang didorong menggunakan kursi roda.

“Kak andi…” sebut gadis itu
Aku pun segera menuju gadis itu sambil berusaha meraihnya, Lidya, dia berhasil selamat dengan persentase 10% itu.
“Kak, aku ingin berterimakasih kepada yang memberiku donor hati ini.” Ucap Lidya
“dia sudah tiada kan? Memang kamu tau siapa yang memberikan hatinya?” tanyaku
“Iya kak, aku tau… adik kak andi.. dia yang udah selamatin hidup aku kak, mari kita jenguk sama saama di pusaranya” ucap Lidya

Kami pun datang ke pusara adikku, Sisi. Saat ini aku memang memiliki adik yang baru, tapi dalam tubuhnya, masih tersimpan kenangan bersama adik kandungku.

TAMAT

Cerpen Karangan: Mr. I

Cerpen Taman Bulan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Am I Cinderella? (Part 1)

Oleh:
“Yosi bangunnnnn. Jam 6 lebih banyak banget nih. Kakak mau upacara. YOSI!… YOSI!…” “YOSIIIIII.” Teriakku sambil berjalan ke kamar. “KEBLUK! YOSI! Bangun! Jam 6 lebih nih kamu belum mandi

Move on

Oleh:
Hari ini hari senin haduh panas banget. Matahari telah mengalahkan lapisan ozon yang ada. Angin sepoi sepoi mengurangi rasa panas yang ingin menyengat kulit ini. Dari kejauhan terlihat warung

Maaf Aku Salah Sangka

Oleh:
Aku menatapnya sekali lagi. Menurut penilaianku sebagai seorang perempuan, dia tak begitu cantik. Tapi dengan gigi gingsul di rahang kiri atas membuat senyumannya begitu mempesona. Selalu saja membuatku iri,

Anugerah Terindah

Oleh:
Tergesa menuju lab komputer di lantai dua “udah telat nih”, pikirku. “Ups” saking tergesanya aku hampir terpeleset waktu naik tangga. “Kamu gak apa-apa?” ada suara bass di belakangku yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *