Tania

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 November 2016

Seorang gadis remaja berbaju putih biru tengah berdiri di depan sebuah gedung sekolah. Dari tadi wajahnya yang cantik tampak gelisah. Siapakah gerangan gadis itu…?

Namanya TANIA PUTRI. Dia adalah murid SMA 01 DENPASAR. Anak pasangan pak ali dan bu sinta ini terkenal baik dan suka menolong. Wajahnya yang bersahabat itu membuat dia disukai teman temannya. Terutama anak cowok. Banyak sekali yang pengen menjadi pacar tania. Tapi tania mah gak mau pacaran dulu. Gadis 17 tahun ini lebih memilih fokus belajar dari pada pacaran. Buat dia, pendidikan adalah nomor satu.

Kembali ke depan sekolah. Tania masih resah. Secara dari tadi tak ada satu pun angkot atau bus yang lewat. Padahal saat ini udah pukul 2 siang.
“Pada kemana sih angkotnya?” Ucap tania sambil pegangin perutnya yang sejak tadi keroncongan.
Wajahnya yang cantik seketika jadi menyeramkan hehehe gak kok.
Di saat itu. Dari jarak sekitar 100 meter dari tempat tania berdiri. Terdengar teriakan seorang ibu ibu.
“TOLOONG.. TOLOOONG.. JAMBREEEETT…”
tania palingkan wajahnya ke arah suara itu. Jarak 100 meter dia melihat seorang pemuda tengah berlari. Di tangan pemuda itu memegang tas kecil warna coklat. Di belakang pemuda itu tampak seorang ibu yang sedang teriak teriak. Tania tersenyum sinis sewaktu pemuda itu berlari ke arahnya. Begitu pemuda itu sampai di dekatnya, secepat kilat tania jatuhkan diri dan jegal pemuda itu. Pemuda itu langsung tersungkur.
“Anak brengsek” kata si jambret.
“Balikin tasnya” bentak tania.
Jambret itu segera berdiri.
“Ini anak kalo gak dibereskan bisa bahaya nih!” Kata si jambret dalam hati.

Tania kaget banget. Pemuda yang barusan dijegalnya tadi cabut pisau dan menyerangnya. Mau tak mau tania pun melawan. Pertarungan cukup seru. Namun hal itu terlalu mudah untuk tania. Hanya butuh waktu 2 menit buat tania untuk menjatuhkan lawannya.
Saat merasa kalah, si jambret pun melarikan diri. Tapi sayang warga keburu datang. Akibatnya dia jadi babak belur dihakimi warga. Beruntung polisi segera datang dan menyelamatkan si jambret dari amukan massa.

“Terima kasih ya dek” kata ibu yang kejambret tadi pada tania.
“Iya bu sama sama, tapi lain kali hati hati ya bu?” Jawab tania.
Sebuah bus berhenti tepat di depan tania. Anak itu buru buru melompat masuk.

Tania hempaskan tubuhnya di kasur. Sejenak dia memejamkan mata. Di kamar inilah tania suka menghabiskan waktu. Kamar tania cukup besar. Sebuah lemari pakaian berada tepat di sudut ruangan. Di samping lemari ada bufet kecil. Di atas bufet itu ada sebuah piala. Kalau diperhatikan secara seksama. Pada piala itu tertulis. “JUARA 1 KARATE SE JAWA BALI”
Seorang lelaki tengah baya memasuki kamar. Beliau adalah pak ali papanya tania.
“Tania… kok malah tidur?” Kata papa.
“Capek pah” jawab tania.
“Tapi kan sayang belum makan? Liat udah jam berapa sekarang?”
“Hehehe iya iya pah..”
“Yaudah sayang ganti baju dulu, papa tunggu di meja makan”
“Siaaap boos” teriak tania memberi hormat.
Papa cuma tersenyum sambil berlalu.

Sore ini tania lagi asik nongkrong di alun alun bersama LALA sahabatnya. Dari tadi lala celingukan kayak mencari sesuatu.
“Lu kenapa la?” Tanya tania.
“Eh hehehe gak papa kok..” jawab lala ngeles.
“Eh la… lu udah kerjain tugas biologi belum?”
“Belum hehehe.. kan baru besok dikumpulkan”
“Belajar bareng yuk?”
“Boleh… kapan?”
“Ntar malem lah…”
“Oke deh, tapi lu yang ke rumahku ya nia?”
“Siiiip…” kata nia.
Lalu mereka bercandaan seru.

Di saat itu muncul 5 anak cowok seumuran tania. Dilihat dari tampang dan pakaiannya sih mereka bukan anak baik baik. Kelima anak itu mendekati nia dan lala.
“Heh… kalian minggir! Ini tongkrongan kita” kata salah satu anak itu. Sebut aja bima.
“Tapi ini kan tempat umum” kata tania.
“Tapi tempat ini wilayah kita” kata teman bima yang bernama dino.
“Kalian cari tempat lain kan bisa” kata lala.
“Gak bisa. Pokoknya kalian pergi” kata bima.
Ujung ujungnya mereka ribut. “Oke oke gini aja. Kalian boleh pake tempat ini, tapi kalian bayar. Gak mahal kok, cuma 300 ribu doang” kata dino.
“Gak….! Enak aja maen minta” kata lala.
“Udah udah kita pergi aja la” kata tania.
Nia dan lala pun hendak melangkah, tapi malah dihadang ketiga teman bima.
“Kalian mau apa sih!” Tania mulai jengkel.
“Lu boleh pergi setelah kasih duit ke kita” kata yang bercelana pendek.
“Sekali enggak ya enggak, ngerti gak sih!” Bentak tania.
“Kalian.. geledah mereka” kata bima pada kedua temannya.
Dua anak itu mencoba mendekati tania. Secepatnya nia dorong mereka sampai jatuh.
“Kurang ajar…!” Teriak anak itu. Mereka berdiri dan menyerang tania.

Sementara itu bima, dino sama si celana pendek hanya menonton perkelahian itu. Mereka pikir kedua temannya itu mampu mengalahkan lawannya. Tapi 3 menit kemudian bima melotot saat melihat temannya dihajar 2 cewek itu.
Tanpa pikir panjang, bima, dino dan si celana pendek ikut menyerang.
Pertarungan jadi seru. 5 lawan 2. Dari tadi tania dan lala agak kerepotan. Rupa rupanya kelima lawannya ini cukup pandai berkelahi.
Mau tak mau tania dan lala harus keluarkan kemampuannya.
Sementara itu, orang orang sekitar hanya melihat perkelahian itu. Mereka gak berani melerai. Secara mereka tahu siapa bima cs. Seperti yang orang orang tahu, bima cs adalah penguasa alun alun sini. Tiap orang yang berdagang di sini wajib membayar pajak. Bukan itu saja. Bima cs juga suka main paksa. Pernah suatu hari bima cs mengobrak abrik warung makan. Gara gara sih pemilik warung itu telat bayar pajak.

Kembali ke pertarungan. Kini keadaan mulai tak seimbang. Tania yang notabene adalah juara karate se jawa bali itu mulai berada di atas angin. Si celana pendek udah tersungkur. Saat ini dia juga tengah menghajar bima dan dino. Di jarak 2 meter. Lala juga tengah menghabisi kedua lawannya. Hingga akhirnya kedua lawannya itu tergeletak pingsan.
Tania masih menghadapi bima dan dino. Beberapa pukulan dan tendangan berhasil mendarat telak di tubuh bima.
Sementara itu, bima dan dino mulai kewalahan. Pada akhirnya mereka pun kabur dan meninggalkan ketiga temannya yang tergeletak pingsan.

“Lu gak papa la?” Tanya tania agak ngos ngosan.
“gak papa kok…” jawab lala yang juga ngos ngosan.
“Trus kita apakan mereka?” Tanya tania sambil menunjuk ketiga orang yang masih tergeletak pingsan.
“Udah biarin aja, yuk kita pulang. Udah sore” kata lala.
Kedua anak itu pun pergi.
Sementara itu orang orang hanya diam. Mereka enggan memberi pertolongan pada ketiga anak itu.
“Sukuriin.. gak sekalian mampus aja tuh” ucap penjaja mainan.

Papa yang lagi asik duduk di teras depan itu heran lihat putri semata wayangnya pulang dalam keadaan berantakan.
“Nia…. dari mana?” Tanya papa.
“Dari alun alun pah?” Jawab nia.
“Kok berantakan gini?”
“Habis berantem pah…”
“Apaaaa? Kenapa bisa gitu?”
“Tadi tania mau dipalak pah… ya terpaksa deh nia melawan”
“Hemmm ya udah, tapi lain kali sebisa mungkin hindari perkelahian ya sayang?” Nasehat papa.
Tania duduk di samping Papa.
“Kenapa ya pa akhir akhir ini banyak terjadi tindak kriminal?”
“entah ini salah siapa, yang pasti akhir akhir ini perekonomian di negeri ini makin mengkhawatirkan. Harga harga melambung tinggi. Yang miskin makin miskin, sementara itu yang kaya juga makin kaya. Mungkin karena inilah tindak kejahatan makin tinggi” kata papa.
“Gitu ya pah?”
“Pesen papa, gunakan kepandaianmu dengan sebaik baiknya. Setidaknya untuk melindungi diri sendiri. Sukur sukur kalo bisa untuk menolong orang lain”
“Iya pah… tania akan selalu menolong orang”
“Nah… itu baru putri papa”
“Ya udah tania mandi dulu ya pah?” Kata tania. Dia pun tinggalkan papa.

Malam ini tania berada di rumah lala. Kedua gadis ini tengah mengerjakan tugas biologi. Dari tadi kedua anak ini tampak tegang. Secara tugas yang di berikan cukup sulit. Beruntungnya tuh lala termasuk anak yang pandai. Jadi dalam 2 jam saja, tugas itu telah selesai.
“Huft… akhirnya…” kata lala.
“Untung ada kamu ya la hi hi hi.. apa jadinya aku tanpamu la hahaha” kelakar tania.
“Itulah gunanya sahabat… iya gak?” Kata lala.
Kedua anak itu tertawa lepas.
Di saat itu di luar terdengar suara minta tolong.
“TOOLOONG.. TOLOONG.. MALIING…”
“Lu denger gak la?”
“Iya.. kayaknya ada pencurian deh”
Tanpa banyak bicara, kedua anak itu ke luar rumah. Bertepatan itu, dari arah sumber suara terlihat seorang berpakaian hitam tengah berlari kencang. Insting tania mengatakan orang itu adalah maling.
Tania menghadang orang itu.
“BERHENTIII…!” teriak tania.
Sementara itu, tau ada yang teriak di depannya, orang itu berbelok arah.
Mau tak mau, lala dan tania pun mengejarnya.

Lala dan tania berhasil mengejar orang itu.
“Menyerahlah sebelum dihajar warga” kata lala.
Tapi bukannya menyerah, orang itu malah cabut pisau dan menyerang lala. Tak ayal mereka pun berkelahi.
Tempat yang gelap membuat lala dan tania harus ekstra hati hati. Apalagi orang. Itu membawa senjata tajam.
Beberapa kali tania harus menghindari tusukan pisau lawan.
Sampai akhirnya tania berhasil menendang tangan orang itu hingga pisaunya terlempar. Orang itu mengaduh kesakitan. Secepatnya lala hantamkan tinjunya ke muka orang itu dan…??
“BUUUUKKK…” tinju lala telak menghantam wajah. Orang itu hilang keseimbangan dan terjajar 2 langkah ke belakang.
Tau akan hal itu, tania segera melompat dan hantamkan kakinya. Seketika orang itu langsung tergeletak pingsan.

Lala dan tania seret orang itu ke balai desa. Pak RT segera menggeledah orang itu. Di dalam saku ditemukan banyak perhiasan. Warga yang udah marah itu hendak menghajar orang itu. untungnya pak rt bisa meredam kemarahan warganya. Dari jauh terdengar suara sirene polisi.
Usai mendapat keterangan dari lala dan beberapa warga, orang itu pun dibawa ke kantor polisi.
Warga segera membubarkan diri. Begitu juga dengan tania dan lala. Dari rumah lala, tania langsung tancap gas. Dapat dipastikan mama bakal ngomel. Secara ini sudah larut malam.

Papa gelisah. 11 malam tania belum pulang. Dari tadi beliau hanya mondar mandir di depan pintu.
Tepat pukul 23.15 tania baru pulang. Dia buru buru kasih penjelasan kepada papa.

“Trus malingnya gimana?” Tanya papa.
“Tadi sih mau digebukin warga. Untungnya dicegah pak rt nya. Sekarang malingnya dibawa ke kantor polisi”
“Ya udah sekarang nia tidur gih”
“Iya pah… lha papa mau kemana? Kok rapi amat?”
“Papa mau ronda” kata papa. Beliau lalu pergi.

Tania rebahkan diri di kasurnya. Pikirannya menerawang jauh. Dia kepikiran kejadian beberapa hari terakhir ini. Yaaap seperti yang dikatakan papa, tingkat kejahatan di kota ini sangat tinggi. Dari situlah tania berjanji pada diri sendiri untuk menolong orang lain. Terutama pada korban tindak kejahatan.
Malam makin larut. Pandangan mata tania mulai meredup… meredup dan detik berikutnya tania sudah terbang ke alam mimpi.

SELESAI

Cerpen Karangan: Cak Alien
Facebook: Cak Ali Faynatic Fals
Haloo semua.. namaku ali usman. Tapi biasa di panggil CAK ALIEN. Tapi aku bukan makhluk luar angkasa lho? Hehehe bercanda kok.. jangan tanya soal umur ya? Secara aku tuh udah tua hehehe. Buat kalian yang kurang kerjaan en penasaran sama aku, ADD aja facebook “cak ali faynatic fals”

Cerpen Tania merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pemimpi Dalam Amplop

Oleh:
Jantungku seakan berayun-ayun seumpama buah mangga yang digoyangkan oleh angin. Berdegup kencang, darahku serasa mengalir deras. Ubun-ubunku bagaikan mendidih, serupa direbus di dalam panci. Bergulat di dalam benakku pikiran-pikiran

Bad Day

Oleh:
Butiran air memenuhi dedaunan di halaman rumahku. Cahaya pagi menyongsong dari ufuk timur, udara yang sedikit berkabut, serta sejuknya angin pagi menemani pagiku ini. Tanpa teman, tanpa sahabat. Aku

Not Now, Gas

Oleh:
Pagi ini, seperti hari-hari sebelumnya, seorang gadis mungil dengan hijab yang menutupi kepalanya, duduk dengan tenang di mejanya. Beberapa anak seumurannya mulai datang memasuki kelas 12-3 yang sudah cukup

Cinta Datang Terlambat (Part 1)

Oleh:
Namaku Clara Sylonica. Nama yang cukup aneh bagiku. Kota Manchaster City adalah kota kelahiranku sekaligus kota tempat aku tinggal. Aku adalah anak dari pasangan Pak Aryo, seorang perantau asal

Benci Rindu

Oleh:
Hari Senin adalah hari yang paling menyebalkan bagiku. Hari dimana aku harus bangun pagi. Berangkat awal untuk piket kelas dan upacara. Pagi yang cukup sejuk, dibasahi rintik gerimis di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *