Teater Terakhir (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 9 August 2017

“Bangs*t, kenapa harus Di pinggiran? Sepi, plus jauh lagi dari kota.”
Itulah pertama kali yang terbesit dalam pikiranku tatkala aku sampai pada sebuah sekolah di Pakpayoon, Thailand.
Singkat cerita, aku lagi magang di Thailand. Program magang ini aku jalani selama sebulan di beberapa area di bagian selatan Thailand. Apesnya, aku mendapatkan di sebuah sekolah agak menuju utara, di area Pakpayoon.

“Jun, sudah sampai ini ayo keluar.” Ucap salah seorang temanku, Zenry.
“Anjrit, pusing aku Zen. Oh sudah sampai ya.” Balasku
“Ayo turun turun.”
Aku bersama yang lainnya turun di parkiran mobil Sekolah Ansor Sunnah School Foundation. Yap, itulah nama sekolah tempat aku akan praktek mengajar.

“ayo ke meeting room semua”
Kami pun menuju meeting room. Di sana, kami menjumpai seorang guru dari Indonesia, kami memanggilnya kak Diana. Di dalam meeting room kami mengenalkan diri masing-masing.
“Saya Zenry Nur Hidayat”
“Saya Aulika Karimah”
“Saya Widi Puspita Dewi”
“Saya Kurniawan Juni Nugroho”
Ya, itulah nama-nama teman saya dari universitas yang bersama-sama ditempatkan di Ansor Sunnah School ini, Zenry, Lika, Widi dan aku Jun. Kamipun dikenalkan kepada beberapa guru dan penjaga asrama oleh kak Diana.
“Saya Diana, saya juga dari Indonesia, dari Universitas di Yogyakarta”
“Oh iya kak, salam kenal ya. Lulusan tahun berapa kak?” Zen pun bertanya ke kak Diana.
“Kalo saya tahun 2014 lulus, kalian angkatan berapa?” Tanya kak Diana.
“Kami 2013” jawab Zen
“Ya ini seperti PPL buat kami kak” imbuh Widi.

Sesosok pria paruh baya, sekitar akhir 40 atau awal 50 tahun dan cukup untuk dipanggil ‘bapak’, masuk membawa dokumen-dokumen, duduk di kursi yang paling ujung. Sangat mencolok sekali, sehingga terbersit bahwa ia adalah kepala dari sekolah ini. Namun, apakah iya dia kepalanya?
“Lik, bossnya kah ini?” Tanyaku pada Lika
“Mungkin saja sih, Jun. Duduknya aja di situ” balas Lika
“Tua juga ya, hahaha” candaku
“hahaha ya namanya kepala sekolah, pasti tua-tua” Lika membalas candaanku
“Heee, sudah, kasian ojo dicandain guys” ucap Zenry

Tiba-tiba, di dalam ruang meeting yang awalnya sunyi, bapak tersebut memulai mem-briefing kami, namun dalam bahasa Thailand, dan itu sama sekali tidak kumengerti.
‘What the f*ck? What is he talking about?’ ujarku dalam hati
Kulihat wajah teman-temanku. Mungkin Zenry sedikit paham, karena dia ada background knowledge dalam bahasa Thailand, namun aku, Widi, and Lika, sepertinya dibuai oleh sebuah propaganda asing yang sama sekali tidak kami mengerti. Mata kami bertiga saling bertatap satu sama lain, sepertinya kami mengetahui dan ingin mengatakan hal yang sama
‘Bicara apa sih? Aku tidak mengerti’
Kuyakin hal itu tidak hanya terbesit di pikiranku, namun kedua temanku pasti berfikir hal yang sama. Sumpah, seumur hidupku, ini adalah briefing pertama, yang sama sekali aku tidak mengerti. Instruksi, bahasa, jokes, dan lainya sama sekali tidak masuk ke dalam pikirkanku. It’s hilarious, totally hilarious.

Setelah selesai briefing, Kak diana bercakap-cakap sedikit dengan salah satu guru yang berbadan besar, terlihat galak namun murah senyum. Kata kak diana, nama beliau adalah Mr. Wikat.
“Kalian ikut pak Wikat, beliau akan mengatar ke tempat tinggal kalian” ujar kak Diana.
“Ok kak, ayo packing guys” Ujar Zenry

Kami mengikuti beliau menuju mobil. Menurut kak Diana, kami akan ditempatkan di asrama pria dan wanita. Berangkatlah mobil menuju asrama yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Setelah menurunkan para wanita di asramanya, aku dan Zenry menuju asrama pria. Di sana, kami disambut seorang guru dan juga pengawas asrama, yakni Mr. Fi (kata kak Diana sih).
“Ah ayo ikut saya menuju tempat tinggal kalian” ujar Mr. Fi
Kami pun mengikutinya menuju tempat tinggal kami, yakni lantai 2 di Asrama pria. Kamar yang cukup luas, namun hampir tidak ada apa-apa di situ, selain karpet, dan nyamuk. Aku dan Zenry bertukar pikiran seakan kami ingin bertanya hal sama satu sama lain
‘di sinikah kita tinggal, bro?’ mungkin seperti itulah pertanyaan yang timbul di pikiran kami.
“kalian tidur di sini ya. Kalau ada masalah cakap ke saya saja”
Mr. Fi turun ke bawah, bercakap-cakap sejenak dengan Mr. Wikat. Aku dan Zenry bertatap lagi.
“Jun…”
“Sudah Zen. Cukup. Aku tahu maksudmu. Nikmati Zen, ini yang kita dapat”
Zenry menghela nafas dengan berat. Aku paham apa yang ingin ia katakan. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku tidak nyaman di sini, gerah, sumpek, bau lagi. Inikah magang yang dijanjikan akan menjadi sesuatu yang bahagia dan menarik? Di mana bahagianya, di mana menariknya?. F*ck this Sh*t! Let the Adventure begin here!

“Zen, ayo keliling. Bosan aku di sini”
“Ha, ayo. Ke mana emang” balasnya
“Ke mana gitu, jalan-jalan sekitar. Bosan di sini, panas banget”
“Ayo dah.”

Setelah berganti ke pakaian yang lebih santai, aku dan Zen memutuskan untuk keliling area sekitaran Pakpayoon. Memang sih, kotanya terlihat tidak terlalu besar, namun kalau dipikir-pikir, cukup lah kebutuhan kita di sini.
“Zen, ke mana nih? Kiri apa kanan” tanyaku
“Anjir, kiri apa kanan ya. Terserah kamu Jun” Balasnya dengan ekspresi bingung.
“Ah kampret, kiri aja sudah, lewat jalan kita tadi datang”

Kami berjalan melewati asrama wanita, cuaca sore itu cukup hangat. Tidak dingin, tapi juga tidak bisa dikatakan panas. Menurutku hal yang maklum, mengingat Pakpayoon berada di sekitar laut. Setelah mengitari sekitar dan melihat lapangan sepakbola, aku dan Zen memutuskan untuk kembali. Di sekitar sekolah, aku melihat Lika, Widi dan Kak Diana.

“Hei, kalian mau ke mana” tanya Zen
“Cari makan ini. Sekalian mau cari Povider untuk Widi” Balas lika
“Ayo Zen ikut mereka. Bosan juga” saranku.
“Ayo!”

Kami berlima pergi mencari Counter tempat menjual provider sekaligus tempat mengisi dan mengambil paketan untuk Widi. Matahari perlahan mulai jatuh ke ufuk, dan Maghrib telah hadir. Setelah urusan Provider selesai, kami pun menuju masjid yang terletak di belakang sekolah untuk menunaikan ibadah shalat maghrib.
“Nanti kumpul di sini ya” ujar kak Diana sembari menunjuk tempat duduk di dekat area wudhu
“OK Kak” ujarku dan Zen berbarengan.

Setelah selesai menunaikan shalat maghrib, aku dan Zen duduk di sekitaran area wudhu.
“Assalamualaikum” seorang pria tua, usia sekitaran 50-60 tahun datang menyapa kami.
“Oh Waalaikumsalam”
“Bisa… cakap… melayu?” bapak itu mulai mengajak kami mengobrol
“Bisa sikit-sikit”
“Saya Harun.” Bapak itu mengenalkan dirinya
Aku pun membalas memperkenalkan diri
“Oh saya Jun, ini Zenry. Kami dari Indonesia”
Kami berbincang-bincang cakup lama sembari menunggu para wanita menyelesaikan shalatnya. Pak Harun sepertinya seorang penjaga masjid sini. Ya orangnya baik, ramah, juga membagi beberapa tips tentang pak payoon.

Beberapa menit kemudian datanglah para wanita. Kak Diana juga sedikit berbincang-bincang dengan pak Harun. Setelah semua siap, kami langsung menuju warung makan terdekat untuk makan.
“Nah kalian kalau mau mencari makanan halal di sini ya. Insya allah Halal kok” Kata kak diana sembari mengajak kami masuk warung makan.
Di sana, kami memesan menu Nasi Goreng made in Thailand. Mirip-mirip sama Indonesia, but wait… what the… Nasi goreng pake Kuah??!! Dude, This is Fried rice, not a fuck*ng meatball. Aku melihat Widi dan Lika, sepertinya mereka juga mempertanyakan keadaan mengapa nasi goreng pake kuah.
“Kak, ini nasi goreng pakai kuah?” tanya Zenry. Dia benar-benar bertanya!!
“Iya memang begini kalau di Thailand, nasi-nasi kebanyakan pakai kuah. Sudah biasa ini” jawab Kak Diana.
“Terus fungsi kuah ini apa? Penyegar kah? Atau perasa? Ini pakai micin nggak sih, kok nggak kerasa kali bumbunya” Zenry membombardir banyak pertanyaan.
“Makan saja sudah Zen. Kamu ngapain pake micin banyak-banyak, otakmu udah Singklek, pakai micin nanti lenyap otakmu di kepala” candaku
Kami berlima tertawa. Yah, pengalaman pertama di Pakpayoon tidak terlalu buruk. Hatiku mulai terasa nyaman dengan keadaan ini. Ya mungkin memang aku belum melihat kelasku di sekolah nanti, dan bagaimana keadaan sekolah nanti. Namun, entah kenapa aku bahagia di sini, perlahan aku mulai merobek sebagian kecil hatiku, dan kutanam di suasana kehidupan kota Pakpayoon. Ya, Pakpayoon adalah rumahku!

Setelah makan, kami kembali ke asrama. Di perjalanan, kami berlima saling sharing, tersenyum dan tertawa. Dibalik ketertawaan san senyuman, aku berfikir,
‘Apakah ketika kembali ke asrama, aku bisa tidur? Dengan keadaan kamar yang sumpek, mengandalkan suhu alami tanpa kipas, tanpa kasur? Hahaha, bisa tidur apa nggak, bodo amat!’
Ketika aku dan Zenry kembali, kami melihat… kasur?
“Zen, kasur kah itu?” Tanyaku ke Zenry
“Mungkin, ayo buka Jun.” Saran Zenry
Dan benar, itu kasur! Kami dapat kasur. Perasaanku bagai mendapat harta karun, karena kasur di sini adalah salah satu peralatan untuk survive!

Tak lama kemudian, anak-anak asrama datang ke atas, dan… meminjamkan kami kipas! WHAT THE…? Sepertinya Tuhan memberikan rencana agar kami bisa lebih nyaman lagi di sini! Alhamdulillah. Aku dan Zen membersihkan kamar, tiba-tiba bang Fi masuk.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, ah bang! Maaf jika tak bersih, kami lagi berkemas bang.” balasku
“Tak apa, tak apa. Kalian nyaman?” tanya bang Fi
“Nyaman sangat bang. Bahagia saya dengan asrama ini”
“Ha, besok sebelum jam 8 sudah di sekolah. Shubuh berjamaah di sini ya” Ujar bang Fi.
“Oh iya bang”
“Kalau ada masalah, cakap dengan saya ya”
“Iya terima kasih bang”

Bang Fi kembali turun. Aku dan Zenry berkemas, kami meng-unpack¬ koper kami, dan koper Zenry dijadikan tempat menahan kipas, karena colokan listriknya agak tinggi dan kabel kipas tidak sampai. Setelah berkemas, aku dan Zenry istirahat, karena kami harus bangun subuh. Meskipun kasur tidak tebal, bahkan tidak bisa dibilang kasur, aku tetap nyaman. Besok adalah hari pertama kami semua memulai magang di Ansor Sunnah School. Apakah yang akan terjadi besok? Apakah kami akan dibully siswa-siswi atau dipuja bak artis? Entahlah, aku sangat excited menunggu esok pagi. Mataku mulai tertutup, jiwaku menghilang ke alam bawah sadar, dan…

(Bunyi suara alarm).
“Jun, bangun”

Cerpen Karangan: Junior Angghite
Facebook: Jun Angghite Dimaxryn
Namaku Junior Angghite Dimaxryn Priambodho, singkatnya Jun. Kelahiran 21 Juni 1996 dibatam, namun besar di tanjungpinang. Saat ini sedang kuliah s1 di salah satu universitas swasta daerah malang. Suka menulis cerpen dan puisi, terutama bahasa inggris. Pernah magang di thailand dan menjadikan inspirasi lebih baik lagi.

Cerpen Teater Terakhir (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Fobia Kamu (Part 1)

Oleh:
Cinta memang bisa membuat seseorang menjadi aneh. Ya.. aneh seperti aku saat ini berdiri di balik pohon yang tak jauh dari lapangan basket sambil mengintip ke lapangan basket kampus.

My Grandma Is My Friend

Oleh:
“ra, amar ra!!!” teriak nenek yang sambil menari-narik lenganku. Nenek adalah sahabat karibku, sebenarnya nama aslinya adalah Dyah Salsabilla. Aku tidak ingat apa yang menyebabkan dia kupanggil nenek, tapi

My Secret Identity

Oleh:
Senin pagi dengan hati yang berdegub kencang, aku (Anita) sudah berada di depan laptop. Menanti sebuah hasil keputusan yang menentukan masa depan dan cita-citaku. Dengan hati-hati aku mengisi kolom

Lelaki Misterius

Oleh:
“Dreett.. Dreett.. Kring.. Kring…” Dering alarm berbunyi dengan kerasnya. Waktu menunjukkan pukul 06.00. Rita meraba-raba kasurnya yang berbentuk kubus dengan ukuran yang tidak terlalu luas. Dirabanya dari kanan hingga

LOVE

Oleh:
“Wuiiih siapa itu, Ay?” “Siapa? siapa?” Gaby dan Aurel mendorongku, Shalin memepetku. “Aduuh, Edric sama siapa itu?” “Shal, jangan jadi kompor, ya..” kata Gaby. “Udahlah biarin.” Kataku kembali membaca

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *