Tentang Raka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 March 2017

Manusia itu sama, sama-sama makan nasi, sama-sama menghirup oksigen tapi kalau modelnya Raka begini apa jadinya Bangsa ini? Raka yang ditakuti satu sekolah karena kelakuan nyelenehnya dan gaya sok pintarnya itu tidak disukai para siswa SMA GARUDA dan disebut-sebut sebagai pengacau di manapun dia berada.

Pagi ini, di sekolah dia menjadi bahan pembicaraan para siswa lainnya, bagaimana tidak? dia memakai seragam yang celananya robek-robek, gaya tengil dan sok premannya pun terlihat dari auranya hari ini. Dia berjalan begitu santai dan tidak mempedulikan teman-teman sekolahnya yang terus saja memperhatikannya. Dia berjalan menuju belakang sekolah.

Di belakang sekolah terdapat satu ruangan kosong yang menjadi gudang sekolah, walaupun terliahat kotor tapi tempat itu biasa digunakan untuk nongkrong genknya, tempat untuk merokok, bermain kartu dan membolos dan nama genk yang mereka sandang adalah the black.

Raka sudah sampai di sana dan teman-temannya sudah berkumpul di tempat itu, seperti biasa. Raka menyapa mereka satu-satu dan sebagian dari mereka sedang merokok.
“Wow, lo keren banget…” Kata jajang sambil menghampiri Raka yang masih berdiri, semua teman-temannya tersenyum bangga melihat penampilan Raka hari ini.
“Lo, berani banget robek-robekin itu celana? Tapi gue salut sama lo, gue acungin jempol buat lo.” Jajang pun megacungkan jempolnya dan merangkul bahu Raka.
“Iya donk, gue kan ketua genk The Black, gue harus tunjukin sikap jagoan dan berani, iya nggak?” ujarnya bangga dan teman-temannya tertawa riang.
“Btw, lo nggak takut sama pak Anton? Kalau lo kena hukuman bagaimana?” tanya Wingky tiba-tiba, mereka semua saling pandang, sedangkan Raka hanya diam dan tiba-tiba tersenyum pada mereka.
“Pak Anton? Terserah deh, gue kan udah biasa dipanggil sama itu guru.” Jawab Raka enteng, karena baginya hukuman pak Anton guru BKnya itu, sudah menjadi makanan kesehariannya,

Bell masuk berbunyi, mereka semua tetap santai dan seolah-olah bell masuk itu bukan masalah bagi mereka. Raka yang notabennya adalah ketua, dia merasa berani dan tidak mempeduliakan, dia lebih memilih asik-asikan bermain kartu dengan yang lainnya.

Benar saja, pak Anton datang ke tempat itu “Eehmm?!” suara deheman seseorang mengagetkan mereka semua, tak terkecuali Raka. “Eh, pak Anton… Duduk pak” kata Adam malu-malu sambil cengengesan. Pak Anton hanya memandangi mereka dan mereka semua saling colek-colek dan curi-curi pandang.
“Kebiasaan buruk kalian gak pernah berubah, saya heran apa yang kalian pikirkan tentang hidup ini. biar kalian kapok, saya akan hukum kalian lari mengelilingi lapangan 100 kali. Mengerti!!!” perintah pak Anton tegas kepada mereka semua.

Semua siswa yang melihat mereka berlari di lapangan, bisa bernafas lega, pasalnya mereka itu pantas untuk dihukum.
Salah satu gadis di depan kelas itu melihat Raka dengan tatapan kasihan, bukan hanya dia saja tapi Raka juga melihatnya, gadis itu bernama Bunga, gadis yang sangat Raka sukai tapi Raka tidak akan bisa mendapatkan gadis itu dengan mudah, dia harus menjadi orang baik agar cintanya bisa diterima oleh Bunga tapi bagi Raka berubah itu sulit, apa yang harus dirubah? Semua orang akan tetap mengingatnya sebagai anak nakal, berandalan dan juga susah diatur.
“Kamu ingin aku berubah? Baiklah…” ucap Raka yang masih melihat bunga. Raka terus berlari memutari lapangan sekolah yang lebih cocok jadi lapangan basket atau volly itu.

Cerpen Karangan: Ritna Dewi
Wattpad : Semutmerah14
Ini karyaku, mana karyamu?
don’t copas yaa guys…

Cerpen Tentang Raka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cintaku Tak Akan Punah

Oleh:
“Siapa ya namanya? Dia begitu indah bak bidadari saja” lamunku. “Hey Dik! Melamun saja kau dari tadi?” suara Roy mengagetkanku. “Oh, enggak ada apa-apa kok Roy” jawabku sambil tersenyum.

Akhir Cerita Sabtu Senja (Part 2)

Oleh:
Malam harinya, usai belajar Yuris memasukkan buku, tiba-tiba Yuris teringat tas kecilnya. Saat akan menanyakan pada Hermin, Yuris teringat bahwa tas kecilnya pasti tertinggal di bawah pohon dekat jembatan.

Sejurus Dua Mata Beradu

Oleh:
Kutatap lekat wajahmu, saat kau tampakkan lesung pipi memesona. Hingga ragaku menyebut nama Allah, imanku hampir patah. Matamu… Matamu… itu sungguh menawan. Bulan mata itu membangunkanku dari tidur panjang.

Jeritan Yang Tersampaikan

Oleh:
Tes… Bulir airmata jatuh begitu saja mengenai pipi gadis cantik itu. Perkataan orang yang dihadapannya sungguh membuatnya terperanjat kaget. Dia melangkah mundur seraya membekap mulutnya tak percya. Hingga kemudian,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *