Terlalu Cepat Untuk Menilai

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 July 2016

“Sial, siapa sih Aram?! Dari tahun ke tahun selalu dia.”

Satu tahun telah berlalu dari kejadian itu. Sekarang, pada Tahun 2009.
“Kriiiiiingg!” terdengar bunyi alarm. “Haaa, hari pertama sekolah,” ucap Mara sembari mematikan alarm. Mara bangun dari tempat tidur dan dihiasi dengan lukisan pemandangan hutan yang natural di dinding kamarnya dan di lantai kamarnya dihiasi dengan lukisan kolam ikan yang indah, tetapi banyak sekali kanvas, kuas dan cat-cat yang bertebaran di kamarnya. “Gue harus mandi,” ucapnya, sambil turun dari tangga di kamarnya menuju kamar mandi. Setelah mandi dan bersiap-siap, Mara pergi menuju sekolah dengan memakai seragam sekolahnya yang lusuh. Sekolah Mara cukup jauh bila ditempuh berjalan kaki, sehingga Mara menaiki angkutan umum untuk pergi ke sekolahnya.

Disaat menaiki angkutan umum, Mara melihat sesosok pria berperawakan smart mengenakan seragam sekolah yang sama dengan yang dikenakan oleh Mara
“Hoo, anak SMA Gundaria juga ya,” dalam hati Mara. Saat beberapa detik setelah Mara duduk di bangku angkutan umum, terdengar suara yang tertuju kepada Mara
“Falha, nama kamu siapa?”
Mara langsung tertegak dari tundukannya lalu menatap lelaki yang berperawakan smart itu dan berkata sambil tersenyum, “Mara”.
“Nama kamu kayak nama cewek ya,” ucap Falha.
“Iya begitu yang dikatakan teman-teman SMP saya.” Mara nyengir
”Hoo, jadi kamu juga anak baru? Sama dong! Saya kira kamu senior gue, abis pakaian kamu lusuh amat dan kamu terlihat berantakan,” Falha berkata sambil terkejut.
“Hahaha, udah dari sananya kali yaa? Iyaa salam kenal ya.” Mara sambil tertawa. “Lah b*set? Ternyata begini amat nih orang,” ucap Mara dalam hati

Akhirnya mereka berdua sampai di SMA Gundaria. Mereka berdua turun dari angkot dan berjalan menuju gerbang SMA Gundaria. Banyak anak baru SMA Gundaria yang berdatangan. Sehingga mereka tidak sadar terpisah. Pembagian kelas untuk siswa-siswa baru diumumkan di papan pengumuman sekolah.
“Hmm, dimana ya kelas gue?” mata Mara bergerak keatas kebawah menelusuri mading. “Ah, ini dia kelas gue! Kelas X-E di lantai 1.” Mara bergegas pergi ke kelasnya. Sesampai dikelas, ternyata Mara melihat Falha lagi di dalam kelasnya. Falha sedang berkenalan dengan teman-teman sekelasnya sambil tertawa-tertawa. “Lah ini gue ketemu lagi sama nih anak. Ohh, dia kelas X-E juga,” dalam hati Mara sambil ia menuju bangku paling belakang untuk duduk.

Bel masuk kelas berbunyi. Beberapa saat kemudian datang seorang bocah laki-laki memakai celana terlalu tinggi, benar-benar tinggi hampir menutupi dada, rambutnya dibelah dua dan memakai kaca mata jengkol memasuki kelas.
“Pfft, siapa tuh bocah? Mau akrobat?” ujar Falha pelan sambil menahan ketawa.
“Ini kelas X-E?” ucap bocah berambut belah dua itu.
“Iya,” sebagian siswa menjawab.
“Baik sekarang belajar matematika yaa,” ucap bocah itu kalem tanpa dosa sambil membenarkan posisi kacamatanya.
Kelas hening sejenak.
“Apaaa? Jadi dia guru matematika?!” teriak falha dalam hati.
“Hahaha.” Mara tertawa. “Gokil banget nih guru,” ujar Mara menahan ketawanya.
“Adek? Bapak? Anda sebetulnya siapa?! Beneran guru matematika?!” semua siswa kaget serta bingung sebetulnya bocah didepan itu siapa.
“Sudah, yuk belajar saja. Perkenalkan, nama saya Pak Jason.” Bocah itu mulai menulis di depan papan tulis.

Akhirnya pelajaran matematika dimulai. Pak Jason langsung menjelaskan bab trigonometri. Siswa-siswa mengeluh langsung belajar. Tetapi apa daya, walaupun Pak Jason pendek, terlihat cupu, rambutnya dibelah dua dan memakai kaca mata jengkol, singkat kata seorang akrobat (kata Falha). Guru tetaplah guru. Tidak ada yang bisa menentang kuasa Pak Jason.
“Ahh, beneranlah hari pertama jam pertama langsung belajar?! Matematika pula, bisa-bisa otak gue menguap semua terus jadi awan terus jadi butiran air terus mendung terus hujan deh terus, terus, syukurlah enggak nabrak” gumam Mara kecil. Tetapi beberapa saat kemudian. ”Eh, tapi tunggu dulu, ini guru ngajarnya enak juga, gue ngerti-ngerti aja apa yang dia terangin, mantap juga nih guru. Tuh kan, ngelihat orang tuh jangan dari luarnya aja.” Mara memantapkan ucapnyanya dalam hati sambil menatap Falha teringat kejadian tadi pagi di angkot.
“Ohh, trigonometri gini doang?! Hmm, intinya trigonometri itu tetang segitiga siku-siku dan sudut” ujar Falha dengan sok tahu.
Posisi duduk Falha berada di kolom kedua jejeran meja paling kiri kelas dekat dengan jendela. Sedangkan posisi Mara satu longkap di belakang Falha. Selama pelajaran di kelas banyak sekali prilaku siswa-siswa yang diperhatikan oleh Mara, ada siswa yang hanya menunduk mencorat-coret buku tulisnya, ada siswa yang ngangguk-ngangguk setiap kata dari Pak Jason, seolah dia sangat meresapi apa yang dikatakan Pak Jason,
sampai Pak jason mulai bingung dan panik lalu bertanya, “Agus, Agus, kamu terkena penyakit ayan?”
Kepala Agus pun berhenti dan berkata, “Tidak Pak.”
Ada juga siswi yang sering bertanya, “Pak, total sudut segitiga siku-siku berapa?”
“180 derajat”
“Kalo rumus gaya?”
“M kali a”
“Oh, gaya dada?”
“Hah, Maaf?”
“Kalo bunyi UU pasal 24 ayat 2 gimana ya Pak?”
“Ressa, kita sedang belajar trigonometri,” ujar Pak Janson ngeles karena merasa terdesak.
“Oh iya, betul juga Pak,” jawab Ressa.

Pelajaran trigonometri dilanjutkan kembali. Mungkin jika Pak Jason dapat menjawab terus pertanyaan Ressa, Ressa akan bertanya “Bapak sudah menikah?” entah pertanyaan itu menyindir atau Ressa punya perasaan tersendiri terhadap gurunya. Sampai ada siswa yang tiba-tiba berdiri lalu memutarkan tubuhnya seperti menari balet.
“No no no, budi, sit down.” Pak Jason menggeleng-gelengkan kepalanya dan menunjuk ke arah bangku. Budi pun langsung duduk di bangku layaknya seperti anjing yang patuh kepada majikannya.
“Sepertinya gue salah masuk sekolah,” ujar Mara sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Tidak seperti SMA lainnya, Di SMA Gundaria siswa dipilih melalui seleksi yang unik, masing-masing siswa yang diterima memiliki suatu bakat yang diatas rata-rata. Pada tahun ini Falha menjadi peserta terbaik dalam penyeleksian SMA Gundaria karena falhah memiliki banyak sekali bakat, salah satu bakat yang paling menonjol pada Falha adalah melukis.

Kelas berjalan dengan penuh perjuangan. Perjuangan murid-murid memahami materi yang diajarkan oleh guru akrobat itu. Hingga di penghujung akhir kelas matematika, pak Jason menunjuk siswa untuk mengerjakan latihan soal di depan.
“Iya Falhah, coba maju untuk mengerjakan soal di depan.” Pak Jason menunjuk Falhah. Falhah mengerjakan soal dengan cepat dan akurat.
“Bagus Falhah, cara yang sangat efektif silahkan duduk kembali” Ujar Pak Jason. Falha pun duduk kembali ke bangkunya.
“Ya, untuk soal kedua dan sebagai penutupan kelas matematika pada hari ini silahkan maju Mara.” Pak Jason menunjuk Mara.
“Abis deh gue, pas banget soalnya yang saya enggak ngerti, tadi diterangin ngerti-ngerti aja, tetapi kalo udah masuk soal kenapa saya jadi blank begini ya.” Mara panik, mukanya pucet bagaikan ikan cupang yang kalah berkelahi.
“Mara? Kenapa melamun? Ayo maju.” Pak Jason menyadarkan lamunan Mara.
“Oh iya maaf pak, baik Pak.” Dengan modal nekat Mara maju kedepan. Sesampainya di depan Mara tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan.
“Pak saya tidak bisa mengerjakan, enggak kepikiran sama sekali ide penyelesaiannya bagaimana” Ucap Mara memelas.
Falha yang mendengar alasan Mara yang tidak bisa mengerjakan soal yang mudah bagi dirinya berceletuk pelan, “Yelahh, gitu doang enggak bisa? Padahal tinggal diubah saja bentuk trigonometrinya jadi bentuk yang lain sehingga persamaannya bisa diselesaikan,” gumam Falha bosan di bangkunya. “Udah lusuh banget keliatannya, bodoh pula, idih Mara Mara.” Falha merendahkan Mara.
“Begini caranya Mara.” Pak Jason menerangkan Mara. “Soal ini tidak begitu sulit, jika kita mengganti tang x dengan sinus x dibagi cosinus x, kita akan bisa menemukan langkah penyelesaiaannya.” Pak Jason menyelesaikan soal yang tadi diberikan kepada Mara.
“Oh begitu pak, saya mengerti pak, terimakasih banyak pak,” ucap Mara takjub.
Setelah itu Pak Jason menyuruh Mara untuk duduk kembali ke tempat duduknya. Mara kembali ke tempat duduknya. Disaat perjalanan kembali ke tempat duduk, mata Mara dan Falha bertemu ketika berpapasan.
“Bodoh ya kamu?” celetuk Falha.
“Hehe, setiap orang memiliki kekurangannya masing-masing,” balas Mara tersenyum.

Dengan kembalinya Mara ke tempat duduknya, Pak Jason menutup pelajaran matematikanya. Beberapa saat setelah Pak Jason meninggalkan kelas, datang seorang Bapak berperawakan besar dengan rambut yang panjang dan ikal memasuki kelas X-E. Para siswa kaget, dikira akan ada pertunjukan sulap mematahkan kijing dengan mulut bapak itu. Ternyata seorang Bapak tersebut adalah seorang guru kesenian yang akan mengajar di kelas X-E.
Awal pelajaran Bapak memperkenalkan dirinya, Pak Asep begitulah panggilannya. Setelah berkenalan dengan para siswanya, Pak Asep langsung memberikan kertas A4 kepada masing-masing murid di kelas X-E. Tanpa basa-basi, Pak Asep menyuruh para muridnya untuk menggambar bebas dengan hanya bermodalkan pensil dan penghapus.
“Untuk pelajaran kesenian ini kita habiskan untuk menggambar di kertas A4 yang telah saya berikan. Saya ingin tahu saja kemampuan gambar kalian sudah sejauh apa.” Pak Asep terdiam sejenak, lalu melanjutkan perkataannya, “Oh iya, langsung saya nilai ya karya kalian di akhir pelajaran.”
Semua siswa kaget tercampur panik. Tentu saja, bagaimana ada pertemuan pertama langsung dihadapkan Ujian, ujian hidup di sekolah Gundaria. Tapi mau bagaimana lagi, ini perintah Guru, para siswa pun langsung menggambar di kertas yang telah diberikan bagaikan para karyawan yang takut dipecat oleh bosnya. Mungkin lebih tepatnya, para siswa langsung patuh kepada Bapak Asep karena takut dismackdown olehnya.

Tanpa disadari kelas sudah sampai di penghujungnya, semua siswa selesai mengerjakan karyanya dan dikumpulkan. Pak Asep melihat lembaran demi lembaran yang telah dikerjakan oleh para siswanya lalu terlihat pak Asep memberikan coretan sedikit di setiap lembarannya yang tak lain adalah nilai dari hasil karya siswa-siswanya. Suasana kelas begitu mencekam, serasa sesak jika bernafas. Suasana mencekam itu akhirnya sirna ketika Pak Asep selesai menilai semua lembaran dan kembali berkata lagi menyebutkan nama salah satu siswanya.
“Falha, yang mana ya orangnya?” Tatapan Pak Asep tertuju ke para siswa
“Saya Pak,” jawab Falha.
“Gambar kamu bagus Falha,” ujar Pak Asep. “Yang namanya Mara siapa ya?” Pak Asep bertanya kembali.
“Saya Pak,” Jawab Mara.
“Gambar kamu ini sangat bagus, kau mendapatkan nilai tertinggi di kelas ini.”
Mendengar hal itu Falha terkejut. Ada orang yang mengalahkan karyanya. Pak Asep membagikan hasil karya-karyanya kepada siswa dan setelah itu kelas ditutup. Falha masih merasa penasaran dengan Mara. Bagaimana ada orang yang bisa mengalahkan Falha dalam hal menggambar atau melukis. Dari SD sampai SMP Falha selalu mendapatkan nilai tertinggi di sekolahnya. Tetapi saat ini ada orang lusuh dan berantakan yang mengalahkan karyanya.

“Teng teng teng.” Akhirnya bel sekolah berbunyi, menandakan sekolah sudah selesai. Para siswa pulang ke rumahnya masing-masing. Falha yang masih terheran-heran sejak akhir pelajaran kesenian hingga akhir sekolah karena ada yang mengalahkan karyanya, ingin sekali melihat gambar Mara. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Falha akhirnya ikut pulang dengan Mara.
“Yo Mara, saya mampir ya kerumah kamu”. Falha menepuk pundak Mara dari belakang.
“Hee kok tiba-tiba? Boleh-boleh aja sih, ada apa Fal?”
“Saya nganggur enggak ada apa-apa abis pulang sekolah ini, daripada bosen kan,” Ucap Falha ngeles padahal ingin tahu gambar yang telah dibuat Mara.
“Oh, oke deh yuk,” balas Mara santai.

Mereka naik angkot bersama-sama pulang ke rumahnya Mara. Sesekali mata Falha tertuju ke tas Mara karena penasaran dengan gambar Mara, menunggu waktu yang tepat untuk bisa melihat gambarnya. Sesampainya di rumah, mereka berdua langsung menuju ke kamar Mara. Hidung Falha kembang-kempis tidak tahan lagi ingin melihat gambar yang berada di tasnya.
“Falha, tunggu dulu, kamar saya berantakan, mau saya beresin, tunggu di luar bentar yaa,” Ujar Mara
“Oke!.” Ucap Falha tidak sabar.
Setelah Mara membereskan kamarnya, Falha dipersilahkan masuk. Dengan terkejut bingung Falha berteriak, “HUAA, KAMAR KAMU BANJIR!! KOK ADA IKAN KOINYA?! KENAPA TIBA-TIBA KITA ADA DI HUTAN?!”
“Hahaha, tenang, tenang Falha, itu cuma lukisan.” Mara menenangkan Falha.
“OH, ehe ehehehe, lukisan toh,” ucap Falha setengah tidak percaya apa yang telah dilihatnya.

Falha memasuki kamar Mara. Falhah tiba-tiba terhenti dari langkahnya dan tertegun setelah melihat ke arah kiri dinding kamar. “Selamat Kepada Aram Juara I Kontes Melukis Nasional tahun 2006”, “Selamat Kepada yang Terhormat Aram Juara I Kontes Menggambar Nasional Tahun 2008”, “Selamat Kepada Aram…” yang dilihat oleh Falha adalah penghargaan-penghargaan dari tahun ke tahun yang telah dicapai oleh Aram. Ketika saat itu juga Falha melupakan tujuan awal datang ke rumah Mara, terjatuh dan berlutut menyadari sesuatu.
“Kenapa gue tidak menyadarinya sejak awal?! gue bagaikan orang bodoh. Jika Aram dibaca dari kanan, itu akan terbaca Mara.” Falha speechless beberapa saat. “Jadi sebetulnya Aram itu kau Mara?” Tanya Falha mengkonfirmasikan hipotesisnya.
“Hehehe, iya Fal. Aram itu nama yang dipake kalo saya ikut lomba melukis atau menggambar. Kenapa Fal?” Mara balik bertanya.
“Saya kesal, dari tahun ke tahun Aram selalu Juara I. Saya berfikir siapa sih Aram. Tetapi, di lain sisi saya menghormatinya, saya ingin sekali karya saya bisa menandingi karyanya, dan ternyata sekarang orangnya berada tepat di hadapan saya.” Falha tertunduk “Dan ironisnya, saya di sekolah malah merendahkan orang yang saya hormati, saya seperti orang idiot.” Falha menyesali sikapnya kepada Mara.
“Setiap orang memiliki kekurangannya masing-masing,” celetuk Mara mengulangi perkataanya disekolah. “Tetapi jika kita melihat lebih dalam lagi, di lain sisi setiap orang memiliki kelebihannya masing-masing kan? Kamu hanya terlalu cepat menilai sesuatu saja. Selow kok, lagipula saya juga biasa aja. Sudah, sudah, daripada baper mending kita melukis aja yuk hehehe.”
Mara menyiapkan satu kanvas, dua kuas dan berbagai cat warna. Mereka pun mulai melukis bersama-sama di atas kanvas.

Cerpen Karangan: Pradipta Alamsah Reksaputra
Blog: pradiptaar.wordpress.com

Cerpen Terlalu Cepat Untuk Menilai merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenangan Terindah

Oleh:
Eh, eh, kenapa ya? Hari-hari ku itu selalu campur aduk? Eh, tapi selalu senang kalau ada dia. Dia yang selalu hibur aku kalau lagi sedih. Dia juga selalu ngebelain

Story Telling Two

Oleh:
“Dipanggil Indri Joanne segera ke meja piket!” Deg, jantungku serasa dihantam seribu palu, mengapa Mr. A manggil aku lagi huu, oya kenalin namaku Indri Joanne, aku murid kelas VIII

Me and Devil

Oleh:
Hari ini giliran Ino yang kebersihan kelas, dan dibantu dengan teman-teman yang lainnya juga. “Ino, tolong bersihkan penghapus papan tulis itu” kata temannya sambil menunjukan telak penghapus papan tulis.

Awal Yang Salah

Oleh:
Kisah ini berawal dari pesan singkat yang dikirim temanku atas nama kakak kelasku yang sebelumnya tak aku kenal, mungkin ini konyol, tapi inilah yang aku rasakan, perasaan yang sebelumnya

Menggapaimu Bukanlah Mimpiku

Oleh:
Ku tak bisa menggapaimu Tak kan pernah bisa Walau sudah letih aku Tak mungkin lepas lagi Lagu itu menggambarkan perasakanku kepada pemain basket di sekolahku, namanya Rizky, siswa yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Terlalu Cepat Untuk Menilai”

  1. jaja says:

    ko ga masuk cerpen terbaik min? bagus banget ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *