Ternyata Kau Adalah Tipeku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 May 2017

“Sera, ayo selfie bareng.?!” ajak salah satu temannya yang bernama Nabila.
“Gak mau, ah. Kalian aja.” jawab gadis aneh yang bernama Sera tadi.
“Kamu emang cowok kok, Ser?. Disamping penampilanmu kayak cowok, kamu juga gak suka selfie, padahal kan, selfie itu merupakan hobi alami cewek.”
Fine, berarti mereka menganggapku cewek karena aku memang sering selfie. Tetapi dengan pose yang cool, lah… Bukan pake pose alay yang ala anak ABG.
“Emangnya, cewek itu wajib suka selfie, ya..?” tanya gadis aneh itu dengan polosnya.
“Ya gak harus suka, sih. Tetapi, setidaknya pernah walaupun cuma sekali dalam seumur hidup.” sahut temannya yang lain.
“Aku pernah kok, 5 kali malah.” jawabnya santai.
“Hah, serius lo, Ser?” tanya temannya dengan nada terkejut. Sera mengangguk mantap.
“Yups, itu lho, foto buat rapot, ijazah, kartu pelajar, name tag OSIS sama yang satu lagi foto gue waktu kecil dulu.” Kali ini, gue dibuatnya ketawa sehabis denger hal paling konyol tadi seumur hidup gue. Emang kelewat polos dia. Dasar, cewek aneh. gumamku.

“Boro-boro selfie. Foto yang di ijazah aja dia berusaha nutupin lukanya yang menjijikkan itu, apalagi selfie. Gayanya terkesan kaku.” cibirku sambil bergidik jijik melihat luka yang cukup lebar di lengan atasnya itu. Ya, karena kami bersekolah di SMA yang mengkhususkan para muridnya beragama Kristen, maka seragam yang kami kenakan berlengan pendek.
Setelah dengan spontan aku mencibirnya, semua yang berada di kelas kami hanya terdiam sambil menatapku tajam. Sedangkan si cewek aneh itu hanya tersenyum tabah.
“Kamu, emang pengecut, Van. Beraninya cuma sama cewek. Mentang-mentang punya banyak fans, tapi jangan harap kalo ada cewek yang mau sama lo. Muka lo aja yang tampan, tapi lo gak berperasaan..!” semprot Nabila.
“Udah, Bil. Biarin aja.” ucap Sera menenangkan.
“Lho, emang kenyataannya gitu, Kok!” sanggahku mulai kesal.

Kulihat Nabila makin menampakkan emosinya. Bahkan semua orang di sini sedang berbisik-bisik sambil sesekali melirikku tajam. Aku pura-pura cuek sambil memainkan Androidku.
“Aku nyesel punya pacar kayak kamu, Van. Mulai hari ini kita putus!”
Sh*t! Kali ini giliran Veera yang berbicara dengan nada ketusnya.
“Ya udah, kalo mau putus gak papa, kok. Aku bisa cari yang lain lagi.” jawabku sekenanya.
Dia hanya tersenyum sinis.
“Buktikan saja, asal kamu tahu ya, sayang…” ucapannya menggantung dengan nada yang melembut. Dia kemudian membisiku. “Sudah gak ada lagi yang mau sama kamu!”

Ini hari yang paling memalukan bagiku. Aku telah ditolak mentah-mentah di depan kelasku oleh Renita yang merupakan gadis terpopuler dan gadis tercantik di sekolahku, yang selama ini telah singgah di hatiku.
“Aku gak mau punya pacar yang gak berperasaan. “ucapnya lantang di depanku dan teman-temanku tentunya yang telah menonton kami dari awal tadi.
Parahnya lagi, di antara mereka ada yang berhasil merekam penolakan Renita tadi. Itu merupakan pukulan telak bagiku. Sudah habislah harga diriku di sekolah ini. ‘Alaah, bentar lagi kan wisuda, paling-paling udah kelar semua’ batinku.

Ini adalah wisuda paling buruk seumur hidupku. Bagaimana tidak, aku tidak diajak berfoto-foto di sini. Oke, itu tidak apa-apa, tapi lebih mengenaskan lagi tidak ada yang hanya sekedar ngobrol denganku, boro-boro ngobrol, mengucapkan selamat saja tidak ada. Bahkan dari kedua sahabatku pun tidak. Aku tidak dianggap di sini. Lebih baik, aku pulang saja, gumamku.

Aku bergegas menuju parkiran, untuk segera menemui mobilku, sebelum seseorang memanggilku.
“Evan..!” Aku menoleh.
Huh, lagi-lagi cewek aneh itu. Aku tak mempedulikannya, kulanjutkan langkahku untuk menuju mobil kesanyanganku.
“Mengapa kamu pulang lebih awal?” sambil menarik tanganku. Sial, aku kalah cepat.
Segera saja kutepiskan tangannya dengan kasar.
“Lepas! Semua temanku menjauhiku dan aku sudah tak berguna di tempat ini, menjauhlah!” bentakku kasar.
“Kurasa tidak ada yang berpikiran seperti itu.” sanggahnya sambil menarik tanganku kembali.
“Apa urusanmu, hah.?!” bentakku lagi.
Dia hanya menggeleng.
“Tidak ada, aku hanya ingin berfoto denganmu.” jawabnya santai. Tanpa berpikir panjang, aku langsung masuk ke dalam mobilku dan menancap gas untuk segera menghindar dari cewek aneh itu.

Kepalaku terasa pusing setelah meminum minuman tadi. Mungkinkah aku… Mabuk? Aku tidak tahu pasti, tapi yang pasti, aku sekarang merasa sangat lelah dan pusing. Seharusnya jam kuliah sudah selesai dari tadi… atau jangan-jangan… Aku diculik! Aku tidak bisa berpikir lebih lama lagi, seketika itu aku terduduk di trotoar sampai 2 pria berotot besar itu menghampiriku.
“Serahkan benda berhargamu!”
Benda berhargaku? Apakah aku harus… Ah, pasti aku telah berpikiran yang tidak-tidak.
Plak..!
Aku terpelanting jauh. Seenaknya saja dia menamparku! Tetapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa pasrah.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang sedang berlari menuju kami.
“Rasakan ini..!”
Bukk, bukk, bukk…
Aku melihatnya! Seseorang yang telah berusaha menyelamatkanku! Walaupun aku sempat melihat keningnya berdarah, dia tetap tak peduli. Akhirnya, 2 pria brengsek tadi pergi karena kewalahan menghadapi orang yang elah menyelamatkanku tadi. ‘Pahlawan’-ku itu segera berlari menghampiriku.
“Kau tidak apa-apa?”
Bisa kaulihat kan, bagaimana keadaanku saat ini? batinku. Tunggu dulu, aku merasa tak asing dengan suara ini.
Jangan-jangan…

“Kau ternyata memang laki-laki, ya?” tanyaku sambil berdecak kagum.
“Aku saja tidak bisa melawannya.” timpalku lagi.
“Itu karena kau seang mabuk. Apakah sekarang kau sudah sadar?” tanyanya sambil membantuku berdiri. Yah, walaupun akhirnya aku tetap memerlukan pegangannya agar aku tidak sempoyongan lagi.
“Jika aku belum sadar, seharusnya aku tidak menanggapimu dari tadi.” ucapku kesal. Dia hanya terkekeh.
“Ternyata, lambat laun, kau sudah tidak dingin dan menyebalkan seperti dulu, ya?”
komentarnya. Aku menjadi merasa bersalah.
“Terima kasih atas pertolonganmu tadi, dan maafkan aku karena telah menyakitmu, Sera…” ucapku lirih.

To Be Continued

Cerpen Karangan: Nika Ita
Facebook: Kita Kunikita

Cerpen Ternyata Kau Adalah Tipeku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Vitamin C++ (Part 2)

Oleh:
Tak terasa, pelajaran pertama pun usai kami lewati, kini pelajaran kedua yang tak lain pelajaran Biologi. Biologi merupakan pelajaran yang sangat aku sukai dan bisa dibilang aku cukup mahir

Just Best Friend

Oleh:
Sepulang sekolah, tidak seperti biasanya. Hari ini begitu terik, panas matahari serasa membakar kulit. Keringat bercucuran, mata sudah tidak fokus memperhatikan jalan yang di lewati. Hari ini sepertinya menjadi

The Stranger (Part 1)

Oleh:
Kamis, 08 Oktober 1998 adalah hari dimana anak tertampan dari kedua orangtuaku dilahirkan. Ya, itu aku. Kenapa disebut tertampan? karena aku adalah anak laki-laki satu-satunya. Aku terlahir di Kalianda,

Cerek Telah Berbunyi (Part 1)

Oleh:
Tidak ada yang suka hari Senin. Hari pertama masuk sekolah dalam satu pekan, hari dimulai lagi seluruh kegiatan satu pekan yang melelahkan yang terus berulang hingga lulus. Kelas 10

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ternyata Kau Adalah Tipeku (Part 1)”

  1. Dinbel says:

    Seruuuuuuuuuu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *